Life Is Move

Life Is Move
Lomba Menulis



Zukhruf tertidur, sedangkan televisi masih menyala dengan acara konser yang hampir selesai. Zahra, adik terakhir Zukhruf yang masih sekolah TK itu pergi ke ruang tamu. Melihat televisi yang masih menyala, ia segera mengganti Chanel televisi dengan tayangan Upin Ipin dan duduk manis di depannya. Setelah ia merasa bosan, ia pergi ke kamar. Zukhruf terbangun karena kerasnya volume televisi.


"Ha...? Opa?!"


Hari ini libur. Ia memilih untuk melanjutkan kepenulisannya di kamar. Di sampingnya terdapat keripik singkong dan es sirup.


"Mbak Zukhruf pinjam uang." Langsung masuk tanpa izin.


"Buat apa?" sambil menulis dan menyeruput esnya.


"Beli kuota." Zukhruf mengambil uang lima puluh ribu dan memberikannya kepada Zulfa.


"Beli 8 GB! Setelah itu jangan beli lagi sebelum satu bulan berakhir. Sisanya ambil."


Zulfa bingung. "Mbak Zukhruf benarkah?"


"Sudah sana jangan ganggu! Cepat pergi atau ku potong menjadi 2 GB." Zulfa langsung berlari pergi.


Zukhruf kembali menulis. Ia kini mendapat julukan Author di apk WeNov. Di Sana banyak juga Author yang sering mengeluarkan tulisannya. Novel pertama Zukhruf yang diberi judul "Love Yourself", mendapat peringkat ketiga. Banyak orang yang suka dengan kandungan yang terdapat di dalam novelnya. Banyak juga pelajaran yang dapat diambil. Zukhruf belum menerbitkannya dengan buku cetak, karena takut dengan pendapat Ummi.


"Sudah lah. Capek," sambil menyandarkan kepalanya di meja.


Tiba-tiba Lisa memulai video call di laptop Zukhruf. Zukhruf terkejut dan langsung pergi mencuci muka lalu membuka laptopnya.


Zukhruf: "Ada apa?"


Lisa: "Aku hanya ingin memberitahumu, ada lomba online yang diadakan kembali bulan ini. Mungkin kamu suka dan mau berpartisipasi."


Zukhruf: "Memang lomba apa?"


Lisa: "Menulis cerpen. Kalau mau ikut, kamu bisa lihat informasi lebih lanjut di akun Instagramnya. Zukhruf, mumpung masih liburan. Jadi kamu ada banyak waktu untuk deadlinenya."


Zukhruf: "Baiklah." (Menutup sambungan)


Zukhruf mencari tahu informasi di Instagram. Akhirnya ia temukan beberapa informasi, dan segera melakukan instruksi yang diajukan. Setelah selesai, ia membuat cerpennya di laptop untuk memudahkannya.


"Mbak, makan dulu," kata Ummi mengajaknya makan siang. Zukhruf tak menghiraukan, karena ia sedang memakai earphone. Ummi masuk dan mencabut dari telinga Zukhruf.


"Ummi, aku makan nanti. Aku belum lapar," sambil memasukkan kembali earphone ke telinga dan mulai menulis. Melihat itu, Ummi mematikan lampu belajar dan mengambil laptop, lalu membawanya pergi. Zukhruf menggerutu dan keluar kamar.


"Makan dulu baru boleh minta laptopnya ke Ummi," kata Ummi yang ada di dapur.


Di meja makan sudah banyak makanan yang dari tadi pagi belum ia sentuh. Zukhruf tak berniat mengambil salah satu dari makanan itu. Ia mengelilingi seisi rumah tanpa diketahui Ummi. Ia mencari laptopnya. Dan akhirnya ia menemukan di rak piring.


"Haha.. Ternyata di sini kau." Dia mengendap-endap ke kamarnya dan menutup pintu perlahan.


Zukhruf melanjutkan pekerjaannya di atas kasur.


"Mbak Zukhruf sudah makan belum?" teriak Ummi dari luar.


"Udah." Ia hanya makan nasi satu suap dengan menggigit ayam goreng.


"Hah! Selesai." Merebahkan tubuhnya. Tiba-tiba ada chat masuk.


Lisa: Zukhruf sudah membuat belum?


Zukhruf: Udah selesai


Lisa: Yakin? Benarkah sudah selesai?!


Zukhruf: Sudah. Setengah (Emoji senyum jail)


Lisa: Ih, dasar! Semangat!


Zukhruf: Thank you 🖤


Zukhruf tidur siang sebentar lalu melanjutkan ceritanya.


Ummi membuka kamar Zukhruf. Terlihat Zukhruf yang masih tidur. Laptopnya masih menyala. Karena Zukhruf baru saja tidur dan lupa mematikan laptop.


"Apa ini?" Mendekat dan mengambil laptop.


Lisa: Zukhruf jangan lupa makan! Kamu biasanya gak makan kalo sudah menekuni cerita. Semangat, semoga juara!


Ummi mengangguk paham. "Bangun, makan!"


"Apa!"


"Biasa saja bangunnya! Ummi hampir copot jantung."


