Life Is Move

Life Is Move
Na Na Na



"Haaaah... Lelah sekali ya hari ini? Eh? Lisa sekarang lagi apa ya? " Zukhruf bangkit dari tidurnya.


Zukhruf berjalan keluar apartemen. Ia membawa sesuatu ke tempat lain. Ya. Itu apartemen Lisa. Ia membawa makanan cepat saji dan camilan ke apartemen Lisa serta juga beberapa minuman.


Tok, tok, tok


"Lisa... Lisa buka pintunya, tolong! "


Tak lama kemudian Lisa keluar dari apartemennya hanya dengan pakaian santai. Zukhruf sedikit terkejut dengan penampilan Lisa saat itu. Ia berpakaian sangat aneh.


"Ada apa? " ucap Lisa sedikit mengantuk.


Zukhruf masih bingung dengan keadaan ini. Ia masih memperhatikan Lisa dari atas sampai bawah, lalu ke atas lagi. Lisa yang merasa dirinya diperhatikan, ia mencoba membuka matanya lebar-lebar.


"Astaghfirullah! "


Mata Lisa mengecil lagi seperti menahan kantuk. Zukhruf terkejut karena Lisa membulatkan matanya tiba-tiba barusan.


"Heh! Lisa, pakaianmu kemana? Dari mana setelan itu? Ngga cocok banget sama kamu, Lisaaa... Ha-ha-ha! "


"Ah... Apaan sih, Zukhruf!? Kamu mau apa ke sini siang-siang begini? Aku mengantuk ini... Hoaaammm. " Lisa menutup mulutnya kala ia menguap tadi.


"Eh, aku sedang malas beres-beres. Jadi ayo nonton pakai laptopmu. " Zukhruf menyerobot masuk tanpa persetujuan dari Lisa.


Lisa hanya melihat tanpa peduli dengannya. Ia duduk di sofa dengan kaki berselonjor. Zukhruf mulai mencari laptop Lisa di kamar Lisa. Ia mulai membuka dan melihat daftar playlist di akun YouTube milik Lisa. Ia duduk di bawah, tepat di depan Lisa berbaring. Zukhruf membuka camilan yang dibawa olehnya dan mulai memencet tombol play di vidio tersebut. Lisa hanya ikut menonton dari belakang Zukhruf.


"Zukhruf... "


"Hmm? " gumam Zukhruf tanpa menoleh ke lawannya. Ia setia menonton film tersebut dengan seksama.


"Kenapa membawa makanan dari apartemen? Di kulkas juga ada makanan tau, Zukhruf... "


"He-he... Tidak apa-apa. Sebagai ganti internet di laptopmu. Ayo sini, makan bersama. Ini, minumannya. " Zukhruf menyuguhkan minuman itu ke tangan Lisa dan Lisa hanya menerimanya dengan lemah, karena masih mengantuk.


Bocah satu ini nyemil terus, tapi tak gemuk-gemuk, masak yang gemuk cuma pipinya, batin Lisa sambil meneguk minumannya.


~•~


Malam hari.


Karlinda mulai dibuat kesal dengan orang itu yang terus memberi pesan online padanya. Ia tak tahu apa maunya. Karlinda membuat perjanjian, jika ia memberi pesan satu kali lagi, ia akan memberhentikan ruang obrolannya.


Calling on,


Karlinda : "Apa? Kau terus menghubungiku tanpa tujuan yang jelas, apa itu menyenangkan bagimu?! "


Rafiq : "Sangat! Aku kesepian. "


Karlinda : "Lalu apa urusannya denganku, playboy?! "


Rafiq : "(Hm... Playboy?? _-) Ekhm. "


Tuutt


Karlinda menoleh ke arah suara itu.


Lah?? Dimatikan gitu saja? Memang dasar cowok playboy! Sudah punya Zukhruf juga, main telpon cewek dibelakangnya.


Karlinda meletakkan ponsel miliknya di meja kecil samping kasurnya. Ia mulai mandi dan merawat kulitnya karena ini sudah malam. Ia sangat rajin dengan kepedulian terhadap kulitnya terlebih lagi wajahnya. Karlinda termasuk teman Zukhruf yang paling glow up di antara yang lain. Meskipun dari keluarga kaya, Karlinda tidak meminta uang apapun dari keluarganya untuk membelikan segala peralatan atau produk-produk tertentu. Semua dibeli dengan uang keringatnya sendiri.


