
Xavier Arvincer, begitulah orang tuaku memberikan ku nama. Ibuku sudah meninggal sejak aku pertama kali terlahir di dunia ini dan aku hidup, tumbuh besar bersama ayah yang bekerja sebagai kepala pelayan di salah satu rumah orang terkaya. Dan aku hidup di sebuah pulau setan tanpa pernah mengetahui seperti apa dunia yang berada jauh di luar pulau ini sendiri. Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku akan melihat dunia. Keluarga ini akhirnya membawa ku pergi dari pulau setan ini. Kau tau, hidup selama 16 tahun lamanya di pulau setan antah berantah dan hanya bisa dibuka menggunakan portal aneh yang tidak masuk akal, tidak lah mudah di jalani apalagi kamu hanya di kelilingi orang tua saja dan juga para pelayan yang aku rasa sudah berumur juga. Tidak ada satupun di sini yang seumuran dengan ku.
"Jadi kita mau kemana?"
"Tokyo. Kamu bisa kan pura-pura jadi cewek di sana? Soalnya keluarga ini punya tugas buat kamu. Ughh sial, rambut mu ini penuh dengan kutu. Mentang-mentang jauh dari dunia bukan berarti kamu tidak mandi ya bajingan. Aku akan menyisir semua kutu ini biar keluarga ini tidak malu mengajak mu ke kota besar." Lagian untuk apa aku mandi dan berdandan, tidak ada siapapun yang akan ku tunjukkan penampilan ku setelah mandi kan? Jadi aku menghabiskan waktuku di ruangan untuk main game dan makan camilan. Ayah tidak pernah mengurus ku karena pekerjaan pelayan itu sangatlah banyak jadi aku bebas melakukan apapun di mansion ini walau terkadang aku selalu di marahi pelayan perempuan—seperti yang sedang memandikan ku saat ini, lantas kamarku di bersihkan brutal sama mereka. Bersih itu memang hal yang bikin nyaman sih tapi aku lebih nyaman jika aku tidak bergerak sama sekali dari depan komputer atau bangun dari ranjang ku sendiri.
Tapi kali ini aku benar-benar di buat terkejut. Karena anak dari tuan rumah ini malah menyuruh ku untuk berdandan seperti anak perempuan. Lagian tanpa berdandan pun aku memang terlihat seperti itu. Mama viona mengubah penampilan ku dengan tangan nya yang terampil. Dia juga sempat menjahitkan ku beberapa baju perempuan untuk aku pakai selama berada di Tokyo. Pertama kali nya aku memakai baju seperti ini dan ternyata cukup nyaman juga terlihat sangat cocok ya. Pakaian dalam mereka sangat lembut juga dingin jadi si kecil merasa nyaman di dalam sana berjam-jam.
"Aku harap kamu gak bertingkah ya, Xavier. Oh iya, tau main internet, ponsel dan komputer kan?" Tentu saja. Terpencil bukan berarti hidup ku pun sama persis kayak manusia purba jaman dahulu. Berkat ayah yang biasa keluar masuk pulau ini aku jadi tau banyak hal sekiranya 10% kebiasaan orang di luar pulau ini. Yang mana itu adalah internet dan ponsel pintar. Nona muda Izumi memberikan ku ponsel yang masih terbungkus dalam kotak juga laptop yang sudah dia taruh di tas buat barang bawaan ku nantinya. Aku tidak mengerti kenapa dia malah memberikan ku semua barang mewah yang masih baru itu tapi aku merasa senang jika di berikan sesuatu bahkan jikalau itu racun sekalipun.
"Wahhh benar ini buat saya nona muda?"
"Tentu. Setibanya di Tokyo nanti kamu akan mengikuti ujian masuk tahun ajaran baru di sekolah ku setelah liburan 2 Minggu nanti berakhir. Kamu jelas perlu barang-barang itu untuk belajar."
"Ada tujuan nya ternyata."
"Diam. Sekarang, kemas barang mu dan kita akan naik ke kapal. Kita tidak bisa menunggu besok sih, yah, lebih cepat lebih baik itu adalah filosofi hidup ku." Ini orang dari tadi ngomongin apa sih aku gak paham sama sekali sama ucapan yang keluar dari bibir kecilnya itu. Saat pertama kalinya aku menginjakkan kaki ku keluar dari dalam mansion, aku melihat untuk yang terakhir kalinya tampilan luar biasa dari mansion mereka dari luar. Tak lupa aku mencium lantai mansion untuk mengucapkan selamat tinggal. Asli, aku sebenarnya tak ingin, tapi aku ingin juga merasakan sekali seumur hidup tinggal di kota besar yang banyak sekali makanan enak juga game yang seru.
