
"Maaf mama. Aku lupa kalau robot bisa membuka pelacak seperti ini hanya saja nanti akan menimbulkan luka gores yang cukup dalam. Maaf ma, padahal aku sudah di kasih tau sama paman waktu itu."
"Tidak apa nak, kita bisa melihat tetesan darah ini saja. Dia terlihat menuju ke Utara dan tetesan itu sudah berhenti di depan mall besar. Kemungkinan dia pergi ke apartemen nya kembali atau ke mana gitu." Aku dan mama berjalan mengikuti tetesan darah itu dan berhenti tepat di sebuah mall kecil yang hanya menjual beberapa baju dan bahan kain lain nya. Kami yakin dia ada di apartemen karena jalan ini memang mengarah ke sana. Jadi kami memutuskan kembali naik ke mobil dan melaju ke apartemen nya.
Setibanya di apartemen Azumi, kami naik ke lantai atas dan mencari kamar nya. Aku membuka pintu kamar itu dan melihat keadaan kamar sudah benar-benar kosong dari barang-barang yang di miliki Azumi. Hanya menyisakan perabotan dan sofa serta televisi yang sudah di matikan. Semua sudah kosong, bahkan motor besar yang biasa terparkir di bawah pun sudah tidak ada lagi.
"Ada yang bisa saya bantu nak, nyonya?" Pengurus apartemen datang menghampiri kami dan menanyakan maksud dari kehadiran kami kemari. Mama lalu menjelaskan situasi yang ada dan menanyakan keberadaan dari Azumi. Menurut penuturan nya, Azumi baru saja mengemasi barang nya dan pindah ke suatu tempat bersama seorang wanita dewasa dan pemuda berambut putih. Itu pasti manager Alice dan Vhylen.
"Kalau anda tau mereka ingin pindah ke mana?"
"Hem kalau saya tidak salah dengar mereka pindah ke bagian Kyoto. Tapi sekolah mereka masih di sini."
"Bodoh, dari Kyoto ke Tokyo itu jauh loh, Bi. Bagaimana caranya dia bakal tepat waktu?!"
"Untuk sementara sih dia bakal sekolah di sini dan tinggal di tempat manager nya. Setelah teman nya yang berambut putih itu sudah sekolah selama kurang lebih setahun baru lah dia memutuskan pindah sepenuhnya ke Kyoto." Berarti aku masih punya waktu untuk memperkenalkan Xavier dan mengakrabkan nya dengan Azumi hanya kurun waktu setahun saja ya. Seperti nya mama harus menelfon manager Alice dan menanyakan keberadaan Azumi saat ini.
"Eh tidak. Dia tidak ada di tempat ku. Ada apa emang nya?"
"JANGAN BOHONG. AKU YAKIN KAMU MENCOBA MENYEMBUNYIKAN NYA DARI KU."
"Loh Viona, tumben sekali kamu membentak ku. Aku benar-benar tidak tau kemana anak itu pergi. Dia sudah tidak ada di sini dan pergi lagi entah kemana bersama dengan Vhylen. Pas aku tanya tujuan nya, dia malah diam. Percaya lah padaku. Kita bisa video call dan kamu lihat lah sekeliling kantor ku ini." Ternyata dia bahkan tidak ada di kantor manager. Sebenarnya Vhylen ini mau membawa orang terluka kemana sih? Ini malah menjadi semakin membingungkan dan membuatku menjadi sangat lelah sekarang.
"Bagaimana kalau kita mencari nya di gereja ma? Aku yakin itu tempat terakhir yang akan terpikirkan oleh mereka karena mereka tidak akan bisa kemanapun tanpa di dampingi orang dewasa." Dan aku yakin sekali gereja lah tempat terakhir buat menjadi tempat pelarian mereka dari kejaran kami. Tidak mungkin salah sasaran kali ini karena mereka tidak akan bisa memikirkan tempat apapun lagi di saat genting seperti ini.
Kami pun bergegas kembali masuk ke dalam mobil dan melaju cepat ke gereja yang selalu mereka kunjungi. Semoga saja mereka tidak memutuskan untuk pergi lagi dari kejaran kami kali ini.
Dan setiba kami di gereja, nihil. Gereja itu telah di segel dan akan di hancurkan bulan depan. Hanya saja bangunan itu sudah hancur seperempat di bagian atapnya. Itu berarti Vhylen dan Azumi tidak akan mungkin bersembunyi di tempat yang terbuka seperti ini.