Life Is Move

Life Is Move
Aku Sudah Melacaknya



Satu hari setelah Zukhruf sampai di rumah.


"Nah. Dia sudah menghidupkan GPS-nya. Dia di tempat itu." 


"Ya sudah ayo kita semua pergi kesana."


"Tidak. Biar saya saja yang pergi."


"Tidak-tidak! Aku ingin sekali melihatnya. Izinkan kami pergi denganmu."


"Tidak perlu dulu Bu. Biar saya saja yang menyusulnya. Saya berjanji akan membawanya ke hadapan kalian semua."


"Hati-hati ya…. Jangan mengganggunya."


"Iya Bu. Rafiq janji." Rafiq pun bergegas pergi dari kediaman nenek Zukhruf.


~•~


"Kapan mereka akan datang ya?" Memeluk boneka besarnya yang diberikan oleh Rafiq. "Mengapa Rafiq selalu membuatku menyukainya? Dia jahat, tidak memberikan ruang untuk orang lain masuk ke dalam hatiku." 


Tiba-tiba ada yang masuk ke dalam kamarnya tanpa sepengatahuan dirinya. Ia menutup mata Zukhruf dari belakang tanpa menyentuh wajahnya.


Deg!


Ia terkejut dengan tangan yang ada di depannya sekarang. Zukhruf pun hendak menoleh namun dengan cepat ia membisikkan sesuatu di telinga Zukhruf. 


"Jangan menoleh kebelakang!" Seketika Zukhruf menghadap lurus ke depan. Ia takut dan terkejut awalnya dengan sikap seseorang yang asing ini masuk ke kamarnya secara tiba-tiba dan langsung menutup matanya seperti saat ini. 


"Siapa kamu?" 


"Aku?" Merenggangkan jarak jarinya diantara tangan yang menutup mata Zukhruf. Ia bisa melihat jendela kamarnya yang masih tertutup lewat celah diantara jari-jari tangan tersebut. "Aku pemilik asli dari boneka yang kau pegang saat ini. Jadi, berikan boneka itu kepadaku sekarang juga."  


Zukhruf makin mengeratkan pelukannya terhadap boneka tersebut. "Tidak mau! Ini pemberian dari seseorang! Kamu tidak boleh mengambilnya!"


"Apa sangat menyukainya? Berikan saja kepadaku maka jantungmu akan baik-baik saja setelah ini." Katanya smirk. Hal itu membuat Zukhruf makin ketakutan. 


Seketika ia membuat sosok itu kesakitan karena Zukhruf memukul perut itu dengan sikutnya. 


Bugh!


"Aahh!!" Ia tersungkur ke lantai karena pukulan Zukhruf yang sangat keras. "Apa yang kau lakukan!?" Merintih kesakitan. 


Zukhruf menghadap ke belakang dan melihat sosok itu. Dan ternyata itu adalah,


"Rafiq!?" 


Zukhruf segera mendekat ke arahnya dan melihat keadaan Rafiq setelah dipukul olehnya. Ia menunjukkan raut muka bersalahnya. Ia segera bertanya dan meminta maaf kepada Rafiq.


"Kamu gak apa-apa? Maaf tadi aku pikir orang lain… Rafiq, maafkan aku ya?" 


"Kuat banget kamu." Mencoba untuk berdiri dari tempat. "Sejak kapan belajar bela diri?"


"Gak pernah. Aku gak suka bela diri." 


"Kenapa?"


"Rumit."


"Bela diri penting. Tapi kamu bisa menjaga diri. Hebat lah calonku ini." 


"Bukannya kamu sudah janji gak akan ganggu aku lagi? Apalagi tentang hubungan pernikahan. Gimana sih!?" Mengambil boneka yang ada di ranjang itu. "Nih. Yang kasih kamu kan?" Menunjukkan boneka itu di depan Rafiq.  


Rafiq hanya mengangguk dan menyelidiki tubuh Zukhruf. Memperhatikan wajahnya. Tangannya. Kakinya. Kepalanya. Melihat dari atas sampai bawah. 


"Zina mata!" Ketus Zukhruf yang dari tadi merasa risih dilihat Rafiq. "Berhenti!"


