
Yuuzy Haruka, biasanya orang lebih suka memanggilku dengan sebutan Yuu atau Ruka. Aku baru ada di keluarga ini dua Minggu yang lalu dan mereka memutuskan untuk mengangkat ku sebagai anak mereka dan menjadi kakak bagi anak perempuan mereka yang masih kecil. Bisa di bilang hidupku jadi sedikit beruntung kali ini, karena aku di selamatkan oleh nya dari sosok predator kelamin yang menyebalkan. Gara-gara itulah aku menjadi sangat alergi dengan hubungan percintaan yang lurus. Yang aku pikir semua lelaki selalu punya pemikiran bejat seperti itu terhadap perempuan kayak aku ini. Mungkin memang aku cantik, tapi aku bukan bahan untuk mainan kalian. Yah, aku sangat bersyukur sekali hidup ku baik-baik saja—mungkin bisa di bilang demikian. Tapi ternyata aku tidak tahan lama tinggal bersama mereka di mansion mewah ini. Aku meninggal karena di gigit oleh ular kobra langka yang katanya belum di temukan obat sampai sekarang.
Seingat ku, aku memang benar-benar sudah meninggal saat itu. Lantas kenapa tiba-tiba hari ini juga aku malah tersadar di atas ranjang yang penuh dengan darah juga peralatan medis? Tidak hanya itu, aku sendiri lupa seperti apa rupa dan wajah ku dulu. Seingat ku, badan ku sangatlah kurus dan tidak berotot seperti sekarang. Tidak hanya itu, rambut pendek ku kini sangat panjang dan juga tebal. Aku sangat tidak terbiasa mengepang rambut panjang seperti ini untuk ku jadikan poni nantinya. Mau tidak mau, untuk kali ini, poni nya aku begini kan saja. Dan rambut panjang menyebalkan dan sangat halus ini harus ku ikat ekor kuda biar tidak merasa gerah kalau cuma di gerai saja.
Tapi, aku masih di landa kebingungan. Apa semua tragedi kematian itu hanyalah mimpi panjang ku. Bahkan saat ini tahun sudah sangat jauh dari saat tragedi itu terjadi. Aku tidak ingat sudah berapa lama aku bermimpi seperti ini.
"Kalian boleh masuk. Dan, aku sudah membereskan kamarnya. Jadi berterima kasihlah padaku." Aku mempersilahkan pemuda bermata aneh itu masuk ke kamarnya. Ada banyak hal yang harus dia terangkan padaku soal keadaan saat ini dan bagaimana aku bisa berakhir di ranjang nya yang menjijikkan itu. Kalau pun itu karena aku datang bulan, jumlah nya gak sebanyak itu. Itu hampir menggenangi seluruh tubuh ku dan saat di cuci air nya selalu ku ganti karena darahnya yang mengering sangat sulit untuk di bilas. Pemuda ini, jika di lihat lebih dekat ternyata lumayan tampan walau matanya aneh. Dia seperti kucing peliharaan ku dulu sebelum aku menjadi bagian dari keluarga Izumi ini. Bagaimana ini, aku kok malah minta dia masuk ke sini. Kita jadi berdua sekarang soalnya dokter yang sebelumnya ada di sini sudah balik ke rumah sakit. Bagaimana kalau dia jadi jatuh cinta padaku dan menerkam buas tubuhku di atas ranjang? Kayaknya aku tidak akan keberatan jika itu pemuda tampan seperti nya.
"Wanita aneh, kenapa kamu senyum-senyum mesum menatap ku?!"
"Jadi, kamu mau nanya apa wanita aneh?!"
"Panggil aku Yuu bisa gak?"
"Bodoh amat ah. Buruan, aku tidak punya waktu meladeni wanita aneh kayak kamu." Sejak tadi jawaban nya selalu menyebalkan. Ingin sekali aku menampar wajah itu tapi kasian nanti ketampanan nya malah berkurang karena telah di rusak oleh tangan ku yang terlalu suci. Mungkin harus nya aku bertanya alasan kenapa aku bisa di sini? Saat aku menanyakan hal demikian dia hanya dia memainkan ponsel nya.
"Hei!!"