
Zukhruf sekarang sudah tertidur di lantai dengan posisi duduk. Karena kelelahan menonton televisi, ia tak sempat untuk pergi ke kamarnya dan justru tertidur disana. Rafiq yang masih kuat untuk terjaga, ia berinisiatif untuk mengangkat Zukhruf ke kamar. Namun ia teringat dengan pesan kedua orangtua Zukhruf untuk jangan pernah mengganggu dia.
Akhirnya Rafiq mengambil bantal dari kamar Zukhruf dan membawanya ke ruang tamu. Meletakkan bantal itu di samping Zukhruf. Ketika Zukhruf hendak oleng, ia melirik jika di sampingnya sudah ada bantalnya. Zukhruf pun menyandarkan kepalanya di atas bantal tersebut lalu kembali tidur.
Rafiq yang dari tadi hanya melihatnya, jadi ingin tertawa melihat kelakuan Zukhruf. Ia sama sekali tak sadar jika di sampingnya masih ada Rafiq. Rafiq sengaja mencoba untuk tetap terjaga dengan menyibukkan dirinya di hadapan laptopnya yang sudah ia bawa kemarin. Ia mengerjakan tugas kantornya.
"TV gak usah dimatikan. Biar ada suara." Ia mulai membuka laptopnya. Tapi teringat sesuatu. Ia menuju ke dapur dan melihat masih tersisa masakan Zukhruf tadi sore. Masih tersisa sedikit di panci kecil.
Rafiq mengambil mangkuk kecil dan menyendoknya ke dalam mangkuk itu sampai habis. Dan membawanya ke depan televisi lalu memakannya sambil mengerjakan tugasnya yang sudah menumpuk selama seminggu.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Rafiq merasa dirinya sudah mengantuk. Ia melirik Zukhruf sekilas. Terlihat Zukhruf menggeliat karena kedinginan. Rafiq pun segera menutup laptopnya dan membawanya ke kamarnya. Ia kembali dengan membawa selimut yang diambil dari kamar Zukhruf.
Menyelimuti seluruh tubuh Zukhruf hingga leher. Sebenarnya Rafiq keberatan jika harus meninggalkan Zukhruf tidur di depan TV sendirian. Ia pun ikut tidur sana juga. Ia memutuskan tidur di sofa karena takut akan terjadi apa-apa pada mereka. Lantai yang ditiduri Zukhruf sudah terdapat karpet yang lumayan tebal. Jadi Zukhruf tidak akan masuk angin saat ia bangun nanti.
~•~
Pagi hari yang mendung. Membuat suasana pagi itu menjadi sangat dingin di seluruh kota X. Mungkin siang ini akan terjadi hujan deras.
Seorang Ibu yang hendak menjemput anaknya. Namun diluar sudah basah diguyur hujan. Gerimis membasahi tanaman dan bunga-bunga yang ada di halaman rumah sederhana itu.
"Abi! Hujan ni!" Teriaknya dari teras rumah.
Lelaki berumur empat puluh tiga tahun itu menuju ke sumber suara. Memeluk pinggang istrinya dari belakang. Terasa menghangatkan di suasana seperti ini. Ia melepaskan pelukannya dan menuju ke kursi yang terbuat dari bahan bambu itu. Membaringkan tubuhnya disana.
"Ummi! Tolong bikinkan Abi kopi." Menatap wajah Ummi dengan hangat. "Di suasana seperti ini, enaknya minum yang hangat-hangat. Ummi bikin buat Ummi sendiri juga ya…? Ummi bikin wedang jahe, biar tubuh Ummi gak masuk angin."
Ummi tersenyum sambil menuju ke arah Abi lalu mengecup pipi Abi sembari berkata, "Apapun untuk Abi, siap laksanakan." Ia tersenyum manis seperti senyuman putri sulungnya. "Tapi Abi janji ya? Habis hujan berhenti ke rumah sana. Ummi mau lihat Zukhruf. Ummi kangen dia. Abi kangen juga kan?" Ucapnya sambil tersenyum.
"Iya lah. Masak Abi gak kangen sama anak sendiri. Ya sudah Ummi bikin sana. Keburu hujannya reda, kan gak jadi minum kopi."
