Like a Doll

Like a Doll
Xavier Arvincer



Pandangan ku masih juga mengabur. Aku berusaha menggosok mataku dan memastikan apa yang aku lihat ini tidak semuanya benar. Tapi mau di ulang berapa kali pun memang benar kalau Vhylen sudah meninggal di makan oleh mereka 8 tahun yang lalu dan aku di bawa oleh mereka entah kemana. Sebuah lab? Untuk apa mereka membawa anak kecil masuk ke dalam lab.


Lalu pandangan ku menjadi hitam kembali dan aku sepertinya sudah balik ke tempat asal ku sebelumnya. Ya di ruangan penjara di mana aku di ikat dan di kelilingi orang juga monster-monster itu yang sedari tadi menghembuskan nafas nya. Terdengar sangat liar juga mengganggu pendengaran ku walau suaranya tidak terlalu menyeramkan atau terlalu berlebihan.


"V.. Vhylen..." Kepala ku sangat pening. Semua pemandangan yang aku lihat barusan benar-benar tidak bagus, aku harus keluar dari sini. Aku tidak tahan lagi dengan tingkah laku keluarga ini yang memang dari awal benar-benar di luar nalar dan akal sehat ku. Aku melihat Vhylen masih ada di hadapan ku memegang kepala itu.


"Cepat sekali sadarnya. Jadi kamu sudah tau kan? Vhylen yang selama ini ada bersama mu. Pendeta, ya, aku tau dia pendeta tapi dia sebenarnya pendeta palsu. Dia bahkan tidak bisa membaca Alkitab. Dia hanyalah android berwujud manusia yang aku buat semirip mungkin dengan Vhylen versi 8 tahun ke depan. Bentuk rambut, warna mata dan rambut juga kebiasaan aku buat seperti semua memang sudah berjalan 8 tahun yang lalu.


"Kenapa... Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kamu bukan Hanakawa yang aku kenal."


"Memang. Aku hanyalah sebuah boneka yang di isi nyawa, kau tau? Aku sebenarnya peduli dengan mu selama ini karena untuk memenuhi tujuan ku. Dan sekarang aku pun bisa melakukan nya. Ajakan liburan keluarga itu memang berkesan sekali ya buat orang populer yang suka pergi berlibur ketimbang belajar seperti dirimu!!"


"Kenapa harus aku?"


"Halah, kamu ini kebanyakan bertanya, Azumi. Vhylen, terus takuti dia dengan itu." Aku sudah bersiap menutup mataku. Bayangan itu terlalu menakutkan dan aku tidak sanggup lagi jika di paksa terus masuk kedalam dunia ilusi itu. Ya, itu benar. Pasti itu hanyalah dunia ilusi yang Hanakawa buat dan itu semuanya tidak lah benar. Aku sangat ingat waktu itu Vhylen berusaha melindungi ku dari serangan kelima monster yang berusaha memakan kami. Tapi kami berdua bagaikan di sihir lantas mengikuti mereka yang mengajak kami pergi ke suatu tempat. Yang aku tau tempat itu ada di bagian antah berantah dan aku lupa di mana persis tempat itu berada.


Aku sudah memejamkan mataku cukup lama, apakah perawakan itu masih ada di hadapan ku? Tapi aku tidak mencium bau apapun sama sekali tidak seperti sebelum nya. Saat aku melihat kembali ke depan, Vhylen terdiam dan menjatuhkan kepala itu ke lantai.


"Tidak, aku tidak bisa membuatnya menderita lagi. Ini tidak adil." Vhylen mengelus wajah ku dengan ekspresi kesedihan yang amat mendalam. Dia sempat ingin menangis pula tapi di tahan sekeras mungkin sampai bibirnya sedikit luka. Dia mengambil gunting di sakunya dan memotong tali tambang yang melilit di tangan ku. Ughhh sakit sekali, sampai memar merah nampak mengelilingi pergelangan tangan ku.


"Woi, apa yang kamu lakukan bodoh?!"


