Life Is Move

Life Is Move
Keberangkatan



Pagi ini waktunya Zukhruf untuk berangkat dengan Lisa. Lisa pergi ke rumah Zukhruf dengan Karlinda. Begitu juga dengan Rafiq yang ikut ke rumah Zukhruf untuk mengantarkannya ke bandara.


Pagi itu Zukhruf belum bangun. Padahal setengah jam lagi pesawat akan lepas landas. Zukhruf masih sangat malas untuk sekedar membuka matanya dan beranjak dari tempat tidurnya.


"Emph! Jangan bangunkan aku!" ucap Zukhruf dengan nada malas.


Seseorang telah membangunkan Zukhruf dengan menggoyangkan tubuhnya. Namun Zukhruf masih belum bangun-bangun juga. Ada apa dia sebenarnya.


"Zukhruf ayo bangun ih..!" masih menggoyang-goyangkan tubuh Zukhruf sambil menyuruhnya bangun.


"Gak mau! Aku gak jadi pergi. Gak mau pergi," ucap Zukhruf tanpa melihat siapa orang yang membangunkannya.


"Bisa diam gak? Zukhruf gak mau pergi!" ucapnya dengan nada sedikit membentak.


"Tapi pesawatnya sudah mau berangkat, Zukhruf... Bangun dong hey.."


"Gak mau!"


"Susah banget ya bangunkan ini anak." gumamnya sambil berpikir cara apa yang dapat ia gunakan agar berhasil membuat Zukhruf pergi mandi.


"Eh Rafiq! Kenapa kamu kesini? Ini kamar perempuan lho, Fiq.. Kamu gak boleh masuk sembarangan."


"Rafiq!!!??"


Zukhruf langsung bangkit dan duduk dengan posisi yang baik. Mengusap kedua matanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya. Mana? Di mana yang bernama Rafiq? Yang ada di depan penglihatannya ialah Karlinda. Karlinda yang tersenyum lebar dengan seuntai kata yang siap dilontarkan untuk Zukhruf.


"Assalamualaikum..."


Zukhruf yang sedikit kesal karena Karlinda telah menjahilinya itu pun beranjak pergi mengambil bajunya dan hendak ke arah kamar mandi.


"Zukhruf belum menjawab salam dari Linda!" ucap Karlinda dengan sedikit berteriak.


Zukhruf berhenti. Menoleh ke belakang.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Karlinda yang manis dan cantik." Lalu lanjut ke kamar mandi.


Karlinda hanya tersenyum kekeh setelah mendengar jawaban dari Zukhruf yang barusan diucapkan untuknya.


"Aku manis? Aku cantik?" Berbalik menuju ke dalam kamar Zukhruf dan mencari cermin kamar itu. Ketemu. Ia bercermin. Sedikit menyunggingkan senyum kepada dirinya sendiri yang terlihat di pantulan cermin. "Memang manis dan cantik. Subhanallah..."


Sepuluh menit berlalu. Zukhruf segera bersiap diri dan membawa barang-barangnya ke luar kamar menuju ruang tamu. Ia terkejut karena ada beberapa orang yang mengisi ruang tamu tersebut dan menjadi tamunya.


Rafiq?


"Zukhruf! Cepat Zukhruf! Kita tidak ada waktu lagi." ujar Lisa yang sudah mendekat ke arahnya yang masih berdiri.


"Kenapa ada Rafiq di sini?" Zukhruf bertanya lirih kepada Lisa.


"Ingin mengantarmu. Aku bukan siapa-siapa dia. Bagaimana aku melarangnya. Kenapa? Tak nyaman?"


Zukhruf mengangguk. "Gak nyaman banget. Rasanya mau muntah." ucapnya sedikit melirik ke arah Rafiq.


Lisa tersenyum. "Tidak masalah. Nanti aku cegah dia buat menjauhimu, Zukhruf.. Sekarang ayo berangkat. Sepuluh menit lagi harus sampai di sana."


"Ayo. Sebelum kumat lagi." Menggandeng tangan kanan Lisa.


"Kamu tadi malam tak bisa tidur?" tanya Lisa sambil berjalan keluar rumah. Mereka semua sudah menunggu di teras rumah.


Zukhruf mengangguk. "Rafiq maksa aku buat makan malam. Padahal kan aku lagi diet." ucapnya sambil memanyunkan bibirnya.


Lisa terkekeh mendengarnya. Ia tetap santai dengan perjalanan ini. Namun tidak dengan Zukhruf. Ia sangat lesu walaupun untuk tersenyum kepada kedua orangtuanya.


"Zukhruf hati-hati di sana ya... Jangan aneh-aneh. Lisa, jaga Zukhruf ya.. Jangan sampai telat makan. Jangan lupa sholat dan ngajinya. Jangan lupa telpon Ummi kalau sudah sampai. Jangan lupa ucap salam waktu mau masuk ke tempat singgah mu nanti. Jangan lupa belajar di sana."


Panjang banget jangan lupanya, batin Zukhruf.


"Jangan lupa belanja kalau makanan sudah habis. Jangan lupa makan. Jangan lupa belajar."