"Bisa lah. Tinggal minum kan Abi?"
"Gak nikmat." Jawabnya sambil tersenyum. Disusul dengan senyuman Ummi.
"Aneh-aneh."
~•~
"Hmm..??" Mencari wangi itu. "Dia gak bangunin aku. Kurang ajar sekali." Berjalan menuju dapur.
Di dapur terlihat Zukhruf sedang memasak sesuatu. Ia sepertinya masak besar. Rafiq ingin ke tempat Zukhruf untuk melihat apa yang dimasaknya lebih dekat. Namun Zukhruf mencium bau-bau orang di belakangnya. Dengan cepat ia berbalik badan.
"Masak apa itu?"
"Eh, sana pergi. Gak boleh lihat."
"Cuma lihat gak curi."
"Kamu bau."
Rafiq mencium tubuhnya. "Mana, gak ada yang bau. Wangi malah." Ingin mendekat ke wajan.
"Cepet mandi sana! Aku sutil nih!" Menyodorkan spatula panas yang sedang digunakannya untuk memasak.
Rafiq pergi dengan muka masam. Ia pergi ke kamar mandi untuk mandi. Sedangkan Zukhruf menyiapkan segalanya untuk makan nanti. Ia memasak banyak lauk dan sayur. Ia yakin jika Ummi dan Abinya akan datang ke rumah itu.
Tak lama setelah Zukhruf selesai menyiapkan semuanya, Rafiq keluar dari kamar mandi dengan pakaian hoodie tebal dengan warna yang sama seperti Zukhruf. Hitam. Ia menuju ke dalam.
"Pakaiannya kembar?" Tanya Zukhruf heran melihat baju yang Rafiq pakai saat ini. Rafiq menaikkan bahunya.
"Kebetulan."
"Oh."
Rafiq duduk di sana. Ia melihat beberapa makanan yang ia kenal. Dan ya. Satu makanan asing. Ludahnya hampir saja menetes. Membuatnya ngiler. Tak tahan untuk segera memakannya. Ia mengambil mangkuk lumayan besar itu dengan berisi masakan yang dianggapnya aneh.
Hmmm….
Zukhruf segera menariknya kembali saat Rafiq mengambil mangkuk itu dari tempatnya. Rafiq menatapnya heran. Ia menaikkan alisnya karena bingung dengan sikap Zukhruf.
Kan dia udah janji masakin itu khusus aku
Rafiq tetap berpikiran positif. Mungkin ia harus menunggu Zukhruf dan memakannya dalam waktu bersamaan. Ia tersenyum senang karena Zukhruf menepati janjinya. Ia menunggu Zukhruf yang sedang menyapu rumah.
"Zukhruf! Masih lama gak!?" Teriak Rafiq dari meja makan. Ia menunggu Zukhruf sambil bermain ponsel disana. Sesekali melirik masakan yang satu itu.
Hujan sudah mulai reda, pukul delapan pagi. Beberapa menit kemudian, Zukhruf kembali. Ia meletakkan sapu lantai di belakang pintu dapur. Lalu menuju meja makan. Melihat Rafiq yang masih setia disana hingga saat ini membuatnya menjadi ingin bertanya padanya.
"Kenapa masih disitu?"
Rafiq mendongak dari layar ponselnya. Ia tersenyum manis. "Menunggu kamu."
"Gak usah."
"Kamu ngapain??" Tanya Zukhruf seketika menjadi bingung. "Aneh."
"Makan."
"Tunggu dulu."
"Ha!?" Ia meletakkan kembali sendok yang akan digunakannya untuk mengambil masakan itu. "Kamu tadi bilang gak usah nunggu. Nunggu siapa emangnya?"
"Ummi sama Abi. Mereka nanti kesini. Jadi nanti makan bersama. Kamu punya nomernya Karlinda gak?"
".... Gak tau! Tadi bilangnya gak usah nunggu."
"Sabar dikit kenapa sih. Makan mulu."
"Hmm." Ujarnya lalu pergi dari meja makan menuju kamarnya yang memang sudah disiapkan untuknya menginap.