"Adanya gagal jantung, Mi."


"Gagal ginjal, Zukhruf...."


"•_•"


Satu minggu kemudian.


"Wa'alaikumussalam. Mencari Zukhruf?"


"Iya, Bu."


"Masuk saja ke kamarnya." Cici ke kamar Zukhruf dan mengetuk pintu kamar Zukhruf.


"Masuk!"


"Hai.... Bagaimana kabar kamu?"


"Baik. Kamu?" Cici menjawab dengan jawaban sama. "Ada apa?"


"Itu.... Aku cuma mau kasih tau, kalau bulan depan angkatan kita mau ngadain reuni. Kamu ikut, ya? Nanti ada guru juga, kok."


"Apa wajib?"


"Iya, kamu gak kangen sama Rafiq?"


"Kenapa tanya itu?"


"Aku tau, dulu kamu suka dia. Kamu gak suka kalau aku dekati dan jahili dia. Ya, kan?" Tersenyum jahil. Zukhruf memalingkan wajahnya.


Zukhruf sudah menyelesaikan cerpennya. Ia mengirim karyanya lewat aplikasi Email. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya di kasur dan bermain dengan ponselnya. Ia berseluncur ke YouTube. Di beranda, tak sengaja ia menekan drama Korea. "Aduh, kepencet lagi."


Zukhruf mematikan filmnya. "Eh, tonton bentar, ah." menge-play lagi. Dia tersenyum. "Aku kepo. Kenapa mereka suka sekali yang namanya drama Korea?" Zukhruf menonton dengan tenang, dan saat sampai di adegan ciuman, Zukhruf merasa geli sendiri.


"Ih, pake ciuman di bibir. Lama, lagi. Enaknya apa coba. Jijik!" Walau itu yang ia rasakan, ia masih tetap menonton tanpa di-skip.


Zulfa masuk, tetapi Zukhruf membiarkannya. Biasanya jika Zukhruf sedang serius, ia akan menanyakan alasannya mengapa masuk kamarnya. Tak segan ia menolak dan menyuruhnya keluar dari kamarnya.


Zulfa mendekati Zukhruf sambil membawa camilannya. "Ngapain?" Zukhruf hanya mengisyaratkan dengan matanya kalau ia sedang menonton. Ia pun ikut menonton. Mereka berdua sangat serius. Tenang. Hening.


"Apa enaknya sih nonton drama Korea? Jijik aku lihatnya." Tiba-tiba bicara.


Zulfa menoleh ke arah Zukhruf. "Jijik tapi masih aja nonton. Sudah sampai setengah jam lagi durasinya." Zukhruf diam.


"Aku heran saja. Tiap hari temanku tontonannya kayak gini."


"Mbak polos banget, sih. Romantis tau gak?! Pas lagi ciuman, pelukan, emm.... Romantis banget," khayal Zulfa.


"Ih. Kayak gitu dibilang romantis. Gak ada sama sekali."


"Aduh.... Punya kakak cantik tapi gak ada romantisnya. Polos banget kayak anak TK. Gimana nanti perasaan suaminya Mbak Zukhruf, ya?"


"Biarin. Daripada kamu. Bucin, hahaha." Ia tertawa. Zulfa mengkerut masam. Zukhruf pun mematikan ponselnya.


"Kenapa dimatikan?" Zulfa jadi penasaran dengan kelanjutannya.


"Tuman! (kebiasaan)" Zukhruf merebut camilan dari tangan Zulfa. Dan terjadilah permainan kejar-kejaran di kamar.


Ada email masuk. Ia melihatnya. Namun raut mukanya sedih seketika.


"Mbak jangan nangis. Aku yakin Mbak pasti menang lain kali."


"Tidurlah ke kamarmu. Aku juga mau tidur." Zulfa menatap Zukhruf.


"Mbak masih nangis. Aku gak akan pergi." Zukhruf langsung mengusap pipinya yang basah.


"Aku sudah gak nangis. Lihat! Aku senyum." Zukhruf selalu berkata bahwa dirinya baik-baik saja. Zulfa pun pergi.


Zukhruf merenung. Teringat dengan perkataan teman masa SMA.


"Lihatlah ke depan. Jangan lihat kebelakang."


Dari situ ia tak sedih lagi.


Tapi di mana salahku? Kenapa cerpenku tidak lolos?


Memang akhir-akhir ini Zukhruf merasa sakit. Ia tak enak badan. Ditambah lagi ia punya darah rendah. Sehingga membuat dirinya kurang fokus dengan jalan cerita yang dibuatnya.


Chat masuk.


Lisa: Bagaimana? Sudah keluar hasilnya?


Zukhruf: Sudah


Lisa: Kenapa? Kok jawabannya singkat?


Zukhruf: Tak terpikirkan, aku jauh dari mahkota.


Lisa paham apa yang dimaksud Zukhruf.


Lisa: Jangan menyerah. Besok pasti tak akan seperti ini lagi. Masih banyak kesempatan di lain waktu.


Zukhruf tersenyum, ia tahu mengapa Lisa berkata seperti itu.