
Apa yang terjadi?
Zukhruf memundurkan dirinya dari hadapan Rafiq. Namun Rafiq terus maju ke depan. Zukhruf tak bisa melakukan apapun. Zukhruf sempat berfikir mengapa Ummi dan Abinya tak memarahi Rafiq. Bahkan lihatlah. Terlihat seperti bulan sabit di mulut Abi. Sedangkan Zukhruf tak suka jika dirinya didekati seperti itu. Langsung saja Rafiq berbisik karena tak ada balasan atau penolakan dari Zukhruf lagi. "Jika kau tidak makan, akan kucium sungguhan."
Kalimat itu membuat Zukhruf merasakan geli di telinganya. Zukhruf terpatung dan membisu di tempat. Sama sekali tak terkejut ataupun takut. Ia yakin jika Rafiq benar-benar akan melakukannya, mungkin ia sudah dimarahi oleh kedua orang tuanya terlebih dahulu. Dalam hati Zukhruf tertawa. Dan terlihat senyum Zukhruf.
"Tapi aku tidak ingin ma- " Satu suapan mendarat ke dalam mulutnya. " -kan." Mereka semua pun tertawa kecil. Sudah pasti Zukhruf sangat malu. Ia langsung mengambil tempat makan dari tangan Rafiq saat terlihat Rafiq ingin menyuapinya lagi. Ia pun langsung melahap makanan yang sudah ada di genggaman Rafiq dan mengambil sendok itu. Saat ingin mulai makan, ia menatap Rafiq dengan isyarat menyuruhnya pergi dari hadapannya. Namun Rafiq tetap saja di tempat.
"Kau pergi, aku makan."
Lalu Rafiq beranjak pergi dan duduk di sofa. Di tempat duduknya, Rafiq memikirkan hal lain.
Mana mungkin dia punya pacar. Menyuruhku menjadi pacar?
"Zukhruf. Aku pulang dulu ya?"
"Oh iya. Terima kasih."
Rafiq mengangguk dan berpamit ke yang lainnya.
Siangnya Zukhruf sudah dibolehkan untuk pulang. Sampai di rumah, Zukhruf membaringkan tubuhnya di kasur.
Skip, pagi harinya yang sangat cerah dan akan membuat hari ini sangat menjengkelkan baginya.
Di kamarnya, ia sedang duduk di kursi belajar dan memulai aktivitasnya seperti biasa. Karena dia merasa dirinya sudah sembuh total. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu kamarnya yang terdengar sangat lembut. Tak tau siapa yang mengetuknya di pagi buta seperti ini. Ia pun memutuskan untuk membukanya. Barangkali Umi atau Abi menyuruhnya untuk mengerjakan sesuatu. Mungkin memasak.
"Rafiq? Ini kamu?" Rafiq mengangguk. "Lagi apa?"
"Tapi kenapa kamu ada di sini?"
"Ayah menyuruhku datang."
Zukhruf kebingungan, "Ayah? Ayah siapa?"
"Apa aku punya ayah?" Mendengus. "Memang kamu sudah sembuh, dari tadi betah berdiri di situ?"
Memang benar, mereka sejak awal mengobrol di ambang pintu tanpa arahan dari Zukhruf untuk duduk. Beruntung Abi sama Uminya tidak ada waktu itu.
"Mau di luar atau di kamar?"
"Heh! Aku sudah sembuh. Tak perlu menjengukku di kamar. Apa di luar sangat dingin?"
Rafiq menganggukkan kepalanya, pura-pura jika ia sudah kedinginan, walaupun sebenarnya bukan itu alasannya.
"Maka dari itu jangan datang pagi hari begini."
"Memang kenapa kalau aku datang pagi-pagi begini?"
"Karena aku juga belum menyelesaikan tugasku."
"Tugas?"
"Ya. Tugas rumah memasak, menyapu, bersihin rumah, dan... "
"Dan..?"
"Jangan kaget ya. Aku belum mandi." Meringis.
Rafiq pun menahan tawanya. "Aku nanti bantu kamu apapun. Dan paling penting itu.... "
"Apa?"
"Mandikan kamu."
Zukhruf langsung terdiam sejenak. "Kamu duduk di luar saja tidak masalah." Lalu meninggalkannya sendirian dan dirinya berjalan ke kamar mandi. Setelah di kamar mandi, "Lagipula aku tau apa maksudmu. Di luar tidak dingin. Air ini saja sangat hangat."
Tak lama kemudian Zukhruf kembali dengan membawa buku dan peralatan lainnya ke ruang tamu. "Rafiq,"
"Hmm"
"Rafiq." Mondar-mandir tak jelas. "Aku mencari sesuatu."
"Hmm."
Ish. Bukannya bantuin malah mainan laptop, batinnya sambil mencari terus. Eh, itu laptop siapa? Berjalan ke luar.
"Rafiq, itu laptop siapa yang kamu pegang?"
"Hmm."
"Rafiq!"
"Hmm."
