Life Is Move

Life Is Move
Kontrak



Di tengah malam Zukhruf terbangun. Ia ke kamar mandi sebentar dan kembali lagi. Sebelum ia tidur lagi, Zukhruf melihat di atas meja kecil itu masih terdapat ponsel. Ponsel android yang sama seperti kemarin, namun itu lebih besar dari miliknya. Dia mengira itu milik lelaki tersebut. Ia berbaring, mengambil lalu memainkan ponsel itu. Memutar dan membolak-balikan benda tersebut. 


"Pasti ini mahal." Menyalakan power.


Zukhruf terkejut karena bahasa di dalam ponsel itu menggunakan bahasa Korea. Ia lumayan paham dengan bahasanya. Namun yang ia bingungkan ialah, apakah lelaki itu datang dari Korea? 


"Dia dari Korea ya? Korea mana ya? Hiks hiks.. Aku takut kalo dia dari Korea Utara.. Hwaaaa…" Zukhruf menenangkan dirinya.


"Tapi orang Korut kan gaya rambutnya gak kayak gitu." Berpikir lagi sehingga membuatnya pusing. "Aku yakin dia dari Korsel. Tapi ngapain aku jadi nyasar ke sini sih." 


Zukhruf memilih untuk tidur daripada memikirkan hal itu yang hanya membuatnya tambah pusing. Tapi ia terbangun lagi. Karena perutnya yang kambuh. Ya. Mag dia kambuh lagi. Dia belum makan malam tadi. 


Dia memutuskan ke dapur. Melihat ke kulkas. Membukanya. Namun hanya ada makanan ringan dan camilan di sana. Ada juga make up di dalam sana. Apalagi lotion.


Apa ini? Kulkas gak ada sayuran dan makanan pokok. Justru adanya make up dan skin care?! Laki pakai skin care?! 


"Dia siapa sih? Aneh banget hidupnya. Aku lapar, aku mau makan apa sekarang? Camilan saja lah." 


Lalu Zukhruf membawa beberapa camilan itu ke dalam kamarnya. Tapi ia melupakan sesuatu yang sangat penting setelah ia baru sampai di dalam kamar. Ia harus meminta izin terlebih dahulu untuk dapat memakannya. Ia pun keluar lagi. Dan menuju kamar satunya. Sebelumnya ia ragu untuk mengetuk pintu besar itu. Takut jika dirinya akan mengganggu tidur pemilik kamar tersebut. Ia pun mengurungkan niatnya untuk makan di tengah malam. Ia mengembalikan camilan tersebut ke dalam kulkas seperti semula. Lalu kembali pergi tidur di kamar.


Sampai di kamar, ia tidak bisa tidur. Menahan laparnya. Ia membuka dan mengambil ponselnya. Mencoba menyalakannya. Namun ternyata baterai ponselnya habis. Ia mencari carger miliknya. Dia mencari dan menggeledah tasnya yang ia bawa tadi. Namun kenapa bisa ia lupa meletakkannya di mana. Ia terus mencari dan mencari. Sampai saat ini belum ia temukan. Ia menyerah. Lalu kembali berbaring dan memegang ponsel besar yang ada di sampingnya. Menelitinya dengan cermat.


Beberapa menit kemudian ada pesan masuk ke ponsel tersebut. Zukhruf bimbang. Apa ia harus membaca isi pesan itu atau tidak. Ia memilih meletakkan ponsel tersebut di meja kecil itu. Dan berusaha memejamkan matanya. Namun beberapa detik kemudian ponsel itu berbunyi lagi. Ia masih mengabaikan. Pesan tersebut masuk lagi. Dan itu mengganggu tidurnya. 


Ia putuskan untuk membaca siapa pengirim pesan tersebut. Dia lumayan terkejut karena nama pengirimnya. Namanya… asing baginya. Itu sangat populer. Dan sangat mendunia. 


Dari Jee? Itu bukannya idol ya? Temennya Hyung itu kan? Tapi kok ngirim di ponsel ini? Apa salah kirim ya? Mungkin saja gitu. Dan mungkin saja yang punya ponsel ini simpan nomor kontak orang lain pakai nama idol ini. Mungkin saja lah. 


Lalu pesan masuk lagi. Dua kali berbunyi lagi. Sebenarnya siapa orang itu. Apa pentingnya malam-malam begini spam chat. Apa ini masalah yang sangat serius. 


~•~


Pagi yang sangat cerah. Dan cahaya matahari masuk melalui celah-celah gorden jendela kamar. Jendela yang terbuat dari kaca itu membuat cahaya masuk ke kamar secara leluasa.


Zukhruf membuka matanya dan menuju ke kamar mandi. Kamar mandi yang sangat sempurna. Ia mengganti pakaiannya dengan rok jins dan baju kaos longgar dengan hijab persegi. Bersiap untuk ke luar kamar dan menyapa lelaki itu. Ia sungguh masih penasaran dengannya. 