"Sudah! Ku harap tengah malam dia tak meneleponku. Sangat mengganggu jam tidurku saja. Dan ku harap setelah sebulan berlalu, Zukhruf segera menikahinya agar tidak dapat mengganggu hidupku lagi. Eeeehmm! " Karlinda merebahkan tubuhnya di kasur dan mulai memejamkan matanya. Tak lupa ia menyalakan mode silent di ponselnya.


~•~


"Dadah... Besok aku bantuin bersih-bersih deh. Tunggu ya, besok aku ke apartemenmu. Pukul sembilan sudah yang paling ok, bukan? "


"Yiii... Bilang saja kalau mau molor sampai siang. " sindir Zukhruf pada Lisa.


"Aw-aaw!! Hiishh! " Zukhruf menampar tangan Lisa yang mencubit pipinya barusan.


"Aduh. "


"Sakit banget! Awas lain kali begitu. "


"Iya-iya, Zukhruf... Maaf~ " Lisa meringis.


"Hm. "


"Sudah lah. Ngga asik kalau sudah begini. Sudah pulang sana, sudah malam ini! "


"Ok-ok, Lisa cerewet. "


"Eeeeh.....!! Tunggu sebentar! " Karlinda pergi masuk kembali ke kamarnya. Ia mengambil sesuatu agar Zukhruf membawanya.


Setelah menemukan, ia kembali ke Zukhruf. Zukhruf melihat barang yang dibawa oleh Lisa di tangannya dengan heran. Hng?? Barang apa itu? Aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Apa itu barang mahal? Di mana ia membelinya? Perasaan sejak sampai di sini, langsung ke apartemen. Kapan dia membeli barang seperti itu?


"Ini. Pegang! "


Zukhruf melihat-lihat dan memutar-mutar barang itu. Ia terlihat tertegun jika barang itu dapat berbunyi. Sedikit senang melihatnya.


"Ini apa, Lisa? " tanyanya sambil membolak-balikkan barang tersebut.


"Tidak tahu. "


Tiba-tiba fokus Zukhruf tertuju pada Lisa. Ia menatap Lisa tajam. Bagaimana dia tidak tahu nama barang tersebut. Sembarangan sekali membeli barang.


"Bisa saja tak tahu namanya. Kalau kamu dibohongi, bagaimana? "


"Tenang saja. Itu kualitas tinggi. Dan lihat! Itu imut, bukan? Ada lampunya... Ada bonekanya... Tertarik saja untuk membelinya. Jadi beli deh. "


"Pasti mahal. "


"Sudah tentu... Ha ha ha! "


~•~


Zukhruf melangkahkan kakinya menuju ke dalam apartemennya. Di apartemen, ia membuka tasnya. Ia bingung harus bagaimana dengan beberapa koper-koper yang tergeletak di lantai. Melihatnya saja sudah malas untuk menyentuh. Tubuhnya melemas seketika.


Arrgggg... Kenapa harus ada yang namanya beres-beres, sih? Ini membingungkan, dan bahkan akan melelahkan!


Zukhruf merebahkan tubuhnya di sofa dan menyalakan televisi dengan remote. Ia mendengarkan semua channel yang berbahasa asing tersebut. Sedikit-sedikit ia memahami.


"Aahhh!! "


Zukhruf seperti mendapat setrum di tubuhnya. Seketika ia beranjak dari tempat ia berbaring dan langsung menuju ke kamarnya. Ia kembali dengan membawa laptopnya.


"Nah! Kalau seperti ini pasti akan semangat. "


"Sesangeul jwotne! Just for you~ "


Zukhruf mendengarkan lagu tersebut sambil membereskan semua barang-barang yang masih berserakan di lantai. Sambil bergumam ia terlihat menikmati lagu tersebut. Tangannya mengambil satu-persatu barang yang tergeletak di lantai dan mulai memilah-milah dengan baik.


"Sky high, sky fly, sky dope! "


"Na na na... "


~•~


Matahari mulai muncul dari arah timur. Matanya tersorot oleh cahayanya. Ia merasa terganggu dengan itu. Tanpa berkata apapun, ia langsung bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah pintu penutup untuk ke balkon kamarnya. Jemarinya membuka pelan tirai tinggi itu dan tersinari semua wajahnya dengan sunrise.


"Cepat sekali sudah pagi... Ini hari Minggu. Hari Minggu enaknya tidur. Eeh! Tidak! Setidaknya keluar dan bersosialisasi dengan orang sekitar. Biar kemampuan bahasaku terasah. Kan, kelasnya masih besok Senin. Jadi lebih baik saling bercakap-cakap dengan orang asli sekarang, agar tidak kaget nanti. "