Life Is Move

Life Is Move
My Dreams



Selang beberapa tahun, dan menjalani hidup yang berliku, Zukhruf Permata Lestari dinyatakan lulus dari S2-nya. Ia bercita-cita mempunyai pekerjaan menjadi seorang penulis, yang akhirnya lamaran kerjanya diterima di suatu tempat. Namun ia ingin kerja tambahan yang bisa membuat hidupnya lebih mudah lagi. Tak akan ia sia-siakan S2-nya hanya sebagai penulis yang telah menjadi bagian dari harapan hidupnya. Ia mencoba memenuhi cita-cita masa kecilnya, menjadi guru. Ia belum merencanakan untuk lanjut ke S3.


Setelah diterima di lapangan kerjanya, ia menjatuhkan tubuhnya di kasur. Melamun, membayangkan masa-masa hidupnya dulu yang sangat rumit. Ia lelah menjalani semua masalah dalam hidupnya. Hingga tak sadar, ada orang yang memanggilnya,


"Hai." Zukhruf terkejut dan langsung terduduk.


"Siapa kamu?"


Lelaki itu mendekati Zukhruf dengan perlahan.


Zukhruf bingung bagaimana caranya agar ia dapat pergi. Sedangkan lelaki dengan hoodie putih itu semakin dekat dengannya. Dapat dihitung jarak mereka hanya setengah meter. Jantung Zukhruf berdegup kencang saat hidungnya bersentuhan dengan hidung mancung dan putih itu.


Apa yang kau inginkan dariku? batin Zukhruf.


Lelaki itu mundur satu langkah setelah tau jika hidungnya bersentuhan. Zukhruf hanya terdiam, lega dan mengatur nafasnya yang tak beraturan. Lelaki itu menggunakan masker hitam, sehingga Zukhruf tak bisa melihat wajahnya. Ia terus menatap Zukhruf dengan lekat. Rambutnya yang lurus berwarna pirang bergerak perlahan ke arah berlawanan, terkena hembusan angin yang masuk dari jendela kamar. Lelaki itu menghadap ke arah jendela, fokus menatapnya. Zukhruf merasa tenang saat angin datang dengan damai, mendamaikan suasana kamar. Zukhruf merasa memiliki kesempatan untuk berlari dari hadapannya.


Tidak! Aku harus membuka maskernya dan melihat wajahnya


Zukhruf berusaha meraih wajah itu dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan.


Zukhruf ayo dikit lagi.... Jangan sampai dia tau. Hati-hatilah! Ia menggigit bibirnya.


Ayo dikit lagi. Jangan menyerah! Hampir berhasil.


"Bangun! Zukhruf bangun!" Zukhruf bangun dengan sigap dan langsung menatap Karlinda yang masih duduk di depannya.


"Bangunnya gak gitu juga kali! Nakutin orang saja." Karlinda ingin melanjutkan ucapannya, namun Zukhruf segera memutusnya.


"Ada apa?" Masih pada posisi sigap.


"Lihat jam berapa itu!? Memang kamu gak mandi? Sudah siang ini. Mandi sana! Meskipun nanti pulang, harusnya kamu juga mandi kan?" Zukhruf membelalakkan kedua matanya.


"Pulang? Berarti aku boleh kan, tidur sebentar lagi?" Posisinya berubah layu.


"Tidur lagi?! Kamu tau gak? Dari kemaren kamu pulang cari kerjaan, kamu belum mandi. Bau tau! Kenapa sih kamu jadi males kayak gini? Bangun telat. Gak mau mandi lagi."


"Linda, aku capek! Kamu tadi gak perlu repot-repot buat bangunin aku. Biar aku bisa menyelesaikan mimpiku dulu, Linda...!" Karlinda terkejut dengan ucapan Zukhruf yang nadanya mulai meninggi karena nyawanya mungkin sudah terkumpul.


"Mimpi apa kamu sampai gak mau bangun?"


Zukhruf menceritakan kembali mimpinya, yang hanya di balas dengan gelak tawa Karlinda.


"Tau ah, mau mandi! Dasar orang, sukanya ganggu aja." Karlinda hanya tersenyum melihat Zukhruf pergi dari hadapannya dengan wajah sedikit cemberut.


Sampai di luar gerbang asrama, Zukhruf membalikkan badan dan memandangi bangunan itu terlebih dahulu sebelum ia pergi. Kini ia meninggalkan asrama yang di dalamnya terdapat banyak kisah hidupnya. Matanya berkaca-kaca. Semua cerita itu tinggallah kenangan. Ia kembali ke rumah karena pendidikannya telah ia selesaikan. Mereka berpamitan pada seorang satpam yang menjaga asrama itu, karena mereka yang pulang terakhir, sebab menunggu Zukhruf mencari pekerjaan.


