Life Is Move

Life Is Move
Hyungzie



"Bagaimana kau akan memanggilku?" tanyanya sambil melahap makanan ringan yang ada di tangannya.


"Emm?? Aku.. " Bingung harus memanggil dengan panggilan apa. 


"Hmm? Bagaimana? Apakah kau benar-benar penggemarku?" Menghentikan makannya dan menatap Zukhruf dengan tatapan yang dalam. 


"Aku bukan penggemarmu! Jangan seperti itu lagi. Aku tak suka." mengambek dan memalingkan mukanya ke jendela samping. Melihat bintang-bintang malam.


"Baiklah. Aku tak akan mengulanginya. Aku percaya jika kau bukan seperti mereka." Memakan kembali.


Ha? Seperti mereka? Memang penggemarnya ngelakuin apa? Bukannya cuma minta tanda tangan kan?


"Aku pikir kau bukanlah sembarang wanita." Berhenti mengunyah. "Kau… Istimewa."


Menatap lelaki itu lagi. "Are you sure?"


"Jangan gunakan bahasa Inggris. Kita pakai bahasa Korea saja. Kau pasti tahu kelemahanku."


"Maaf." *(Menggunakan bahasa Korea)


"Siiipp!"


Zukhruf masih diam sambil menonton TV yang berukuran lebar itu. Ia bingung harus berbuat atau berkata apa. Biasanya tiap harinya ia hanya diam-diam saja di kamarnya. Ia juga belum bisa mengisi baterai ponselnya. Karena ternyata charger yang ia punya hilang. Dia telah menanyakan kepada lelaki itu namun ia juga tidak membawanya.


"Hei." Zukhruf seketika menoleh ke sumber suara. "Kau ingin menggunakan ponselmu?" Zukhruf pun mengangguk. "Coba saja menggunakan charger ponselku. Barangkali bisa digunakan. Pergilah ke kamarku." 


Zukhruf langsung pergi ke kamar dan mengambil charger yang ia temukan di atas meja kecil. Ia pun menancapkan kabel data itu dan mengisi di kamarnya. Lalu ia berdiam sebentar di dalam kamarnya. 


"Aku harus panggil apa ke dia? Aku bingung. Biasanya aku cuma manggil namanya aja. Masak aku sekarang manggil cuma nama aslinya? Kayak gak sopan gitu rasanya." Berpikir dengan keras. Ia pun menjatuhkan dirinya di ranjang empuk itu. Ia masih memikirkan untuk panggilan tersebut. 


Zukhruf keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju ruang tengah. Duduk lagi di sofa itu. Lelaki itu masih ada di sana sambil menonton TV. Terkadang ia sesekali melihat ponselnya.


"Hei. Bagaimana?" Melirik Zukhruf. Menunggu jawaban darinya.


"Bagaimana jika aku memanggilmu Hyungie?" Dengan ragu-ragu ia menjawab. Melihat Hyung menunggu reaksinya. 


Hyung adalah salah satu anggota grup Idol Korea. Yang pernah Zukhruf tonton konsernya di televisi. Ia lebih tua dari Zukhruf. Bisa dibilang umurnya sepuluh tahun lebih tua dari Zukhruf. Hyung orangnya lumayan humoris. Terkadang ia juga terkesan dingin. Namun sebenarnya ia sangat penyayang dan perhatian.


Hyung pun tertawa karena panggilan yang diberikan oleh Zukhruf. "Mengapa kau memanggilku seperti itu? Aku tak bisa membayangkan jika itu terjadi padamu."


"Kenapa? Apa jelek? Hyungie tak suka?" Menunjukkan ekspresi wajahnya yang imut karena seperti orang sedang kebingungan.


"Hei-hei.. Mengapa dengan wajahmu? Hentikan itu." 


Zukhruf terkekeh. Ia merasa malu karena sudah membuat suasana menjadi ramai seperti sekarang ini. 


Mengapa dia sangat imut dan menggemaskan. Jangan sampai kau menggodaku. Melihat Zukhruf yang masih terkekeh karena melihatnya seperti anak bayi yang lucu.


"Aku suka panggilan itu. Pakai saja yang sudah kau buat. Aku menyukainya." Memandang Zukhruf sekilas lalu menatap ponselnya. "Membuatku seperti bayi," katanya lirih. 


Zukhruf tersenyum. "Memang kau seperti baby." 


