Like a Doll

Like a Doll
ビーチ!!!! (Pantai)



Belakangan ini Chieko sering jatuh pingsan, apa mungkin ritual itu sudah bekerja? Aku berharap sih. Sayang banget pas ritual masuk dalam pulau, dia malah ada di luar kapal. Dia jadi terkena pengaruh sihir dan lagi dia jadi sangat lemas sekali sekarang. Aku merasa tidak enak sih, tapi apa boleh buat. Ini demi rencana ku berjalan lancar. Aku harus menemui Ryo-sensei di kamar nya dan bertanya hal apa lagi yang harus ku lakukan dengan ritual ini. Aku merasa Chieko sudah menerima sebagian kenangan yang di miliki kak Yuuzy di masa hidupnya. Perkiraan ku dia sudah masuk dalam tahap mimpi amat buruk selama hidupku dulu. Ya, berita kematian kakak, aku dan kakek. Hanya tinggal satu langkah lagi dan aku akan mencapai tujuan ku, bertemu lagi dengan kak Yuuzy setelah sekian lama.


"Mungkin sudah saat nya Chieko-san masuk ke tahap selanjutnya. Aku harus membicarakan ini dengan Ryo-sensei segera." Saat aku berjalan melewati koridor rumah yang menuju ke kamar Ryo-sensei, aku mendengar Chieko berbicara dengan seseorang. Bukan nya mama sudah keluar dari kamar nya? Sekarang dia bicara sama siapa lagi? Aku mengendap-endap dan berdiri di depan pintu kamarnya. Suaranya memang sangat jelas sedang berbicara dengan seseorang.


"Tenang manager, aku sudah sampai kok."


Oh, ternyata dia sedang berbicara dengan manager nya yang ada di Tokyo saat ini. Padahal aku sudah percaya diri dia sedang berbicara dengan arwah anak kecil itu lagi sembunyi-sembunyi di kamarnya.


"Gak manager, aku sudah tau. Iya kamu benar, pulau ini tidak ada di dalam peta ataupun terekam satelit."


Tunggu, kenapa Chieko bisa tau kalau pulau ini tidak ada di peta? Bukan nya seharian di kapal semalam dia di kamar aja, tidak mungkin dia melihat bagaimana proses kapal itu masuk ke portal dan menuju ke pulau ini seketika. Ah, bisa jadi dia cari di hp gitu kan, haha, Hanakawa, kenapa kamu malah panik. Bisa aja kan, haha.


"Eh, ya, kan aku juga cari gitu, kepo pulau ini kayak gimana ternyata gak ada di google map." Ternyata benar, dia mencari tahunya di internet. Hampir aku di buat shock dan langsung menerobos kamarnya. Aku tidak mau Chieko sampai tau seperti apa kapal ini bekerja hingga bisa masuk ke pulau ini. Dengan semua guncangan dan air laut yang masuk kedalam kapal, semoga saja itu semua tidak membuat dia tersadar dari tidurnya. Pelayan perempuan itu sudah memberinya obat bius jadi seharusnya itu bekerja sampai keesokan paginya.


"Sudah dulu ya manager Alice. Aku mau bersiap-siap. Eh, ya, apalagi dong. Main di pantai. Cuaca sedang cerah hari ini. Ohh, di sana lagi hujan ya? Haha. Yaudah deh. Selamat tinggal manager."


