Like a Doll

Like a Doll
Gabrielle Vallen



Aku adalah Gabrielle Vallen. Pemimpin dari perkumpulan ini dan aku punya empat orang pelayan yang sangat berguna dan setia berada di samping ku. Tapi aku sedang dibuat kesal sama satu murid baru kali ini di karenakan dia sudah melakukan hal buruk di saat pertama kali dia masuk di kelas ini. Dia sosok iblis kecil dan cantik juga menyebalkan yang pernah aku temui. Dia memang seperti iblis, wajah aja terlihat polos dan suci. Aku membencinya saat pertama kali melihat nya. Dia memang sangat kaya di kota ini. Nama butik nya terdengar di mana-mana. Bahkan seragam sekolah ini di buat dari butik kakak nya. Aku sebenarnya tidak ingin mengenakan seragam yang dia buat. Jujur, walau memang bagus dan sangat trendy tapi tetap saja aku selalu di buat mual ketika menggunakan nya.


"Hanakawa Izumi. Kenapa pula dia harus sekolah di sini?"


"Haruskah kita menghajar nya?"


"Boleh saja sih. Tapi kita harus menunggu Azumi-sama pergi keluar dari kelas dulu. Aku dengar dia ini jago berkelahi juga. Jangan sampai dia tahu sih."


Setelah kami menghajar si brengsek ini, kami kembali ke tempat duduk kami dan membiarkan nya tertidur di lantai yang keras dan dingin di kelas. Tidak satupun murid lain mau mendekati karena tidak mau menjadi korban berikutnya dari kekejaman pelayan ku ini. Bisa di bilang, mereka sangat takut dengan keberadaan kami berlima di kelas ini karena kami terkenal suka membuat onar sampai 5 kali sudah kami di skorsing dalam waktu yang bersamaan. Terakhir kali aku berhubungan dengan salah satu guru muda yang baru saja bertunangan dengan salah satu guru di sini. Aku bermain dengan guru itu di kelas sampai akhirnya aku di pergoki sendiri sama calon tunangan nya. Agak mendramatisir di sini, si cewek pake adegan pingsan pula pas si cowok benar-benar keluar di dalam ku. Aku sudah aborsi sih, jadi tidak masalah seberapa banyak aku bermain dengan pria yang suka keluar sembarangan. Bahkan pakai pengaman aja pun percuma karena sebelum melakukan nya dia pasti akan melubangi itu.


"Hei, liat muka konyol nya. Haha lucu sekali."


"Memang seperti ini lah seharusnya seorang Izumi di perlakukan." Aku melihat beberapa foto yang aku ambil saat menghajar gadis sialan itu. Sangat memuakkan. Aku bahagia melihat atasan ku sekarat berkat tindakan ku bersama pelayan ku yang setia. Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama saat Azumi-sama masuk ke dalam kelas dan langsung memperhatikan Izumi yang terbaring sekarat di dekat mejanya. Aku spontan menundukkan wajah ku seolah aku tidak memperdulikan semua ini. Tapi untuk pertama kalinya aku mendengar Azumi-sama marah dan berteriak seperti itu. Rasanya seakan-akan atap di atas kami akan runtuh dan menimpa kami karena teriakan nya yang seperti menggema kuat hingga mengguncang apapun yang ada di dalam kelas ini. Aku merasa ngeri juga bisa tau kejadian langka seperti ini dari idola ku yang tidak pernah dia lakukan sebelum nya. Dia tidak pernah terlihat marah seperti ini dan dia memang terkenal sangat friendly terhadap siapa saja tidak memperdulikan derajat mereka sama atau tidak dengan sosoknya yang luar biasa itu.