
Aku tidak merasakan hawa kehadiran Azumi di sini. Tapi, dia sekarang berdiri tepat di hadapan ku sedang memanggang barbekyu bersama yang lain. Tapi kenapa hawa kehadiran nya begitu samar? Apa benar ini Azumi yang asli?
"A..ada apa kamu memandang ku seperti itu pelayan? Kamu mau berbuat mesum ya?"
"Enak aja!! Gak mungkin." Tapi sifat menyebalkan nya pun sama persis dengan Azumi. Hanya saja, keraguan tidak bisa menghilang begitu saja hanya karena mereka tidak terlihat memiliki perbedaan sedikit pun. Haruskah aku mencari tahu?
"Aku akan pergi mengambil minuman nya lagi, hei, Azumi. Bisa temani aku?"
"Kenapa harus aku?"
"Kamu kan udah selesai. Udah ikut aja lah." Aku menggandeng tangan Azumi dan pergi dari pesta itu menuju ke dalam mansion. Benar, keraguan ini harus dilenyapkan segera. Azumi nampak memberontak dan enggan masuk ke dalam mansion, tapi aku sudah menduga hal itu. Ini bukan Azumi yang sebenarnya.
"Mereka berdua terlihat akrab ya, haha."
.
.
.
.
Setibanya di mansion, hanya ada aku dan Azumi sendirian. Semua pelayan sibuk mengurus pesta di depan jadi pelayan yang tersisa kini sedang bertugas membersihkan ruangan di lantai atas juga di belakang mansion. Aku dan Azumi saling memandang sebentar.
"Kamu siapa?"
"Hah?"
"Aku bertanya, kamu siapa?"
"Pertanyaan konyol macam apa ini, Vhylen? Kamu hanya membawa ku kesini cuma buat bertanya seperti itu?"
"JAWAB!!" Maafkan aku, Azumi. Walau kamu memang Azumi yang aku kenal, aku tetap tidak akan tenang jika aku tidak membentak mu sedikit. Tolong kerja samanya dan hilangkan keraguan yang ada di hatiku kali ini.
"U..uhh, sudah jelas aku ini Azumi. Azumi Chieko, teman masa kecilmu."
"Maaf aku membentak mu. Tapi aku tidak percaya. Kamu tidak terlihat seperti nya dan kamu tidak mengeluarkan aura kehidupan saat berada di pesta sepanjang hari ini semenjak kamu pergi bersama dengan Hanakawa dari mansion ini tadi."
Azumi menghembuskan nafasnya malas, lantas menatap sinis ke arah ku. Dia lalu berjalan ke depan entah dia mau kemana dan mulai menendang pilar yang ada di depan nya. Secara ajaib muncul pot bunga besar yang sebelum nya tidak ada di tempat dimana dia menendangnya. Ada apa ini sebenarnya?
"Hah, kau sudah tau jadi yaudah deh sekalian aja aku bocorin. Azumi yang asli sekarang ada di dalam sini. Di tempat aku berdiri sekarang ini adalah pintu masuk nya. Tapi kamu gak bisa ngapa-ngapain seperti mau menyusulnya, karena kalau urusan Azumi belum selesai di bawah sana, pintu ini tidak akan terbuka." Aku mulai mengerti apa yang di jelaskan nya barusan. Dia pasti pelaku dari ini semua. Aku yakin, Hanakawa sialan itu yang melakukan ini, dia menjebak Azumi untuk masuk ke dalam nya. Lagian urusan apa yang di miliki Azumi sampai-sampai dia masuk ke dalam lubang iblis ini? Sialan, aku pun tidak bisa berbuat apapun selain menunggu pintu ini terbuka dan Azumi kembali dengan sendirinya. Tapi, mana mungkin aku cuma menunggu saja sedangkan, mungkin saja Azumi sedang dalam bahaya di bawah sana. Aku bisa yakin 100% saat ini dia sedang berhadapan dengan masalah serius.
"Aku tidak bisa membantumu ya. Aku bisa kembali kalau yang asli kembali lebih dulu." Dan yang palsu pun tidak bisa melakukan banyak hal selain menunggu sama seperti yang aku lakukan saat ini. Kira-kira berapa lama lagi aku harus menunggu. Semoga saja dia di lindungi dari segala bahaya yang mungkin saja terjadi di dalam sana.
.
.
.
.
.
.
.
"Kamu tidak bisa menjawab?"
