Like a Doll

Like a Doll
Pemanggilan Arwah



Hari ini sungguh berat rasanya. Di tambah lagi setelah kejadian di bawah tanah itu, aku masih belum bisa melupakan perawakan mengerikan Viona palsu yang ternyata adalah ratu pemimpin di dunia itu. Aku jadi ingin cepat-cepat kembali ke Tokyo dan sekolah. Tapi sayang sekali, aku di sini belum ada dua hari, yang artinya liburan ku masihlah sangat panjang dan lama. Juga, sebentar lagi akan ada upacara adat khas pulau ini. Walau tidak berpenghuni, mereka selalu punya cara untuk menghibur tamu yang ada di pulau ini.


Aku rasa aku bangun terlalu pagi, jadi aku putuskan untuk Jogging mengelilingi pantai dan juga sedikit olahraga lain nya kemudian menikmati angin pantai di pagi hari sambil melihat matahari.


"Karena sudah lama gak lari gerakan ku jadi lambat banget." Belum ada 20 menit aku berlari aku sudah merasa kelelahan dan kepalaku terasa sedikit pening. Mungkin lain waktu aku akan lari lebih sering dan dengan durasi yang cukup lama. Mungkin juga di barengi dengan push up dan olahraga berat lain nya. Memang benar kalau kemampuan ku makin melemah akhir-akhir ini maka dari itu aku belakangan semenjak masuk kedalam pulau ini malah jadi melemah dan jadi sering pingsan tanpa alasan.


Setelah 30 menit berlalu aku malah tumbang diatas pasir dengan nafas yang tersengal-sengal. Hari ini terasa berat walau belum sehari berlalu. Langit begitu cerah namun tidak begitu menyengat. Cahayanya menyilaukan membuat ku sulit memejamkan sedikit mataku karena terlalu lelah.


"Rasanya jantung ku mau copot. Besok-besok harus bisa di perpanjang—eh, bukan nya itu... Izumi-san?" Aku melihat Izumi membawa balok kayu bersama dua pelayan yang membawa dua payung yang terbuat dari daun kelapa dan beberapa pita hitam dan merah yang melilitnya. Izumi memakai pakaian serba hitam serta topi dengan renda hitam yang cukup besar hingga menutupi setengah wajah nya. Di tangan nya dia membawa mayat kucing dan bunga mawar yang cukup banyak. Aku sedikit mual melihat dia membawa mayat itu dengan tangan kosong tanpa sarung tangan sehelai pun. Dia berjalan di bibir pantai bersama dua pelayan yang berjalan di belakang nya. Lalu Izumi berhenti tepat di tengah-tengah pantai dan dia menari balet di situ hingga membentuk lingkaran dengan bintang di tengah nya. Setelah itu kedua pelayan nya menancapkan payung yang mereka bawa di belakang nya dan kemudian turut duduk di belakang Izumi. Sebenarnya apa sih yang sedang mereka lakukan?


Beberapa saat mereka melakukan kegiatan aneh itu, awan mulai mendung dan menggelap. Mulai muncul pusaran angin tepat di tengah lautan perlahan dari atas langit. Pusaran itu sangat gelap dan dingin bahkan angin itu terasa hingga ke tempat di mana aku bersembunyi mengintip mereka. Keluar sesuatu yang tampak aneh—juga tidak asing di mataku. Rasanya aku pernah melihat itu.


"Klo.. kloningan Viona yang waktu itu?! Ke..kenapa?" Karena tidak bisa mengontrol suara ku, mereka menoleh dan aku hampir saja di ketahuan karena sudah mengintip kegiatan mereka. Sosok monster berwajah Viona itu keluar dari pusaran dan membawa mereka bertiga di atas pundak mereka dan masuk ke dalam pusaran itu. Mungkin sudah beberapa saat tapi pusaran itu masih ada sampai sekarang, jadi aku mulai penasaran. Aku pun memberanikan diriku untuk mendekat dan masuk kedalam pusaran itu. Semakin dekat dengannya malah semakin dingin hingga rasanya menusuk tulang ku. Apa aku akan baik-baik saja jika masuk ke sqini? Aku pun lupa membawa jaket tebal padahal aku biasanya memakai itu kalau lagi berolahraga.