Hhhhhh! Makan terus sih kerjaannya. Belum kenal aja gak mau makan. Giliran udah kenal rasanya baru mau makan. Doyan lagi. Dasar gengsian.
~•~
Setelah menunggu beberapa saat. Akhirnya ada yang mengucapkan salam di pintu rumah.
"Rafiq. Ayo keluar. Mereka udah dateng." Ia membuka pintu kamar Rafiq dan masuk kedalamnya. Dilihatnya Rafiq sedang tidur di ranjang.
"Hiiih! Pagi-pagi udah tiduran. Tinggal ah." Menutup pintu kamar tersebut. "Awas aja. Gak dapet jatah nanti. Hhh!"
"Assalamu'alaikum! Zukhruf!"
"Ummi!!" Ia berlari ke Ummi dan memeluk langsung. Lalu menyalaminya. "Ummi maafkan aku ya..? Udah bikin Ummi khawatir kemarin-kemarin."
"Iya gak apa-apa. Kadonya udah dibuka kan.."
"Udah! Aku masih simpan di lemari. Belum aku coba. Ummi ayo makan. Aku udah masakin sesuatu buat Ummi. Spesial!" Ummi hanya tersenyum. Zukhruf pun menarik tangan Ummi dan meninggalkan sesuatu.
"Hei-hei!"
Zukhruf dan Ummi menoleh ke belakang. Zukhruf pun terkekeh karena meninggalkan seseorang di sana. Tepatnya di depan pintu. "Abi gak diajak masuk?" Abi menatap Zukhruf. "Gak kangen Abi ya?"
Zukhruf meringis. Ia menarik tangan Abi perlahan dan menggandeng kedua tangan orangtuanya ke dalam rumah. Menuju dapur.
"Rafiq udah pulang?" Tanya Ummi ketika sudah duduk di kursi.
"Iya. Dia udah pulang? Si jagoan itu." Susul Abi.
"Jagoan?"
"Iya. Rafiq bisa nemuin kamu. Si-is-super-hero."
"Kok she? Pake he. Kan cowok."
"Sama aja. Mana dia?"
"Di kamar."
"Di kamar?" Abi terlihat sangat terkejut. Berbeda dengan Ummi yang terlihat biasa saja.
Ummi mengambil sendok dan mulai mengambil nasi. "Mungkin capek. Udah sarapan?"
"Rafiq belum sarapan. Aku suruh dia nunggu Ummi sama Abi datang dulu terus makan sama-sama. Tapi dia udah tidur di kamarnya."
"Bangunin sana. Sakit tanggung jawabnya Zukhruf lho." Ujar Abi.
"Kok aku? Gak lah. Lagian dia serakah kalo makan masakan aku yang ini." Menunjuk masakan yang satu-satunya menjadi makanan favorit Rafiq tiba-tiba. "Nanti kalo makan bareng Ummi, malah gak kebagian Umminya."
Ummi melihat masakan yang terlihat aneh di matanya. Masakan yang ditunjuk Zukhruf barusan. "Ini?" Mengambil mangkuk itu dari sana. "Ini apa Zukh?" Mentoel-toel dengan jari telunjuknya. Mencicipinya.
"Hah!? Itu apa? Masak apa anakku yang besar ini?" Abi ikut nimbrung di sela-sela itu.
"Masakan negeri orang."
"Biasa aja rasanya. Rafiq suka kayak gini?" Kata Ummi setelah mencicipinya. "Enak. Gak enak-enak banget tuh."
"Iya. Biasa aja ini. Sama kayak…. Apa sih namanya Mi?"
"Yang mana?"
"Itu yang pedas-pedas, yang biasa Ummi masak."
"Apa sih Bi. Gak tau ah." Lalu memulai makan masakan yang sudah dibuat Zukhruf. Begitupun juga Abi yang menyerah untuk mencari nama masakan yang pernah dibuat oleh Ummi.
Mereka bertiga makan bersama tanpa kehadiran Rafiq di meja makan, karena Zukhruf sengaja tidak membangunkan Rafiq untuk sarapan. Jangan menyalahkan Rafiq jika dirimu sama sepertinya, Zukhruf. Sama-sama memiliki sifat yang kekanak-kanakan, dan jahil satu sama lain.