Aku malah terjebak dalam pertanyaan yang ternyata lebih sulit dari yang aku kira. Jawaban ini tentu ada resiko nya masing-masing, tidak ada yang benar-benar jawaban yang dapat menyelamatkan ku dari masalah ini. Terlebih lagi, aku bisa melihat Viona nampak bertingkah aneh dan juga seram sekarang. Apalagi Izumi kecil yang terus menatap tajam kearah ku sambil memegang erat boneka dirinya hingga hampir sobek.
Viona menatapku tajam juga, dia mendekatkan wajahnya ke arahku membuat bola mata kami saling bertemu dan aku mulai di buat tenggelam olehnya. Bagaimana ini, menjawab tidak ada benarnya, diam pun tidak ada gunanya. Apa yang harus aku jawab kali ini, kenapa kamu tidak memberikan ku bocoran soal pertanyaan menjebak ini Izumi dewasa.
"Emm, aku... Aku tentu tidak mengenal kalian, haha." Viona terdiam lantas mundur dari hadapan ku. Seketika ruangan ini mulai bergetar hebat dan langit-langit mulai berguguran menghantam semua benda yang ada. Tidak hanya itu lubang juga mulai muncul di beberapa sudut lantai ruangan ini. Viona yang tadinya bungkam malah berteriak mengerikkan membuat ku hampir menangis dan gendang telinga ku menjadi tuli sedikit di buat nya. Aku melihat Izumi dia sudah berubah menjadi sosok aneh yang ngesot di lantai. Itu terlihat berlendir merah darah dan memiliki aroma busuk di sekitar nya. Tidak hanya itu saja, yang awalnya kukira replika tulang yang sedang terduduk di kursi goyang, malah hancur lebur menjadi abu dan kemudian hilang di tiup angin.
Viona sekarang sepenuh nya berubah menjadi monster aneh tak berbentuk yang meneteskan lendir asam yang mampu melunturkan batu sekalipun. Kakiku rasanya mulai mati rasa karena kelamaan duduk dan aku tidak bisa berlari menghindarinya. Aku jelas harus lari dan mencegah agar diriku tidak terbakar lendir asam yang keluar dari tubuh nya.
"Hei, Azumi. Ini liontin mu. Kamu tau, ada satu hal yang unik di sini. Itu ialah, kamu adalah satu-satunya tamu ku yang tidak bertanya 'apakah Viona ini juga bagian dari ilusi?' itu berarti kamu sudah tau kalau aku abadi di dunia ini dan aku adalah penghuni yang sama dengan monster yang aku maksudkan. Ya, benar. Aku ratu di tempat ini. Aku lah pemimpin monster itu dan ini lah wujud monster ku yang lebih menyeramkan timbang apapun. Aku beri waktu bagimu untuk berlari selama 2 menit, lalu aku akan menyusul mu. HAHAHAHAHHAHAHAHAHAH!!!!!" Tertawa itu, menyakitkan. Aku harus segera keluar dari ruangan terkutuk ini. Aku terjebak, tapi untung nya dia benar-benar memberikan liontin nya padaku. Aku pun berlari menuju pintu depan, di situ ternyata Izumi dewasa sedang menungguku dan dia mulai terlihat panik sambil ikut mengejar diriku sekuat tenaga.
"Hei, kenapa beliau marah? Apa yang sudah kamu lakukan Azumi?"
"Tidak tau. Aku hanya menjawab tidak pada pertanyaan terakhir yang dia tanyakan."
"Oh tidak. Gawat. Kalau ratu marah, semua penghuni dunia ini akan keluar dari sarang nya. Kamu bergegaslah, aku akan menahan mereka dengan sisa kekuatan yang aku punya." Izumi dewasa menghentikan langkah nya dan mulai menghadang satu persatu monster yang ternyata sudah mengejar lebih dulu di belakang ku. Aku tidak menyadarinya karena mereka hampir berlari tanpa suara ataupun getaran yang berarti padahal ukuran mereka lebih dari 200cm.
"Pergi ke pintu hitam polkadot merah di ujung sana, Azumi. Kamu akan di sedot kembali ke dunia mu dan kloningan mu akan menyusul membantuku di sini." Teriak nya dan aku pun langsung melihat pintu yang di maksudkan nya. Tapi saat aku hendak meraih kenop pintunya, tiba-tiba saja monster Viona menghadang ku dan hampir saja aku terkena lendir asam yang keluar dari mulutnya.
"Waktu mu habis~"
"Nenek sialan, terima ini. Azumi, lewati bawah nya dan segera masuk pintu. Aku akan meladeni nya sedikit."