Lubang di pusaran ini sangat panjang, tapi semakin lama dingin itu berkurang. Sayup-sayup aku merasakan hembusan angin dari ujung sana dan secercah cahaya pun mulai terlihat. Aku sepertinya sudah mau mencapai ujung dari lubang pusaran ini. Sosok Izumi dan dua pelayan nya sudah tidak terlihat lagi didepan ku.


Karena cahaya yang sangat menyilaukan aku jadi sulit melihat sekitar. Selang beberapa saat kemudian, aku sadar sekarang aku berdiri di ruangan besar serba putih bersih. Semuanya berwarna putih sampai cahaya lampu pun jadi terlihat sangat menyilaukan. Aku melihat Izumi dan yang lain sedang menaiki tangga menuju lantai dua, aku sementara bersembunyi di balik pilar besar menunggu sampai sosok mereka sudah tidak terlihat lagi.


"Entah kenapa, perasaan ku aja atau di sini tercium jelas aroma bangkai bercampur bunga melati di sekeliling ruangan ini?" Aku pun berjalan menghampiri mereka dengan menaiki seratus lebih anak tangga yang mengarah ke ruangan misterius dengan pintu bersegel warning di depan nya. Aku takut kalau saja ini berbahaya tapi apa boleh buat, sudah sampai sejauh ini tidak mungkin lagi bagiku untuk kembali keluar. Besar kemungkinan pula pintu portal tadi sudah tertutup supaya tidak ada lagi yang masuk ke dalam lebih banyak.


Saat aku ingin membuka pintunya, tiba-tiba aku mendengar langkah kaki di lantai bawah. Ramai sekali, ada berapa orang memang nya mereka ini?


Sambil sedikit menyembunyikan diriku, aku menengok dari atas siapa lagi yang baru saja masuk ke ruangan ini. Ternyata itu adalah Aran-sensei, Viona serta Vhylen yang membawa sebuah troli dengan kotak berukuran sedang di atasnya. Nampak seperti brankas dilihat dari bahan nya memang seperti itu tapi tengah nya bukan pengunci tapi jendela kaca seperti yang ada pada mesin cuci di bagian tengah brankas itu. Di dalam nya aku bisa dengan jelas melihat sesuatu. Seperti...


"Kepala seorang gadis?" Di liat lebih dekat dia mirip sama seseorang yang ada di foto lukisan keluarga di salah satu koridor mansion Izumi. Seorang gadis berbaju hitam dengan topi baret berwarna putih berhiaskan mawar berwarna pink. Dia nampak merangkul Izumi dan tersenyum simpul ke arah kamera. Aku sangat ingat rupa gadis itu sangat mirip dengan kepala yang mereka sedang bawa saat ini. Ku dengar dari cerita Izumi dia juga adalah kakak nya tapi dia di angkat sama keluarganya karena pernah jadi korban pelecehan seksual di tempat kerjanya. Keluarga Izumi pun membawa nya dengan tulus dan menjadikan dia sebagai anggota keluarga pula. Tepat di bawah lukisan itu aku bisa melihat namanya juga.


Yuuzy Haruka, Hanakawa Izumi, Viona Izumi, Aran Ryousuke. Izumi family.


Yuuzy, aku seperti tidak asing dengan nama itu. Nama yang pernah di sebutkan dalam mimpi berkelanjutan sebelum aku berada di pulau ini, yang membuat anggota band ku yang lain tertegun melihat ku tidur sambil berdiri di depan mereka semua. Aku ingat pernah dipanggil dengan nama itu di mimpi oleh Vhylen. Di sebuah rumah misterius yang vibes nya sangat mirip dengan mansion Izumi. Apa itu artinya aku sedang berada di mimpi yang ada pada pikiran Yuuzy? Tapi kenapa bisa?


