
Kita sudah kembali di tempat yang ramai dan keluar dari lorong itu. Bahkan tempat nya tidak meninggalkan jejak sedikit pun di pandangan kami padahal aku yakin itu berada tepat di belakang kami barusan. Aku merasa bersalah meninggalkan gadis itu, tapi aku pun merasa tidak mempunyai tanggung jawab penuh terhadap hal ini. Maka dari itu aku lebih memilih untuk meninggalkan nya saja. Mungkin dia akan mengingat semua ini bahkan ketika dia sudah menjadi arwah nanti, tapi mungkin akan ada waktu di mana kita akan di pertemukan kembali dan aku bisa memberitahukan nya jika saja dia lupa kenapa bisa dia berada di alam yang berbeda.
.
.
.
.
.
.
"Maaf, aku sudah lama mau ngomong kek gini. Tapi aku gak punya pilihan. Takut proyek penelitian kami kali ini sadar saat kami sendiri belum tiba di mansion. Kami terpaksa dan aku juga sebenarnya tidak menyangka kalau kamu baru akan di temukan satu tahun kemudian.”
"Ya, semua itu berkat Azumi-san. Dia saat itu tersesat di lorong yang sangat gelap itu dan sangat kebetulan dia memberi cahaya padaku saat dia terjatuh tepat di depan tulang belulang ku yang dia sendiri seperti nya tidak sadar kalau itu ada di dekatnya. Kalau saja dia tidak ada di sana, aku tidak akan di temukan dan kau tidak akan bisa mengatakan hal ini padaku. Jadi, apa monster itu masih ada?"
"Tentu saja. Dia sudah sempurna sekarang dan dia yang selalu menemaniku pergi ke tempat tertentu yang seharusnya tidak boleh di ketahui orang kecuali yang tinggal di mansion ini."
"Biar ku tebak, mencari 'makanan' buat ibu mu?"
"Aku tidak bisa menyangkal itu." Tapi saat ini pun publik tidak tahu kalau pelayan ku lah yang menjadi pelakunya. Keluarga kami sangatlah terpandang jadi tidak ada yang ingin kasus ini di perpanjang dan memilih untuk di tutup saja. Mengingat tidak ada anggota waras lagi yang ada di keluarga ini yang bisa di andalkan untuk wawancara. Mereka masih tinggal di mansion ini dan sekarang sedang di sekap di sebuah kapsul air yang di buat oleh paman Ryousuke. Ilmuwan gila itu katanya ingin mencoba mengorek beberapa ingatan dari otak mereka yang mungkin saja berguna untuk bahan uji cobanya. Sungguh gila, aku tidak akan bisa habis pikir soal bagaimana dan apa yang menjadi motifasi paman berbuat hal sejauh ini. Kalau aku sih mungkin sudah gila lebih dulu. "Baiklah terima kasih karena telah memberitahuku. Aku tidak dendam sama kamu hanya saja aku tidak ingin melihat azumi yang sekarang. Aku tidak mau gadis yang tanpa dosa itu menjadi seperti ini. Kenapa begitu sulit bagimu untuk menerima saja kenyataan?" Dia ada benarnya. Tapi yang tidak menerima kenyataan di sini sebagian besar bukan cuma aku saja. Mama yang menjadi pengaruh yang paling besar dalam projek barunya kali ini. Aku tau ini salah, aku tau juga ini mempunyai resiko kemungkinan azumi akan tewas dan kehilangan jiwa nya begitu saja karena sudah di gerogoti oleh ingatan yang kakak miliki. Itu sudah terjangkiti dan aku yang bukan menjadi dalang yang paling berperan penting ini bahkan tidak mampu untuk menghentikan nya. Bahkan jika kita bertarung hingga ada darah yang berceceran sekalipun tidak akan mengembalikan nya ke dirinya yang dulu. Aku benar-benar minta maaf, tapi aku tidak bisa. Tapi, untuk pertama kali nya, sosok seram yang duduk di jendela kamar ku itu menangis dengan wujud nya yang biasa. Seorang anak kecil berambut panjang terurai, punggung nya yang sudah meninggalkan jejak paling mengerikan yang pernah ada. Dan aku di sini hanyalah pendosa yang terpaksa mengikuti kerjaan gila mama dan memenuhi semua permintaan dari ilmuwan gila itu.