"PEGANG TANGANKU AZUMI, KITA PERGI DARI SINI!!" Vhylen menarik tangan ku dan keluar dari ruangan ini sekencang mungkin. Tangan ku masih sakit tapi aku sudah tidak memperdulikan hal itu. Vhylen benar, aku harus pergi sejauh mungkin dari ini. Aku tidak bisa berpikir akan jadi seperti apa nanti akunya bila masih bertahan di tempat tadi atau saja Vhylen tidak bersimpati dan melepaskan ikatan itu dari tangan ku mungkin saja aku sudah di manfaatkan lebih lama dari ini. Mungkin yang menjadi lebih buruknya adalah aku akan mati di pulau ini dan hidup kembali menjadi kakak Hanakawa yang sudah meninggal.


"V..Vhylen, kamu benar Vhylen?!"


"Bukan. Maafkan aku, ini bukan waktu yang tepat buat membicarakan nya. Kita harus segera pergi ke kapal yang akan menjemput kita. Memang ada manfaat nya kita menguping saat perjalanan mereka dua hari yang lalu. Intinya, aku harus mengembalikan mu ke Tokyo. Lupakan liburan nya, ini memang bukan liburan yang kamu inginkan." Vhylen menjelaskan semua nya dan kami berdua lari keluar dari dalam portal dan segera menghampiri kapal yang mengapung di lautan menunggu kehadiran kami. Benar apa yang dia ucapkan, ada kapal putih yang bisa di kemudikan seseorang. Kami masuk ke dalam mansion untuk mengambil barang seadanya yang sudah di packing sebelum nya jadi kita bisa mengulur waktu sebelum mereka keluar dari portal. Kami berdua pun naik ke atas kapal bersama beberapa barang seadanya. Setidak nya pakaian ku semua ada di dalam tas itu.


"Pak, ayo jalan sampai ke tengah. Setidak nya menjauh dari portal itu." Orang yang memegang kemudi pun menyalakan mesin kapal nya dan menjauh sejauh mungkin dari portal. Aku bisa mendengar raungan mengerikkan yang keluar dari dalam portal, sepertinya itu Viona yang sedang mengamuk. Viona nampak keluar dari portal dan berjalan di dalam air. Aku melihat perawakan nya makin mengerikkan dan tubuh nya semakin membesar membuat seluruh lautan bergetar dan ombak terjadi di mana-mana.


"Monster sialan. Bisa-bisa nya dia malah jadi membesar. Lebih cepat lagi pak. Azumi, gores telapak tangan ku dengan pisau itu kamu juga lakukan. Kemudian darahnya kamu oleskan pada kapal. Oh, ini kertas berisikan mantra itu, setelah di oleskan ucapkan dengan suara lantang!!"


Aku mengambil pisau yang ada di pinggiran kapal, dan menyayat telapak tangan ku juga Vhylen kemudian mengoleskan darahnya pada badan kapal nya. Tak lupa aku mengambil secarik kertas yang di berikan oleh Vhylen.


"Emm... anu, demi penguasa roh laut, buka lah portal kami. Izin kan kami meninggalkan dunia mu. Keluarga Izumi sudah meninggalkan tanda keseluruhan di kapal ini. OUVERT!!"


"LEBIH KERAS LAGI, AZUMI!!!"


"DEMI PENGUASA ROH LAUT, BUKA LAH PORTAL KAMI. IZINKAN KAMI MENINGGALKAN DUNIA MU. KELUARGA IZUMI SUDAH MENINGGALKAN TANDA KESELURUHAN DI KAPAL INI. OOOOOUUUUUVERTT!!!!!!" Kapal kami sedikit berguncang karena portal di bawah perahu mulai terbuka dan pusaran air semakin lama semakin membesar. Aku, Vhylen dan juga yang mengemudi kapal menggunakan jas hujan dan berlindung di bawah atap kapal. Perlahan-lahan badan kapal termakan oleh pusaran air laut dan kemudian menutup dengan sempurna meninggalkan Viona yang lambat mengejar kami di luar sana. Aku bisa lega kalau aku bisa lolos dari tempat gak masuk akal itu. Beberapa menit pun kami sudah berada di lautan di mana sebelumnya mereka membuka portal. Di laut itu masih ada beberapa mayat yang masih mengapung dan beberapa burung mendarat memakan habis tubuh mereka. Sejenak lautan di penuhi aroma busuk dari bangkai dari manusia yang sudah mereka bunuh sebelum kami masuk dalam portal ini.


"Akhirnya kita lolos."


"Baguslah."