Zukhruf berjalan ke arah Rafiq berada dan mulai mengamati laptop tersebut. "Kan ini milikku." mengambil laptopnya dan pergi ke dalam rumah. Dasar dari tadi gak menyahut. Efek kedinginan kali ya? Zukhruf pun meletakkannya di samping bantal sofa dan berjalan keluar. "Fiq. Ayo masuk."
"Rafiq mau masuk gak?"
Sambil memain-mainkan ponselnya, Rafiq tersenyum pada dirinya sendiri. Zukhruf kembali masuk ke ruang tamu dan mengerjakan novelnya yang sedikit lagi akan selesai. Walaupun di sampingnya ada camilan, ia tak sempat untuk memakannya. Sudah satu jam ia di ruangan sendirian. Keluarganya entah sedang pergi kemana sepagi itu. Membuatnya sangat pusing jika harus memikirkannya. Ia harus menyikapi Rafiq bagaimana lagi. Dirinya sekarang ini sudah seperti hidup berkeluarga. Satu rumah hanya ada dirinya dan lelaki itu. Kemana mereka semua pergi.
Rafiq ku panggil gak ya? Jangan ah. Nanti menggangguku.
"Rafiq."
"Ayo masuk, jangan di luar terus." Ingin bilang kalau nanti kedinginan. Tapi sangat konyol. "Nanti dilihat orang Rafiq."
Ah. Bikin ribet saja. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam lagi.
Setelah menyelesaikan novelnya, ia pun menghidupkan tv dan duduk dilantai. Ia menonton konser grup idol tersebut yang pernah ia tonton. Dan konser kali ini diadakan di Malaysia. Malaysia memang tempat ayah Rafiq dilahirkan. Ia memanggil Rafiq dan mengajaknya nonton bersama. Saat diluar, ia dikejutkan dengan Rafiq yang sudah tertidur di kursi. Ia mengambil ponsel Rafiq dari tangannya, berniat ingin memotretnya. Namun ponsel itu terkunci. Ia masukkan saja kedalam kantong roknya.
"Rafiq! Bangun. Kalau tidak, akan ku ambilkan air panas untukmu. Karena kau sudah menjadi es."
Lihat saja mukanya. Sangat pucat. Apa dia sakit?
"Rafiq bangun... " Mendekatkan wajahnya agar terdengar sambil berbisik. "Rafiq..."
Akhirnya bangun juga tu anak
Rafiq langsung masuk ke dalam dan duduk di sofa tamu. Ia merebahkan tubuhnya.
"Kenapa kamu?"
"Ngantuk." Mulai memejamkan mata.
"Kamu gak pulang? Bukan bermaksud mengusirmu. Apa tidak ada yang mencarimu nanti?"
"Tidak"
"Tapi ini sudah siang."
"Aku mau menginap di sini."
Zukhruf terkejut tak karuan. Apa?! Menginap?
"Gak boleh. Sekarang kamu pulang ya? Ibumu sudah menunggumu di rumah. Nanti dia khawatir." Tersenyum ramah.
"Tidak akan. Aku sudah izin."
"Kau izin apa?"
"Camping."
"Heh, kenapa kau berbohong?"
"Keluargamu sedang keluar. Jadi aku akan menjagamu. Ini pun amanah dari ayahmu."
"Kenapa harus kamu? Aku bisa mandiri. Tidak perlu dijaga." Mukanya sangat memelas supaya Rafiq pergi dari rumahnya.
"Tapi aku harus menjagamu."
"We?"
"We..?" Muka bingung.
"Kenapa?"
"Ta'aruf."
Zukhruf membulatkan matanya seperti bola.
"Pasanglah tampang biasa. Jika sering mengeluarkan wajah imut itu, aku akan jahil nanti." Menjelaskan sambil tersenyum puas.
Satunya langsung memasang wajah datar, "Sejak kapan aku setuju."
Berubah dingin ni cewek.
"Duduk," tak kalah dinginnya.
Zukhruf mematuhinya. Dan duduk jauh dari Rafiq. Memandang Rafiq tajam.
"Kau melakukan kesalahan yang besar."
"Apa."
"Kau mengatakan aku berbohong pada Ibuku, sedangkan kau juga melakukan hal yang sama."
"Benarkah." Lagi-lagi pertanyaan yang keluar dari mulut Rafiq selalu datar tanpa ekspresi.
"Hmm. Kau bilang punya pacar, tapi sebenarnya hanya pura-pura. Jangan ulangi lagi."
"Aku terpaksa."
"Tidak dengan berbohong."
Bagaimana menjelaskan tentang mimpiku? Zukhruf bingung.
"Kau tak akan paham!" Memandang Rafiq sekilas. "Sudahlah. Aku mau menonton. Kalau mau makan siang, ambil saja di meja makan." Langsung meninggalkan Rafiq dan duduk depan televisi. Masih berlanjut menonton acara tadi.
Rafiq pergi ke belakang. Setelah itu ia kembali dan duduk di sofa. Ia mengambil laptop Zukhruf dan membukanya.
Zukhruf merasa bersalah membentaknya tadi. "Rafiq, kemarilah! Maafkan aku." Tak melihat ke arah lawan bicaranya karena takut melihat wajah seram Rafiq. Setelah tak dapat jawaban, ia melirik ke Rafiq.