
Satu bulan berakhir. Kini waktunya Abi pulang. Kesedihan Zukhruf berkurang ketika melihat Abi sudah di depan pintu. Zukhruf mencium tangan Abi.
"Assalamu'alaikum," sambil membelai kepala Zukhruf yang terbalut hijab.
Abi masuk ke dalam dan meninggalkan tasnya di depan Zukhruf. Zukhruf paham maksudnya. Ia pun membawanya masuk.
Pasti bawa terangbulan sama pia kacang
Ia duduk di tempat belajarnya dan meletakkan satu bungkus terangbulan kacang dan pia kacang di atas meja belajarnya.
"Zulfa!" Seketika Zulfa masuk ke kamarnya. "Nih. Pia kacangnya. Ayo makan terangbulan!" Lalu Zulfa menerimanya dan duduk di kasur Zukhruf.
"Mbak, aku pinjam laptop," katanya sambil mengambil laptop milik Zukhruf yang belum ditutup, namun sudah terkunci karena sudah tertinggal lumayan lama tadi. "Apa passwordnya?"
"Apa maumu?" tanyanya singkat.
"Nonton." Tak kalah singkatnya. Zukhruf hanya acuh dan terus memakan terangbulan sambil memainkan ponselnya. Melihat di postingan Instagram, ada lomba apa lagi di sana.
"Mbak! Apa passwordnya!?" Mulai memberontak. Zukhruf tersenyum. "Nanti aku belikan kuota." Zukhruf masih diam.
"2 GB" Masih diam.
"4 GB" Hening.
"6 GB" Zukhruf tersenyum.
"8 GB" Sunyi lagi.
"16 GB" Zukhruf terkekeh. Zulfa diam sejenak memandang laptop Zukhruf. Suasana kamar hening kembali.
Bangkrut aku, kalau mbak Zukhruf bener- bener maunya yang terakhir. 32 GB!
Tiba-tiba Zukhruf bicara, "Gak ada," jawaban itu membuat Zulfa kebingungan.
"Kok gak ada sih! Jelas-jelas dikunci."
"Gak ada passwordnya."
"Yang bener!"
"Gak ada malah gak percaya kamu. Gak percaya sudahlah." Lanjut memakan terangbulan.
"Mbak yang serius...."
Zukhruf mengambil laptop dan menulis password. Zulfa menepuk jidatnya setelah tahu passwordnya.
"Bilang kalau passwordnya itu, 'Gak ada' !"
"Bukankah sudah kubilang dari tadi," Zulfa kalah.
"Ya! Embak menang. Mbak mau berapa Giga?" Zukhruf tersenyum dan melihat Zulfa.
"Nol Giga," menahan tawa. Zulfa mencubit pipi Zukhruf dan tersenyum, "Kok dicubit?"
"Beneran?" tanya Zulfa sambil memandang Zukhruf. Zukhruf mengangguk dan kembali memainkan ponselnya.
Zulfa tersenyum lalu mencium pipi kanan Zukhruf yang terlihat imut. Zukhruf membelalak terkejut dan menatap Zulfa yang sudah duduk di kasurnya dan bermain laptopnya. Dilihatnya Zulfa hanya meringis jahil. Zukhruf tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya.
Zahra keluar dari kamarnya, lalu memeluk Abi. "Abi ole-ole Jahra mana?" Abi tersenyum dan menunjuk tas yang ada di kamar. Zahra langsung berlari ke kamar dan mengambil sekotak pensil dan buku. Zahra mencium Abi senang.
Abi selalu membawakan pensil ketika pulang. Sama seperti di Surabaya. Ketika pulang, Zukhruf selalu dibelikan pensil. Zukhruf terlihat senang menerimanya. Ia selalu menyimpan setiap pensil yang ia dapatkan selama sekolah dasar. Hingga terkumpul berpuluh-puluh pensil.
~•~
Zukhruf kecil menyukai segerombolan pensil beraneka warna yang memiliki aroma yang khas. Mungkin mulai saat itu ia menjadi gemar menulis, dan selalu menulis sesuatu walaupun itu tidak penting.