"Maaf ya, waktu pulang kamu jadi tertunda." Karlinda hanya tersenyum manis.


Mereka merupakan sahabat yang setia. Karlinda sahabat kedua Zukhruf setelah Lisa. Karena Lisa sudah pulang terlebih dahulu kemarin siang, sebab Lisa sudah dijemput oleh papanya. Akhirnya Lisa menitipkan Zukhruf kepada Karlinda.


"Kita mau naik apa?" Karlinda menoleh.


"Terserah"


Lalu mereka berdua akhirnya naik taksi.


"Eh, kamu nanti kerja, mau mengontrak apa di rumah? Kalau mengontrak, kita bisa tinggal bersama." Zukhruf kebingungan. Lebih seru kerja bersama teman dari pada di rumah yang hanya ada Zulfa, adiknya.


Gak mungkin juga aku ngontrak. Duit siapa coba..


"Berhenti, Pak." Karlinda turun dari taksi. "Ini sama temanku juga ya, Pak?!" Melambaikan tangan ke Zukhruf sebelum pergi.


"Nanti turun di mana, Mbak?"


"Karang manis RT 04 RW 03, Pak."


Taksi pun meluncur lagi, dan sampailah di pemberhentian Zukhruf. Zukhruf turun dan masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumussalam." Zukhruf mencium punggung tangan Ummi dan keluarganya yang lain yang berada di dalam rumah.


"Bagaimana kabarnya, Mbak? Makin cantik dan imut, ya?" Zukhruf tersenyum mendengarnya.


"Alhamdulillaah, baik. Bagaimana dengan Ummi?"


"Baik juga."


Celingak-celinguk melihat sekitar rumah. "Abi mana, Mi?" Duduk di sofa. Meletakkan tas di sampingnya. Dan mengambil handphone.


"Sudah berangkat ke Surabaya. Kenapa memangnya?" Duduk di samping Zukhruf.


"Oh, gak ada apa-apa. Kapan berangkat? Kan aku mau, Abi di rumah saja sama, Ummi. Biar aku saja yang bekerja." Ummi sedikit terkejut.


"Apa sudah dapat kerjaan?"


"Sudah. Jadi guru dan penulis," katanya santai yang membuat Ummi justru makin terkejut.


"Penulis?! Bukankah Ummi melarang kamu jadi penulis dan menulis karangan yang tidak jelas seperti itu!? Masih nekat kamu!?" Zukhruf jadi takut apa yang akan ia jawab. Memang benar bahwa Ummi tidak suka jika Zukhruf menjadi seorang penulis. Menurutnya, menulis hanya akan membuang-buang waktu dan pikiran.


"Ummi.... Tapi penulis cita-cita aku, Mi.... Lagi pula penulis itu gak cuma nulis novel doang, Mi. Ummi.... " Merengek dengan mata berkaca-kaca.


"Terserah. Yang penting halal." Zukhruf tersenyum.


Simbah yang dari tadi sudah pergi, kembali dengan membawa makanan, dan menghampiri mereka berdua.


"Makan dulu! Apa sudah sarapan?"


"Hmm.... belum, Mbah." Langsung mengambil piring bahan kaca yang berwarna putih dan mengambil makanan secukupnya.


Di tengah-tengah ia makan, "Ummi. Besok aku sudah mulai kerja. Bolehkah aku pakai motor?" Mulut masih terpenuhi makanan. Berharap dibolehkan naik sepeda motor. Karena dia enggan untuk naik bis. Sebab Zukhruf pemabuk.


"Gak boleh! Kamu aja belum belajar bersepeda."


Zukhruf diam. Masuk ke kamar. Sudah lama ia merindukan kamar dan boneka beruang besar miliknya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur dengan seprai bermotif beruang dan bentuk hati yang berwarna pink tua. "Gak! Aku harus mandi. Bisa-bisa aku gak mandi lagi." Langsung mengambil pakaian dan pergi ke kamar mandi.


Pesan masuk, 5 menit yang lalu.


Lisa: Assalamu'alaikum, Zukhruf. Di mana kamu jadi kerja?


Zukhruf: Di SMA XXX


Lisa: Baru dibalas ini anak. Kamu jadi guru? Siap-siap banyak yang naksir nih...


Zukhruf: Apaan sih.