Like a Doll

Like a Doll
Sangat Menyebalkan



"Maaf. Hem, tadi siang aku liat kamu pingsan di pinggir jalan dengan luka robek di pergelangan kaki mu. Kenapa itu bisa terjadi coba?" Saat dia mengatakan hal demikian, aku baru menyadari luka itu dan baru pula merasa nyeri saat berusaha menyentuh nya. Dia benar, tapi sejak kapan luka itu ada di sana? Bukan nya itu seharusnya bekas gigitan ular berbahaya itu? Jadi benar kalau semuanya hanyalah mimpi? Aduh, kepalaku jadi terasa sangat berputar-putar sekarang. Apa yang harus ku lakukan di tempat asing ini. Aku bahkan tidak membawa uang untuk ongkos pulang dan juga ponsel untuk menghubungi rumah. Saat aku tanya sedang berada di mana kita saat ini, katanya ini adalah rumah pamannya yang terletak di lokasi yang bersebelahan dengan kota Kyoto. Itu sangat jauh dari tempat tinggal ku sekarang yakni Tokyo.


"Begitu ya. Maaf kalau aku jadi merepotkan mu dan membentak mu berkali-kali. Aku tidak tau kalau tujuan mu baik mau menolongku. Tapi boleh kah aku minta tolong sekali lagi? Pinjam kan aku ponsel mu, dan aku akan pergi setelah menghubungi orang di rumah." Dia malah termenung dan tidak memperhatikan semua yang sudah aku ucapkan panjang lebar. Dasar pemuda sialan, aku sudah halus dan minta maaf pun dia masih jutek kepadaku. Salah ku sendiri juga sih karena sudah membentak nya padahal dia orang yang sudah menolong ku.


"Sayang nya, ponsel ku baru saja mati."


"Oh, ya, kalau begitu telfon rumah?"


"Paman ku anti teknologi jadi di sini tidak ada apapun untuk sarana komunikasi. Kami biasanya kirim pesan tertulis lewat pos." Astaga, paman nya ini orang apa? Udah jaman nya lebih mudah memakai ponsel dan telfon rumah kenapa harus repot-repot menulis dan membuang uang hanya untuk bertukar pesan?


"Mending kamu istirahat aja. Aku akan memasak makan malam dan kamu ikutlah makan dengan kami di ruang makan saat keadaan mu mulai membaik. Aku akan cas ponsel ku sehingga kamu bisa menggunakan nya." Sepertinya pemuda ini punya kepribadian ganda. Dalam sekejap mood nya menjadi bersahabat dan sangatlah ramah. Padahal tadi dia jutek banget saat menjawab semua pertanyaan yang aku berikan padanya.


"Anu, namamu?"


"Vhylen. Vhylen Roberto. Kamu Yuuzy Haruka bukan? Tidak perlu memberitahu ku. Sejak awal aku sudah bisa tau nama mu dari kartu nama yang kamu bawa." Vhylen pun keluar dari kamar ini dan meninggalkan ku sendirian di kamar. Aku menjadi sangat canggung sih dengan keadaan seperti ini. Aku ingin pulang dan memeluk tubuh Izumi ku yang imut dan cantik. Aku rindu ibu yang selalu membuatkan ku roti isi ayam dengan saus kacang yang sangat enak. Namun bagaimana lagi sih, aku tidak bisa berbuat apapun selain menunggu saja di tempat yang asing seperti ini.


Rasanya tiba-tiba aku menjadi kasihan dengan wanita aneh itu. Di liat pula dia berbicara dengan tubuh orang yang aku sayangi jadi makin kasihan aku di buat nya. Aku menghampiri paman dan bertanya ingin makan apa untuk malam ini. Karena beliau tuan rumah, aku harus minta izin padanya untuk memakai semua yang ada. Saat pembicaraan yang hangat ini, tiba-tiba ada yang menerobos masuk kedalam rumah paman dengan menghancurkan pintu depan. Ternyata mereka adalah keluarga Izumi dengan anak buah nya yang berbadan besar. Mereka ada banyak dan membuat keributan di rumah paman.


"Tidak punya sopan santun ya kalian sebagai keluarga terpandang?"


"Diam. Di mana kakak ku?! Kalian, hancurkan semua yang ada di rumah ini."


"HENTIKAN TINDAKAN KALIAN!! ATAU AKU LAPORKAN KE POLISI!!" Eh jangan, walau aku laporkan sekalipun polisi pun tidak akan memperdulikan ini. Keluarga mereka memang tidak ada tandingan nya ketimbang rakyat jelata seperti kami. Apapun yang kami lakukan tidak akan bisa menandingi dari yang mereka punya. Sialan, antek-antek nya juga mulai menghancurkan semua barang yang ada di ruang tamu. Bahkan dia sempat melempar paman hingga terlempar sangat jauh. Keluarga ini benar-benar sudah membuatku kehilangan kesabaran. Mereka sudah melampaui batas, seperti nya aku harus ke mode bertempur yang di pasang dalam senjata ku. Memori ku tidak hanya berisi ingatan juga peralatan dan senjata untuk melindungi diri. Karena itulah aku di sebut robot android, tanpa adanya itu aku tidak akan bisa melindungi Azumi—walau sampai sekarang pun aku tidak benar-benar melindungi nya kali ini.