Terkadang ia sampai mencoret dinding rumah sebelum tidur. Hingga kayu ranjang penuh coretannya juga. Setiap Ummi menegur agar dirinya tidak lagi mencoret dinding, Zukhruf selalu mengambilnya lagi secara sembunyi-sembunyi dan memulai aksinya hingga ia terlelap dengan sendirinya. "Ummi, pensilnya mana?" ia kebingungan mencari pensilnya yang hilang. Akhirnya ia menemukan pensilnya di bawah tubuhnya. Ya, ia menindihnya. Tidur yang aneh. Menciptakan belasan posisi tidur. Pantas jika ia kehilangan pensil. Mungkin ia takkan tenang sebelum menemukan pensilnya.
Sampai sekarang pun ia sama. Dulu semasa SMK, ia tidur di kamar ponpesnya. Di sampingnya adalah kasur Laila. Sebelum tidur, kebiasaan Laila sama seperti Zukhruf ialah, mereka berdua membawa buku dan alat tulis lalu menuliskan sesuatu sebelum tidur. Namun Zukhruf berbeda dengan Laila yang tidur dengan tenang dan bolpoin tetap di tempat yang sebelumnya.
Zukhruf sering kehilangan alat tulisnya. Sudah pasti karena tidurnya tak hanya satu posisi. Ia terkadang menyusahkan Laila yang tidur di sampingnya. Setiap Zukhruf bangun, selalu saja menanyakan di mana bolpoinnya yang telah menghilang. Laila pernah merasa kesal dengan perilaku Zukhruf yang tak berhenti bertanya hingga ia benar-benar menemukannya. Hingga pernah kejadian ini seminggu belum terselesaikan karena Zukhruf belum menemukan barangnya. Laila sempat bercerita ke Zukhruf ketika mereka bangun tidur,
"Zukhruf. Kamu sadar gak, kalau kakimu tadi malam naik ke kasurku. Kau hampir menendangnya. Hingga aku bergeser dan terpojokkan di tepi kasurku," ujarnya sambil terkekeh. "Kalau aku tidak geser, mungkin aku sudah tertindih oleh kakimu." Zukhruf menahan tawa dan tersenyum malu karena tingkahnya.
~•~
Abi berharap Zahra suka menulis seperti kakaknya. Abi ke kamar Zukhruf. Di dalam masih terdapat Zulfa yang masih menonton drakor. Zukhruf chatingan sambil nyemil.
"Apa, Bi?"
"Mbak, besok ada acara gak?" Zukhruf hanya menggeleng.
"Siip," sambil tersenyum lalu meninggalkan kamar.
"Kenapa Abi?"
Zulfa hanya menjawab dengan anggukan bahunya.
Chat masuk.
Abi: Besok hari penting. Jangan kemana-mana.
Zukhruf: Iya Bi. (Merobohkan tubuhnya di kasur)
Perasaanku kok gak enak ya? Ada yang gak beres nih. Ia ke dapur.
Di dapur. Ia mencuci piring. Ia terus terpikirkan dengan perkataan Abi kemarin.
Prakkk!
Piring pecah. Ketiga kalinya ia memecahkan piring. Segera ia bersihkan pecahan itu. Tak sadar jika ibu jarinya terkena pecahan beling. Ia tahu cara mengobati luka dengan darah bercucuran. Sebenarnya ia takut dan jijik dengan darah, namun saat ini ia harus menahannnya. Tak ingin orang lain tahu.
Kenapa harus kanan?! batin Zukhruf kesal.
Sedangkan kanan untuk bersalaman.
Zukhruf pergi ke kamarnya. Masih terasa nyeri di ibu jarinya. Ia yakin itu tak akan berlangsung lama. Saat ini ia ingin menulis di kertas untuk diberikan besok waktu reuni. Ia mengambil bolpoin dan mulai menulis.
"Aaah! Jempol aku..... Bagaimana aku mau menulis?!" Merasa kesal sendiri dengan keadaannya. Ia sandarkan tubuhnya di kursi dengan keras. Aaaah!!