Apa dia barusan bilang 'manager alice.' Ah, rekan bisnis mama buat bikin kostum band Rox'iz ya. Harusnya aku tau itu. Kakak kandung dari ketua mereka Hifumi Rikka, orang nya tegas dan sangat disiplin. Kemarin dia sempat menolak memberi izin kepada Chieko untuk ikut liburan bersamaku dengan alasan dia harus latihan vocal lagi dengan guru nya. Setelah liburan ini memang akan di adakan festival budaya di sekolah, makanya tidak ada waktu balik dari liburan terus latihan. Tapi aku sudah menyewa guru vocal terbaik kami dan menyediakan alat musik yang biasa di pakai Chieko mentas, jadi Chieko bisa mengasah kemampuan nya walau sedang liburan. Berkat aku menjelaskan keadaan Chieko yang cukup memprihatinkan dan juga sedikit ancaman akan memutus kontrak kerja mama dengan nya, manager Alice dengan berat hati memberikan izin nya pada Chieko. Aku sangat tau dia tidak mau sampai putus kontrak dengan mama, jika tidak band Rox'iz akan mencapai kehancuran nya seketika. Tidak ada yang membuatkan kostum, juga tidak mendapat sponsor besar-besaran dari perusahaan butik mama, juga promosi band Rox'iz agar tetap terus menyala. Resiko nya terlalu besar, kau tau.


"Eh, Izumi, sejak kapan kamu berdiri di sini?"


"Ah, ya... Anu, gak. Aku.. hehe. Aku sedang menunggumu."


"Lantas? Kamu saja belum siap. Cepetan lah Izumi, aku udah siap loh. Aku tinggal nanti."


"Eh jangan! Yaudah tunggu aku ya. Sebentar. Eh, tunggu, kok gak pake bikini?"


"Aku gak suka. Haha. Buruan sana." Sejak belanja pakaian renang kemarin ternyata dia tidak bohong soal kenyataan dia tidak suka memakai bikini saat di pantai. Dia malah memakai celana pendek yang di belinya kemarin, sepatu hak santai warna putih dan juga kaos putih polos yang di ikat sampai kelihatan perut nya. Memang terkesan seksi bagiku tapi ya, pasti dia sudah menyadari keberadaan tanda yang ada di pundak nya saat ini dan dia tidak ingin menunjukkan nya padaku. Oh iya, aku harus bergegas untuk berganti pakaian, urusan dengan Ryo-sensei bisa aku lakukan lain kali saja. Ini bukan saat nya memikirkan rencana itu. Semua nya sudah dijadwalkan dan sudah tidak bisa di ubah lagi. Hari ini harusnya jadwalnya bersantai di pinggir pantai bersama yang lain nya.


.


.


.


.


"PANTAII!!!!!"


"Hei, Chieko-san. Kamu kekanakan sekali."


"Oh iya, Izumi. Bukan nya kamu sensitif sama matahari ya? Kok pake bikini?" Aku baru saja menyadari satu hal kecil yang selama ini aku kurang perhatikan. Ya, aku yakin Izumi akan berubah pikiran dan tidak mau memakai bikini yang di beli nya kemarin dan sekarang aku melihatnya berjemur dibawah sinar matahari dengan bikini juga jaket pink transparan.


"Jangan khawatir, Chieko. Ryo-sensei sudah punya obat untuk masalah sensitif ini, jadi aku tinggal mengoleskan satu botol penuh hingga semua badan ku tertutupi dengan baik."


"Semacam sunblock ya?"


"Ya mungkin."


"Tapi boros banget kamu kalau pakai satu botol, Izumi."


"Jangan khawatir. Stok nya Ryo-sensei banyak banget hehe." Beberapa pelayan datang dan menyiapkan payung lebar juga kursi pantai dan meja untuk meletakkan minuman dan camilan di atasnya. Aku bisa melihat Vhylen yang menahan hasrat ingin berenang nya sambil mengigit bibir, melihat ku bermain air bersama Izumi. Aku kasian tapi apa boleh buat, sekali-kali aku melihat wajah menggemaskan nya karena hasrat ingin ikut berenang nya sangat tinggi.


"Vhylen, kenapa gak ikut berenang aja? Kalian bertiga seumuran kan?"


"Bo.. boleh kah, nyonya Izumi." Kak Viona mengangguk. Ternyata dia memberi izin pada Vhylen untuk ikut bermain air bersama kami. Aku juga lihat Isabella berjalan mengekor ke Vhylen. Kemungkinan dia juga mau ikut berenang meskipun dia hanyalah sebuah arwah.