Hyung tertegun. Dasar. Dia malah memancingku. Kembali menatap TV. Hyung-hyungku sekarang lagi apa ya?


Hyung beranjak pergi. Ia berpesan. "Hei. Kau, tolong jaga apartemen sebentar! Aku akan kembali sepuluh menit kemudian." Lalu meninggalkan Zukhruf dan menutup pintunya.


"Dia mau kemana malam-malam begini? Dia harusnya pakai masker kan? Apa dia gak takut ketahuan? Biarin lah. Ngapain mikirin dia." Zukhruf memakan makanan ringan bekas Hyung. Karena ia malas mengambilnya di kulkas. Ia takut, karena bagian dapur sudah dimatikan lampunya dan menjadikan ruangan sebelah sana lumayan gelap. 


Tak lama Hyung kembali ke apartemen setelah sepuluh menit berlalu. Zukhruf melihat ke pintu. Melihat Hyung yang sedang membawa boneka. Boneka yang berukuran tidak terlalu kecil dan berbentuk seperti kelinci berwarna ungu muda. Ia mendekat ke arahnya bersama dengan tuannya.


"Hei. Berhentilah menatapku. Aku tahu aku tampan." Duduk di sofa dan meletakkan boneka ungu itu di atas meja. Mengambil ponselnya.


Hehe.. Maaf. Aku hanya heran melihat tingkahmu. Kamu memang beneran bayi. Gak bisa dipercaya. Melihat boneka itu terus. Sekilas ia melihat Hyung.


Hyung memanggilnya dengan panggilan 'Hei'? Apa tidak ada panggilan yang lebih bagus dari itu? Setidaknya ia menanyakan nama kepada perempuan di dekatnya ini. 


"Apa kau menyukai boneka?" Mengambil boneka ungu dan membawanya dalam genggaman tangannya.


Zukhruf melihat sekilas Hyung dan mengangguk. Menandakan jika ia menyukainya. Hyung terlihat berpikir sejenak dan meletakkan boneka ungu itu di kamarnya. Ia kembali lagi duduk bersama dengan Zukhruf. 


"Kenapa kau taruh dia di kamar? Aku ingin memegangnya, Hyungie." Puppy eyes. 


Hyung duduk di sofa kembali dan membuka ponselnya. Ia terlihat serius sekali menatap layar ponsel itu. Sehingga Zukhruf menebak-nebak apa yang dilakukan Hyung sekarang sampai ia membulatkan kedua matanya.


Zukhruf jadi menonton TV sendirian karena Hyung sibuk dengan dunianya sendiri. Zukhruf sampai merasakan kantuk setelah lama ia menonton. Ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya, untuk melihat ponselnya apa sudah terisi penuh baterainya. Namun sebelum itu Hyung berpesan agar Zukhruf kembali lagi dalam lima menit. Zukhruf hanya menjawab, "Ok." 


Lima menit kemudian Zukhruf kembali. Ia melihat satu ruangan itu kosong. Ia berpikir kalau mungkin saja Hyung sudah masuk ke kamarnya atau hanya ke kamar mandi sebentar. Lalu ia berniat ingin kembali ke kamarnya. Namun seketika pintu diketuk oleh seseorang di luar sana. 


Gimana ni? Kan bukan aku penyewanya. Bingung bagaimana ia harus bertindak.


"Gimana ya. Apa aku buka aja? Tapi kalau itu teman Hyungie… " Zukhruf tidak diizinkan untuk keluar. Karena Hyung melarangnya agar keberadaannya tidak diketahui oleh teman anggotanya yang juga menginap di apartemen ini namun beda kamar.


"Hei! Bukalah pintunya! Aku mengizinkanmu!" teriak Hyung dari dalam kamarnya.


"Ya sudah aku buka lah. Kalau itu temanmu, itu bukan salahku. Salahmu sendiri suruh aku yang bukain pintunya!" Bergumam sendiri lalu menuju pintu dan membukanya perlahan. 


"Paket.." 


Zukhruf terkejut sekaligus lega jika itu hanya Pak pengantar paket. Pak pengantar paket itu menyerahkan barang kepada Zukhruf lalu menyuruhnya untuk menandatanganinya. 


"Saya, Pak, yang tanda tangan di sini?" tanyanya bingung.


"Iya, Mbak. Paket ini tertulis nama Mbak."


"Siapa?"


