Like a Doll

Like a Doll
Sudah saatnya



"Mode bertempur, aktif." Pistol ganda dan yang lain keluar dari jas ku, mulai melemparkan beberapa peluru ke arah antek mereka lalu aku menyelamatkan paman. Aku juga sudah menghubungi dokter pribadinya untuk mengobati luka kepala yang di derita nya. Sialan, mereka malah mengikuti ku dan naik ke lantai atas. Di saat itu pula si Yuuzy keluar dari kamarnya karena merasa risih dengan keributan yang di timbul oleh antek mereka sendiri. Dia malah memarahi ku yang sudah kerepotan membopong tubuh paman yang berat ini.


"Kakak, kakak Yuuzy!!"


"Eh? Hanakawa?" Yuuzy berlari menghampiri Izumi dan ibunya. Mereka saling berpelukan seperti sudah lama tidak bertemu selama bertahun-tahun. Walau memang demikian sih, tapi tangisan itu terlihat menyedihkan. Mereka memeluk orang lain yang mempunyai ingatan orang yang mereka sayangi. Aku merasa sangat tidak terima melihat semua ini. Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang? Mereka malah saling bertemu sekarang. Bisa saja mereka akan membawa pergi Azumi ke kediaman mereka dan melakukan tindakan lebih lanjut.


"Kakak!! Kakak hidup kembali, mama?"


"Eh maksud mu? Bukan nya aku memang masih hidup ya. Tapi, perasaan sudah bertahun-tahun aku tidak melihat mu. Tinggi mu masih sama aja. Haha, bercanda deng."


"Mama senang sekali bisa melihat mu kembali, Yuuzy. Mari, kita pulang." Aku melemparkan semua peluru ke arah mereka sampai mereka terlempar ke dinding. Aku tidak boleh membiarkan mereka pergi meninggalkan rumah ini tanpa adanya pertanggungjawaban yang pasti. Kamu pikir kita akan menerima kehancuran ini begitu saja?


"Apa semua ini, Isabella?! Kamu membantu mereka?! Kami sudah lupakan posisi Azumi kah? Mereka ini jahat."


"Maafkan aku, Vhylen. Aku tidak punya pilihan. Aku hanya ingin bebas kembali di tempat ku." Sialan, sudah ku duga semua hal bisa di lakukan oleh keluarga ini. Senjata ku menjadi sangatlah sia-sia sekarang jika di hadapkan dengan lawan seperti ini.


"Tapi, tempat mu hanya ada bersama Azumi. Kamu tidak mungkin lupa dengan sumpah mu." Saat aku mengatakan itu, aku malah di serang kembali. Kami pun bertengkar di lantai dua sampai sekitaran menjadi bergetar. Kami saling melemparkan senjata tanpa mengenai apapun sehingga rumah paman menjadi sangat berantakan dan rusak penuh dengan lubang. Di saat keributan ini, klan Izumi memanfaatkan waktu yang ada untuk kabur membawa lari Azumi pergi. Semakin aku mencegat mereka, semakin mengganas serangan yang di berikan Isabella padaku hingga bagian belakang baju ku robek dan membuat luka yang cukup banyak. Azumi pun sepenuh nya di bawa lari mereka. Isabella pun menghentikan serangan nya dan malah menangis ke arah ku.


"Maafkan aku Vhylen. Maafkan aku. Aku melukai mu demi ambisi ku kali ini. Aku tau dia bukan Azumi lagi, tapi, mereka mengancam ku untuk kembali ke alam ku kembali."


"Tidak apa. Ini bukan kesalahan mu sepenuh nya. Mereka lah yang salah karena sudah berbuat seperti ini kepada orang biasa seperti kita. Ayo, kita turun ke bawah. Aku harus menemui dokter yang baru saja ku hubungi. Paman ku sedang terluka parah karena di lempar oleh salah satu dari antek-antek mereka."