Di pantai aku sudah melihat kapal amat besar terapung di atas air lengkap dengan cerobong asap yang amat lebar. Kapal ini hampir sama besarnya dengan mansion mereka, hebat sekali. Banyak kerlipan cahaya lampu dari badan kapal yang membuatnya sangat indah di bawah langit malam yang di sinari bulan purnama. Pertama kali nya pula aku menghirup nafas di luar ruangan dan aroma dari air laut yang asin terasa sangat menyejukkan. Angin malam pun berhembus tidak membuatku menggigil sama sekali. Aku merasa benar-benar sangat hidup sekarang.
"Xa.. Xavier, berhenti lah mengagumi dan cepat naik." Kaki ku dengan pelan melangkah ke tangga kayu yang mengarah langsung ke atas kapal. Sebelum nya tiga mobil telah masuk ke kapal dan terparkir di dalam. Bahkan dari luar pun aku bisa melihat sehebat apa isi di dalam kapal ini. Sangat terang benderang dan dingin. Ini sangat sempurna untuk main game di atas ranjang sambil memakan keripik kentang. Tapi tidak mungkin aku lakukan karena nenek lampir ini mengomel terus dari tadi karena melihat aku terbengong dengan mata berbinar-binar melihat sekitar. Yah, namanya juga pertama kali, apakah aku tidak pantas melakukan hal itu?
"Xavier terlihat senang sekali ya."
"Rasanya seperti membawa orang utan betina keluar dari sarangnya ya. Uhum, Xavier, ayo bawa barang mu dan kita ke kamar. Perjalanan kali ini sangat panjang dan kamu tidak boleh terbangun saat jam menunjukkan pukul 12 malam. Saat ini masih saja jam 9 malam, waktu yang amat panjang kamu bisa pakai itu untuk membuat dirimu lelah setidaknya, main game mungkin."
"Ah nona muda Izumi memang mengenal ku dengan baik." Aku dan yang lain membawa barang bawaan masing-masing menuju ruangan yang sudah di sediakan. Bahkan mereka telah mendesain kamar untuk ku yang memang benar-benar menggambarkan ku pakai banget. Ada banyak sekali kaset game juga konsol nya, juga komputer dan ada WiFi pula yang terpasang di sudut kamar. Tak lupa pula yang paling penting yang harus ada di kamar seorang Xavier adalah AC!! AC menjadi barang favorit ku yang membuat ku sangat amat sangat betah berlama-lama di kamar sampai ayah cemas aku tewas di dalam karena tidak menjawab panggilan nya dari kamar.
"Senang?"
"Sangat, nyonya besar. Makasih banyak."
"Jangan sungkan Xavier. Gunakan lah semua yang ada di kamar mu." Nyonya besar sangat cantik dan baik hati. Kecantikan nya itu tidak bisa di kalahkan oleh siapapun di dunia ini karena yang dia miliki adalah kecantikan abadi yang sebenarnya. Izumi sangat beruntung mempunyai mama seperti beliau dan kecantikan nya itu menurun padanya saat Izumi dewasa nanti—kalau saja tinggi badan nya pun ikut bertambah dia akan menjadi wanita paling elegan setelah mama nya. Tidak, ini bukan waktunya memuji kebaikan dan kecantikan nyonya besar. Aku harus memanfaat kan semua ini sebaik mungkin dan tidak boleh ada gangguan sedikitpun. Untung lah aku membawa earphone dari kamar. Tanpa ini, fokus ku akan menjadi kemana-mana saat main game karena menanggapi satu persatu suara apapun yang datang singgah di gendang telingaku.
Tapi aku tidak menyangka juga sih kalau ayah akan membawa lari anak orang yang menjadi mangsa keluarga ini kali ini. Bahkan sampai membuat wajah Izumi nampak sangat marah sampai hampir meleleh karena yang aku tahu dia hanyalah boneka yang di isi nyawa. Jika dia terlalu marah, wajahnya akan meleleh dan menjadi tengkorak yang berisi nyawa. Terdengar tidak masuk akal tapi begitulah cara keluarga Izumi hidup selama ini. Dan aku tahu itu dari perawakan orang tua mereka yang tinggal sendirian di mansion bersama dengan ku bertahun-tahun lamanya karena mereka sangat tidak menyukai kehidupan di sebuah kota besar seperti Tokyo. Yang menjadi tujuan ku malam ini. Aku sudah mencari tahu tentang apa saja yang di miliki Tokyo dan itu sangatlah menyenangkan. Ada banyak distrik-distrik hiburan juga tempat bermain mencapit mainan di tiap sudut. Jangan lupa pula makanan mentah mereka yang terlihat sangat segar juga pastinya enak. Saat ayah pergi keluar pulau waktu itu, beliau membawakan ku sushi dari kota itu dan memang rasanya benar-benar enak walau itu masih 100% olahan ikan mentah yang baru di sajikan. Di tambah perasan lemon menjadi tambah segar di mulut. Kira-kira di kapal ini nanti bakal menyajikan makan malam yang seperti apa ya? Apakah bakal bergaya Jepang banget atau makanan ala barat seperti spaghetti dan pizza.
