
Sore itu Zukhruf masih belum keluar dari kamarnya. Ia masih mengurung diri di sana. Sekali lagi ia tidur dua jam sehabis makan tadi. Ia bangun pukul setengah lima. Ia pun segera keluar dari kamarnya tanpa mempedulikan yang lain yang ada di luar kamar.
"Zukhruf, udah makan?" Tanya Abi yang sedang memperbaiki lampu. Zukhruf hanya mengangguk dan lanjut jalan ke kamar mandi dengan baju ganti tidur panjang di tangannya yang masih terlipat rapi. Lalu segera saja ia mandi dan juga cepat-cepat ke dalam kamarnya kembali.
"Zukhruf."
Seketika Zukhruf yang merasa terpanggil membalikkan badannya dengan malas. Tatapan yang sayu karena habis menangis tadi siang di kamar sebelum ia tidur, ia perlihatkan kepada seseorang yang memanggilnya. Ternyata Ummi yang barusan memanggilnya. Zukhruf tak ingin berbicara dan berniat untuk mengabaikan. Namun ia juga merasa kasihan dan tidak pantas jika melakukan itu. Ia menjawab singkat dengan pertanyaan, "Apa?"
"Harusnya dari dulu kamu cerita kalau ada apa-apa ke Ummi. Gak disimpan sendiri begini. Kan kamu juga gak bisa mengatasi masalahnya sendiri."
"Aku gak pernah bilang ke Ummi karena ada suatu alasan. Bukan acuh tak acuh gitu aja. Karena apa? Mungkin aku gak perlu menjelaskan ke Ummi lebih jelas lagi. Aku yakin semua juga akan dibantah." Lalu masuk ke kamar dan menutup pintunya.
Di dalam kamar.
Zukhruf berkata kepada dirinya sendiri dengan lirih dan lumayan ditekan berharap Ummi mendengarkan semua perkataannya.
"Kenapa aku gak pernah cerita masalah pribadiku ke Ummi!? Ya karena aku sangat yakin jika semua pasti tidak akan dapat dukungan! Untuk apa jika bisa dipendam sendiri harus bercerita??! Gk perlu! Walaupun sebenarnya aku juga memerlukan sebuah dukungan dari orang-orang terdekat, namun aku rasa itu tak perlu dan bahkan tak kan mungkin terjadi!"
Zukhruf duduk di atas ranjangnya dan mengambil sebuah ponsel lamanya, karena ponsel barunya saat itu sedang rusak. Ia tak akan membuatnya lebih rusak lagi karena memakainya. Ia membuka sosmed-nya dan mencoba menelpon seseorang. Namun ternyata nomer yang dituju Zukhruf saat ini sedang tidak aktif. Padahal ia sangat ingin berbicara kepadanya sekarang.
Zukhruf pun melihat semua kontak teman-temannya dan melihat profil satu-persatu. Berharap ada yang bisa ia hubungi untuk membicarakan sesuatu. Ternyata ada satu teman lama Zukhruf yang aktif nomernya saat ini. Zukhruf mengiriminya pesan dengan mengawalinya mengetik salam. Namun setelah ia tunggu beberapa menit setelah pesan itu terkirim, Zukhruf tak mendapatkan balasan pesan dari temannya. Ia sangat frustasi sekarang. Ditambah lagi satu teman yang sangat dekat, barusan dikirim pesan oleh Zukhruf namun membalasnya dengan satu kata pun tak dilakukan. Hidup memang sangat menyiksa dan setiap ada kehadiran pasti ada kehilangan.
Bukanlah teman lagi. Kau saja yang terlalu acuh padaku sekarang. Kau berubah dan mulai menjauhiku. Jika itu yang membuatmu bahagia, oke. Sampai sini juga tidak mengapa untukku. Aku tidak akan memaksa jika sekarang kau sudah tak menganggap diriku sebagai temanmu lagi. Namun memutus tali silaturahmi itu sama saja PENGHIANAT!
Malam pun tiba. Zukhruf dari tadi tidak ke dapur untuk mencari makanan sesuap pun. Ia masih tetap mengurung di kamarnya dan berbicara seorang diri. Karena kesal ia jadi sangat pusing untuk hari esok.
Zukhruf menghembuskan nafasnya kasar dan mencari lagi seseorang yang nomernya sedang aktif. Tidak ada yang aktif selain anak-anak bandel itu. Teman-teman Rafiq yang sangat membuat Zukhruf mual ketika mengingat setiap kali dirinya aktif di sosmed, selalu ada saja pesan masuk untuk Zukhruf yang hanya mengungkapkan tentang perasaan.
Tling
Pesan masuk dari Rafiq. Zukhruf mulai menyunggingkan senyum di wajahnya. Ia merasa senang jika Rafiq menghubunginya. Rasanya jalan buntu itu menjadi roboh dan terbukalah pintu kebahagiaan yang sebenarnya.
