Like a Doll

Like a Doll
Kembali ke Tokyo (Edisi Hanakawa)



"mama sudah menghubungi manager Alice?"


"Sudah. Kita tinggal tunggu dia menjalankan tugas yang kita berikan untuk nya."


"Aku pastikan Azumi Chieko itu akan kembali untuk bekerja sama lagi dengan ku."


Malam menunjukkan pukul 11, tidak lama lagi kapal ini akan tenggelam dan aku akan pulang balik ke Tokyo untuk meneruskan misiku. Mangsa ku memang kabur, tapi bukan berarti aku akan diam saja. Biarkan lah dia menikmati keju itu untuk yang terakhir kali nya. Saat dia terjerat, baru lah kucing akan menerkam tikus yang malang.


Air laut begitu tenang di waktu malam. Aku dan Xavier duduk berdua menikmati angin malam karena tidak bisa tidur. Xavier tidak bisa tidur karena menonton film horor tadi. Huh, siapa suruh sok keren di hadapan ku kan jadi kena batunya sendiri?


"Kenapa nona gak tidur? Kita mau tenggelam loh."


"Kapal ini gak bakal tenggelam kalau aku nya sendiri malah tidur bodoh. Oh ya, udah biasa pake baju gituan?"


"Sedikit."


"Yaudah. Nanti aku suruh mama buatin yang sesuai dengan seleramu ya dengan gaya perempuan sih." Mungkin jadwal kehadiran Xavier akan berbarengan dengan Vhylen dan mungkin saja Azumi akan lebih menghabiskan waktu bersama dengan nya ketimbang harus berkenalan dengan Xavier. Bisa saja dia tau kalau Xavier itu ternyata kenalan ku.


Setengah jam pun berlalu, aku bersiap menuju dek bawah menyusul mama yang sudah menunggu. Xavier katanya ingin ikut menyaksikan dari atas dengan memegang sesuatu agar tidak terhempas akibat guncangan besar yang akan terjadi 30 menit kemudian.


.


.


Di dek bawah, mama membawa sesuatu di tangan nya. Bukan nya kalau kita pergi kita tidak akan membutuhkan mayat apapun lagi ya? Sekarang mama memegang kepala kakak Yuuzy yang harusnya sudah aku simpan kembali ke freezer.


"Apa yang mama mau lakukan dengan kakak?"


"Jangan ma, kan aku sudah masukin freezer jadi gak bakal busuk. Dia bakal membeku lagi mah. Biarkan lah aku menyimpan nya."


"Huh, lagian kalau rencana ini berhasil, kamu gak akan benar-benar butuh kepala ini lagi kan? Sudah lah. Kita tidak punya banyak waktu ayo cepat sayat telapak tangan mu dan kita pergi." Mama melempar kepala itu begitu jauh. Mau bagaimana lagi, misi kepala itu sudah selesai, ingatan Azumi sudah sepenuh nya ada dalam genggaman ku jadi aku tidak memerlukan kepala itu lagi untuk memulai semua rencana ini dari awal kembali. Tapi ya, tetap saja. Aku tidak terima.


Setelah melukai tangan ku dan mengoleskan darah nya pada dinding kapal juga pagar pembatas, mama mengucapkan mantra nya kemudian pusaran air yang sangat besar terbuka di bawah kapal.


"Tumben cepat sekali terbuka nya."


"Mungkin ini sisa dari jalur yang Azumi pakai hari itu. Izumi, bersiap dan berpegangan lah dengan sesuatu." Kapal pun tenggelam sepenuh nya dan air laut kembali menjadi tenang dan tidak menyisakan apapun lagi.


.


.


.


.


.


.


Satu jam berlalu kami di lahap oleh pusaran air itu, kapal pun kembali ke permukaan dan di ujung sana sudah terpampang jelas pelabuhan besar. Kita sekarang sudah tiba di Tokyo dan seperti biasa semua nya berjalan lancar. Tapi aku sedikit khawatir dengan resiko yang akan datang menimpa ku di rencana kali ini. Kenapa tidak? Bisa saja Azumi sekarang membenciku dan tidak akan menemui ku seperti hari-hari biasa lain nya. Mau tidak mau aku harus melibatkan wibu ini, si Xavier. Setibanya di pelabuhan kapal kemudian berhenti dengan sempurna, Xavier malah meloncat kegirangan membuatku menjadi pusat perhatian pengunjung lain nya. Ternyata betul yang aku katakan sebelum nya, aku seperti sedang membawa orang utan betina keluar dari hutan dan kemudian ku ajak untuk hidup di kota bersama dengan ku. Apa lagi yang harus ku lakukan kedepan nya? Asli aku tidak bisa jauh dari Azumi karena aku sudah terbiasa jalan bersama dengan nya. Seandainya saja aku tidak ceroboh dan tidak melibatkan orang yang dekat langsung dengan Azumi, Yuuzy mungkin sudah kembali ke kehidupan nya di tubuh yang baru. Benar, ini semua memang salah android gagal itu. Sudah seharusnya aku membiarkan dia mati saja waktu itu tapi karena permintaan manager Alice semua nya menjadi kacau seperti ini. Tidak, ini masih terlalu cepat untuk menyerah, Izumi. Semua nya memang butuh proses dan tidak masalah karena ini baru saja kegagalan yang pertama. Pastikan selanjutnya tidak akan ada lagi yang namanya kegagalan. Aku ingin sekali segera memeluk kakak Yuuzy sekali lagi agar aku tenang.