
Zukhruf beserta juara lainnya sudah ada di panggung dan juri pun memberikan hadiahnya. Pembawa acara menyuruh para juara untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Namun pada saat giliran Zukhruf mengenalkan dirinya di depan umum untuk menunjukkan hasil karyanya yang sukses ia perjuangkan selama ini, ia diteriaki oleh salah seorang hadirin yang ada di situ.
"Hei Zukhruf! Gak usah sok pinter lu!" Sontak semua tepuk tangan tadi berhenti menjadikan suasana hening dan merupakan suatu hinaan bagi Zukhruf.
Siapa itu perempuan. Semua pakaian yang ia kenakan tak ada kaitannya dengan Zukhruf. Baju pendek dan celana pendek serta rambut diikatkan membentuk kuncir kuda. Sosok itu membuat harga diri Zukhruf akan hancur dalam beberapa menit lagi. Bukan karena kenyataan. Namun karena perkataan. Dia takkan malu mengucapkan itu sebab ia memakai masker.
Hati itu masih tegar di atas sana. Ia hanya terdiam dengan perkataan orang tak dikenalnya dan membuatnya bingung apa maksud dari ucapannya.
"Apa kau tak mengenalku? Apa kau melupakanku?" Karena kebenciannya pada Zukhruf, ia sempat memfitnah dirinya bahkan di hari bahagia Zukhruf ini. Zukhruf sama sekali tak mengenali wajah itu. Apa yang dapat ia jawab. Perempuan itu naik ke atas panggung mensejajari Zukhruf.
"Kalian mungkin tau apa makna keberhasilan itu. Tapi jika keberhasilan itu didapat dari hasil merenggut kebahagiaan orang lain apakah benar?" Memandang Zukhruf dengan tatapan tak suka. Zukhruf hanya terdiam dan tanpa sengaja mengeluarkan butiran bening di matanya. Sebenarnya apa maksud semua ini. Perempuan itu melangkah mundur menjauhi Zukhruf namun terus menatapnya.
"Kalian tau apa yang dilakukannya?" Itu membuat para hadirin menjadi bingung dan penasaran. Begitupun MC yang pusing, bagaimana bisa acara hingga kacau seperti ini. Perempuan itu menatap ke Zukhruf tajam sambil menunjuk Zukhruf dengan jari telunjuknya dan berkata sekencang-kencangnya.
"DIA SUDAH MENGAMBIL SESEORANG DARIKU!!! Dia mengambil pacarku! Zukhruf, itu bukan milikmu. Tapi lihat!" Menoleh ke para hadirin, "Dia sama sekali tidak merasa bersalah! Buat apa dia sukses di atas penderitaan orang lain!!"
Zukhruf terkejut dan memandangnya dengan penuh tanda tanya. Pengakuan apa ini? Ini benar-benar tidak mungkin Zukhruf lakukan. Merebut pacar? Siapa? Perempuan itu melangkah pergi dan seketika itu juga air mata Zukhruf tak bisa dibendung lagi. Bukan karena ucapan namun karena tuduhan palsu yang dilakukannya secara terbuka di depan semua orang. Zukhruf diselimuti rasa malu saat ini. Zukhruf menangis di tempat. Para hadirin pun menyoraki dan menghina dia dengan ucapan-ucapan tak masuk akal. Ada pula yang melemparinya bunga-bunga yang dibawa oleh para hadiri.
Paling parahnya sampai ada yang melemparinya buku-buku. Zukhruf pun menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata. Berharap ada seseorang yang peduli padanya saat ini. Hanya sebagian kecil saja yang merasa iba padanya. Tak tega melihat orang baik teraniaya di sana. Tapi kakinya entah kenapa tak bisa digerakkan sama sekali. Peri jahat dan peri baik sama-sama menahan dirinya di sana. Siapa sangka orang itu yang menjadi dalang dari semua ini.
Tak disangka pula, ada seorang lelaki tinggi yang mengenakan jaket sehingga menutup wajahnya. Ia membawa Zukhruf dalam pelukannya. Zukhruf tak sadar, kalau dia sudah berada di belakang panggung. Ia meronta-ronta dan mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan itu. Tak tau harus berkata apa.
