
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Zukhruf berniat menendang a*unya Ajik sebelum bibir Ajik menempel di wajahnya. Namun tak disangka Rafiq sudah menarik kerah belakang Ajik, dan akhirnya Ajik terjatuh, sehingga kejadian yang tak diinginkan Zukhruf gagal terjadi. Sekelas menjadi saksi mereka bertiga, tanpa banyak bicara.
~•~
Rafiq terdiam di ruang perpustakaan yang terletak di lantai atas. Ia heran, mengapa beberapa menit ini tak ada suara dari dalam kelasnya.
Apa mereka mau menjahiliku lagi?
Rafiq mengintip dari atas, terlihatlah ruangan kelas dengan adanya jendela kaca itu. Ia bisa melihat apa yang terjadi di dalam kelas yang dari tadi sunyi tanpa suara.
Ternyata... geramnya.
Lalu berlari menuruni anak tangga dan masuk kelas. Kilatnya menyambar semua pandangan yang melihatnya.
~•~
"Kenapa kamu menarik saya hah?!" Dengan sedikit amarah pada suaranya. Ia bangkit.
Rafiq tertawa sinis seperti yang ia lakukan dulu, "Kau seharusnya tak bersifat konyol seperti dulu, kita sudah dewasa," lalu pergi meninggalkan kelas.
"Wah.. Baby-ku hebat!" julukan untuk Rafiq yang diberikan Cici semasa SMP. Ia berbisik pelan pada dirinya sendiri.
"Aa' Ajik demam? Sini biar Cici sembuhin." ucap Cici seperti perhatiannya dulu yang ia berikan, seperti adik yang khawatir pada kakaknya.
"Gak!" langsung pergi keluar kelas menyusul Rafiq. Pastinya sangat kesal.
Cici mendekati Zukhruf dan memeluk dari belakang. "Zukhruf jangan khawatir. Aku peluk kamu biar gak gemetar ya?" Semua pun menatap mereka berdua. Zukhruf sendiri benar-benar takut tadi. Kenapa Ajik sampai seperti itu padanya.
Apa dia suka aku? Gak kan mungkin terjadi!
Cici melepas pelukan. "Zukhruf, kenapa bengong? Tenang saja, gak akan terjadi apapun nanti," ujar Cici lalu memeluk Zukhruf kembali.
Bu Reyna menghampiri Zukhruf dan memeluk. "Zukhruf, Ajik mungkin cuma bercanda. Gak usah dipikirkan ya? Tau sendiri kan, kalau Ajik bawaannya selalu bercanda terus."
Bercanda dari mana? Mukanya saja seperti vampir mau memangsa, mengisap darah suci.
"Iya Zukhruf. Dia gak bakal macam-macam sama kamu. Aku tau sifatnya," tambah Afrik teman satu atapnya Ajik, walau ia harus berbohong demi Zukhruf. Sebenarnya sifatnya sudah berubah.
"Kok cuma kalian berdua yang peluk dia? Aku juga mau peluk dong," kata Fatih yang selalu gombalin Zukhruf dari dulu. Namun masih dibawah standar, sebagai candaan antara teman.
"Dilarang ya... Zukhruf cuma milik cecan doang." jawab Bu Reyna dengan senyum sombong palsunya.
"Iya! Mas Fatih gak boleh sentuh Zukhruf selain kami bertujuh," tambah Cici.
"Cerewet sih lu!"
"Biar. Membela kebenaran itu kan wajib," kata Cici disambung gelak tawanya.
"Kok ketawa?" tanya Bu Reyna.
Bicara kebaikan malah ketawa. Gimana tuh anak.
"Itu loh Bu... Mukanya Mas Fatih lucu banget. Kayak pantat dandang gosong yang meleleh. Hahahah.."
"Kurangajar lu. Sepupu laknat! Emangnya bisa dandang meleleh!? Gila ya." Fatih ngomel sendiri.
"Tuh ada, buktinya ada di depan kami. Haha!" tawa Cici makin mengeras hingga terdengar sampai tempat Rafiq berada (di toilet pria) bersama Ajik.
Karena ulah Cici dan melihat gelak tawa Cici yang lucu, mereka sekelas ikut tertawa. Begitupun Zukhruf yang hanya tertawa kecil. Melihat tawa Zukhruf, Cici berteriak.
"Yeay! Akhirnya Zukhruf ketawa juga. Kalian lihat kan, aku bisa bikin dia bahagia lagi..." Bangga sendiri dengan dirinya. Sifat masa kecilnya tak hilang. Serentak sekelas mengacungkan jempol untuk Cici. Cici tersenyum malu, "Thank you, thank you... Ah, malu aku." Zukhruf tersenyum kecil.
~•~
Rafiq tersenyum sebentar setelah mendengar Zukhruf tak sedih lagi. Ajik melihat senyum itu.
