Life Is Move

Life Is Move
Kemunculan Chin Dae Jee



Seketika mereka berdua saling tatap dan melihat sosok yang memasuki kamar tersebut. Ji? 


"Nanti kita berangkat."


"Bukankah aku sudah bilang, kita tak jadi berangkat!?" Berjalan ke arah Ji yang sudah berdiri di ambang pintu kamar dari tadi. 


"Sebab Hyung hanya bilang penerbangan diundur. Jadi mau tidak mau nanti kita harus berangkat. Memang siapa dia? Kau sangat perhatian sekali padanya. Ceritakan pada kami," katanya sambil melihat Zukhruf yang fokus memperhatikan mereka berdua berbicara. 


"Kalau begitu kapan-kapan aku cerita ke kalian semua. Aku mau mengurusnya dulu. Pergilah, Ji." Hyung langsung menutup pintu setelah menyuruh Ji keluar dari kamarnya. Ia kembali dan mendekat ke arah Zukhruf dengan tatapan sedih. 


Zukhruf menatapnya bingung. Ada apa dengan wajah Hyung saat ini. Kelihatannya ia sedang sedih. Entah apa yang ada di pikirannya. Pikir Zukhruf saat itu. Ia memperhatikan sikap Hyung dari pintu sampai ia duduk di dekatnya.


"Ada apa?" tanyanya heran dengan mengerutkan keningnya.


"Aku harus kembali ke Korsel nanti sore," jawabnya dengan raut muka pilu namun itu terlihat imut. Mengertilah, Hyung. Zukhruf sangat ingin mencubitmu. Pipi yang mulus itu. 


Haish! Apa yang kupikirkan?! Berhentilah berpikir jika Hyung adalah satu-satunya manusia terimut di dunia ini!


"Kalau begitu kembalilah. Aku pun sudah sembuh."


"Kau sudah sembuh?" Tatapannya tak percaya.


"Iya. Kau lihat saja diriku yang masih bisa tersenyum ini." Memberikan senyuman yang sangat cerah. 


Hyung pun ikut tersenyum. Ingin sekali ia mentoel pipi Zukhruf. Ia ingin mencubit hidung itu. 


"Semua orang bisa saja tersenyum di saat apapun itu. Tapi aku bisa melihat dirimu yang asli saat ini. Dan aku tak percaya padamu jika kau sudah sembuh."


"Aku serius. Aku hanya kambuh sebentar. Dan sekarang aku yakin sekali jika aku sudah sembuh. Percayalah." Memberikan senyuman tulus agar Hyung mempercayainya.


"Baiklah. Kali ini aku membiarkanmu menang." 


Zukhruf memandangnya bingung. "Kali ini?" 


"Hmm!"


"Akankah kita bertemu kembali?"


"Mungkin."


"Aku tak yakin akan hal itu."


"Terserah. Tapi perasaanku mengatakan itu. Jadi sekarang aku lumayan lega untuk melepaskanmu."


Zukhruf sedikit tertawa. "Memang aku pernah punya hubungan khusus denganmu, sehingga kau harus merasa tak rela jika akan melepaskanku?" Ia tertawa lagi lalu tersenyum.


"Entah. Kau itu sangat istimewa dari yang lain."


"Darimana?" Menatapnya dengan senyum penuh tantangan.


"Hijab." Perkataan itu membuat Zukhruf tertegun melihat Hyung yang tersenyum. "Kau sangat cantik jika mengenakan hijab. Lagipula sikapmu sangat sopan walau terkadang aku harus turun bicara untuk mengajarimu." Hyung tersenyum ramah.


"Memang kau pernah melihatku tidak pakai hijab?!" Seperti mengintrogasi Hyung, karena pernyataannya dianggapnya hal yang tidak sepele.


"Tidak-tidak! Jangan salah paham dulu. Maksudku, dibandingkan perempuan di luar sana, mereka hanya cantik biasa. Namun kau, cantiknya lebih bersinar. Apa kau tidak menyadarinya?"


Zukhruf menggeleng. "Tidak."


Hyung menepuk dahinya kemudian menunduk. 


Dia dingin juga. Namun aku suka itu.  Mendongak dan memandang Zukhruf yang masih di sana. 


"Ayo kita pergi." 


"Kemana?"


"Pulang." Hyung langsung beranjak dari tempatnya. "Bersiaplah. Aku juga akan mengemasi barang-barangku." Lalu berlari akan keluar kamar. 


"Hyungzie! Semua baju ini aku tinggal di sini, ya?" Hyung berhenti. "Mengapa? Nanti terbuang percuma." Karena di sana Zukhruf dibelikan beberapa pakaian baru oleh Hyung. Semacam kaos longgar lengan panjang. Rok panjang longgar. Dan juga hijab. Juga beberapa gamis.


"Ini semua baju mahal, bukan? Lebih baik untuk adikmu saja."