Namun Rafiq masih saja tidak mengalihkan pandangannya dan tetap mengamati tubuhnya. Ia juga tak mempedulikan perkataan Zukhruf. Akhirnya Zukhruf yang harus turun tangan. Ia menutup mata Rafiq dengan satu telapak tangannya. Rafiq pun hanya diam saja. 


"Jangan melihat diriku lagi! Dosa!" 


"Apa baik-baik saja selama tidak di rumah?" Katanya dibalik telapak tangan Zukhruf. Zukhruf menyingkirkan tangannya dari mata Rafiq. Ia seketika teringat masa-masa bersama dengan sosok yang sangat istimewa. Berhati baik dan juga tidak memiliki sifat sombong di hatinya. Walaupun ia orang besar sekaligus.


"Jujur kemarin habis dari mana aja?" Rafiq menuju ke ruang tamu lalu ia duduk di sofa. Zukhruf terpaksa mengikutinya. Ia pun juga duduk di sofa dengan memegang ponselnya. 


"Jawab!" Rafiq menyilangkan kakinya dengan cool. "Katakan atau kupaksa kamu." 


Zukhruf bingung bagaimana ia harus menjawab pertanyaan tersebut. Ia takut jika Rafiq akan mengadukan hal ini kepada kedua orang tuanya. Lagi pula sekarang hubungan Rafiq dengan orang tuanya semakin dekat saja. 


"Hp baru?"


Besar juga. Lebih besar dari punyaku. Dapet dari mana dia...


Zukhruf hanya mengangguk pelan lalu menyembunyikan ponsel itu. "Apa tujuanmu kesini?"


"Menyelidiki dirimu. Ceritakan semua dari awal! Tanpa satu kata yang dikarang." 


"Harus?"


"Hmm."


"Kalo lain kali boleh?"


Rafiq memelototi Zukhruf karena ucapannya. Zukhruf ingin tertawa melihat ekspresi wajah Rafiq yang sekarang. Terlihat lucu. Namun ia menahannya. 


~•~


"Linda. Ayo ke rumahnya Zukhruf. Katanya teman laki-lakinya itu, dia udah ketemu di sana. Yok! Cepetan." Kata Lisa dengan bersemangat. 


"Kenapa lagi?" 


"Kata Rafiq kita jangan kesana sekarang."


"Kenapa?" Berbalik menghadap Karlinda. 


"Gak tau aku. Paling dia mau berdua sama Zukhruf. Biarin aja dulu. Toh nanti kita juga ketemu sama Zukhruf. Ayo balik, besok kita kesana sama-sama!"


"Tapi aku pengen ketemu dia Linda…"


"Udah besok aja. Aku yakin Zukhruf gak apa-apa disana."


Akhirnya mereka berdua kembali ke rumahnya masing-masing dan Lisa harus memendam niat untuk bertemu dengan Zukhruf hari ini. Ia kembali ke rumahnya dan terus memikirkan Zukhruf. Apakah dia baik-baik saja atau malah kenapa-napa.


~•~


"Rasya!"


"Ya?"


"Kesini!" 


Menuju ke sumber suara. "Kenapa?" Duduk di samping Ajik. Menyilangkan kakinya dan memakan camilan. 


"Besok kita ke rumah Zukhruf."


"Kenapa?" Menyuapi Ajik dengan tangannya sendiri. Ajik diam dan menerimanya. "Kenapa Ajik tiba-tiba mengajakku pergi kesana?"


"Selain menjenguk Zukhruf memang apalagi?"


Rasya mengangguk. "Memang wanita itu sudah kembali?" Menyuapi Ajik lagi. "Barangkali Ajik kencan sama wanita itu lagi. Rasya bakal ngamuk sama Ajik kalo begitu." Menarik kembali camilan yang tadinya sudah di depan mulut Ajik.


Ajik menarik kembali tangan Rasya dan hendak memakan camilan yang masih ada di tangan Rasya. Namun Rasya menariknya kembali. Sehingga terjadilah perebutan camilan disana. Karena itu suapan terakhir jadi mereka saling berebut. 


"Ajik ambil sendiri sana…!" Masih menariknya dari tangan Ajik. Sedangkan Ajik hanya diam saja dengan tangan yang masih merebut camilan itu. 


