
Rafiq masih duduk di lantai yang dingin itu karena hari semakin gelap. Suhu pun semakin dingin. Ia membuka surat itu dengan perlahan. Dan mengambil isi di dalamnya. Ia bingung dan bertanya-tanya.
"Ini..." Mengamati sesuatu yang sangat jarang ia sentuh. "Ha? Apa maksudnya ini?" Melihat lagi dan lagi. Tidak mungkin itu benar. Ia pun menyimpannya di suatu tempat. Lalu keluar dari kamar karena ia sudah mendengar panggilan untuk sholat.
Setelah dari kamar mandi tanpa berpapasan dengan Zukhruf, ia memutuskan untuk sholat di dalam kamarnya. Karena ia takut nanti warga akan menggunjing tentang Zukhruf hanya sebab dia ada di sini.
~•~
"Apa gak bahaya mereka di tempatin di satu atap?" tanya Ummi yang sedang memakan gorengan kepada Abi.
"Rafiq anak baik. Tenang saja lah. Semua akan berjalan normal. In Syaa' Allah." Sambil menyeruput kopi yang sudah dibuatkan Ummi.
"Tapi kan namanya juga mereka manusia normal. Kalau mereka gak bisa menahan godaan setan gimana akhirnya?" Lalu beranjak ke kamar.
"Lah istriku ngambek ni." Terkekeh lalu menghabiskan kopinya dan menyusul ke kamar.
~•~
Sedangkan Zukhruf pun yang baru saja selesai mengemasi barang-barang yang akan ia bawa pergi. Lalu ke kamar mandi dan berwudhu untuk sholat juga. Setelah sholat ia kembali dan ke dapur. Ia tadi mengerjakan sholat di mushola rumah itu sendiri. Ya meskipun hanya ruangan kecil. Tapi cukup jika untuk berjamaah sebanyak tiga atau empat orang.
Di dapur ia memasak mi instan dua bungkus dan menyajikannya di mangkuk berukuran sedang dengan warna putih. Ia mencuci panci yang telah dipakai saat itu juga. Lalu ia pun membawa dua mangkuk mi kuah dengan rasa soto yang sangat menggugah selera. Zukhruf sangat menyukai soto. Apapun itu ia memilih soto. Tapi tidak tahu apakah yang di kamar sana juga menyukai rasa soto. Karena mi saat ini hanya ada rasa soto tersebut dan tidak ada yang lain. Dari pada boros dan lebih baik menghemat uang dengan makan apa adanya.
Satu mangkuk mi siap menuju pelanggan. Rafiq yang di dalam sedang membaca sebuah kitab tebal pun menoleh ke arah pintu yang terbuka perlahan-lahan. Lalu ia meletakkan Al-Quran tersebut di atas meja yang terletak tepat di samping kasur. Zukhruf meletakkan mi itu di depan Rafiq yang sedang duduk di bawah lantai.
"Jangan duduk di lantai," kata Zukhruf singkat lalu pergi dari kamar Rafiq.
Rafiq meringis dan mulai memakan apa yang ada di depannya. Setelah itu ia ke luar kamar dan mencuci mangkuk itu di wastafel.
Ia bertepatan dengan Zukhruf yang baru saja keluar dari kamarnya. Dan Rafiq pun mengambil mangkuk dari tangan Zukhruf dan mencucinya juga.
Zukhruf hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya. Baik juga jadi orang. Biasanya dia sering sekali menjahilinya. Dan sekarang ia berbuat baik padanya.
Haha, lucu. Lalu kembali ke kamarnya dan menguncinya.
~•~
Seorang perempuan yang sama saat di panggung bersama Zukhruf. Menuduh dan memfitnahnya. Tanpa ada kesalahan yang sebenarnya dimiliki Zukhruf. Sebenarnya apa maunya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur busanya.
"Akhirnya berhasil juga rencana ku kemarin."
Huhhfft
Apa yang akan menjadi tugas selanjutnya ya. Hehe… Tersenyum licik. Lalu memejamkan mata.
Tok tok tok
Bangun dengan sigap, "Siapa malam-malam gini datang ke rumahku. Mana dia tau alamatku lagi." Berjalan keluar kamar dan membuka pintu utama.
"Hai." Seorang lelaki dengan pakaian hangatnya datang seperti hantu. Dengan topi hitam yang menutupi seluruh bagian rambutnya.
"Oh kamu. Ada apa ke sini?" Lalu masuk meninggalkan lelaki itu ke dalam dan duduk di sofa.
Lelaki itupun menutup pintu dan masuk duduk di sofa. Melihat sekelilingnya semua serba pink. Banyak bunga dan lukisan.
"Rasya! Aku bilang jangan menjelekkan Zukhruf. Tapi kau malah kelewatan."
Rasya pun berbalik menatapnya yang tadinya fokus menonton televisi. "Lalu?! Apa yang harus aku lakukan? Aku tak tahu sebenarnya apa mau kamu. Kamu itu pacarku, Ajik. Dan kamu malah membelanya? Kamu masih ingin mengambilnya? Dia sudah menolakmu! Kenapa kamu masih mengejarnya hah?? Dasar gak tau diri."
Ajik masih bisa sabar dengan omelan Rasya. Ia menyibukkan dirinya dan mengabaikan ucapan Rasya dengan bermain ponselnya. Sedangkan Rasya dari tadi bicara terus sampai ia kesal dengan sendirinya.
"Ajik! Dengarkan aku! Mana hadiahnya! Kamu bilang akan beri sesuatu jika tugasku udah selesai. Mana?!" Mendekat dan duduk di samping Ajik.