Bagaimana jika aku memasak. Tapi bahannya juga gak ada. Ke sana dulu saja lah. 


Dilihatnya di ruang tamu. Lelaki itu sudah berganti baju. Ia memakai setelan jas rapi dengan rambut pirangnya yang tersisir lurus. Memakan roti yang berisi selai anggur. Dan susu putih di sampingnya. Ia duduk di meja makan. Menghadap membelakangi Zukhruf. 


"Sini." 


Dia selalu membelakangiku. Aku jadi makin penasaran. Berjalan ke arah sumber suara. 


"Duduk." Zukhruf duduk di kursi itu. Tanpa melihat ke samping orang tersebut. Ia diam membisu. "Ambil rotinya."


Zukhruf mengambil roti tawar yang sudah siap untuk dimakan tersebut. Ia masih diam tanpa bicara apapun. Sampai ia menghabiskannya tanpa sisa. 


"Minum susunya." Zukhruf kemudian mengambil susu di depannya itu lalu meminumnya dengan perlahan. Dia terlihat seperti baru pertama merasakan susu itu.


"Apa susu yang aku buat tidak enak?" 


Zukhruf segera menghabiskan dan menjawabnya. "Enak-enak. Sangat enak."


"Tapi sepertinya kau tidak terlalu suka."


*(Mereka berbicara menggunakan bahasa Inggris)


"Aku baru merasakannya."


Lelaki itu mengangguk. "Apa sudah lebih baik?"


"Iya. Sudah baikan."


Mengangguk lagi dan mulai merogoh kantong jasnya. Mencari sesuatu di dalam sana. 


"Apa yang Anda cari?" Memberanikan dirinya untuk bertanya tanpa memandang orang tersebut. Tetap menghadap lurus ke depan. 


"Ponsel." 


"Ah iya. Kulihat di kamarku ada ponsel. Apa itu milik Anda?" Memainkan kuku-kukunya dengan ragu.


Lelaki itu menoleh ke Zukhruf dengan tatapan bingung. Apa dia melupakannya saat mengangkat perempuan di sampingnya itu kemarin sore? 


Kenapa aku merasa perempuan ini istimewa? 


"Aku akan ambil ponselnya ke kamar." Zukhruf beranjak pergi. Sedangkan lelaki tersebut masih duduk di sana. 


Sesampai di kamar.


"Aku kayak pernah dengar suara itu. Di mana ya?" Mengambil ponsel itu lalu berdiri sejenak di pintu. "Ah iya! Apa dia orang yang sama di mimpiku? Tapi gak mungkin aku bertemu dengan orang kayak gitu. Mimpiku? Gak akan jadi nyata!"


Di ruang tengah.


Lelaki itu sudah bersiap di sana. Duduk di sofa menunggu Zukhruf memberikan ponselnya.


"Ini." Menyerahkan ponsel itu di meja. 


"Terima kasih." Lalu ia beranjak pergi. Sudah mengenakan masker hitam di wajahnya.


"Tunggu!" Lelaki itu pun berhenti sebelum sempat membuka pintu. Berbalik.


"Hm?" 


"Siapa nama Anda? Boleh aku tau?"


Aish, malah ke sini? Ngapain dia mendekat.


Berdiri tepat di depan Zukhruf. "Tidak perlu tau. Kapan kamu rencana pulang?"


"Gak mau." 


Eih aku spontan banget. Tapi beneran aku gak mau.


"Aku sarankan kamu pulang." 


Zukhruf menggeleng kuat. "Aku tak ingin pulang." 


Maksudku aku gak ingin pulang. Iya nanti aku akan cari apartemen sendiri. Lagian aku juga gak kenal dirimu. 


"Tolong jaga apartemen."


"Apartemen?"


"Ya."


"Bukankah ini hotel? Ini sangat mewah seperti hotel."


"Ini apartemen. Sepertinya kau tak pernah merasakan tinggal di sini."


"Memang." Langsung menyahut.


Suara itu kenapa mirip sih… 


"Aku tanya sekali lagi. Pulang sekarang atau tidak." 


Zukhruf terlihat sangat senang sekali jika lelaki tersebut menawarkannya hal itu. Tapi ia bingung apa yang seharusnya ia jawab. Kemarin malam ia baru mendapat pesan, jika apartemen yang ia pesan sudah diambil orang lain sebab ia kemarin tidak ke sana malah menginap ke tempat ini. 


"Bolehkah aku tinggal lebih lama?" Zukhruf memohon padanya. 


"Emm?" Smirk, "Kenapa?"


"Izinkan aku tinggal di sini." Puppy eyes.


Kenapa dia terlihat imut seperti itu. Meninggalkan Zukhruf yang masih berdiri di situ sedangkan dirinya melangkah ke arah pintu.


Eh malah ditinggal?


"Kontrak," teriaknya lalu keluar dan menutup kembali pintu tersebut.