Rafiq: Makan yang benar
Rafiq: Jangan telat lagi
Rafiq: Harus makan!
Zukhruf terkekeh karena setiap kalimat pesan dari Rafiq seperti ayah yang menegur anaknya. Sama juga seperti kakak yang sangat peduli kepada kesehatan sang adik. Kakak? Jangan sampai Zukhruf kembali teringat oleh memori itu. Tapi ia sudah terlanjur mengingatnya.
Kakak~
Zukhruf menahan agar ia tidak masuk ke dalam genangan air. Ia membalas Rafiq dengan penuh harap Rafiq membalas pesannya dengan cepat. Ia mencoba mengirimkan satu kata terlebih dahulu. Apa yang akan diketik olehnya?
Zukhruf: Rafiq~
Tiga detik, balasan dari rafiq terkirim ke ponsel Zukhruf. Ia seperti poweranges untuk Zukhruf. Membalasnya dengan ketikan jari yang cepat. Mungkin karena terlalu sering memainkan laptop, sehingga gerak jarinya sudah terbiasa bergerak dengan cepat.
Rafiq: Kenapa
Jawaban tanpa tanda baca itu membuat Zukhruf tahu betul, jika Rafiq memang masih menjadi orang yang dingin dan tak ingin mengetahui urusan orang lain. Namun Zukhruf hanya berpikiran positif saat itu. Mungkin saja karena ada pekerjaan yang sedang ia garap saat ini dan hanya bisa mengirimkan balasan singkat.
Zukhruf: Umur kamu berapa, Fiq?
Rafiq: Gak jauh dari kamu
Zukhruf: Tapi kamu ingat kan, kalau kamu lebih tua dariku?
Rafiq: Iya
Rafiq: Apa?
Zukhruf: Kakak~
Rafiq: Apa maksudmu?
Zukhruf: Aku mau kamu jadi kakakku. Mau?
Rafiq: (Ini bocah kesurupan apa, sampai punya permintaan gila kayak gitu? )
Rafiq udah satu menit belum balas pesanku. Apa dia marah-marah di sana? Semoga aja enggak. Sudah tenang aja Zukhruf~ Dia itu enjoy, orangnya masih bisa sabaran walaupun aku minta sesuatu yang mungkin bisa dibilang sinthing tadi.
Rafiq: Ya
"'Ya'? Cuma 'ya'? Gak ada lagi jawaban lain?" Ucap Zukhruf lirih.
Zukhruf: Kamu yakin?
Rafiq: Kenapa juga aku berbohong.
Zukhruf: Terima kasih Kak Rafiq
Rafiq: (tertawa karena panggilan Zukhruf untuknya) Kenapa gak Mas?
Zukhruf: Gak, nanti malah canggung..
Rafiq: (emoji acungan ibu jari) Buruan sana Zukhruf sayang…
Zukhruf: (memberikan emoji tinju)
Rafiq: Zukhruf sayang, cepat pergi sana^^ Gak baik lama-lama
Zukhruf: (menyepam emoji tinju hingga terkirim 50 pesan masuk ke ponsel Rafiq)
"Rafiq! Hpnya bisa dikecilkan gak suaranya!?" Teriak kakaknya yang terbangun yang tadinya sudah tidur semenjak ia berbalas pesan dengan Zukhruf tadi awal karena ia tidak membuat ponsel itu menjadi mode tidur.
Pesan sampah dari Zukhruf itu masuk secara tiba-tiba. Ia harus sabar menghadapi teman satu ini yang memang kepribadiannya tidak bisa ditebak oleh akal dan pikiran. Rafiq berpikir jika ia harus mengirim sesuatu kepada Zukhruf agar Zukhruf mau melakukan apa yang dia inginkan.
Rafiq: (mengirim foto yang terlihat sangat nikmat dan dapat membuat air liur seseorang menetes) Bayangkan!
Zukhruf yang mendapat balasan itu langsung kelaparan. Namun ia mencoba menahannya. Zukhruf pun mengirim balasan untuk Rafiq.
Zukhruf: Gak enak. Cuma kayak gitu, kapan-kapan aku bisa buat. Kamu mau?
Rafiq: Dasar gak jelas
Zukhruf: Kenapa? Kamu memang suka makan kan? Besok aku akan masak buat kamu. Kalau rumah sepi. Soalnya __
Rafiq: Kamu sengaja apa lupa panggilan? Tadi minta jadikan adik. Sekarang gak ada sikap sopan santunnya pada seorang kakak yang sangat tampan ini dan coolman
Zukhruf: Balasannya panjang banget. Apa gak ada kerjaan?
Rafiq: Cepet makan sekarang. GAK BANYAK KETIK! Cerewet