"Kenapa kamu tersenyum?"
"Heeh. Maaf. Aku tau kau suka dia. Tapi jangan pernah lakukan itu lagi," ucapnya dengan senyum yang lumayan sinis.
"Ok-ok. Saya juga gak mau bertengkar sama kamu. Pada awalnya kita teman. Ok. Saya minta maaf. Kamu juga suka dia kan? Lebih baik kita bersaing secara sehat."
"Tidak perlu."
"Kenapa?"
"Kamu itu playboy. Jangan beri dia harapan palsu."
Kalimat itu seperti kobaran api yang siap melahap Ajik.
Ajik hendak memukul. Namun Rafiq segera angkat bicara. "Berapa banyak wanita yang sudah ternodai karena bibirmu? Zukhruf wanita baik. Jangan ambil ciuman pertamanya, juga! Ingat. Tak semua orang bisa menyentuhnya. Banyak malaikat di sampingnya."
Ajik hendak membalas perkataannya, namun Rafiq langsung menyanggah.
"Jika itu maumu, bersainglah dengan akal dan pikiran yang baik. Jaga emosi." Pergi meninggalkan Ajik sendiri.
Arggh! Kenapa dia sekarang berani bicara seperti itu padaku? Padahal dulu dia biasa saja kalau aku dekat dengan Zukhruf. Mulai berani ya sekarang? Heh
~•~
Bu Reyna hanya menganggap itu masalah kecil selagi orang lain tidak bermain sungguhan. Ada hukuman dari sekolah bagi orang yang berani melecehkan wanita. Karena pada dasarnya sekolah Zukhruf adalah yayasan pengembangan pemberdayaan perempuan. Ajik pun terkenal cowok yang berani, panantang, dan tak kenal takut. Sebab itu juga Bu Reyna membiarkannya selama belum melampaui batas.
"Ayo ke halaman saja yuk! Kita semua lesehan." Bu Reyna pergi ke halaman diikuti semua muridnya. Semuanya sudah komplit. Sekarang mereka melingkar membentuk lingkaran besar. Zukhruf duduk di antara Cici dan Azzah.
"Lho Bu, mereka berdua belum kesini, mau dimulai sekarang Bu?" tanya Ilham.
"Tuh mereka." Memajukan bibir bersikap sok imut.
"Bu, jangan gitu lho. Aku kuncir nanti bibirnya Ibu. Hehe," kata Fatih sambil tertawa jahil.
"Awas kamu berani sama Ibu."
"Rafiq, Ajik! Sini duduk di sampingnya, Bu Reyna!" sambil tersenyum. Bu Reyna tahu, pasti mereka baru saja berdebat di kamar mandi. Rafiq duduk di samping kanan Bu Reyna, sedangkan Ajik di samping kiri Bu Reyna.
"Kalian kenapa lho.. Udah gede kok, masih kayak SMP aja," goda Bu Reyna.
"Gak ada, Bu," kata Ajik mempercepat masalah biar kelar.
"Ya sudah. Kalian semua kan habis buka surat. Sekarang kita mainan yok."
"Mainan apa, Bu?"
"Terserah kalian. Kalian maunya mainan apa enaknya."
"Truth or dare?" usul Cici.
"Ish, kamu tuh ya... Ketinggalan zaman."
Farhan nyengir.
Rafiq hanya diam, Ajik pun. Zukhruf melihat mereka berdua dengan heran. Seketika juga pandangan Rafiq dan Zukhruf bertemu. Zukhruf langsung mengalihkan pandangannya. Rafiq menaikkan ujung bibir kanannya.
"Kalian lama ih. Kalo gitu gak jadi main deh," kata Bu Reyna dengan ambekan palsunya.
"Terus ngapain dong Bu?"
"Gini saja. Aku ada permainan Bu. Kita main hompimpah saja Bu. Bla..bla..bla...."
"Ok!" jawabnya datar.
"Kok kayak Aa' sih, Bu?" tanya Cici.
"Hehe. Samping Ibu Ajik sih."
"Hom pim pah!"
Zukhruf menjadi satu kelompok dengan Rafiq. Sedangkan Ajik dengan Cici dan lainnya.
"Yeah! Sama Aa' !" Berlari, bergabung dan mendekati Ajik.
"Ingat oi! Udah gede! Jangan sentuh-sentuh!" Cici hanya meringis malu karena menempel di lengan Ajik, lalu melepaskannya. Tapi Cici hanya menganggap Ajik adalah kakaknya, tak lain.
"Apa lihat-lihat!" Zukhruf hanya menaikkan alisnya tak mengerti. Rafiq mendekati Zukhruf dan duduk di sampingnya dengan jarak lima puluh senti.