"Sialan, mereka menuju kemari. Aku harus segera ke dalam. Eh nanti juga ketahuan mendengar suara pintu ini." Mau tidak mau aku harus masuk. Pergi atau tidak pun sama aja tetap ketahuan sih jadi daripada ketahuan di bawah sama mereka bertiga lebih baik aku cari aman aja.


Krieeet~


Sialan, berisik banget.


"Barusan kek nya ada yang buka pintu itu tapi gak ada orangnya."


"Sudah lah Vhylen, gak ada waktu lagi. Ayo kita menyusul Hanakawa yang sudah lebih dahulu di atas sana. Itu pasti dia sih aku yakin."


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku berhasil lolos dari perhatian mereka, syukur lah. Tapi berakhir sial bagiku. Saat aku melangkah masuk ke dalam kaki ku tidak sengaja menginjak jebakan dan membuat kedua tangan dan kaki ku terikat hingga membentuk silang. Berkat itu aku jadi ketahuan sama orang yang harusnya lebih dihindari ketimbang ketiga orang di bawah tadi.


"Uhh, yah, sebenarnya aku tidak ingin. Tapi penasaran berhasil mengalahkan logika ku. Jadi aku mengikuti kalian."


"Huh, baiklah jika demikian. Ada bagusnya kamu saja sendiri yang ke sini kan ya. Aku jadi gak perlu repot-repot menjelaskan mu nanti karena kamu bisa lihat sendiri secara langsung apa yang akan aku lakukan di sini."


"Apa maksud mu?" Kedua pelayan yang berjalan mengikuti nya tiba-tiba bertingkah aneh sekali. Mereka seperti kehilangan kendali tubuh mereka sendiri. Tak lama kemudian mereka malah berganti wujud dan berubah menjadi sesuatu yang sangat mengerikkan. Seperti sosok yang sangat tidak asing bagiku, aku pernah melihat ini di suatu tempat dan aku tiba-tiba saja melihat hal itu. Di masa kecil ku, aku pernah di hampiri kumpulan monster seperti ini, mereka ada 5 dan saling mengelilingi ku dan juga Vhylen.


"Tunggu, Vhylen. Apa waktu itu Vhylen benar-benar ada bersamaku?"


"Azumi, kamu ingat dengan mereka kan? Mereka adalah peliharaan ku dan masih ada banyak lagi di tempat yang bernama Ruangan Hitam dan Merah. Kamu sudah kesana kan dan bertemu dengan sang ratu. Mungkin aku akan memberitahu kan mu fakta mengejutkan lain nya tapi nanti saja saat dia ada di sini."


"Iya, aku ingat. Dan aku ingat pin inisial yang menempel di masing-masing jubah mereka dan itu memang identik dengan ciri khas butik mu. Jadi mereka ini kamu yang urus."


"Benar."


Seseorang masuk dari balik pintu itu. Mereka adalah Vhylen, Viona dan juga Aran-sensei. Tak lupa kepala yang ada di dalam brankas dan sekarang berada di tangan kosong Vhylen. Darah masih menetes dan matanya melotot melihat kearah ku dengan seram nya. Sekujur kepalanya sedikit membiru dengan beberapa memar di leher. Kenapa Vhylen mau di suruh memegang benda itu dengan tangan kosong tanpa sarung tangan? Kuman nya bisa berpindah ke tangan nya apalagi bagian pangkal lehernya banyak sekali belatungnya.


"Walah, pantas saja aku cari tidak ada, ternyata dia sendiri yang kemari."


"Emang ceroboh seperti biasanya ya, Ryo-sensei. Tapi itu bagus sih daripada menjelaskan padanya panjang lebar."


"Azumi..."


"Vhylen, kenapa kamu memegang itu? Jorok lah, banyak belatungnya." Tiba-tiba Izumi menghampiri ku dengan tatapan sinis kemudian aku di tampar sangat keras oleh nya.


