Like a Doll

Like a Doll
Gagal Lagi?



"APA INI?! APA YANG INGIN KALIAN LAKUKAN PADAKU?! LEPASKAN!!!" Gadis itu berusaha membuka ikatan yang melilit tangan nya hingga menimbulkan banyak darah karena mereka mengikat nya dengan kawat berduri yang sudah sedikit berkarat. Gadis itu menangis keras membuat sang iblis terbang menjauh karena merasa sangat terganggu dengan suara tangisan nya.


"Kenapa dia bisa tersadar secepat ini? Apa bius nya kurang kuat? Ayo cepat bius dia lagi. Aku tidak akan bisa mendekati nya jika dia menangis seperti ini. Aku tidak tahan dengan suara tangisnya." Sang ilmuwan, Ryousuke sudah mengambil suntikan berisi bius merah yang siap di suntikkan ke gadis itu namun karena kekuatan nya yang sangat besar meski sudah di tahan dan di ikat seperti itu. Tangan nya spontan melempar suntik itu hingga pecah di lantai.


"Diam lah Azumi, kamu bisa merobek pergelangan tangan mu. Kakak, ambil suntik nya lagi. Kamu punya banyak di tas kan?"


"Ada tapi ini efek nya terlalu besar. Kita tidak boleh menggunakan nya untuk manusia. Ini dosis buat para monster kita."


"Tidak ada waktu kakak bodoh. Selama itu membuat dia pingsan cukup lama, gunakan saja." Ryousuke pun dengan terpaksa mengambil suntikan dengan bius hijau di dalam nya lalu menyuntikkan nya pada Azumi namun malah di gagal kan oleh si pelayan, Vhylen.


"JANGAN APA-APAKAN KEKASIH KU LAGI. AKU SUDAH MUAK." Tidak hanya itu, dia juga berhasil membuka ikatan kawat itu dari kedua tangan dan kaki Azumi. Tubuh Azumi pun di gendong oleh nya dan keduanya pun keluar dari ruangan ini menyusuri lorong gelap yang ada di luar sana hingga mencapai ke dalam mansion semula. Jarak antara pintu masuk bawah tanah dengan wilayah mansion memang cukup dekat sehingga memudahkan mereka untuk melarikan diri dengan cepat.


"VHYLEN BODOH. HARUSNYA AKU CEPAT-CEPAT MEMBUNUH NYA SEBELUM MELAKUKAN INI. TAPI, DIA ADA GUNANYA JUGA MAKANYA TIDAK AKU LAKUKAN. KAKAK, KEJAR MEREKA BERDUA. IZUMI, LACAK GELANG KAKI YANG ADA DI AZUMI SEGERA. KITA HARUS TAU DIA PERGI KE MANA." Semua pun berpencar keluar dari ruangan. Sementara sang tuan rumah, Ibu Viona sedang berunding kembali pada iblis untuk menunggu sebentar lagi sebelum dia kembali ke alam nya semula. Tapi untuk sementara dia akan kembali dulu untuk menunggu karena tidak tahan dengan hawa dunia manusia untuk waktu yang lama.


Viona pun ikut kembali menyusul anak nya yang sedang di ruangan pengawasan untuk melacak jejak Azumi berada di mana.


"Mama, pelacak nya berhenti di sekitar monumen. Aku yakin dia sebentar lagi sampai tapi mungkin saja mereka kecapekan jadi memutuskan untuk istirahat di sana. Mengingat jarak rumah kita dan apartemen Azumi sangatlah jauh."


"Kau yakin, Mi. Bisa saja kan dia melepaskan alat pelacak itu."


"Sangat yakin mama. Soalnya pelacak yang di rancang paman terlalu kuat jika di buka paksa telapak kaki itu akan putus bersama dengan pelacak yang ia kenakan."


"Ada benarnya. Ayo kita segera menyusul. Pelayan, siapkan mobil." Viona dan anak nya pun bergegas pergi keluar rumah kemudian menyusul jejak yang telah di simpan oleh target mereka kali ini.


Pelayan itu, lagi-lagi dia berkhianat. Padahal aku sudah setel dia ke mode pelayan biasa, yang mana dia tidak akan mengingat kejadian yang lalu saat aku menakuti Azumi kepala itu. Dan juga dia sudah ku buang rasa empati nya tapi kenapa masih sama saja seperti di awal. Mungkin otak nya yang seharusnya aku otak Atik kembali biar dia benar-benar tidak bisa mengkhianati ku lagi di misi ini. Sayang banget kalau misalnya si tuan iblis tidak ingin membantu kami lagi. Ini kesempatan terakhir yang tidak boleh di lewatkan begitu saja. Jika tidak, aku akan menunggu dan memulai lagi semua nya dari awal.


"Izumi, ayo. Mobil sudah siap." Aku dan mama menaiki mobil untuk menyusul lokasi yang baru saja di berikan. Jaraknya mungkin dekat tapi kami tidak punya banyak waktu untuk berjalan kaki di siang hari yang begitu terik seperti ini. Tak lama setelah nya, kami pun tiba di tempat yang kami yakini adalah lokasi yang di maksudkan alat pelacak tersebut. Tapi kami tidak menemukan siapapun selain hamparan pasir yang berhembus di tiup angin.


"Tidak mungkin. Kenapa—"


"Ada apa mama?"


"Kata kamu pelacak nya tidak bisa di lepaskan. Lalu ini apa? Ada pelacak nya di sini bersama tetesan darah yang terlihat masih baru." Aku melihat alat pelacak itu dengan tetesan darah yang menyelimuti nya. Tapi aku tidak melihat kaki apapun yang seharusnya menyangkut bersama dengan pelacak itu.