Rasya pun menarik dagu Ajik dan menghadapkannya ke wajahnya. "Tepati janjimu sebagai pacarku," ucapnya lirih dan seraya menatap Ajik lekat.
"Kau mau?"
"Hmm."
Ajik pun mulai mendekat dan menyentuh kepala Rasya. Mengelus lembut rambut itu. Setelah beberapa detik kemudian, ia mengecup pucuk kepala Rasya.
"Mau lagi.."
"Rakus. Tidur sana, aku mau pulang." Lalu Ajik pun keluar dari rumah Rasya dan kembali menutup pintunya.
"Awas sampai itu cewek masih suka sama Ajik. Akan terjadi bencana padamu jika itu terjadi."
~•~
Bangkit dari rebahannya dan membuka pintunya. Dengan baju tidur longgar serta hijab kaos berwarna hitam. Menatap Rafiq yang masih berdiri di ambang pintu. "Ada apa?"
Rafiq melihat Zukhruf dari atas sampai bawah.
"Jaga mata."
"Kakimu mana?" Menunjuk ke bawah dan melihat ekspresi Zukhruf yang mulai melotot karena pandangan Rafiq yang tak teralihkan.
"Ku tinggalkan di kamar. Dia tak suka bertemu dengan matamu."
"Berani menyindirku ya sekarang?" Memandang Zukhruf penuh arti. Baginya ini baru pertama kali Zukhruf memakai baju seperti ini.
"Kamu turunin celana tidurmu?" Menahan tawa yang akan mengeras suaranya jika ia tak menutup menahannya. Zukhruf hanya diam saja dan memperhatikan Rafiq dari tadi dengan tenang. Heran dengan tingkah lakunya saat ini.
"Apa yang lucu." Terus memperhatikan Rafiq.
Rafiq berjalan kembali memasuki kamarnya. Dan berteriak, "Jika aku boleh, aku akan menurunkan celana milikmu. Ha-ha-ha!"
Dasar bocah pikirannya gak berubah-ubah dari dulu. Zukhruf memilih untuk ke kamarnya lagi. Dan menutup pintu.
Rafiq yang tadi ingin menunjukkan dan menanyakan tentang surat itu, segera ia urungkan niatnya. Ia meletakkan surat di bawah bantalnya dan bermain ponsel. Membaca artikel-artikel di mesin pencarian. Dan satu itu juga, ada artikel hhmengenai lomba novel internasional.
Hah?! Dia memang terbaikku. Aku percaya kalau Zukhruf bisa melakukan itu. Tapi apa ini harus terjadi?
Rafiq mengirim chat ke Karlinda.
Karlinda: Ya, ada apa penganggu… Malam-malam gk baik chat sama cewek.
Rafiq: Siapa bilang
Karlinda: Zukhruf
Rafiq: Oh
Karlinda: Sudah ya, papay. Dasar gk jelas
Rafiq: Aku mau tanya
Karlinda: Hah apa lagi sih. Nanti aku dimarahi Zukhruf
Rafiq: Ga peduli. Zukhruf menang ya?
Karlinda: Iya
Rafiq: Harus ngelakuin aturannya sebagai juara?
Karlinda: Ya (Aku tau pasti takut dianya hhh)
Bener itu harus terjadi. Kenapa harus sih.
Rafiq mematikan ponselnya dan pergi ke luar untuk mengambil minum. Tapi ia merasakan kamar Zukhruf sangat berisik dari luar. Ia memutuskan untuk mengupingnya dari balik pintu. Ia mendengar perkataan Zukhruf dari dalam.
"Ih di mana sih suratnya itu." Mencari kemana-mana dan kasurnya sampai berantakan karena baju yang dikeluarkan dari lemari.
"Surat, tolong jangan hilang dong.. Aku gak mau kehilanganmu." Sibuk mencari.
Apaan sih malah mbucin sendiri. Rasakan tuh, salah siapa gak minta restu dariku dulu. Hhh. Berjalan ke tempat tujuan. Tiga menit kemudian ia kembali ke kamarnya dan berbaring di kasur.
Terdengar pintu kamar terbuka sedikit demi sedikit.
Rafiq pun belum sempat menutup matanya akhirnya pura-pura tidur. Mengintip diam-diam dari balik selimut.
Zukhruf mengendap-endap dan mencari sesuatu di dalam sana. Ia serius sekali mencari di gelapnya kamar tersebut. Tapi penglihatan Zukhruf bagus sekali sehingga masih kelihatan walau remang-remang dari lampu tidur di samping kasur yang ditempati Rafiq. Rafiq dari tadi masih mengamati.
Mana sih suratnya. Gimana kalo beneran hilang. Perasaan tadi aku lupa naruh di kamar ini.
Saat semua barang yang ada di kamar itu digeledah oleh Zukhruf, namun ia sama sekali tak melihat ujung surat itu. Zukhruf lelah mencari dan sempat saja menyerah. Namun ia tak habis pikir.
Apa mungkin di kasur?
Zukhruf berjalan ke arah kasur dan mulai mengelilingi juga menggeledah dengan hati-hati. Sambil sesekali melirik ke Rafiq, apakah ia bangun karena ulahnya. Namun Rafiq sama sekali tak bergerak ketika Zukhruf melihatnya. Padahal Rafiq setia memantau pekerjaan Zukhruf yang sangat melelahkan ini dari awal.
Membuka satu persatu bagian kasur itu. Dan pada akhirnya ia akan membuka bantal tersebut. Bantal yang satunya tidak digunakan Rafiq juga tak ada suratnya. Ia mencoba membuka bantal yang Rafiq pakai. Namun sesuatu tak terduga menimpa Zukhruf saat ia telah melihat ujung surat itu berada di bawah bantal Rafiq!