Like a Doll

Like a Doll
Kembali Berlayar menuju laut kematian



Setiba nya di mansion, kami membawa Yuuzy masuk kembali ke kamar nya dan membiarkan nya beristirahat. Tapi Hanakawa masih saja menempel ke kakak nya yang sudah lama di tinggalkan. Dia terlihat bahagia sekali saat ini dan begitu juga dengan ku. Aku merasa terharu sekali kita bisa berkumpul kembali meskipun harus menempuh perjalanan yang tidak masuk akal dan juga harus mengorbankan banyak nyawa untuk mewujudkan apa yang sebenarnya tidak mungkin menjadi mungkin sekarang. Kedua anak ku kembali bersatu, Aran juga terlihat tidak menyangka aku membawa kembali anak angkat kesayangan ku. Dia merasa bahwa eksperimen gila dan mengetikan nya itu selama ini tidak sia-sia karena saat ini pun dia melihat hasil nyata di depan mata. Mereka berdua hidup kembali seperti dulu.


"Kenapa kalian terlihat seperti ingin menangis, hei, mama? Paman Ryousuke?" Yuuzy menatap kami bingung. Aku tidak bisa menyembunyikan dengan baik ledakan emosi ini. Semua ini pun hampir terasa sangat tidak mungkin. Meskipun aku harus menghadapi tantangan apapun lagi agar bisa memiliki Yuuzy seutuhnya dan membuat nya terbiasa dengan tubuh yang juga bukan milik nya pula. Tidak masalah selama aku bisa melihat wajah itu tersenyum dengan suara Yuuzy dan bukan orang lain yang secara kebetulan dan sial sekali harus terlibat.


"Tidak apa-apa. Yuuzy istirahat lah, mama akan keluar untuk menyiapkan makan malam." Hanakawa masih terus memeluk kakak nya di kamar jadi aku membiarkan nya saja. Sedangkan aku dan Aran berjalan keluar dari kamar. Ada satu hal yang aku ingin tanyakan. Ini soal perasaan tidak enak yang berkecamuk dalam diriku, secara tiba-tiba. Padahal belum lama ini aku merasa bahagia sampai ingin menangis di depan anak angkat ku yang sedang tidak mengingat apapun.


.


.


"Kurang apa lagi? Dia udah benar-benar menguasai tubuh gadis itu dan membuang pikiran yang lama. Kita sudah berhasil." Aran menatapku sangat serius. Seakan raut itu mengatakan bahwa tidak ada lagi yang harus di khawatirkan, kita sudah melihat itu terwujud saat ini dan sudah sepatutnya kita merayakan kejayaan kita kali ini. Tapi tetap saja, perasaan ini tetap tidak akan bisa membohongi ku. Cepat atau lambat aku mulai sadar sebenarnya ada yang tidak beres di sini. Aran sendiri pernah bilang sebelum nya, kemungkinan rencana ini berhasil hanya 25% saja dan ini juga terjadi tanpa bisa di duga oleh satu orang pun di mansion ini. Cukup meragukan jika kita secepat itu menganggap ini adalah hasil akhir yang kita inginkan.


Saat aku memikirkan pertanyaan sekali lagi soal pernyataan yang di katakan Aran barusan, tiba-tiba plafon mansion ini bergemuruh dan mulai muncul kabut di sekitar kami. Aku tau sekali ini tanda-tanda apa. Ini tanda ketibaan iblis yang sudah kami panggil waktu itu dan sekarang dia akan datang lagi kemari. Emang ada keperluan apa lagi, harusnya dia sudah merasakan jiwa Yuuzy sudah benar-benar menguasai tubuh itu dan dia tidak perlu datang lagi kemari. Apa jangan-jangan dugaan ku ini benar soal adanya ketidakberesan dari hasil akhir ini?


Beberapa saat setelah tanda itu menghampiri kami, iblis besar itu sekarang berdiri di hadapan kami. Aku dan Aran spontan berlutut dan sujud di hadapan nya. Aura itu selalu membuat kami tiba-tiba melakukan hal demikian—padahal sebenarnya aku tidak ingin melakukan tindakan memohon seperti ini. Tapi dia juga senantiasa terlibat dalam rencana ini, jadi dengan terpaksa aku harus melakukan nya setiap dia hadir mengunjungi mansion kami.