Life Is Move

Life Is Move
Jangan Memaksa (part 1)



Masih di hari yang sama. Rafiq berada di perpustakaan. Saat ini ia mencari Zukhruf. Daripada mendapat malu menanyakan hal ini kepada teman gengnya, ia chat pribadi


"Di mana?"


Tling


Rafiq: Dimana?


Kenapa tuh bocah chat aku. Balas gak ya? Gak usah! melanjutkan hafalannya dengan fokus.


Ponselnya berbunyi,


"Ketemu, aku sekap!"


Zukhruf hanya melihat sekilas dan melanjutkan hafalannya. Buat apa membalasnya. Toh nanti juga dia mencari Zukhruf.


Zukhruf kepanasan di dalam. Ia berniat menyalakan kipas angin, namun listriknya padam. Akhirnya ia putuskan untuk duduk di teras musholla. Betapa terkejutnya ia ketika mendapatkan Rafiq berdiri di hadapannya saat ia sudah di ambang pintu. Zukhruf kembali masuk ke dalam.


"Diam!"


Zukhruf langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar suara.


"Duduk di luar!" katanya lagi.


"Zukhruf membalikkan badannya dan menghadap Rafiq lalu menatapnya tak mengerti. Mengernyitkan dahi. Rafiq duduk terlebih dahulu. Zukhruf ikut duduk. Rafiq masih diam.


Canggung banget sih. Pergi ah. Zukhruf pun meninggalkan Rafiq.


Rafiq kebingungan dengan sikapnya kali ini. Padahal ia baru mencari sesuatu untuknya tunjukkan pada Zukhruf. Ia mengikuti Zukhruf.


Zukhruf pergi mencari keenam temannya. Di mana mereka, ia pun tak tahu. Sekolahnya sekarang sangat luas. Ia sulit mencarinya. Akhirnya ia menemukan di kantin sedang mengobrol. Mendekati mereka dan ikut duduk.


Rafiq juga ikut duduk satu meja dengan anak cewek. Yang membuat Zukhruf tak suka adalah, Rafiq duduk di sampingnya. Zukhruf pindah kursi yang digantikan oleh Cici. Rafiq serasa ingin terkekeh melihatnya.


"Ada apa, Fiq?" tanya Cici memulai pembicaraan.


"Mau bicara sama dia," menunjuk Zukhruf.


"Gak boleh berdua. Harus ada kami," hadang Cici. "Owh.. Jangan-jangan kamu sudah naksir dia... Ya kan.. ya kan.. ya kan.."


"Mau kasih tau tentang lomba."


Mendengarnya sudah membuat Zukhruf bahagia. Apalagi saat ia bisa memenangkan lomba tersebut. Zukhruf hanya tersenyum pada Rafiq. Tak bertanya 'lomba apa'. Karena ia tahu jika teman-temannya memahami dirinya yang hanya suka lomba menulis.


"Menulis novel."


"Novel!?" teriak Zukhruf yang langsung menutup mulutnya.


Temannya menertawakan dirinya.


"Di mana infonya?"


Rafiq menunjukkan ponselnya dan Zukhruf mengambilnya.


"Hati-hati.. Mahal tuh ponsel," ujar Rafiq yang disambung gelak tawa temannya.


Setelah Zukhruf melihat sekilas info di ponsel Rafiq, ia lalu memberikan goresan kecil di layarnya dengan kuku. Memang benar ponsel Rafiq sangat mahal. Karena Rafiq orang kaya, mungkin itu tidak seberapa dengan goresan kecil itu.


"Zukh! Kamu apakan ini?" Menyadari sambil menunjukkan ponselnya.


Zukhruf memainkan ponselnya sendiri, pura-pura tak mendengar. Teman sekelilingnya tertawa kecut melihat tingkah mereka berdua. Ternyata bertemu sehari saja sudah seperti kakak adik.


Karena dicueki terlalu lama, Rafiq mengambil ponsel Zukhruf dan membawanya pergi.


"Yah," lalu mendengus. Tetap di kantin dan tak mengejarnya.


