Like a Doll

Like a Doll
Kumat lagi



"Paman. Aku ingin minta tolong padamu." Mungkin kali ini kami bisa menghindari kejaran keluarga gila itu tapi mereka sangat pintar dan jangan di anggap remeh. Dia bisa saja memikirkan kemungkinan yang ada dan dalam waktu sekejap saja kami pasti akan ketahuan karena sudah memastikan di mana saja tempat yang kemungkinan besar menjadi tempat persembunyian kali ini. Kantor manager Alice dan juga gereja sudah tidak aman dari jangkauan merek dan aku yakin mereka sudah punya pemikiran untuk ke tempat manager berada kemudian lah pergi ke gereja untuk tujuan terakhir. Terpaksa aku harus merepotkan pengurus gereja karena dia satu-satunya harapan kami dan sosoknya pun tidak di ketahui oleh keluarga tersebut. Aku juga harus segera mengobati luka sobek yang ada di pergelangan kaki Azumi sebelum nantinya kena infeksi kalau hanya di balut potongan kain dari baju ku saja.


"Boleh saja. Kalian bisa istirahat di rumah paman. Lagian, gereja akan di hancurkan sebulan lagi."


"Maaf sebelumnya paman, kenapa tau-tau gereja nya mau di hancurkan?"


"Kita sudah kehabisan kontrak sama atasan. Aku mau perpanjang tapi mahal. Jadinya terpaksa harus di hancurkan." Sayang banget sih, tapi belakangan ini kami kekurangan pemasukan dana dari santunan para dermawan dan makin banyak yang mulai berhenti mengunjungi gereja semenjak di bangun nya gereja baru atas nama keluarga Izumi. Semuanya semakin sempit hidup di dunia ini kalau di kuasai sama keluarga yang gila uang dan ilmu hitam seperti mereka. Aku hanya berharap semoga mereka cepat lenyap saja dari dunia. Toh, dunia gak perlu orang tamak harta seperti mereka semua. Apapun itu, di kuasai semuanya tanpa ampun.


Lagian, tidak perlu dokter pun aku punya bakat menjahit luka robek sedalam apapun itu sih. Soalnya selama aku dalam masa pelatihan robot, aku sudah di ajari cara mengurus luka juga cara menutup luka itu dengan cara menjahit atau dengan hal yang lain nya. Memang berguna juga sih ilmu ini, yang awal nya aku benci sekali begitu mengingat aku di ciptakan dari keluarga itu.


"Maaf ya Azumi, aku mau kamu menggigit ini soalnya rasa nya lebih sakit dari jarum suntik. Luka sobek mu ini agak dalam jadi butuh jarum yang besar dan benang yang ya setidaknya sedikit lebih tebal biar lukanya lebih menutup. Jadi maafkan aku ya. Aku akan coba perlahan."


"Gak perlu. Aku pun sudah merasa sangat mati rasa sekarang. Paling sakit itu tidak akan terasa lagi bagiku." Pikiran nya sekarang mulai kacau, dia berkata sudah mati rasa padahal sejak tadi dia ngos-ngosan menahan sakit yang ada di kakinya. Terlebih lagi, wajah itu menjadi lebih pucat dari apapun. Aku mulai khawatir ke depan nya akan menjadi apa. Mungkin kah yang aku lihat di kepalanya hari itu sudah mulai merasuki ingatan nya lebih dalam lagi pasti gejalanya mulai lebih parah dari sekedar banjir mimisan.