"Terima kasih sudah mau menolongku," kata Zukhruf singkat tanpa memandang ke atas dan melihat siapa yang telah menolongnya. Lelaki itu pun mengangguk. Zukhruf mencoba memandang lelaki tersebut sejenak dan berpikir untuk menanyakan tentang dirinya.
"Siapa kamu?" tanyanya dengan suara pelan sambil menunduk. Lalu ia menatapnya lagi.
"Kenapa kamu menutupi wajahmu?" Dan terlihat lelaki itu berpikir sejenak.
"Karena aku tak ingin kamu tau dan mengenali wajahku. Aku takut kamu tak bisa menahannya."
Zukhruf mengernyitkan dahi. Apa maksudnya? Suaranya..... Suaranya memang indah dan cukup dalam. Tapi tetap saja masih mengherankan dan membuatnya bingung dengan jawaban tersebut. Hal tersebut membuat apa yang dirasakan Zukhruf tadi hilang seketika dan kepalanya terpenuhi dengan penuh pertanyaan.
"Kau belum memberitahuku siapa dirimu sebenarnya, hingga berani sekali kau menyentuh diriku." Zukhruf lumayan kesal dengannya. Ia merasa capek juga, harus mendongakkan kepalanya jika hendak mengatakan sesuatu.
"Sebaiknya kau pulang secepatnya."
"Oh, tidak-tidak. Saya tidak apa-apa. Ini hanya sebuah hadiah. Sebab itu saya menangis karena bahagia. Maaf, saya harus permisi." Langsung pergi. Nona? Mengapa memanggilku nona?
Kembali mengejar lelaki itu yang berjalan dengan santainya namun jarak langkahnya sangat lebar sehingga membuat Zukhruf akan tertinggal lagi.
"Berhenti!" Sambil berlari mencoba memakan langkah yang telah dilewati lelaki tersebut. Zukhruf berusaha berlari dengan sebisanya, sebab ia juga menenteng banyak hadiah di kedua tangannya. Dan lelaki itu telah membuatnya makin kebingungan ketika jalannya menuju asramanya. O, Tuhan maafkan aku
Sampai di depan gerbang asrama.
"Masuklah. Aku sudah mengantarmu sampai sini." Zukhruf berhenti dan terdiam. Heran dan terus memandang lelaki itu. Dan ya, akhirnya dia mengetahui arti dari pandangan Zukhruf yang dalam itu.
"Akan aku jelaskan padamu. Maaf jika aku menyentuhmu. Sebenarnya aku adalah ..."
"Hah!?" Zukhruf secepatnya pergi masuk ke asramanya. Ia berlari memasuki kamarnya dan melewati teman-temannya. Teman sekamarnya yang melihat Zukhruf baru pulang dan berlarian jadi pusing dan bingung apa yang terjadi pada nya kali ini. Karena biasanya ia tak pernah berperilaku seperti itu dengan wajah seperti ketakutan.
"Eh Zukhruf! Kau menang?!" tanya Muna. Namun Zukhruf tak menanggapinya dan sibuk dengan dirinya.
"Zukhruf kenapa eh?" sambil menurunkan ponselnya dari wajahnya, Yoora bertanya. Namun Zukhruf tak membalas.
"Zukhruf," panggil Zoula dengan agak heran melihat Zukhruf. Ditengah kesibukan Zukhruf, Aznii menghampiri tempat Zukhruf dan melihat-lihat hadiah dan pialanya. Disusul oleh Muna juga.
Selesai membersihkan tubuhnya, Zukhruf kembali duduk di pojok dan merenung sambil membawa buku. Seluruh isi kamar jadi penasaran. Aneh. Lisa menghampiri Zukhruf dan duduk di depannya. "Zukhruf, ada apa denganmu?" Zukhruf menggeleng. Temannya pun mendekatinya dan duduk mengapit Zukhruf di pojokan.
"Eh kalian..?" Zukhruf menundukkan kepalanya.
"Iya. Kenapa? Kamu membuat kami penasaran dari tadi. Ada apa?" tanya Karlinda.
"Tadi,"
"Tadi?"
"Ta-tadi..."