Life Is Move

Life Is Move
Kejadian Lalu



"Mau bilang apa tadi?" Rafiq masih berdiri di tempatnya. Memandang Zukhruf dengan penuh pertanyaan. "Katakan saja."


"Nggak ada. Nggak jadi." 


Rafiq pun pergi dari sana. Zukhruf mengeluarkan ujung kepalanya ke luar jendela. Memandang Rafiq yang makin menjauh darinya. Ia menyesal karena tak dapat mengungkapkannya. Ia bingung bagaimana caranya ia dapat berbicara dengan Rafiq. 


Aku nyesal sendiri tadi gak bisa bilang sesuatu ke dia. Kapan lagi dia datang? Walaupun aku yang menyuruhnya buat gak ketemu dan ganggu hidupku lagi, tapi dia tetep temenku. Aku gak punya hak untuk memutuskan tali silaturahmi. 


Ketika dahulu, Rafiq sering membuat diriku tersenyum. Saat itu hanya dia saja yang peduli padaku. Teman lelaki yang peduli padaku saat itu hanyalah Rafiq. Bahkan bisa dikatakan dari semua teman, hanya dia yang sering menyapa dengan leluconnya. 


Awalnya kupikir dia adalah orang yang jahat. Aku mengira jika Rafiq mempunyai sikap yang buruk seperti halnya orang-orang diluar sana. Namun pendapatku tentang itu salah. Selama awal satu tahun berakhir, aku dapat mengenalinya lebih dalam lagi. Dia adalah orang yang tenang. Dia sangat tenang. Tidak banyak sekali tingkah seperti anak yang lain. Di saat remaja, dia sudah layaknya seperti orang dewasa. Bisa memikirkan masalahnya sendiri.


Aku sering melihat jika dia jarang sekali tertimpa masalah pribadi di sekolah. Selain masalah yang berhubungan dengan teman-teman di kelas ataupun di antara adik kelas. Walau ia diganggu teman lain pun, dia terlihat selalu mengalah. Namun ada kalanya juga saat ia tak dapat menahan amarahnya. Sangat menakutkan jika ia marah di waktu itu. Aku tak tau, bagaimana cara jika ia marah, sekarang.


Dia penurut. Kalem. Tidak banyak bicara. Imut. Aku tidak mempermasalahkan jika dia tampan atau tidak. Yang terpenting dia sangatlah imut. Tapi dia memang tampan. Lelaki yang paling populer pada masa itu. 


Dia sangat baik. Lembut, dan perhatian. Dan juga sopan santunnya kepada orang yang lebih tua sangatlah baik. Memang lelaki idaman. Tak salah jika semua perempuan di SMP dulu selalu mendekatinya dan menjahili bahkan menggodanya. Namun dengan gentleman-nya ia bisa mengusir mereka dari sisinya. 


Namun karena sebuah kecanggungan yang aku buat, aku menjadikan momen itu jadi rusak. Waktu itu Rafiq sedang sakit.


~•~


Saat Zukhruf dan semua murid di sekolah menengah pertama sedang istirahat. Mereka semua duduk di taman yang terletak di halaman sekolah. Taman yang baru saja selesai dibuat untuk para murid. Kemungkinan akan menjadi lebih bagus jika melihat kesana saat ini. Zukhruf sedang duduk sendiri di satu deret tempat duduk yang terbuat dari semen tersebut. 


Ketika Zukhruf sedang melamun entah memikirkan apa, tiba-tiba saja Rafiq memanggilnya. Dengan panggilan yang tak asing terdengar di telinganya. Sehingga itu membuatnya sontak terkejut. Karena biasanya Rafiq jarang memanggil dirinya dengan terbuka dan di sekitar banyak orang.


"Zukh!" Panggilnya seperti itu. Caranya memanggil juga sangat khas. Dengan lembut dan penuh ketenangan. Namun Zukhruf pikir saat itu memang berbeda. Mungkin ada sesuatu dengannya. 


Dan ternyata benar. Zukhruf menoleh dengan cepat ketika Rafiq memanggil namanya yang hanya disebut depannya saja. Zukhruf melihatnya, ia sedang mengutak-atik lukanya yang sedikit berdarah seperti anak kecil. Zukhruf terlihat mencemaskannya. Ia bertanya dengan tanpa nada pertanyaan. 


"Kenapa?" Melihat mata Rafiq. "Sakit?"


Rafiq menunjukkan lukanya yang ada di bagian lengan kanannya. 


'Nih lihat!' Mungkin seperti itu yang dia bilang. Namun ia tak mengatakannya. Dia menunjukkan lengannya yang luka itu kepada Zukhruf tanpa suara. Seperti bayi yang belum bisa bicara dan hanya dapat mengisyaratkannya. 