Diulangi lagi? Zukhruf menatap bingung Umminya.


"Jangan lalai sama waktu. Ya.."


"Sudah, Mi."


"Satu lagi. Jangan lupa mandi!" tekan Ummi pada Zukhruf.


Zukhruf terdiam. Kok bilang gitu sih... Kan ada dia di sini. Melirik ke arah Rafiq.


Rafiq hanya tersenyum kekeh melihat ekspresi wajah Zukhruf yang sepertinya malu-malu karena perkataan Ummi tadi.


Ih nakal malah ketawa!


"Jaga diri sendiri di sana ya, Mbak.." ucap Abi sambil mengecup kening Zukhruf. Sontak Zukhruf langsung mensalimi tangan Abi dan juga Ummi.


"Zukhruf pergi dulu. Assalamualaikum..." ucapnya dengan datar.


"Senyumnya mana?" tanya Ummi.


Zukhruf pun tersenyum dengan paksa lalu pergi mengikuti ketiga temannya ke dalam sebuah mobil.


Mobil siapa ini? Mobilnya Lisa kan gak kayak gini. Masak udah ganti lagi?


"Ini mobilmu? Kok beda?" tanya Zukhruf kepada Lisa dengan lirih.


"Mobil temanmu itu."


"Siapa?"


"Rafiq."


Zukhruf, Rafiq, Lisa, dan Karlinda pun masuk ke dalamnya. Tak butuh waktu lama lagi, mobil itu sudah menjauh dari rumah Zukhruf meninggalkan Ummi dan Abi yang masih setia memandangi kepergian Zukhruf.


"Lisa!"


"Hmm?"


"Hadap sini dulu."


Lisa pun menoleh ke Zukhruf. "Ada apa? Mabuk?"


"Perutku gak enak." ucapnya dengan muka cemberut.


"Belum apa-apa, Zukhruf... Tahan dulu. Tapi kalau dilihat-lihat kamu makin imut ya?"


"Hah?"


"Rasanya aku ingin mencubit pipimu itu. Apa boleh aku cubit?" ucap Lisa sambil tersenyum seakan-akan keinginannya harus dituruti.


"Eh gak mau! Enak aja cubit-cubit. Ini pipiku. Cubit aja pipimu sendiri. Itu tuh pipimu juga kenyal."


"Maka dari itu jangan cemberut. Senyum gitu biar enak dipandang."


"Berarti dari dulu aku gak enak dipandang ya?"


"Bukan. Kamu gak pernah senyum menurutku setelah kembali ke rumah. Senyum itu kan ibadah. Jadi Zukhruf harus senyum. Ya?"


"Ok. Aku senyum."


Tersenyum tipis.


"Kenapa sedikit?"


"Harus berapa banyak? Yang penting kan sudah senyum."


"Lagi!"


Zukhruf menyunggingkan senyum dengan sedikit melebarkan garisnya.


"Lagi!"


Ia melebarkannya lagi.


"Lagi!!"


"Sudah ih.. Mulutku capek gini terus."


"Coba pakai yang terakhir."


Zukhruf tersenyum sangat lebar tanpa sengaja gigi kelinci itu terlihat. Dan itu sangat manis dan juga imut. Ingin memakannya. Seperti permen.


"Manis sekali."


"Eh!" Zukhruf menoleh ke sumber suara yang mengatakan dua kata barusan.


Rafiq.


"Ekhm! Fokus menyetir!" ujar Karlinda yang duduk di samping Rafiq.


"Apa sih!" ketus Rafiq lalu kembali menyetir dengan fokus.


Sampailah mereka di tempat penerbangan. Lagi-lagi Zukhruf merasakan tubuhnya sangat lesu. Lemas seperti tak punya tenaga.


"Kenapa?" tanya Rafiq yang juga sedang membantu Zukhruf mengangkat tasnya.


"Ga apa-apa."


"Sakit?"


"Gak."


"Dah minum obat?"


"Gak. Gak suka."


"Banyakin minum air putih. Biar gak mual."


"Emang bisa? Tapi kalau aku mual gak bisa masukin makanan atau minuman ke mulut. Gak enak rasanya."


"Ya udah minum obatnya."


"Gak."


"Aku bawa. Minum ya?"


"Gak mau. Obatnya gak enak. Kental-kental kayak gimana gitu. Gak suka."


"Hm."


Panggilan untuk penerbangan pun tiba. Zukhruf dan Lisa harus segera masuk ke dalam pesawat. Namun melihat Zukhruf seperti kedinginan, Rafiq menanyakannya.


"Dia bawa jaket gak?" sambil menatap ke arah Karlinda yang kebetulan di dekatnya.


"Zukhruf gak suka jaket. Gak masalah. Di pesawat kan ada selimut. Biar dia pakai selimut itu."


"Hm."


Sebenarnya Rafiq berniat meminjamkan jaket yang ia pakai saat ini jika Zukhruf membutuhkannya. Namun kenyataannya Zukhruf tak menyukainya. Bagi Zukhruf jaket tidak menghangatkan. Tapi akan membuatnya gerah. Seperti panas dingin bercampur jadi satu. Tidak nyaman.