Like a Doll

Like a Doll
Piknik para Fotografer



"Ada keperluan apa anda ke sini?" Salah satu pelayan berbadan besar dengan kacamata hitam nya bertanya padaku membuat ku terkejut dan hampir saja di buat terjatuh.


"Ti..tidak ada. Aku hanya ingin melihat halaman nya saja."


"Kamu boleh masuk untuk memotret juga. Kami biasa mengizinkan para fotografer untuk memotret halaman kami." Aku baru tahu hal itu, tapi sedari tadi aku tidak melihat satupun fotografer yang ada di halaman apalagi di belakang taman tadi. Atau mungkin saja mereka belum datang karena ini masih terlalu pagi. Tapi menurut ku memotret pemandangan dan taman sangatlah bagus di lakukan saat pagi hari begini. Karena sudah terlanjur mendapat izin aku pun berterima kasih dan mulai masuk ke dalam kediaman keluarga ini.


"Permisi. Waahhh, ini sangat menakjubkan. Rasanya aku ingin piknik dan gelar tikar di sini. Pasti sangat menyenangkan."


"Sebentar lagi kita akan mengadakan piknik bersama keluarga Izumi. Jika berkenan, silahkan ikut."


"Tentu saja. Tunggu sampai fotografer yang lain datang. Piknik akan di mulai pukul 9 pagi nanti." Keluarga ini baik sekali sampai aku merasa merinding. Entah kenapa, di bayangan ku orang seperti mereka ini selalu mendapatkan kesuksesan dari merampas hak masyarakat kecil atau mungkin yang lebih buruk nya lagi adalah melegalkan bisnis senjata haram dari luar negeri. Ternyata keluarga ini sangat dermawan pada masyarakat jelata seperti diriku. Tidak heran untuk seseorang yang mempunyai bisnis butik di 400 cabang dan juga toko boneka di 250 cabang yang ada di Jepang juga luar negara. Menjadi anak nya pasti sangatlah bangga mempunyai orang tua yang bisa mencapai kesuksesan seperti ini. Dia tidak perlu menjalani kehidupan berat sama yang seperti aku lakukan. Ayah ku tukang mabuk dan ibu ku punya penyakit mental yang membuat kepribadian nya sangat cepat sekali berubah. Jujur itu sangat menakutkan apalagi ketika kepribadian nya sedang tidak bagus, pasti semua pisau di rumah akan melayang ke kepalaku.


Selang beberapa saat para fotografer itu memang benar datang masuk ke wilayah halaman ini. Mereka tidak banyak, hanya ada 1-5 orang saja kali ini. Mereka tidak hanya fotografer tapi juga seorang media massa yang sedang meliput kehidupan Izumi untuk di jadikan majalah bulanan keluarga bahagia.


"Suatu kehormatan aku bisa masuk ke sini. Makasih banyak." Seperti nya mereka sudah sering berkunjung kemari. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama dengan mereka, soalnya di sini sangatlah nyaman. Rumput yang tidak kering juga tidak terlalu basah, sangat lembut dan nyaman untuk berbaring di atasnya. Semilir angin nya juga sangat menyejukkan jiwa yang sedang kebingungan dengan keadaan saat ini. Seandainya kucing peliharaan ku ada di sini, mungkin dia sudah tertidur lelap saat pertama kali menginjakkan kaki nya di atas rumput. Beberapa saat kemudian, keluarga Izumi datang keluar dari kediaman nya dan menghampiri kami yang sudah menunggu untuk acara piknik, yang menjadi acara puncak kali ini. Ada salah satu pelayan yang sangat menarik perhatian ku. Dia sangat tampan dan warna matanya yang merah bagaikan Rubi terlihat sangat berkilauan di sinari matahari. Tidak hanya itu, rambut hitam dengan sedikit corak putih nya terlihat sangat halus dan terawat, aku jadi ingin menyentuh dan membelai nya walau hanya sekali. Dia adalah pria tertampan pertama yang ku lihat seumur hidup ku yang suram. Boleh kah aku berbincang dengan nya? Dia terlalu perfect untuk seorang pelayan saja. Harusnya dia berstatuskan anak yang akan mewarisi segalanya. Haha, mungkin itu hanya akan ada di hayalan ku saja sih.


"Terima kasih sudah datang ke piknik rutin setiap Senin kali ini— eh, aku tidak pernah melihatmu. Pengunjung baru? Apa kamu seorang wartawan atau fotografer biasa?" Nyonya besar itu langsung saja melirik ke arah ku saat dia sedang menyambut para tamu. Matanya yang tajam dan parasnya yang sangat sempurna membuat ku sedikit takjub. Body nya yang seperti jam pasir pun melengkapi kesempurnaan itu. Bibirnya merah seperti darah, seolah dia memang sedang menggunakan darah asli yang sangat pekat warnanya. Karena terlalu lama mengagumi sosok nya tanpa sadar aku sudah mengabaikan pertanyaan nya cukup lama sehingga aku menjadi gugup takut salah bicara dan aku malah berakhir di usir jadi nya.