"Vhylen semangat banget ya begitu dapat izin dari kakak."


"E..ehh, ya. Mungkin dari awal dia memang mau ikut berenang dengan kita."


"Btw chieko, bisa bantu aku naik ke atas pelampung ini. Hehe." Aku mengangkat badan Izumi tinggi-tinggi dan menaruh nya ke atas pelampung biru muda yang senada dengan air laut kali ini. Sangat jernih dan berkilauan layaknya berlian biru yang indah. Selang beberapa waktu, Vhylen dan Isabella kembali dari ruangan ganti baju.


"Wih, body pelayan itu lumayan juga. Memang keliatan nya kurus pas pake baju doang, asli nya di dalam dia sangat seksi." Aku baru pertama kali liat Vhylen tidak memakai baju nya selain celana pendek warna hitam juga kacamata renang. Aku tidak pernah tau kalau badan nya sebagus itu meskipun dia setiap ku ajak berkelahi selalu kalah dariku. Atau kah dia sengaja melakukan nya demi aku?


"Jika dilihat lebih dekat ternyata dia pun tampan juga. Hei, Chieko, wajah mu memerah. Yakin tidak papa?"


"Eh, oh, ya. Tentu saja. Aku baik. Ini hanya panas saja jadi muka ku memerah kayak gini. Aku juga kayaknya lupa membawa pendinginan juga sunblock." Aku juga tidak tau aku kenapa padahal aku tidak merasa panas saat ini. Saat aku melihat Vhylen berjalan kemari dengan keren nya, itu membuatku gila. Suara detak jantungku tidak mau diam juga sedari tadi. Aku tau dia keren, tapi dia masih lah orang yang bodoh, Azumi. Jangan sampai tergoda sama aura yang tiba-tiba saja dia keluarkan.


"Kenapa kamu menatap aku kayak begitu, nona?"


"Huh, GeEr banget sih jadi cowok." Benar, itu jawaban yang bagus, Azumi. Pokoknya tetap jangan bertingkah dengan itu. Aku harus menghindar dari air dan menenangkan jantung ku lebih dulu sebelum lanjut main. Aku tidak tau lagi akan terjadi apa lagi nantinya kalau misalnya ini pun bisa bikin aku pingsan. Tapi saat aku melangkah keluar dari air, tiba-tiba aku menginjak sesuatu di dasar laut dan membuat tubuh ku goyah. Aku pikir, aku akan jatuh dan malah basah kuyup dengan baju yang aku pakai sekarang jadinya aku menutup mataku. Tapi aku malah merasa seperti ada yang menahan ku biar tidak jatuh.


"Eh?"


"Gyuun— ehh, sialan. Lepasin." Aku pun menghindari nya dan kembali berjalan keluar dari air. Tapi aku malah lagi-lagi menginjak sesuatu dan membuat ku terjatuh lagi. Kali ini aku benar-benar membuat diriku basah karena baju ini. Aku tidak tau, tapi sepertinya aku tidak sengaja menarik tangan Vhylen hingga dia pun ikut terjatuh dengan ku.


"Aduh. Uhh, kenapa belakangan ini aku jatuh terus sih?!"


"Aku pun heran, nona. Haha." Vhylen sekarang ada di atas ku, dengan rambut basah dan tubuh nya— tidak, Azumi. Jangan lagi.


"GYUUNNNN." Untuk yang ketiga kalinya, aku malah jatuh pingsan di air karena melihat ketampanan dari Vhylen yang hari ini bisa kubilang terlalu berlebihan. Membuat jantung ku tidak bisa lagi berhenti berdetak kencang dan kepalaku mulai dipenuhi halusinasi yang sama sekali tidak ingin ku akui. Halusinasi kalau, aku, suka, Vhylen.


"CHIEKO?! LAGI?!"