"Xavier, makan malam udah siap." Salah satu pelayan datang dan menghampiri ku di kamar. Untung saja sih aku belum mulai bermain karena sibuk melihat satu persatu koleksi game yang ada di lemari yang super besar ini. Aku pun mengiyakan dan berjalan keluar bersama dengan pelayan tadi menuju ruang makan yang ada di lantai dua. Menurut penjelasan nya, di lantai satu itu buat para awak dan juga pelayan untuk makan malam bersama jadi keluarga Izumi memakai lantai dua yang di desain khusus keluarga besar yang berisikan 2 sampai 7 orang dalam satu lingkaran meja bundar. Dan tibalah aku di tempat yang super mewah ini. Mereka sudah lebih dulu duduk di meja dan banyak sekali makanan malam ini. Bahkan sushi pun ada di atas meja? Serius, apa kah aku sudah berada di surga mu, Tuhan?
"Kenapa Xavier? Ada menu yang kamu pengen?"
"Sus..sushi."
"Itu punyaku." Ah, tiba-tiba saja langit seperti ingin runtuh menimpa kepalaku. Mungkin rakyat jelata kek aku gak pantas makan sushi. Eh, aku bukan rakyat jelata kalau selama ini aku tumbuh besar di mansion mewah tanpa melakukan apapun selain main game dan tidur. Haha.
"Canda. Nih makan. Aku tau kamu suka sushi jadi aku suruh mereka buatin."
"IZUMII-CHAMA!!!!!!"
"ewww, ih, jangan peluk-peluk. Tangan mu basah banget tau." Kehidupan bahagia ini aku harap jangan cepat berlalu. Kami pun makan bersama dengan khidmat malam itu kemudian di lanjutkan dengan menonton drama bersama di teater yang ada di lantai paling atas kapal ini. Tempat nya luas seperti bioskop yang aku biasa lihat di video review jalan-jalan para YouTubers yang kemarin sedang berkunjung ke Jepang. Ternyata seperti ini rasanya nonton di sebuah ruangan gelap ber AC yang hanya bermandikan cahaya dari layar tancap yang ada di depan kami.
"Xavier suka kan sama film horor?"
"Jangan di tanya lagi, haha." Sebenarnya tidak. Aku sangat takut dengan genre horor dan aku tidak akan mau menonton ini di kamarku seorang diri makanya semua tontonan ku ini hanyalah anime slice of life dan juga komedi. Aku takut akan ada makhluk di bawah kasur yang akan menyeret tangan atau tidak kaki ku dan membawa ku ke alam mereka yang sebenarnya aku pun sudah hidup di lingkungan yang banyak setan memekik telinga dan begitu mengganggu kedamaian ku dalam bermain game. Dan yang benar saja, sehabis menonton teater selama dua jam lamanya, kaki ku jadi gemetar dan tidak bisa bangkit dari kursiku.
"Katanya gak takut."
"Maaf nona. Aku terlalu percaya diri padahal aku hanyalah seorang wibu yang suka komedi ketimbang hal menyeramkan macam ini."
"Bisa berdiri gak?"
"Bi..bisa kok. Gak usah khawatir." Aku takut ini akan berlangsung lama dan aku malah tidak bisa tidur sama sekali karena bayang-bayang itu rasanya masih terus mengikuti ku. Merasuk dalam ingatan ku dan memutarkan kembali apa yang sudah berlalu.
Dan ya, benar. Aku tidak bisa tidur dan malah menghabiskan waktu bermain game Maria Boros sampai waktu menunjukkan pukul 23:30 yang mana artinya aku hanya punya waktu 30 menit lagi untuk terlelap sebelum jam menunjukkan jarum nya ke angka 12. Tapi mustahil untukku tertidur dan menjadi nyenyak sesingkat itu. Jadi ku putuskan aku akan turut menyaksikan adegan tenggelam nya kapal ini. Aku dengar dari cerita ayah, meski kita tenggelam selama hampir satu jam saat melewati portal, kita tetap bisa bernafas dan semua sistem di dalam kapal tidak akan rusak termasuk ponsel dan alat elektronik lainnya. Jadi aku tidak perlu takut akan pergi ke tukang servis karena ponsel ku sudah meminum air laut yang cukup banyak atau komputer ku yang mengeluarkan asap dan listrik kemudian akhirnya mengeluarkan api lalu meledak dan komputer itupun hancur menjadi kepingan daging buat bahan salad kaisar.