Reuni besok wajib mengumpulkan surat untuk setiap siswa. Zukhruf tak mungkin bisa menulis surat sebanyak teman sekelasnya, sedangkan tangan kanannya susah untuk diajak bekerja.
"Zukhruf," suaranya lembut dan dalam.
Siapa yang memanggilku? pikirnya. Ia menoleh.
"Ka... Kamu? Kamu siapa?" Orang tersebut hanya diam tak bergeming dan terus menatap Zukhruf.
Rambut itu.....
Dia kan yang ada di mimpiku. Kenapa dia datang lagi? Siapa dia sebenarnya?
"Siapa kamu? Jangan dekati aku lagi!" Zukhruf terpaku di tempat. Dia mendekati Zukhruf. Mendekatkan wajahnya ke telinga Zukhruf. Bisikannya sangat lembut membuat Zukhruf menggeliat geli.
"Ha? Kau menyuruhku untuk menganggapmu sebagai pacarku?"
Dia mengangguk. Poninya tersibak karena angin semilir memasuki kamar. Zukhruf terkejut dengan pemandangan di depannya. Memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa itu sakit?" Ia melihat bekas luka yang ada di keningnya. Dia hanya mengangguk. Lalu menyerahkan kertas kecil yang terlihat sangat indah dan tertempel bunga sakura merah muda yang dikeringkan. Zukhruf menerima dan membacanya.
"Neoui gotong-eun naui gotong. Sangcheo josimhae 🖤"
Zukhruf mengernyitkan dahi. Menggeleng-gelengkan kepala.
Apa ini? Dia orang Korea?
Zukhruf mengingat kalimat itu agar dia hafal. Lalu menoleh ke depan. Ah, dia sudah pergi. Zukhruf berlari mencari.
Zukhruf sama sekali tak mengerti. Dia membutuhkan penerjemah untuk menjelaskan apa yang dia maksud.
Dubrakk!
"Aaaa...." mengeluh kesakitan karena terjatuh dari kursinya.
Ternyata hanya mimpi. Ia mencoba tak peduli dengan mimpinya. Selalu saja orang itu. Ia mengingat kembali alur mimpinya. Langsung teringat dengan tulisan di kertas yang diberikan untuknya. Ia mengambil ponselnya dan login Google.
Sakitmu adalah sakitku. Hati-hati dengan lukamu, bacanya dalam hati. Hmm?
"Zukhruf sini bantu masak!" Ummi pergi membeli bahan makanan. Zukhruf diberi pesan untuk memotong sayuran yang sudah tersedia.
"Ah!" Telapak tangan Zukhruf hampir terbelah karena pisaunya terlalu tajam. Secepatnya ia berlari ke kamar dan mengobatinya.
"Loh. Mana Zukhruf? Sudahlah, mungkin lelah. Biar dia istirahat untuk persiapan nanti." Ummi mengerjakan semua sendiri di dapur.
Di kamar,
Duh, kok jadi dua-duanya sih?! sambil memasang antiseptik dan perban di tangannya.
Malam ini Zukhruf tidak ada kerjaan. Biasanya ia akan sibuk membaca artikel di Google.
Eh. Kenapa di luar kayak ramai ya? batinnya lalu keluar dari kamar.
"Eh, ayo masuk. Zukhruf sini!" Ummi mengatur keadaan.
"Perkenalkan, nama saya Rizki Dilan. Kedatangan saya kesini............" Dan terjadilah percakapan tentang lamaran Zukhruf.
Apa ini? Kenapa Abi gak bilang?
Singkat saja, Zukhruf langsung menolak. Kenapa tolakannya langsung diterima. "Aku sudah punya pacar." jawaban itu muncul dari mimpinya. Semua mengalah. Akhirnya tamu itu pulang.
~•~
"Mbak, beli pianya dua."
"Rasa apa, Pak?"
"Kacang."
Abi memasuki bis kota yang akan membawanya pulang ke desa. Abi menelfon seseorang, "Besok lamarlah anakku. Aku sudah balik ke desa." Setelah itu Abi memasang earphone di telinga lalu tak lama tertidur.