Like a Doll

Like a Doll
Biru di tangan



"Hem? Di mana aku?" Saat itu kepala ku terasa sangat berat. Hampir tidak bisa di jelaskan pakai kata-kata hanya saja rasanya seperti ada batu yang mengikat di atas kepalaku. Aku bahkan tidak bisa mengangkat nya dan melihat keadaan sekitar. Yang aku lihat hanyalah aku sedang berbaring di atas kasur putih dan aku melihat langit-langit berwarna putih keabuan dengan sebuah bohlam di tengah nya. Di samping ku ada beberapa orang yang duduk menatap lega ke arah ku. Itu manager Alice dan ketua Rox'is, Rikka. Sebenarnya apa yang sudah terjadi di sini? Kenapa aku bisa ada di sini dan tangan ku sejak kapan dia di pasangi selang infus. Ah, semakin banyak aku bertanya pada diri ku sendiri yang jelas-jelas tidak akan bisa menjawab nya juga membuat kepala ini semakin berat saja. Seperti ingin meledak dalam kehampaan yang abadi. Aku berharap ini segera berakhir. Penglihatan ku mulai samar, seperti kaset rusak, dia terlihat banyak semut di berbagai sudut layar. Ada apa dengan diriku ini?


"Syukurlah, kamu sadar. Kami sangat mengkhawatirkan mu loh."


"Kamu aneh sekali hari ini, Mi. Pakaian mu, gerakan serta nyanyian mu kali ini tidak seperti biasanya." Nyanyian? Pakaian dan gerakan? Maksud nya apa ya. Apa kita tadi sudah tampil. Tapi, aku tidak mengingat apapun yang sudah terjadi hari ini. Aku hanya mengingat aku terbangun di ruangan ini. Banyak ingatan yang seperti nya sudah mulai memudar dan rusak di pikiran ku. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang keluar dari hidung ku. Dingin, juga panas menyentuh bibir ku.


"Oh tidak, kamu mimisan brutal lagi. Rikka, panggil dokter." Rikka pun bergegas keluar dari ruangan untuk memanggil dokter. Aku melihat baju ku tau-tau saja penuh dengan warna merah darah. Apa mimisan ku separah ini sampai aku rasanya seperti di buat mandi dengan darah? Setelah itu kepala ku semakin berat dan mataku tidak bisa bertahan lama untuk terbuka. Aku tertidur kembali di ranjang ku dan setelah itu tidak ada lagi yang terjadi kecuali ketua yang datang dengan membawa dokter.


.


.


.


Selang beberapa jam berlalu, di jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Manager Alice masih duduk di samping ku sedangkan Rikka baru saja datang dari luar dengan membawa sekantong makanan.


"Manager Alice."


"Aduh, aku takut sekali. Kamu sebenarnya kenapa? Semenjak kembali dari liburan itu kamu malah jadi sekarat begini. Sebenarnya apa saja yang sudah kamu lakukan di sana? Apa kamu tertular penyakit anak mereka? Kan sudah manager bilang kamu gak perlu repot-repot menuruti undangan dari mereka. Sekarang kamu seperti ini, aku menjadi merasa bersalah telah memberi mu izin."


"Manager, makan dulu."


"Maafkan aku. Aku tidak merasa tertular. Lagian, sejak ada di sana aku sudah merasa ada yang tidak beres dengan diriku."


"Aku menjadi sering jatuh pingsan di saat-saat tertentu. Dan itu sudah terjadi 5 kali dalam 2 hari aku menginap di pulau itu. Aku juga takut ini akan menjadi makin buruk, manager. Apa yang harus ku lakukan?" Jika diperhatikan dengan baik tangan ku sedikit dingin dan ada beberapa bercak biru gelap di sekitar pergelangan tangan ku. Apakah tanganku kekurangan asupan oksigen? Kenapa manager seperti tidak menyadari hal ini.


"Bukan hanya itu. Ada hal buruk yang tidak kamu ketahui."


"Apa manager? Apa ini penyakit yang akan sukar di sembuhkan?"


"Kamu ... Kamu setiap jatuh pingsan langsung terbangun kembali sambil marah-marah dan mengutuk kami semua yang menjenguk mu. Sampai adik dari Risha anggota kita yang lain menjadi sangat ketakutan. Mata mu menjadi sangat putih dan darah hitam mulai keluar dari mulut mu. Kamu terus saja mengoceh ingin bertemu anak mereka, Hanakawa Izumi. Kamu mengancam kami dan kami terpaksa mengikat mu di ranjang dengan tali tambang sampai aku memanggil pendeta untuk mengusir apa yang merasuki mu.'


"Pendeta? Apa dia Vhylen?"


"Benar. Dan ini lah alasan kenapa tangan mu jadi membiru seperti itu." Jadi itu telah menjelaskan semua misteri di balik biru nya tangan ku. Aku tidak mengerti kenapa semua ini malah menimpa kehidupan normal ku. Kenapa harus jadi seperti ini? Aku tidak bersalah dalam hal apapun dan aku selalu meminta perlindungan pada Yesus. Tidak lupa juga aku merawat diriku sendiri agar semua ini tidak pernah akan terjadi dalam kehidupan ku.


"Bisa panggil kan aku Vhylen ke sini? Ada hal yang ingin aku tanyakan padanya."


"Baiklah, Mi. Kamu istirahat lah atau jika ingin makan, Rikka sudah membelikan mu bubur ayam." Manager Alice menghubungi Vhylen dan tidak lama kemudian Vhylen datang kembali ke rumah sakit dan menghampiri ku di ruangan ini. Manager Alice dan Rikka memutuskan untuk keluar ruangan dan pergi mengambil baju ganti untuk ku di apartemen. Sekalian juga membersihkan diri sih, pasti mereka sudah seharian penuh di sini dan tidak sempat mengurus diri mereka sendiri. Kini tinggal aku dan Vhylen saja yang ada di ruangan ini. Robot manusia ini menatap sendu ke arah ku sambil memegang pergelangan tangan ku yang membiru akibat di ikat tali tambang tadi. Aku yakin itu perbuatan mu Vhylen. Hanya kamu yang bisa mengingat sangat kuat seperti ini, mengingat kamu juga adalah sebuah mesin dengan kecerdasan tinggi.


"Sakit ya? Maafkan aku ya sayang. Aku terpaksa."


"Haha, lawak. Tumben sekali kamu memanggil ku begitu. Sayang, sebenarnya apa yang terjadi padaku?" Vhylen terdiam sesaat melihat keadaan yang terjadi kali ini. Dia seperti berada di antara ingin memberitahu dengan perasaan tidak ingin berkata apapun padaku. Pasti ini memang menjadi hal yang rumit buat dia. Mengingat hanya dia saja yang tau alasan di balik kacau nya keadaan ku kali ini.


"Jadi, apa yang kamu lihat di dalam diriku kemarin, Vhylen?"