"Kamu gak kejar dia?" tanya Lolita. Zukhruf tersenyum.


"Nih anak malah senang," tambah Cici. "Mungkinkah dia benaran suka?"


Zukhruf masih tersenyum dan melanjutkan makannya.


~•~


"Zukhruf gak khawatir? Dari tadi gak muncul juga," lalu mengeluarkan ponsel Zukhruf dari saku hoodienya. Lalu membuka layar yang ternyata dikunci. Mudah saja bagi Rafiq untuk membuka ponsel Zukhruf. Lalu membuka chat WhatsApp satu persatu. Dan juga kontak. Ternyata tidak ada nama cowok selain dirinya. Terlihat senyum Rafiq. Di galeri juga tidak ada foto cowok. Bahkan foto pemilik ponsel pun tak ada walau hanya satu.


Ternyata dia tak suka narsis.


Rafiq terus menggeledah isi ponsel Zukhruf. Namun Zukhruf di kantin masih saja tenang.


~•~


Di kantin.


"Loli pinjam hp."


Lolita meminjamkan ponsel ke Zukhruf.


"Zukhruf kamu tenang aja sih?" Zukhruf mengangguk.


Zukhruf Cp WhatsApp dengan Rafiq. Memasukkan nomer Rafiq dan memulai chat.


Zukhruf: Dimana?


Rafiq: Kenapa? Chat lagi aku blok


Zukhruf: Pasti gak bisa buka kuncinya


Rafiq belum puas mengotak-atik ponselnya. Ia pun berbohong.


Rafiq: Hmm


Zukhruf pun menahan tawa yang hampir membludak.


~•~


Semua pulang.


Zukhruf pulang paling terakhir karena ada urusan dengan Bu Reyna di kantor. Ia berbincang sampai sore.


"Jadi guru begitu Bu.." Zukhruf mengangguk paham.


Lalu mereka pulang Maghrib.


"Jam berapa ya?" tanyanya pada dirinya saat di parkiran.


"Apa?!" Mengutak-atik sakunya. "Rafiq! Pasti dia sudah pulang..." lalu ia pulang tanpa ponselnya. Sudah malam, ia tak ingin membuat Ummi khawatir.


Di rumah ia langsung ke kamar.


"Dari mana saja? Masih tetap menulis Ummi ambil laptopmu nanti!" lalu Ummi masuk ke kamar.


Zukhruf terkejut. Kenapa Ummi tiba-tiba marah padanya. Bukankah kemarin dia sudah diperbolehkan.


Hp saja tidak ada. Sekarang laptop mau diambil? Tidak mudah!


Zukhruf mengambil laptopnya lalu memulai menulis novel yang akan dilombakan. Setiap Ummi datang ke kamar, ia langsung menutup laptopnya sebelum Ummi tahu.


Paginya ia Cp dengan Rafiq di laptopnya. Ia baru sempat hari ini karena tadi malam harus menyelesaikan lima bab.


Zukhruf: Assalamu'alaikum


Rafiq: Siapa?


Zukhruf: Gak perlu tau. Sibuk gak?


Rafiq: Kenapa? Akan ku blokir jika tak memberitahuku.


Zukhruf: (Menghela nafas) Bisa balikin sekarang tidak hpnya?


Rafiq: (Seketika paham) Punya berapa nomer kamu? Gak bisa. Lagi sibuk. Lagian kemaren kenapa tidak ke rumah minta hp?


Zukhruf: Aku pulang sore. Ya sudah kalau sibuk. Tolong jaga hpku. Jangan lupa isi baterainya. Kalau perlu isi pulsa


Rafiq: (Emoji tinju)


Zukhruf melanjutkan menulis. Hari ini harus dapat lima bab. Setidaknya ia mendapatkan novelnya hingga dua ratus bab.


"Mbak, ayo makan malam!" teriak Zulfa dari dapur.


Zukhruf berniat tak makan. Ia harus mendapat targetnya. Terus fokus pada laptopnya.


"Mbak! Ayo makan."


