
Sial, kita malah terlambat menindaklanjuti hal ini. Azumi benar-benar pergi sekarang dan dia bukan lah Azumi lagi.
Tangan bayangan itu memanjang dan mencekik leher kami berdua dan di angkatnya dia ke atas langit-langit kamar. Dia nampak marah dan seperti ingin menyerang kami. Itu terjadi begitu lama dan untung saja serangan itu sangat lemah sehingga kami tidak menerima dampak yang cukup besar. Palingan hanya sebuah goresan kec yang mendarat di wajah kami. Itu sudah terjadi selama 15 menit, lalu kemudian tangan bayang serta darah yang sedari tadi mengalir deras pun akhirnya menghilang. Dia jatuh pingsan di kasur yang sudah bersimbah dengan darahnya sendiri. Aku memutuskan untuk bertanya langsung pada dokter kali ini karena pasti saja dia mengetahui sesuatu tentang semua ini. Aku memang punya memori dari rencana mereka, tapi aku tidak punya penjelasan yang berarti hanya gejala, tahap dan proses saja yang aku ketahui. Tujuan dan penjelasan dari rencana tersebut itulah yang tidak ada dalam memori ku.
"Ini... Aku pernah melihat ini sebelumnya. Materi ini pernah aku buat di novel yang aku publish kan hari itu di sebuah platform dan menjadi sangat laku di pasaran saat buku fisik nya di rilis. Ini adalah gejala perpindahan ingatan. Di mana korban ini akan terus menerima gejala dari tindakan gila ini. Semakin memaksa ingatan asing itu menerobos masuk, semakin besar pula gejala yang dia dapatkan. Tujuan nya tidak lain hanya satu. Yakni, membangkitkan kembali ingatan orang yang sudah mati." Dilihat dari semua yang sudah terjadi, tujuan itu memang cukup masuk akal sekarang. Tapi mengapa mereka ingin membangkitkan ingatan orang mati? Apa untung nya bagi mereka dengan mengorbankan orang asing di dalam hidup mereka. Tidak bisa kah mereka memakai salah satu dari anggota keluarga mereka sendiri. Ah tidak, aku yakin Izumi saja anak mereka satu-satunya—setidak nya saat ini sebelum kakak nya berhasil sadar dari pingsan panjangnya hari ini.
"Sayang nya tidak ada. Tapi aku pernah bertemu dengan orang yang bernasib sama seperti ini dan dia berhasil memulihkan dirinya sendiri lalu mengembalikan ingatan nya. Tapi cara ini terlalu ekstrem untuk kamu lakukan nak. Harus mengorbankan orang sekali lagi dan mau tidak mau kamu harus membunuh orang itu." Membunuh orang? Maksudnya membunuh Azumi? Lalu apa gunanya itu di gunakan kalau orang yang mau di kembalikan ingatan nya justru pergi dari dunia ini? Ini semua sangatlah tidak masuk akal dan membuat kepalaku menjadi semakin pusing saja. Tidak ada lagi harapan, Vhylen. Lebih baik kamu menerima kenyataan ini walah sangat menyakitkan untuk di terima begitu saja.
"Ughh, di mana aku? Ehh, darah apa ini? Hua, kotor. Bau, sangat berantakan. Aku harus mandi—ehh, penyusup? Siapa kalian?! Pelayan!! Kenapa mereka bisa masuk hah?" Di tengah kebingungan yang melanda pikiran ku, gadis itu malah tersadar dari pingsan nya. Sebenarnya aku tidak mengharapkan kamu akan bangkit kembali menjadi orang lain yang menumpang hidup di tubuh kekasih ku. Itu sangat menyebalkan. Aku selalu berharap hal ini memang tidak pernah terjadi seumur hidupku. Seandainya saja Izumi tidak pernah ada dan Azumi tidak mengenal baik anak itu, aku masih bisa tidur dengan nya di kamar ini bersama menghabiskan masa muda.