
Karena tidak mendapatkan jawaban yang berarti, Azumi-sama pun menggendong tubuh kecil Izumi itu dan berlari keluar kelas. Sepertinya dia ingin membawanya ke UKS. Sialan, lagi-lagi Izumi menyentuh Dewi gitar kami dengan kondisi menjijikkan seperti itu. Mungkin harusnya aku menghajar nya sampai mati, tapi malah akan ruwet keadaan kalau aku dan pelayan ku beneran melakukan nya. Sampai detik ini pun aku tetap menutup mulutku.
"Hei, pergi cafe yuk bentar. Pulang sekolah. Aku butuh asupan miras untuk menenangkan pikiran ku nih."
"Azumi-sama benar-benar seram ya kalau marah."
"Iya juga. Aku tadi sampai merinding dan spontan ingi mengangkat tangan ku tapi untung nya tidak aku lakukan sih. Pertama kali nya aku mendengar Azumi-sama marah seperti itu kepada kita."
"Mungkin harusnya kita tidak melakukan itu?"
"Bodoh. Biarin aja, palingan dia tidak akan bisa memberitahukan Azumi-sama siapa yang telah menghajarnya seperti itu." Tapi kemungkinan besarnya pasti dia akan memberitahukan nya sih. Dan aku siap jika harus di hajar balik sama Azumi-sama. Dengan kata lain dia akan menyentuh ku dengan kasar, aku bisa merasakan tangan nya yang cantik, yang biasa dia kenakan untuk memetik senar gitar nya, menyentuh keras di perut ku sampai aku tiba-tiba merasa mual seperti memang ada yang sedang memukul ku.
"Kenapa Gabrielle?"
"Bukan apa-apa. Ayo kita ke Cafe. Bagusnya di mana?"
.
.
.
.
"Bagus lah ya, kita berhasil menyuap mereka."
"Bagus lagi mereka tidak sedang bersama manager nya. Kalau dia ada kita pasti sudah di tendang sih." Aku dan yang lain menghabiskan waktu kami di sini makan dan minum hingga aku merasa sudah sedikit mabuk. Semua yang aku lakukan kali ini sangatlah menyenangkan sampai akhirnya beberapa orang tidak di kenal masuk menerobos ruang karaoke ini dengan menghancurkan pintu kaca yang sangat tebal itu. Dia ada 3 orang laki-laki berbadan besar dan juga satu orang gadis kecil berpakaian serba hitam dan menggunakan topeng bulu yang aneh. Mereka semua datang menghampiri kami dan berbuat kekacauan. Gadis kecil itu mengeluarkan senjata api dan mulai menembaki semua pelayan ku. Saat terakhir aku tertembak pula, dia membuka topeng aneh itu dan aku melihat sosok yang sangat aku kenali. Dia adalah orang yang aku tertawakan di ponsel, dia yang aku hajar di sekolah tadi pagi dan dia adalah anak orang kaya yang menciptakan dendam yang amat dalam karena telah membunuh kakak ku hanya karena dia telah selingkuh dengan suami dari ibunya. Aku berniat ingin balas dendam tapi apa daya misi ini berakhir konyol dengan kepalaku yang sakit karena kebanyakan minum miras. Satu hal yang aku dengar sebelum akhirnya aku tertidur selamanya, dia berkata "selamat malam" lalu berjalan keluar meninggalkan jejak nya. Ketiga orang berbadan besar itu membersihkan seluruh ruangan di bantu dengan para pelayan cafe yang lain nya. Sialan ternyata mereka telah bersekutu dan memberitahukan di mana keberadaan ku. Aku akan menghantui kalian semua karena telah membiarkan ku tewas seperti ini. Sialan.