"AZUMI-SAN!!!"


"VHYLEN, TUNGGU APA LAGI. CEPAT BAWA CHIEKO KE DARATAN!!" Vhylen pun mengangkat tubuh Chieko dan pergi menuju daratan. Aku tidak mengerti lagi dengan nya tapi, pingsan yang berlebihan ini pun juga tidak bagus sebenarnya. Bagaimana jika dia tiba-tiba pingsan saat dia berada di bibir jurang atau sedang mendaki gunung? Itu jelas sangat lah berbahaya.


"Kenapa? Kenapa dengan nak Azumi lagi?"


"Kak Azumi baik-baik saja kan? Apa tadi dia tenggelam?"


"Tidak. Dia cuma jatuh terus pingsan di bibir pantai jadi dia tidak memakan banyak air laut."


"Apa kita harus langsung membawanya ke kamar saja?"


"Jangan. Lebih baik kita biarkan dulu di sini."


"Dia basah, Vhylen."


"Gak, biarin aja. Biarkan dia kena sinar matahari nya."


Ya, mau tidak mau, kami membiarkan Chieko di baringkan di kursi pantai dan membiarkan tubuhnya kering dengan sinar matahari langsung. Sebelumnya Vhylen membuka payung itu biar lebih banyak lagi terkena sinarnya. Di lihat dari reaksi Chieko saat melihat penampilan baru dari si pelayan ini, aku yakin dia seperti tiba-tiba muncul perasaan di hati nya. Bahkan aku pun—mengakui kalau hari ini Vhylen terlihat berbeda dari saat pertama aku melihatnya bekerja di kapal kemarin. Dan sekarang dia malah membuat aura baru yang membuat Chieko tumbang seketika.


"Vhylen, bisa kita bicara sebentar?" Tapi, daripada itu aku masih belum menghilangkan keraguan ku ini padanya sejak pertama kali dia ada di sini. Aku masih tidak bisa mengabaikan fakta kalau dia ini sebenar nya adalah pendeta dan dia sangat kenal baik dengan Chieko ini. Pokoknya sekarang ini waktunya aku mencari tahu kebenaran di balik semua nya. Aku harus memastikan kalau dia benar bukan seorang pendeta yang sedang menyamar.


"Ada apa, nona muda Izumi?"


"Panggil aja aku Izumi. Toh kayaknya kita seumuran kan?"


"Ah, maaf kalau begitu. Ada apa Izumi?"


"Hem gimana ya. Aku ingin bertanya sesuatu. Kamu harus menjawab nya dengan jujur dan aku tidak mau ada sedikitpun keraguan dari jawaban mu ini. Apa kamu bisa?" Awalnya dia sempat bingung mendengar ku berbicara demikian, sampai mengulur waktu selama 2 menit dengan menggaruk kepalanya yang mungkin sebenarnya tidak lah gatal. Setelah itu dia menghembuskan nafas sejenak dan mulai membuka suara.


"Oke. Mau tanya apa?"


"Kamu... Kamu ini bukan pendeta kan?"


"Bukan. Saya hanya pemuda biasa yang sedang mencari uang? Itu saja kah Izumi? Kalau begitu, aku permisi."


"Eh, belum. Itu baru satu. Aku akan bertanya satu hal lagi, apa kamu ini kenalan dekat dari Chieko? Kalian berdua terlihat akrab sekali tadi. Dan sejak awal yang kamu perhatikan itu cuma dia seorang. Jadi, katakan padaku, apa kamu mengenal nya sudah cukup lama sekali?" Vhylen terdiam, lantas memutar bola matanya malas. Aku sangat tau betapa dia ingin berusaha buat menghindari pembicaraan yang lebih mirip interogasi ini. Bagaimana pun juga dia tidak bisa menolak jawaban ku karena aku adalah atasan nya dan dia adalah pekerja yang membantu semua urusan pekerjaan di rumah ku. Jadi tidak boleh ada kata 'tidak'.