"Jangan panggil kakak ku begitu. Dia bersih dan suci jika di bandingkan dengan kamu, Azumi Chieko. Tidak, sebentar lagi kamu akan menjadi dia."


"Kenapa kamu menamparku? Apa kamu buta? Bisa saja belatung itu menyakiti Vhylen."


"Apa iya? Sepertinya dia baik-baik saja. Oh, apa kamu baru saja menyebutnya Vhylen? Yakin kamu kalau dia orang yang sama?"


Aku melirik kembali ke arah Vhylen dan memang aku tidak salah melihat kalau itu memang benar dia. Dia sedang melihatku dengan tatapan sedih juga takut. Seperti ada hasrat ingin melepaskan ku dari jebakan ini tapi ada tekanan kuat yang di berikan oleh atasan nya saat ini walau itu sebenarnya hanyalah akting untuk mengawasi diriku.


Bagaimana ini, aku merasa ketiak ku mulai keram karena tangan ku di biarkan seperti ini terus. Apa tidak ada cara supaya aku bisa bebas dari lilitan tambang ini?


"Vhylen, bawa kepala itu kemari dan biarkan Azumi melihatnya dari dekat." Vhylen mendekat dengan kepala yang ada di tangan nya. Dan dia menyodorkan nya tepat di depan mataku langsung. Bau busuk dari mayat ini mulai masuk kedalam hidungku hingga perutku seketika merasa mual dan ingin ku memuntahkan semua yang ada. Sialan, apa yang kamu lakukan Izumi?! Ini seperti bukan Izumi yang aku kenal baik, imut, dan ceria. Dia sekarang lebih seperti boneka kosong dengan tatapan gelap seperti kubangan rawa di malam hari dan juga kulit nya yang pucat seperti mayat hidup. Tak lupa pula aku pun melihat semua kuku kaki dan tangan nya tumbuh panjang dan di warnai dengan warna hitam legam dengan corak sarang laba-laba berwarna merah. Beberapa di kasih bunga mawar kecil di pinggir kukunya. Dia keliatan seperti penyihir. Sama seperti kesan pertama yang aku berikan dulu padanya.


"Huekkk—"


"Hah, parah. Tega sekali kamu muntah setelah melihat kecantikan kakak Yuuzy. Tapi ya terserah, hanya segelintir orang yang bisa menghargainya."


"Kamu pasti bukan Izumi. Katakan di mana Izumi yang asli berada?!"


"... Kepalamu mulai tidak beres ku rasa. Mungkin aroma wangi dari kakak ku sudah mengacaukan ingatan mu. Sekarang kamu ingat, keadaan Vhylen setelah bertemu dengan peliharaan ku?" Eh? Entah kenapa pandangan ku menjadi gelap sekali kali ini dan berubah menjadi pemandangan masa lalu waktu aku bersama Vhylen dan bertemu dengan 5 monster itu. Ya, itu tepat di waktu 8 tahun yang lalu. Hari itu sangat dingin, mau tidak mau kami harus tidur di luar bermandikan guguran salju yang sangat dingin jika terkena kulit. Saat itu kelima dari mereka mengelilingi kami dan menangkap Vhylen..?


"VHYLEN?!!"


Vhylen di makan habis salah satu dari monster itu dan menyisakan kepalanya saja dan aku di bawa oleh mereka bersama dengan kepala milik Vhylen.


"AGHHHHHH"


"Tu..tunggu, Hanakawa, apa kamu yakin mau lakukan sekarang? Aku kira ini belum waktunya hei. Bagaimana dengan sekolah nya nanti?"


"Hah? Kenapa mama malah mikir itu? Lagian, bagian dari sekolah nya itu pun semua nya palsu kan? Harusnya mama tau, lebih cepat, lebih baik. Aku tidak mau menunggu lagi ma, mumpung dia datang ke sini sendiri, aku harus menghargai usaha nya. Nah, Azumi. Hidup lah kembali dengan ingatan kakak ku."