Like a Doll

Like a Doll
Mengejar Monster



"Ah, begitu. Memang sih, ini jelas tapak sepatu milik salah satu pelayan ku. Tapi, aku tidak yakin apa yang memang dia lakukan di tempat kotor seperti itu. Setauku dia mengikutiku untuk menghadiri pertemuan desain baju terbaru." Berikut adalah ujaran dari sang kepala keluarga, Viona Izumi. Dia adalah yang bertanggung jawab terhadap pelayan nya dan masalah yang mereka perbuat akan menjadi masalah besar bagi keluarga Izumi. Saat akan di wawancarai ternyata mereka saat itu tengah bersiap untuk pergi liburan keluarga dengan menaiki kapal pesiar. Ibu dari keluarga korban ini bahkan sudah menjadi bagian dari keluarga Izumi karena sang kakak, Aran Ryousuke, menikahi wanita itu dan di berkati seorang anak perempuan. Kebetulan mereka bertemu di sebuah rumah sakit jiwa di mana ibu dan anak dari keluarga Betford ini di rawat. Mereka sudah lama mengalami tekanan dan menjadi gila karena sudah sangat lama mereka kehilangan anak itu. Dan saat di temukan, dia malah menjadi tambah buruk dari sebelumnya di tambah para wartawan itu yang tidak bisa melihat keadaan yang ada saat ini. Dia sambil mengandung anak pun terpaksa di masukkan lagi ke rumah sakit jiwa untuk pemulihan di temani dengan anak tertua mereka, Alex Betford.


.


.


.


.


.


.


"Kamu terlambat mencegah ku, Isabella. Tapi, aku akan memberikan hadiah padamu karena berani menginjak mansion suci ku ini. Aku akan membeberkan rahasia di balik kematian mu? Aku tau kamu ini mengetahui segala hal yang ada tapi kamu tidak tau sendiri alasan di balik kematian mu kan?" Kali ini aku berhasil membuatnya terdiam. Dia sempat berpikir dengan wajah seram nya. Lalu menoleh padaku dengan anggukan yang meragukan pula.


"Baiklah."


"Ok, harap buka lebar-lebar telinga berlendir mu itu."


Saat itu, aku sedang sibuk membantu mama mengurus berkas penting yang akan di bawa ke rapat butik kali ini. Ada rencana pembuatan baju biarawati yang baru tapi kami kesusahan mencari model yang cocok untuk mengenakan baju ini dan mempresentasikan nya dengan benar. Saat itu tiba-tiba saja paman Ryousuke datang dengan wajah panik menghampiri ruang kerja mama.


"Ada apa paman? Muka mu pucat banget."


"Kenapa kak?"


"Pro..proyek penelitian kita. Dia kabur dengan wujud manusia. Tapi, dia dalam keadaan mengamuk. Kita harus mengejarnya." Seketika seisi rumah panik karena proyek penelitian monster bertubuh manusia kami kabur dari laboratorium dalam kondisi yang tidak stabil. Bisa di bilang proyek ini masih dalam tahap prototipe dan belum di nyatakan sempurna. Kepala dalam proyek ini adalah paman ku, Aran Ryousuke. Seorang ilmuwan gila yang sedang menguji gen manusia dengan gen monster yang entah bagaimana dia bisa mendapatkan hal yang tidak masuk akal seperti itu.


"Kalian semua, siapkan mobil. Izumi, kak Ryo, ayo kita bergegas. Kita tidak akan tau apa yang di lakukan dia di luar sana, takut nya bakal jadi berita besar ini." Aku dan mama juga paman Ryo bergegas menuju ke depan dan melaju ke arah barat menuju toko hp itu. Menurut lokasi yang di berikan oleh monster itu di maps, dia melangkah cepat menuju toko itu dan kini sudah berada di pintu masuk. Di kalung itu menunjukkan semua kondisi dari si monster dan dari yang aku lihat di tablet ini monster itu tidak menunjukkan gelagat dia sedang mengamuk. Hanya saja aku mendengar suara erangan mengerikan dan juga suara perut yang amat besar. Dia saat ini melangkah cepat ke berbagai tempat random yang ada di dalam toko itu. Sejauh ini belum ada keributan yang berarti.


"Mama, dia tengah berada di keramaian. Kita harus cepat sebelum benar-benar ada keributan yang akan dia buat nantinya."


"Percepat gerakan nya!! Kita tidak punya banyak waktu. Izumi, pantau terus keadaan nya." Jika di lihat titik merah dalam tablet ini, dia masih menunjukkan sinyal di antara keramaian pengunjung. Hanya saja perlahan-lahan sinyal itu terlihat sedikit menghilang tapi agak mencurigakan. Dia seperti masuk ke suatu tempat yang bahkan GPS pun tidak bisa terbaca kali ini.


"Mama, sinyal dari kalung itu sekarang hilang. Bagaimana ini?"


"Biarkan lah, kita sebentar lagi akan sampai." Di depan sana sudah nampak toko hp itu. Aku dan mama bergegas menghampiri monster itu di dalam. Aroma dari asam yang menetes di lantai tercium sangat kuat sekali. Tapi aura nya tidak nampak lagi, seperti dia benar-benar hilang di telan bumi. Sebenarnya apa yang terjadi di toko hp ini?


Sekarang jejak dari GPS itu benar-benar menghilang dari radarnya. Sepertinya dia masuk di suatu tempat yang tidak bisa menjangkau jaringan dari luar sehingga GPS yang terpasang melingkar di leher nya menjadi hilang jejaknya. Tapi intinya menurut informasi yang terakhir kali terbaca di tablet tersebut dia berjalan mengarah ke sebuah lorong sepi dan gelap. Kamera yang terakhir menangkap pemandangan itu menunjukkan arah nya tidak jauh dari tempat kita berdiri saat ini tapi sudah 5 kali kami berkeliling tempat ini, gambar yang di berikan kamera itu tidak di temukan di mana pun.