"Ajik ngalah dong sama perempuan.."


Ajik pun melepas tangan Rasya dan membiarkannya memakan camilan terakhir itu. Tiga detik kemudian ia langsung mencium bibir Rasya dan ikut makan camilan itu disana. 


Tsstt!!


~•~


Malamnya di rumah Zukhruf.


Zukhruf memasak makanan yang tidak biasa ia masak. Rafiq yang masih disana ikut memakan masakan Zukhruf. Karena masakan yang dirasanya berbeda, membuat ia bertanya kepada Zukhruf. 


"Apa yang kamu masak ini? Aneh." Melihat masakan itu yang belum ia ambil dari mangkuk yang lumayan besar ke piringnya. 


"Itu makanan luar negeri. Makan aja, jangan banyak tanya." Mulai memakannya terlebih dahulu. "Itu tidak beracun kok. Coba aja." 


"Bohong. Males makan." Sendok yang ada di tangannya diletakkan di meja kembali. 


"Ini enak, Rafiq. Cobalah dulu. Nanti ketagihan lho." Memakan miliknya kembali. 


"Awas gak kamu habisin semua itu." Ingin beranjak dari meja makan. 


"Rafiq." Rafiq tidak menggubrisnya. Ia terus berjalan menjauhi meja makan itu. Sedangkan Zukhruf menyendok masakannya lalu berjalan cepat ke hadapan Rafiq. Ia berhenti tepat di depan Rafiq dengan sendok di tangannya. 


"Minggir! Aku mau pulang." Memandang wajah Zukhruf dengan kesal karena Zukhruf memasak makanan yang belum pernah dimakannya.


"Makan dulu yang ini. Kasihan dia ingin kamu makan." 


"Aku bilang gak ya enggak." 


"Yakin mau pulang? Ini beneran gak mau dimakan? Enak lho." Hendak mencicip makanan yang ada di sendok tersebut.


"Hehehey! Ngapain itu!?" Zukhruf berhenti dan menatap wajah Rafiq.


"Ya? Aku mau buktikan ini enak banget. Biar kamu mau makan." Ingin memasukkan ke dalam mulutnya. Sedangkan Rafiq memegang sendok itu dan mengambilnya dari tangan Zukhruf. Zukhruf pun tersenyum dengan sikap Rafiq. 


Rafiq mencoba untuk memakannya. Ia mencicip sepucuk sendok. "Tidak ada racun kan?" Zukhruf menggeleng sambil tersenyum lebar.


"Coba aja." 


Rafiq kembali mencicipinya dan langsung memasukkan semuanya ke dalam mulutnya. Perlahan-lahan Rafiq menyunggingkan senyum. Ia terlihat sangat menikmatinya. "Namanya apa?" Sudah terlanjur menyukainya.


"Emmm… Rahasia..!" Katanya sambil menyunggingkan senyum. "Makanya ubah sifatmu. Selalu saja ngeyel."  Berjalan menuju meja makan dan duduk, Rafiq pun menyusulnya. Ia duduk di kursinya yang tadi ia duduki. 


Rafiq mengambil piringnya tadi ke dekatnya. Ia hendak mengambil masakan itu dengan sendoknya. Namun Zukhruf dengan cepat mencegah. Zukhruf menarik mangkuk yang berisi masakannya kedekatnya. 


"Heh! Jangan serakah!" 


Zukhruf tersenyum. "Kenapa? Aku gak serakah. Aku cuma menjalankan perkataanmu saja. Tadi kamu bilang suruh aku yang habisin semua ini kan?" Zukhruf mulai memakan yang ada di mangkuk itu. Makan langsung dari mangkuknya. 


"Siapa yang suruh makan langsung dari sana! Gak sopan! Gak berbagi!"


"Kata siapa gak sopan?"


"Di adat Jawa gak boleh. Nilai bahasa Jawa punyamu jelek ya.. Kamu orang mana ha!? Oh ya! Aku ingat dulu kamu dapat nilai paling dikit dari lainnya." 


"Terserah katamu. Aku tak peduli." Memakan langsung dari mangkuk.


"Hey!! Bagi sini!"