"HUAAAAA!!!!!" Aku sangat takut sekali jika saja kloningan Viona itu berhasil menghambat jalan kami. Dengan tubuh ku yang bergetar hebat aku memeluk Vhylen dengan erat. Ternyata benar, dia hanyalah android buatan mereka. Aku tidak merasakan detak jantung yang berarti ataupun hembusan nafas dari hidung nya. Namun, entah mengapa dia terasa hangat jika di peluk. Seolah dia ini manusia, bukan robot.


"Ssshhh... Sudahlah. Syukurlah kita semua selamat. Terima kasih karena telah membantu kami pak kepala pelayan. Tanpa kamu, kita sudah tamat di tangan keluarga gila itu."


"Tidak masalah dik. Aku pun sudah muak dengan mereka. Mari kita kembali ke Tokyo dan beristirahat. Kalian berbaring lah, aku akan mengemudikan lagi kapalnya."


"Tidak perlu pak. Biar aku saja. Perjuangan bapak sudah terlalu besar bagi kita. Biarkan aku menggantikan anda." Vhylen pun mengemudikan kapal nya sesudah mengobati telapak tangan nya. Sungguh hari yang sangat berat, terpaksa sekali aku menyia-nyiakan liburan kali ini. Mungkin ini akan mengejutkan manager Alice di studio nanti saat tau aku tiba-tiba kembali dari liburan yang baru terhitung 2 hari. Vhylen, apa dia akan kembali ke pekerjaan nya menjadi pelayan atau pendeta. Aku benar-benar kecewa saat dia sendiri berkata kalau dia memang bukan lah Vhylen yang aku kenal dari 8 tahun yang lalu. Aku sakit hati karena sudah di manfaatkan sama keluarga Izumi dan juga merasa malu karena aku sudah melakukan "itu" dengan Vhylen yang sekarang. Anehnya tubuhnya sangat mirip dengan manusia, hampir tidak ada unsur mekanik dari tubuh nya sama sekali. Makanya aku tidak bisa merasakan apapun yang berbeda dari tubuhnya.


"Vhylen... Apa kamu akan balik ke gereja?" Vhylen bukan nya menjawab pertanyaan ku justru memelukku dengan erat. Aku begitu suka dengan pelukan nya, hangat dan menenangkan. Tidak ada yang bisa menandingi kasih sayang nya yang dia berikan padaku. Walaupun mungkin saja dia memang benar sebuah android dengan kecanggihan dan kepintaran. Namun aku harus berbuat apa jika Vhylen kembali ke gereja dengan keadaan seperti itu. Memang nampak tidak berbeda sih hanya saja kepribadian nya jadi sedikit berbeda. Dia menjadi sedikit manja dan sangat sensitif sekali terhadap perasaan nya.


"Umm, aku boleh ke apartemen mu saja? Begitu sulit bagiku untuk kembali ke gereja setelah kamu mengetahui fakta kalau aku bukan manusia."


"Boleh sih. Kenapa tidak?" Dia menjadi sangat manja seperti kucing tapi gampang menangis juga karena mendengar hal-hal kecil yang menurutnya menyedihkan. Di saat seperti ini dia terlihat seperti anak kecil yang manis. Tapi aku tidak peduli lagi soal itu, yang perlu ku pikirkan saat ini hanyalah bagaimana aku harus bertingkah jika Hanakawa kembali dari pulau itu. Mengingat kami berada di sekolah dan kelas yang sama jadi sangat sulit menghindar dari pengawasan mereka. Belum lagi aku harus berhati hati dalam bertingkah di depan Vhylen saat di sekolah nanti. Memang mustahil sih aku lakukan semua ini sendirian.


"Vhylen..?"


"Emmm, ada apa?"


"Boleh aku mencium mu?" Aku mencium jidat Vhylen dengan lembut dan di balas kecupan di bibir darinya. Di lanjutnya dengan mengulum lidahku di dalam hingga wajah ku menjadi sangat panas saat ini. Sialan, mengemudilah yang benar Vhylen bodoh.


":(("


"Jangan nangis ih."


.


.


.


.


.