"Mbak ayo makan!!"


"Aku sudah makan."


"Lagi apa Mbak?"


"Nugas. Makan aja gak papa."


Zulfa pergi keluar.


~•~


Paginya,


Zukhruf bangun seperti biasa dan melakukan aktifitas seperti biasa. Kecuali makan. Ia jarang sekali makan dan hampir tak pernah. Ia juga sering merasa sakit di bagian perutnya. Apalagi ia mempunyai penyakit maag.


Abi datang ke kamar dan menanyakan apa yang sedang Zukhruf kerjakan. Saat itu pula Abi melihat Zukhruf seperti memegangi perutnya sambil mengetik di laptop. Abi mendekatinya.


"Mbak Zukhruf sakit?"


"Eh, tidak Bi. Lagi mengerjakan tugas. Abi ke sana saja."


Lalu Abi pergi. Sedangkan Zukhruf melanjutkan nulisnya. Senangnya ia sudah menyelesaikan lima babnya. Ia berniat untuk merefreshkan pikiran. Ia pun mengemasi barangnya.


"Mau kemana?" tanya Ummi saat ia sudah di depan pintu.


Sifat Ummi kok berubah? Ummi jadi sering marahin aku..


"Kerjain tugas."


"Sudah makan?"


"Sudah, Mi," ucapnya bohong lagi.


Ummi maaf aku selalu bohongin Ummi. Gak tau kenapa aku memang gak nafsu, lalu pamit dan pergi.


Di perjalanan


Hampir sampai ia menuju ke kontrakan Karlinda. Tiba-tiba saja ia merasa pusing. Kepalanya serasa ingin pecah. Sangat sakit. Penglihatannya menjadi pudar Ditambah perut yang sakitnya sangat menusuk. Zukhruf pun merasa panas dingin. Ia paksakan untuk bisa sampai ke tujuan.


Di kontrakan


Menyandarkan sepeda dan mengetuk pintu.


Tok.. tok.. tok..


Daripada mengeluarkan suara yang menakutkan dan dengar teman kontrakannya, ia hanya mengeluarkan suara pintu.


Tok.. tok.. tok..


Diketuk pintu itu berulang-ulang sampai terbuka untuknya.


"Eh, Mbak... Kenapa kok pucat begitu?" Salah satu seorang kontrakan yang mengontrak di samping Karlinda pun mengetahui keberadaan Zukhruf.


"Ada orangnya tidak, Mbak?" ucapnya dengan suaranya yang sangat lemah.


"Mbaknya sakit?" Meletakkan sapunya yang baru akan dipakai untuk menyapu teras. Ia menghampiri Zukhruf. "Lagi keluar, Mbak. Katanya pergi ke swalayan. Tapi mbaknya masuk dulu saja. Tidak masalah. Orangnya bilang kalau ada tamu suruh langsung masuk saja."


"Oh iya, makasih," lalu memasuki kontrakan kecil sekitar tiga meter persegi.


Zukhruf meletakkan barangnya di kursi dan duduk di ranjang yang hanya muat satu orang. Karlinda memang diharuskan oleh orangtuanya hidup mandiri bahkan dari SMK. Bukan karena miskin, tapi memang itu yang diajarkan orangtuanya pada anak-anaknya. Sebab itu ia mengontrak dengan luas yang lumayan sempit.


Tak lama kemudian Karlinda pulang dengan membawa belanjaannya.


"Mbak, apa ada tamu?" Melihat sepasang sandal di depan pintu.


"Oh iya. Ada. Tadi bilang dia temannya Mbak."


Lalu Karlinda masuk. "Zukhruf?"


Karlinda melihat Zukhruf yang sedang berbaring di ranjangnya dengan mata tertutup. Ia tersenyum. Dan pudarlah senyuman itu ketika ia menyentuh tangan Zukhruf.


Kenapa dengan Zukhruf? Kok panas begini?


"Zukhruf kenapa denganmu? Kenapa badanmu panas?"


"Hmm... Aku gak papa."


Eh...