Rafiq bertanya kepada Zukhruf bahwa ada siapa di dalam UKS. Karena pintu UKS saat itu tertutup yang berarti tandanya di dalam sedang ada orang. Zukhruf kemudian menjawabnya dengan tenang.


"Bu guru. Di dalam ada Bu Reyna." Zukhruf kali ini menjelaskan dengan sangat jelas. Dan Rafiq selalu tidak memberatkan Zukhruf ketika ia bertanya dan mendengarkan jawabannya. 


Tanpa basa-basi Rafiq segera mengatakan tujuannya kemari. "Zukh. Tolong ambilkan Betadine di UKS. Di dalam ada Bu Reyna." 


Zukhruf tak banyak membuang waktu. Ia segera menuju ke UKS dan berniat mendapatkan obat merah dari dalam sana. Disaat sudah masuk ke dalam, ia ditanya Bu Reyna yang sedang tiduran di kasur UKS. "Kenapa Zukhruf?"


"Enggak Bu. Mau ambil Betadine saja."


"Oh, ambil aja di lemari." Kata Bu Reyna sambil menunjuk lemari yang ada di pojok ruang UKS. Lemari kecil yang hanya berisi obat-obatan. Tidak lumayan banyak obat yang ada di dalamnya. 


Ia mendekat ke arah lemari itu dan mencoba membukanya. Namun disaat ia ingin menarik pintu lemarinya, justru lemari UKS tersebut dikunci. Ia segera menuju ke tempat Rafiq tadi berada dan memberitahukan kepadanya jika lemari UKS saat ini terkunci. 


Zukhruf bertanya ke petugas UKS yang mengelola UKS tersebut dan kebetulan ia sedang lewat di depannya. Ia Bernama Cici. Cici merupakan anggota UKS paling tua dari yang lain. Karena ia kakak kelas saat itu. Namun Cici hanya mengatakan jika kuncinya ada di petugas UKS yang lain, karena bukan jadwalnya Cici hari itu untuk menjaganya. Dan Cici terlihat buru-buru sekali untuk pergi dari hadapan Zukhruf. 


"Fiq! Kuncinya ada di Ena. Di kelasnya lagi pembelajaran." 


Rafiq pun tak banyak pikir dan langsung menuju ke kelas dua tersebut. Ia tahu jika Zukhruf tak akan berani mengganggu jam pelajaran adik kelasnya. Dengan kata lain ia pemalu di masa itu. Jadi Rafiqlah yang bertindak saat ini. 


Setelah Rafiq kembali dan mendapatkan kunci itu, ia menyerahkannya kepada Zukhruf. "Nih."


Tiba-tiba Bu Reyna membuka pintu UKS yang sebelumnya sudah ditutup kembali oleh Zukhruf saat ia memasukinya tadi. Saat itu juga ketika Zukhruf melihat Bu Reyna, mulut Zukhruf spontan saja menjawab dengan asalnya. Tanpa memikirkan perasaan Rafiq yang akan terjadi selanjutnya. "Kamu buka, ambil aja sendiri obatnya." Zukhruf menyingkir dan mempersilakan Rafiq masuk kedalam.


Rafiq tak bergeming dan langsung memasuki ruang UKS yang sudah kosong tak ada orang. Kemudian Zukhruf pergi meninggalkan Rafiq disana mengurus dirinya sendiri. 


Rafiq bisa makainya gak ya? Kan tangan kanannya sakit __ Batin Zukhruf saat sudah di tempatnya tadi awal saat ia duduk. 


Rafiq keluar dari UKS dan melihat ke arah Zukhruf sekilas lalu pergi menuju ke arah ruangan lain. Ia ke ruang guru dan duduk di sebelah Bu Reyna yang kebetulan ada di sana sedang duduk-duduk di pintu ruang guru. Rafiq meminta Bu Reyna untuk membantunya meletakkan obat merah itu di atas lukanya. Namun Bu Reyna menyuruh Rafiq melakukannya sendiri. Alhasil Rafiq mengobati lengannya dengan kesusahan. 


Dalam hati Zukhruf saat ia melihat Rafiq, sangatlah menyesal karena sudah mengabaikan urusan Rafiq barusan. Ia terlihat seperti orang yang tak punya perasaan sama sekali. Padahal Rafiq selalu perhatian kepadanya setiap saat. 


Lain kali aku tak akan membuatmu kecewa. Aku janji jika kamu sakit, aku akan membantumu mengobatinya jika tidak ada orang lain di dekatmu saat itu. 


~•~


"Huhh!" Zukhruf menghembuskan nafasnya kasar. Ia menyandarkan kepalanya pada jendela. Dan memandang pemandangan luar dari jendela kamarnya. 


"Harusnya aku membantunya saat itu. Tapi udah terlanjur. Aku menyesalinya. Apa dia masih ingat kejadian itu? Jika aku minta maaf, apa dia mau memaafkan aku?"