"Baiklah, hati-hati." Aku berlari sekuat tenaga sekali lagi sambil menahan memar di kaki ku karena terjatuh tadi. Sempat berkali-kali Viona mencoba menghadang namun Izumi dewasa dengan sigap menarik kaki nya dan pergi ke tempat lain. Aku sudah berada di depan pintu itu dan akan membukanya. Di dalam terlihat seperti lift dengan beberapa tombol yang bersimbol aneh. Aku menekan tombol yang panahnya menuju ke atas dan lift ini pun mulai bergerak naik ke atas. Tapi saat lubang pintu nya terbuka, lift ini justru menghilang dan membuat ku melayang sampe tubuh ku benar-benar terlempar kembali ke dunia ku. Sebelum itu, aku sempat mendengar raungan menakutkan dari bawah sana membuat tanah yang aku lalui saat berada di lift tadi sedikit terguncang. Apakah Izumi dewasa akan memenangkan pertarungan kali ini?
.
.
.
.
"Azumi, Azumi!!! Oy, kamu baik-baik saja kan Azumi? Oy!!" Aku membuka mataku. Dingin, apa aku sedang di kamar sekarang atau di ruangan tamu? Siapa yang berisik dan membangunkan ku dengan kasar seperti ini?
"V..Vhylen? Kau kah?"
"Syukurlah, dia sadar."
"Azumi-san, kamu yakin tidak apa-apa. Aku khawatir banget, kamu pingsan di depan pintu mansion."
"Aku sudah memanggil dokter, kak."
"Minumlah ini, Azumi." Vhylen memberikan ku segelas air minum. Aku segera meneguk nya sampai habis. Tapi, hatiku rasanya kacau sekali kali ini, aku menjadi sering jatuh pingsan dan merepotkan keluarga ini. Aku ini payah banget. Tapi, aku tidak memusingkan itu sebenarnya. Aku hanya tiba-tiba merasakan aura mencekam dari ruangan ini. Rasanya aku seperti di awasi dengan tatapan mengerikan sama seperti saat aku berada di dunia ilusi itu. Apa salah satu dari mereka ada di sini?
"Vi..Viona?" Aku melihat sekilas ke arahnya. Auranya mirip dengan monster itu. Aku merasa di pelototin oleh aura kehidupan nya dan aku tidak bisa mengendalikan ketakutan ku lebih lama sehingga aku berteriak keras dan terjatuh dari ranjang. Rasanya aku ingin lari padahal ini hanyalah Viona, Viona yang biasanya. Tenang lah, Azumi. Dia hanya Viona yang kamu kagumi, kakak Izumi. Jangan kamu samakan dengan monster itu, mereka berbeda.
"AAAAAAAA!!!!"
"A..Azumi?!"
"Kamu kenapa, Azumi." Viona mendekat ke arahku. Aku justru berjalan mundur sampai menabrak tembok dan kembali naik ke ranjang, menutup wajahku dengan seprei.
"TIDAK, TIDAK. MENJAUH SANA!!! TIDAK, AKU TIDAK MAU MATI!!"
"Azumi? Hei, kamu kenapa?! Azumi." Vhylen berusaha membuka seprei ku, tapi aku bersikeras menahan nya. Aku tidak ingin melihat Viona dengan bayangan seram yang masih membekas dalam pikiran ku. Aku tidak mau salah mengira Viona yang asli dengan yang ada di dunia ilusi itu. Aku tidak mau melihatnya, aku ingin melupakan nya. Tolong, keluarlah dulu untuk sebentar saja.
"Izumi, panggil dokter nya segera. Yang lain kecuali Vhylen yang akan menemani Azumi, ayo ikut aku dan keluar. Kita biarkan dulu Azumi menenangkan diri, kemungkinan dia habis mimpi buruk dan tidak bisa membedakan kenyataan dengan mimpinya." Viona memberi instruksi dan membuat semua orang termasuk dirinya keluar dari kamarku. Tentu saja, kecuali Vhylen. Dia di biarkan di sini karena Viona yang menyuruh nya saat Izumi sedang memanggil dokter menuju kemari.