Hyung menyenderkan tubuhnya di pintu kamar. "Adikku mana mau memakai pakaian itu, Yungi…."


"Oh iya lupa. Ya sudah aku bawa saja." Langsung memasukkan semua pakaian yang dibelikan Hyung untuknya. Sedangkan Hyung tadi berlari ke kamarnya. 


Semua para anggota sudah kembali ke apartemen mereka untuk mengemasi barang-barangnya. Berbeda dengan satu orang. Ia bukannya mengemasi barangnya. Ia justru baru saja bangun tidur. 


Seseorang masuk kamarnya tanpa izinnya. "Chin Dae Hyung! Bangunlah dan makan!"


"Pergi!" Bentaknya saat ia baru membuka matanya. 


Seok Ho langsung pergi keluar apartemen Chin Dae Jee dan menuju ke apartemen anggota lainnya. Sementara di kamar Chin Dae Jee, ia menggeliat di ranjangnya. Sepertinya ia sangat menikmati tidurnya yang panjang. 


"Aku tidur berapa jam, sih? Remuk badan aku.…" Bangun dan berjalan menuju apartemen Seok Ho berniat untuk makan. Tidak cuci muka dulu? Tidak! Nanti saja. Dia paling mager melakukan hal untuk kedua kalinya. Maka dari itu ia memutuskan untuk melakukannya nanti waktu dekat. 


Tapi setelah sampai di dalam apartemen Seok Ho, ia melihat sekelilingnya ternyata tidak ada orang sama sekali. Terlihat beberapa hidangan yang sudah siap. Beberapa hidangan pembuka dan penutup juga ada di sana. 


Ini mau makan besar? Memang akan kemana nanti? Ia membingungkan hal itu. Ia pun menuju apartemen yang lainnya. 


"Seok Ho hyung! Kita mau ada acara lagi?" tanya Dae Jee saat ia melihat Seok Ho keluar dari apartemen Bae Hyeon.


"Apa maksudmu?"


"Kau memasak begitu banyak."


"Kita semua akan balik ke Korsel sore ini. Kenapa kau tak tahu? Darimana saja kau tadi?"


"Tidur."


"Haish.... Apa pekerjaanmu tidak ada yang lain? Yang ku tahu selalu saja alasanmu tidur. Ya sudah berkemas sana! Aku mau memanggil yang lain makan dulu." 


Tanpa menjawab sepatah katapun, Chin Dae Jee meninggalkan Seok Ho di tempat dan masuk ke apartemennya.


Di tempat Chin Dae berada. 


"Mana sepatuku yang baru itu?" Mengobrak-abrik semua tempatnya. "Mana sih!" Mencarinya sampai ia mengingat sesuatu. 


"Ah iya. Bukannya dua hari yang lalu dipinjam Hyung Joon, ya?"


Di tempat Zukhruf berada. Ia dari dahulu belum pernah membalas semua panggilan dan juga pesan dari semua orang rumah. Sekarang hatinya telah terbuka untuk kembali menelepon keluarganya. 


"Sudah selesai, nih. Aku kangen rumah. Ummi nanti marah gak, ya? Telepon dulu, lah…." Zukhruf mencoba menelepon dan ternyata tidak ada sinyal. "Kok gak ada sinyal, sih!?" Ia berjalan ke luar kamarnya. 


"Hyung Joon Gie! Dimana sepatuku?! Kembalikan sekarang, Hyung!" Kebetulan Hyung sedang mandi saat itu. Jadi ia tak mendengar dengan jelas teriakan dari Dae Jee. 


"Hah!! Siapa itu?" Buru-buru menuju kamar. Namun yang dituju bukanlah kamarnya. Ia tak menyadari sesuatu. "Huhh! Untung saja gak ketahuan." Zukhruf merebahkan tubuhnya di ranjang. 


"Hyung! Kamu ngapain?!" Mencari sepatu di sekitar ruang tengah. 


Sedangkan di tempat Zukhruf, ia seperti merasakan perbedaan pada tempat itu. "Lah kok selimutnya kayak beda rasanya???" Melihat selimut yang dari tadi diraba-raba olehnya. "Lah, ini bukan selimut yang di ranjangku.... Terus ini punya Hyungzie, dong!" Ia terpaku. Melihat sekitar kamar. Tidak ada orang. "Hyungzie kemana kok sepi.... Jangan-jangan, dia di kamar mandi?! Gawat!!"


"Hyung! Keluarlah!" Teriak Dae Jee yang masih mengelilingi isi apartemen Hyung untuk mencari sepatunya yang dipinjam Hyung.


"Aduh itu siapa sih kok belum pergi juga…." Zukhruf sangat khawatir jika itu adalah seseorang dari pihak agensi Hyung. Ia takut jika Hyung akan dimarahi karena sudah menyediakan tempat untuknya.