Vhylen sialan, dia malah mengkhianati ku dan menghancurkan semua usaha ku dan mama untuk merampas tubuh dan jiwa Azumi untuk ku masukkan jiwa dan pikiran kakak yang sudah aku simpan dalam peti cukup lama. Aku terpaksa mengulang permainan ini dari awal lagi. Aku akan benar-benar membunuh Vhylen sekali lagi saat seperti kejadian 8 tahun yang lalu. Memang anak sialan itu tidak bisa di harapkan kalau sudah bersangkutan dengan Azumi. Padahal sedikit lagi aku bisa memeluk kakak ku, Yuuzy kembali.


"Mama, lacak monster Viona itu apa dia berhasil menyusul atau tidak."


"Bagaimana caranya?"


"Aduh mama. Monster itu aku sudah pasangkan kamera. Di liat lah sana di monitor hihhh."


Di layar monitor aku bisa melihat monster itu masih menyusuri koridor portal nya. Aku bisa melihat kapal yang di naikin sama mereka, eh, mereka ada tiga orang? Siapa satunya lagi.


"Bukan nya dia ini pak kepala pelayan kita? Kok bisa mereka ada bersama mereka ya?"


"Sialan, pak kepala mengkhianati kita juga." Itu tidak penting lagi, aku harus terus mengawasi pergerakan mereka. Aku tidak yakin mereka bisa keluar dari pulau ini jika mereka tidak tau kunci cara untuk membukanya. Kemungkinan mereka akan tertangkap dan di makan habis oleh Viona yang sudah 100x lebih besar dari yang sudah sebelumnya di lihat Azumi.


"Eh? Kenapa Azumi melukai tangan nya... JANGAN BILANG?! SIALAN!!!"


"Waduh dia tau mantra pembuka portal nya."


"Ahh, siapkan kapal, Ryo-sensei. Kita harus kembali lagi ke Tokyo. Sialan, aku akan menghajar semua yang menghalangi rencana ku. Kakak, tunggu lah. Kakak akan kembali pada kami."


"Baik Izumi."


Aku tidak mengerti lagi kenapa mereka bisa mengetahui mantra itu. Setauku Azumi memang berada di kamarnya sepanjang kapalnya masuk kedalam portal dan mungkin saja dia di buat pingsan selama itu karena air laut masuk sampai ke dalam seluruh ruangan di kapal tanpa mematikan sistem yang terdapat pada kapal pesiar besar itu.


Juga, Vhylen. Aku kira android tidak akan bisa memiliki perasaan layaknya manusia. Selama ini dia sudah kupakai untuk membunuh siapapun yang menghalangi ku tapi dia malah membantu Azumi lari dari sini.


"akkkkhhh stress sekali. Mama, panggil kan 'dia'"


"Siapa?"


"Anak si pak kepala pelayan itu. Dia sepertinya sudah bangun di ruangan nya. Panggil kan Xavier Arvincer. Kita akan mengajak nya untuk di jadikan penyamaran."


Mungkin benar aku harus mengulang semua dari awal dan menyusun rencana yang lebih bagus lagi dan tidak mudah di hancurkan lagi seperti yang aku lakukan kali ini. Benar-benar menyebalkan sekali hari ini. Tapi aku sudah bisa menduga sih bakal terjadi pemberontakan dalam rencana hari ini. Mungkin juga Azumi akan menjauhi ku karena sudah menganggap aku orang jahat. Mendekatinya dan merayunya mungkin menjadi hal yang sangat mustahil akan terjadi. Jadi aku harus mengandalkan Xavier untuk menyamar dan mendekati Azumi. Dia memang laki-laki tapi berkat tangan terampil kakak ku dia bisa menjadi seorang gadis polos yang baik hati dan pasti saja bisa meluluhkan hati si Azumi dan aku pun bisa mendekatinya kembali.


Tak lama kemudian Xavier pun datang bergabung dengan kita bersama Viona yang berjalan di sampingnya. Seperti biasa, anak ini sangatlah bau.


"Kamu kapan terakhir mandi sih?"


"Apa?!"


"Bukan apa-apa. Anu, kamu bisa ikut kami besok?"


"Bisa aja. Tapi buat apa?"


"Nanti juga tau." Bagus sekali dia setuju semudah itu tapi itu juga yang bikin khawatir sih. Mengingat ayahnya mengkhianati keluarga kita, mungkin saja anak ini malah lebih berbahaya.