"Cup cup, Azumi, kamu baik-baik saja kan? Semenjak kita pergi dan tiba di tujuan kamu bertingkah seperti bukan kamu. Kamu sering pingsan dan takut tidak jelas. Apa kamu di ganggu? Apa pelindung dari Isabella masih kurang kebal menghalangi penglihatan mu dari makhluk seram?" Entah kenapa aku malah jadi merasa tenang saat di peluk oleh Vhylen dan dia mengusap kepalaku dengan lembut saat wajah ku membenamkan diri di tubuh nya. Hangat, aku menjadi nyaman dengan aroma mawar yang biasa dikenakan Vhylen. Aku sangat ingin menceritakan semuanya pada Vhylen karena hanya dialah yang mungkin saja bisa mengerti dengan keadaan ku. Dia juga selalu percaya dengan apa yang aku katakan padanya. Dia memang pendengar dan pemberi nasihat yang baik. Aku mempererat pelukan ku padanya. Tidak ingin semuanya berakhir dan aku pun tidak mau melepaskan Vhylen sampai aku benar-benar merasa baik seperti biasanya.
"Azumi, tatap mataku. Ceritakan semuanya padaku, aku akan mendengarnya." Tangan nya yang besar memegang wajah ku, menatap ku lembut dengan mata kucing nya yang terlihat berkilauan di bawah sinar lampu kamar. Aku sangat suka tatapan itu. Aku berharap dunia berhenti sekarang agar aku bisa menikmati ini.
Tidak, rasanya air mataku mau keluar.
"Huaaaa!!!!"
"Eh, eh, kenapa? Kenapa malah nangis? Ayo, cerita saja Azumi. Aku ada di sini, cup cup. Tenang lah Azumi, aku akan selalu di samping mu."
"Benarkah?" Vhylen mengecup kening ku singkat kemudian menatap sayu kearah ku.
"Aku tidak akan berbohong kalau itu berurusan dengan mu."
"Jadi begini. Aku takut, aku takut melihat Viona sekarang karena berhadapan dengan monster di dunia ilusi tadi."
"Monster? Ilusi? Nyonya Viona? Ah, kalau gak salah aku melihatnya. Kamu tiba-tiba muncul di hadapan ku secara bersamaan pot bunga itu menghilang. Aku benar-benar lega kamu kembali, syukurlah kamu tidak apa-apa di sana. Aku sangat bingung harus berbuat apa karena tidak bisa masuk menyusul mu, maaf ya." Vhylen mengusap air mataku yang menetes membasahi wajah ku. Jadi dia sudah melihat nya sendiri ya, memang hebat pendeta yang satu ini. Kemungkinan dia sadar kalau Azumi yang menggantikan ku bukan lah aku yang sebenarnya. Makanya dia bisa dengan mudah menemukan ku di tempat asal aku masuk ke dalam lubang.
"Makasih banyak. Kamu memang hebat, Vhylen. Aku tidak pernah menyangka kamu menyadari semuanya. Aku sangat takut sekali dari tempat itu."
"Cup, cup, aku sudah menyelamatkan mu seperti biasanya, Azumi. Nah, maukah kamu makan bersama ku?"
Aku mengangguk. Karena semua ini aku merasa jadi lebih lapar dan cacing di perut ku sudah protes. Vhylen ternyata sudah membawa troli makanan yang berisi dua porsi di dalam nya. Dia menyuapi ku dengan tulus. Tapi terkadang dia memasang wajah yang sangat memuaskan membuatku ingin memukul nya.
"Enak? Ini aku yang masak."
"Iya. Kamu hebat, Vhylen. Tidak salah aku mengandalkan mu. Aku berharap kamu lah jadi suamiku suatu saat." Setelah mendengarnya dia malah malu-malu dan wajahnya sangat memerah. Dia berusaha menyembunyikan nya tapi aku masih bisa melihatnya. Tapi aku memang bersungguh-sungguh mengatakan nya. Aku menyukai Vhylen bagaimanapun dia.
Tidak peduli dia pendeta dan indigo, aku benar-benar menyukai pria ini. Apa mungkin aku nyatakan perasaan ku ini padanya?
"Umm, anu, Azumi-san?"
"Ada apa?"
"A..aku suka.. aku suka sama kamu." Malah dia duluan yang menyatakan nya. Dasar curang.
"Aku juga."
"Eh?"
"Aku juga suka aku, pfffttt... Hahahaha, muka mu merah banget, Vhylen bodoh!!" Aku senang, ternyata dia menyukai ku. Aku akan sedikit menjahilinya dan lihat seberapa 'matang' nya wajah itu.
"Hiks :(("
"Bercanda. Aku juga suka sama kamu, Vhylen. Aku ingin kamu jadi suamiku suatu saat. Aku benar-benar menyukai Vhylen. Vhylen Roberto, terima kasih karena telah menyatakan perasaan mu padaku."