Marah-marah tapi malah ndekat. Gak jelas banget. Melirik ke samping. Ganteng. Kamu kok tambah imut gitu ya, kalo lagi diem? Tak sadar ia tersenyum. Rafiq meliriknya tajam. Seketika Zukhruf menarik kepalanya ke depan. Sadar jika ia tertangkap basah. Ia tersenyum malu.
"Kamu kenapa senyum-senyum kayak orang gila?"
Rafiq menahan tawa. Zukhruf spontan memukul bahu Andin lalu menggelengkan kepalanya. Masih muka bahagia.
"Zukhruf bener-bener ih,"
"Bener-bener apa?! Hah!?" memelototi Andin dengan tampang penuh amarah namun terlihat menggemaskan bagi yang melihatnya. Karena Zukhruf tak pernah marah. Sekali marah ia akan terlihat lucu dan bikin gemas.
Kok gemesin toh? kata Rafiq dalam hati sambil memperhatikan Zukhruf dari samping.
"Kamu sungguh gila! Gak ada yang lucu, kamu senyum sendiri. Haha! Orang gila," jawab Andin menertawakan Zukhruf yang saat ini duduk disampingnya karena mereka satu kelompok.
"Kamu mengataiku gila? Iya?!" Zukhruf langsung menggelitiki Andin sampai puas.
Melihat Andin yang kewalahan karena ulahnya, Zukhruf makin menggelitiknya tambah cepat dan kuat. Membuat Andin tertawa lepas. Zukhruf terkekeh. Rafiq hanya tertawa kecil melihat tingkah Zukhruf sekarang.
"Rasakan itu!" bisiknya di telinga Andin sambil tersenyum.
"Iya, maaf! Sudah Zukhruf! Aku capek!" Masih tertawa.
"Ya sudah, kalo capek diam! Jangan menggangguku!" kata Zukhruf sambil tersenyum lalu kembali menatap ke depan.
Seperti ada yang melihatku?
Settt! Melihat ke samping.
Rafiq tertangkap basah telah memperhatikannya sedari tadi. Ia langsung membuang muka. Zukhruf sendiri tersenyum puas bisa menangkap kelakuan Rafiq barusan.
"Eh, ayo ke Bu Reyna," ajak Rafiq kepada teman sekelompoknya. Zukhruf terkekeh ketika Rafiq jadi salting begitu terhadapnya.
"Bu, ini permainannya gimana, Bu?" berlagak konyol.
"Ih, jijik Rafiq. Ya nanti kan, kamu sama temanmu merundingkan tentang biodata kalian. Jadi satu kelompok harus tahu biodata satu sama lain. Kelompok siapa yang-"
"Iya-iya, aku tau," memotong pembicaraan.
"Ih, buang-buang tenaga Ibu. Untung sayang."
"Hoh? Bu Reyna sayang? Emang aku tu banyak yang sayang," ucapnya terlalu percaya diri.
"Dih! PD! Udah sana!"
Rafiq pun pergi kembali ke kelompoknya dan menjelaskannya. Beberapa jam setelah menghafal dan sembari bercanda juga, mereka akhirnya mengenal kembali satu sama lain.
"Ayo kita mulai! Ketua maju!"
"Fiq, maju Fiq!" suruh Farhan.
"Aa' maju sana!" Ajik pun maju ke depan.
Mereka berdua diberi whiteboard kecil dengan spidol sejumlah anggota kelompok. Rafiq dan Ajik membagikan alat itu.
"Semua sudah dapat ya... Jawab dengan jujur dan sepengatahuan kalian. Jangan mencontek!"
Mereka mengangguk.
"Berapa tanggal lahir ketua kalian!?" Mereka langsung menulis. "Angkat!"
"Rafiq, Ajik. Hitung berapa yang betul!" Ajik mendapat lima poin, dan Rafiq mendapatkan sembilan poin(sempurna). "Yap! Kita tulis poinnya di sini ya.." Bu Reyna menulis di papan tulis yang lumayan besar.
"Sekarang sifat khas si wakil ketua kalian!" kelompok Rafiq(Zukhruf), kelompok Ajik(Cici). "Angkat!"
"Hmm... Betulkah mereka, wahai waket? Hitung poin!" Rafiq mendapat enam poin, dan Ajik mendapat empat poin. Total milik Ajim sembilan poin. Sedangkan Rafiq berjumlah empat belas poin.
"Masih delapan pertanyaan lagi. Mau lanjut?" tanya Bu Reyna.
"Nanti dulu, Bu! Istirahat dulu saja, Bu." ujar Ajik yang sebal dengan poinnya.
"Ok."
"Bilang aja kalau Aa' kalah."
"Siapa bilang? Ayo kita persiapan."
"Ayo! Kita lawan Zukhruf." Ajik menoleh cepat dengan mata yang tajam setajam pisau.
"Ah, iya. Kita mengalahkan baby."
"Baby......." menatap tajam.
"Ok-ok. Rafiq."
~•~
"Zukh!"