Seketika Hyung telah selesai acara mandinya. Ia keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan handuk atas. Bisa dibilang ia telanjang dada saat ini. "Kok selimutnya berantakan lagi? Tadi kan sudah aku rapikan," tanyanya heran dengan kekacauan di kamarnya. Ia pun ke ruang baju. "Haaaaa!!!"   


Zukhruf langsung membalikkan badannya. Hyung merasa malu karena kejadian barusan. Ia berkata kepada Zukhruf dengan lumayan kesal, "Mengapa kau di kamarku?" 


"Ada orang di luar panggil namamu dari tadi."


"Keluarlah!" 


"Kau pakailah pakaianmu dulu...." 


Hyung pun mengambil salah satu baju di sana lalu memakai baju itu di tempat. "Sudah."


Chin Dae Jee masih meneriakinya, "Hyung!!"


"Oh.. Dae Jee Hyung.... Masuk saja, Hyung!" ucapnya lalu hendak berjalan keluar ruang ganti. "Tetap di sana!" Kemudian keluar dan ke tempat Dae Jee berada. 


Zukhruf mengangguk paham. Ia duduk di kursi ganti itu. Di mana ponselku? Lah!!? Ketinggalan di luar! Zukhruf menjadi panik.


"Ada apa, Hyung? Aku baru selesai mandi. Maaf, tidak menjawabmu," jelas Hyung saat ia selesai ganti baju dan keluar ke kamarnya.


"Kembalikan sepatuku yang kau pinjam itu. Aku mau pakai nanti waktu pulang," ucapnya dengan nada malas.  


"Tunggulah di ruang tengah, Hyung. Akan aku ambilkan." Pergi mencari. Namun saat itu Chin Dae Jee masih tetap di kamar Hyung Joon. Ia duduk di ranjang yang sudah dirapikan Hyung lagi tadi. Melihat sekitar kamar itu. 


Beberapa menit kemudian, Hyung kembali dengan membawa sepatu yang diminta Chin Dae Jee. "Ini sepatunya, Dae Jee Hyung." Memberikan sepatu yang sudah dicucinya kemarin. 


"Kamu punya ponsel dua?" Chin Dae Jee menunjukkan sebuah ponsel yang ada di lantai tadinya. Ia melihat dan berpikir jika itu bukanlah ponsel milik Hyung. Karena ponsel Hyung lebih besar dari itu dan Chin Dae Jee juga mengenalnya. 


"Dua?"


Dae Jee memberikan ponsel itu ke arah Hyung, menunjukkan bahwa ia memegang ponsel yang berbeda.


Itukan ponsel milik Yungi..?


"Ah.... Ini aku beli lagi, Hyung." Mengambil ponsel itu dari tangan Dae Jee.


"Jujur!"


"Hyung punya seseorang, Dae Jee Hyung…." Akhirnya ia mengaku dengan nada lemas.


"Siapa? Sepertinya dia perempuan."


"Iya. Dia perempuan. Sudah, Hyung pergi saja.…"


"Tunjukkan perempuan itu lebih dulu." Melipat kedua tangannya di dada. Sambil memberikan tatapan orang yang sedang mengintrogasi dirinya. 


"Tidak mau, Hyung! Dia sudah pergi."


"Kau yakin?" Langsung mengelilingi kamar Hyung. Mencoba mencari tahu kebenarannya.


"Dae Hyung, sudahlah…. Ayo kita makan.."


Chin Dae Jee pun keluar tanpa mempedulikan perkataan Hyung dan menuju apartemen Seok Ho. 


Dalam hati Hyung sangat bersyukur jika keberadaan Zukhruf tidak diketahuinya. "Untunglah...." Menuju ruang ganti. Ia melihat Zukhruf masih duduk di sana. "Yungi, ayo kita berangkat."


"Kemana?" Sambil memasang ekspresi bingung ia berdiri mendekat ke arah Hyung. 


"Mengantarmu pulang, Yungi…."


Iya juga. Aku kan gak tau ini di mana. Zukhruf melamun.


"Kajja." Zukhruf mengangguk 


"Oh, ponselku tadi.…"


"Ini. Tadi ketahuan Chin Dae Jee Hyung."


"Terima kasih, Hyungzie." Berjalan keluar ruang ganti. Tapi tiba-tiba ia berhenti sejenak sehingga Hyung hampir saja menabrak Zukhruf. 


Aish.. Untung saja tidak tertabrak. 


"Mengapa berhenti?"


Zukhruf berbalik badan dan menatap Hyung dengan mendongakkan kepalanya karena ia lebih tinggi darinya. "Apa itu tadi Chin Dae Jee yang pernah kau ceritakan kepadaku dulu?" Hyung pun mengangguk.


"Sudahlah.... Nanti jika ada waktu akan aku ceritakan sedikit tentang dia. Sekarang ayo jalan. Kau tidak lelah berbicara denganku?"


Zukhruf hanya meringis karena ia juga merasakan apa yang dikatakan Hyung Joon.