"Sudah makan?" Zukhruf hanya menggeleng.


"Ayo makan dulu. Aku belikan obat." Zukhruf menolak.


"Zukhruf, kamu sakit... Yang nurut ayo."


"Gak mau gak mau minum obat."


"Ya sudah minum ini dulu." Karlinda memberikan teh hangat.


"Kamu menginap di sini saja. Aku akan beli obat."


"Gak mau obat."


"Zukhruf jangan begitu.. Nanti kamu lama sembuhnya.."


"Gak mau," lalu membalikkan badannya.


Benar-benar keras kepala, lalu pergi mandi. Selesai mandi ia kembali dan melihat Zukhruf sudah terpejam.


"Aku pinjam laptop."


"Hmm."


Ey. Belum tidur?


"Diisi baterainya," katanya dengan nada melemah.


Karlinda hanya menurut saja dan tidak membantah. Ia duduk di meja belajar. Lalu membuka laptop milik Zukhruf yang kelihatannya baru saja dipakai. Karlinda melihat halaman akhir yang dikerjakan Zukhruf.


Ternyata akhir-akhir ini dia sangat bekerja keras.


Lalu terpikirkan olehnya untuk memberitahu hal ini pada Lisa lewat ponselnya.


Karlinda: Lis. Zukhruf sakit


Lisa: Astaghfirullah. Sakit apa? Bagaimana bisa?


Karlinda: Sepertinya demam. Katanya perutnya juga sakit. Dia kutawari obat gak mau. Tadinya sih dia pegang laptop terus. Aku juga melihat dia meneruskan novelnya di laptop. Belum selesai juga itu novel


Lisa: Aku yakin dia tidak pernah makan karena menulis terus-menerus


Karlinda: Kamu yakin? Dia mulai menulis novel ini sudah setengah bulan yang lalu.


Lisa: Aku yakin. Dia memang pekerja keras jika urusan kepenulisan, tapi dia sangat keras kepala dalam hal itu. Entah kapan sifatnya akan berubah. Sekarang di mana kamu?


Karlinda: Kontrakan


Lisa: Baik. Aku ke sana sore ini.


Karlinda pun menuju ke tempat Zukhruf. Lalu dipeganglah keningnya. Masih terasa panas. Ia pergi mengambil alat kompres dan mengompres Zukhruf. Lalu tak sadar jika Karlinda juga terlelap di samping Zukhruf.


Sore pun tiba. Akhirnya Lisa datang juga ke kontrakan Karlinda dengan mobilnya yang ia setir sendiri. Sesampai di dalam, ia pun melihat Karlinda dan Zukhruf yang masih tertidur. Ia membangunkan Karlinda dan akhirnya terbangun dengan wajah baru bangun tidurnya.


"Kamu mandi sana! Aku jaga dia."


Karlinda menuruti perkataan Lisa. Lisa duduk di dekat Zukhruf dan memegang tangan Zukhruf. Tak lama kemudian Karlinda kembali.


"Dia sudah makan atau belum?"


"Aku sudah memaksanya makan, namun gak mau sama sekali."


Lisa menghela nafas dan membuangnya. Dilihatnya Zukhruf sudah membuka matanya.


"Zukhruf ayo makan. Jangan kau sakiti dirimu sendiri. Makan yuk."


Namun jawaban Zukhruf hanya gelengan kepala lagi.


"Aku bawa kamu ke rumah sakit ya?" Lagi-lagi ia menggeleng.


Lisa lelah menghadapi sahabatnya. Begitupun Karlinda. Tapi mereka masih memberikan kasih sayangnya pada Zukhruf. Akhirnya Lisa memeluk Zukhruf yang masih berbaring dari belakang. Ia bicara sesuatu dengan lembut dan suara pelan menunjukkan perhatiannya yang tulus.


"Zukhruf ingin apa? Kenapa jadi keras kepala?"


Zukhruf duduk dengan susah lalu melihat sekilas kedua sahabatnya. Terlihat tetesan air bening di pipinya.


"Aku hanya ingin...."