"Yungi. Silakan ditandatangani paketnya, Mbak. Di sini." Menunjukkan kertas yang tertempel di bagian atas paket tersebut.


"Pak, Anda salah alamat. Di sini tidak ada yang namanya Yungi. Mungkin Anda salah kamar." 


Namun Pak pengantar paket itu menggeleng dan menyuruh Zukhruf untuk segera menandatanganinya. Zukhruf hanya melakukan apa yang diperintahkan saja. Daripada tidak selesai dari tadi. 


Lalu Pak pengantar paket itu pergi dan Zukhruf menutup pintunya kembali. Membawa paket itu ke ruang tengah. Meletakkannya di meja. Ia duduk di sofa sana dengan mengamati kotak yang lumayan besar itu. Berpikir-pikir.


"Yungi?" 


Yungi siapa sih. Kenapa sampai sini? Salah ini tu paketnya. Siapa Yungi. Adanya tu Hyungie.


Berhenti berpikir. "Hah. Hyungie?!" Ia mencari Hyung. Apakah dia masih di kamarnya. 


Zukhruf sudah berdiri di depan pintu kamar Hyung. Terdengar gemericik air. Ia mengamati dan mendengarkan lagi dengan jelas. Memang benar itu air yang menyala. 


Apa Hyung lagi mandi? Masih mondar-mandir di depan kamar Hyung. Tiba-tiba tidak terdengar lagi suara air yang mengalir. 


Lima menit kemudian kamar jadi sepi. Ia hendak mengetuk pintu kamar itu. Namun segera ia ingat dengan kontrak itu. 


'Jangan pernah mengetuk pintu kamarku.'


"Hampir aja aku langgar aturannya," katanya lirih. 


Lalu Zukhruf kembali duduk di sofa karena ia sudah menunggunya lama namun tak keluar juga orangnya. 


Setelah Zukhruf duduk kembali, keluarlah Hyung dari kamarnya. Dengan pakaian yang tipis. Baju kaos polos putih dan celana longgar. Kepalanya ia pakaikan bandana. Sehingga rambutnya tersibak ke belakang.


Zukhruf dari tadi memperhatikan Hyung karena masih tak percaya jika ini adalah Hyung idol Korea itu yang ia sukai. Dia sangat suka jika Hyung menggunakan bandana di kepalanya. Dan tak sadar jika ia melamun dan itu dilihat oleh Hyung.


"Hei! Ada apa denganmu menatapku seperti itu?" Duduk di sofa. Menyibakkan rambutnya yang lebat dan lurus itu ke belakang. 


Zukhruf akhirnya tersadar. Ia melakukan satu kesalahan. Harusnya ia bisa menjaga pandangannya. Ini sangat melanggar aturan yang seharusnya tidak ia lakukan. Ia langsung menundukkan kepalanya. 


"Ada apa? Mengapa kau menunduk?" Zukhruf hanya menggeleng. Dan itu terlihat manis di mata Hyung. "Ini paket…" Menyerahkan ke dekat Hyung.  


Seketika Zukhruf memandangnya. "Iya… Apakah.. itu punyamu?"


Hyung terkekeh karena tingkah Zukhruf. Zukhruf menjadi malu sendiri akhirnya. Ia segera memindahkan topik. "Katanya dari Yungi yang memesan. Apa kau kenal Yungi?" 


Sekali lagi Hyung tertawa. Ia sepertinya tak bisa menahannya. Ia pun tertawa lepas. 


Tok tok tok..


"Hyung diamlah!! Jangan berisik Hyung!" teriak salah seorang dari luar apartemen Hyung.


Tuh rasain dimarahin kamu! Hh. Menyunggingkan senyum kemenangannya. Itu suara siapa ya? Kayak pernah dengar.  


Hyung langsung terdiam. Sepertinya Ji Hyung marah.


Zukhruf diam seketika. "Siapa Yungi, Hyungie?" Menatap Hyung dengan raut penasaran. Dia sempat berpikir jika Yungi merupakan kekasihnya. 


"Kau sangat ingin mengetahuinya?" Hyung melihat wajah kesal Zukhruf. Entah apa sebabnya ia tak tahu. "Ada satu syarat yang harus kau patuhi."


Zukhruf mendongak. Alisnya naik dengan banyak pertanyaan. "Apa?"


"Panggil aku Hyungzie."


"Hyungzie!"