"Ya, aku sangat mengenali Chieko. Dia kan anggota band populer di Tokyo? Nyanyian rock yang khas itu sangat lah keren dan cara bermain gitar listriknya benar-benar jago. Aku sangat nge fans padanya. Dan saat aku tau kalau aku sedang liburan bersama dengan nya, aku merasa sangat bahagia akhirnya aku bisa melihat idola ku sedekat ini. Berkali-kali aku ingin meminta tanda tangan nya, tapi sepertinya dia ini sosok yang sangat sulit di dekati oleh pria. Haha."


Jadi dia hanya penggemar berat saja ya. Aku sudah berharap terlalu jauh kalau dia adalah pendeta kenalan Chieko yang selalu main dengan dia. Atau lebih parahnya lagi, dia adalah teman masa kecil nya dahulu. Tapi kalau orangnya sudah menjawab demikian dan dia pun tidak terlihat ragu sama sekali saat menjawab pertanyaan yang aku berikan barusan, aku tidak bisa lagi menaruh kecurigaan yang berlebihan begitu saja setelah aku mendapat jawaban yang jujur dari bibirnya. Aku telah salah menilai pelayan ini. Dia memang benar hanya pemuda yatim piatu yang sedang mencari uang untuk kebutuhan nya sendiri.


"Apa hanya itu? Ya, sebenarnya aku pun juga turut mengagumi keluarga mu ini, Izumi."


"Maksud mu?"


"Yah, kalian ini keluarga paling kaya di kota ini jadi tidak heran semua orang pasti kenal termasuk aku. Aku sangat senang aku di terima bekerja sebagai pelayan kalian. Aku dari kecil selalu mengagumi orang kaya seperti anda. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa aku rasakan meskipun sudah kerja banting tulang sana sini. Naik kapal kemarin saja aku sudah cukup merasa bahagia sekali. Makasih banyak karena telah mempekerjakan ku. Baiklah, Izumi, apa kita bisa pergi. Sepertinya Azumi sudah sadar sekarang."


Aku mempercayai semua kata-kata sebelum nya kecuali saat dia mengatakan kalau dia mengagumi keluarga ku. Itu semua hanya kebohongan yang sudah berkali-kali terdengar di telinga ku. Biasanya, rakyat jelata selalu mengatakan demikian saat dia ingin mendapatkan uang gaji lebih kemudian benar-benar pergi dari pekerjaan nya sebagai pelayan. Karena dia berpikir uang yang di berikan nya sudah sangat cukup buat modal usaha dan tidak akan pernah lagi mau menginjakkan kaki di rumah ku. Ya, sudah ada banyak pelayan sepertimu mengatakan hal yang sama dan aku tidak merasa senang sama sekali dengan pernyataan yang sudah kamu buat. Vhylen Roberto, aku akan benar-benar menguak wajah aslimu yang sebenarnya. Apa kamu masih akan berkata jujur seperti sebelumnya?


Aku dan Vhylen pun kembali ke tempat awal kami. Dan benar, Chieko sudah sadar dari pingsan nya dan sekarang sedang makan sesuatu sambil memandangi lautan.


"Chieko, bagaimana keadaan mu?"


"Baik. Sekali lagi maafkan aku karena merepotkan kalian lagi."


"Tidak apa Chieko. Yang membawa mu kali ini adalah Vhylen."


"... Eh? Ah... Ya. Ughh, tentu saja. Makasih V-h-y-l-e-n." Kenapa hanya menyebut nama saja dia sampai ditekan gitu? Bukan hanya itu, muka nya masih merah dan salah tingkah. Menatap Vhylen aja tidak mau. Ada apa ini sebenarnya, Chieko? Ada berapa Chieko yang tidak aku tau di sini? Apa mungkin banget seorang populer sepertinya bisa naksir sama rakyat jelata seperti Vhylen meskipun muka nya memang sangat tampan.