
Hyung dan Zukhruf langsung meninggalkan apartemen. Sebelum itu Hyung tak lupa untuk mengunci apartemennya. Hyung dengan cepat mengendap-endap bersama Zukhruf untuk dapat menuju ke luar gedung apartemen. Ia sudah diberi hak mobil sendiri untuk keperluan darurat dan kunci cadangan juga ada di tangannya. Mereka membawa barangnya masing-masing. Dengan pakaian tertutup yang Hyung kenakan. Juga memakai topi santai. Dan menuju parkiran lalu masuk ke dalam mobil.
Saat di dalam mobil, tak jarang dari mereka untuk saling mengobrol satu sama lain. Suasana menjadi tidak hening dan canggung karena Hyung yang tak enggan untuk berbicara dengan Zukhruf. Hyung juga menceritakan tentang Chin Dae Jee kepada Zukhruf. Karena Zukhruf hanya mengenal Hyung Joon Gie, dirinya seorang. Sedangkan anggota yang lain ia belum menghafalnya.
"Oh… Chin Dae Jee Oppa sangat optimis ya!? Aku suka sifatnya. Dia juga hobi tidur." Ia terkekeh mendengar penjelasan tentang Chin Dae Jee yang suka tidur dimana-mana. Hyung hanya diam tak bergeming. Ia tetap mengemudi mobil dengan tenang.
"Apa Chin Dae Jee Oppa orangnya humoris sepertimu?" Ucap Zukhruf saat Hyung masih mengemudikan mobilnya dengan santai.
Hyung terlihat memberikan ekspresi tak suka saat Zukhruf bertanya demikian. "Mengapa kau menanyakan hal itu kepadaku?"
Zukhruf menoleh dan menjawabnya, "Karena kau adalah temannya. Bukankah begitu?"
Hyung menghela nafas dengan perlahan. Huuh! Dia sama seperti Dae Jee hyung. Sama-sama savage-nya.
Hyung melirik ke arah Zukhruf dan dengan sigap Zukhruf pun juga melirik ke arahnya. Mereka saling tatap. Namun dengan segera pandangan mereka kembali lurus ke depan.
Ngapain dia lirik-lirik? Iya, aku gak bakalan kabur lagi. Gak usah lihat-lihat juga kali. Haram, you know!
Hyung menyentuh dahinya dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mengendalikan setir mobil. Apa dia kelelahan?
Apa dia capek ya?
"Hyungzie." Menoleh ke arah kanan untuk melihat Hyung. "Apa kau tidak kesusahan untuk menyetir?" Katanya dalam bahasa Korea. Hyung pun menjawabnya dalam bahasa Korea itu juga.
"Kesusahan? Mengapa? Aku juara dalam hal menyetir. Aku mendapatkan penghargaan untuk menjadi seorang pengemudi terbaik di Korea Selatan." Katanya dengan membanggakan dirinya sendiri tanpa menoleh ke arah Zukhruf.
"Bukan itu maksudku."
"Lalu apa yang kau maksud?" Menyetir dengan kecepatan sedang. "Kau ingin melihat bagaimana kehebatanku dalam hal ini?" Memberikan senyuman membunuh. Ia mulai ancang-ancang. Menoleh ke kanan, senyuman manis itu itu berubah menjadi senyum smirk. Kemudian Hyung mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Dan juga gaya menyetir yang sangat bagus dan juga sangat menantang.
"Hei Hyungzie! Apa yang kau lakukan!?" Marah Zukhruf dengan sedikit berteriak karena takut. "Tolong hentikan ini!" Namun Hyung tak memperdulikannya. Ia tetap mengemudi dengan kecepatan full.
"Lihat kan.. Aku sangat pandai dalam hal ini." Lirihnya sambil fokus jalanan depan dan samping. "Tenanglah! Kita akan selamat sampai tujuan. Paling tidak kau akan pusing saja!" Ia tersenyum menikmati apa yang ia lakukan saat ini.
"Hyungzie! Kau mau ditilang polisi disini?" Fokus menghadap ke depan agar dirinya masih bisa fresh. "Hyungzie!!" Seketika ia diam tanpa bersuara sedikitpun lagi setelah itu.
Setelah lama Hyung tak mendengar Zukhruf berbicara, ia mengecilkan kecepatan mobilnya dan melihat ke samping kirinya. Ia terkejut saat melihat Zukhruf lemas disana. "Ada apa?" Katanya masih dengan menyetir mobilnya. Namun Zukhruf tak menjawab pertanyaannya. Ia jadi panik dengan keadaan Zukhruf. "Yungi ada apa? Kau pusing?"
Hyung melihat ke arah samping dan dilihatnya Zukhruf mengangguk lemah. Hyung masih saja mengemudi hingga ia selesai melewati jalan layang yang sangat panjang itu. Ia mengurangi kecepatan lagi. Sekali-sekali ia menoleh ke arah Zukhruf. "Mengapa kau hanya diam saja. Bicaralah sesuatu kepadaku." Namun Zukhruf hanya menggeleng pelan dengan pandangan masih lurus ke depan.
Setelah satu jam mereka di dalam mobil selama perjalanan, akhirnya Hyung memarkirkan mobilnya di suatu tempat. Zukhruf juga lumayan mendingan dengan perutnya. Namun masih ia rasakan pusing di kepalanya. Ia melihat bangunan besar yang sedang ia parkiran mobilnya saat ini. Bangunan itu seperti tak asing lagi bagi Zukhruf. Dan yang pasti itu bukanlah rumah Zukhruf. Perkiraan alamat rumah Zukhruf masih satu jam lagi dalam perjaln.
Dengan mata masih lumayan pudar karena merasa pusing tadi, ia mencoba melihat nama gedung tersebut. Cukup lama mereka berdiam di sana, di depan gedung itu. Zukhruf pun akhirnya bisa berbicara setelah tadinya merasa mual. "Kenapa kesini?"
"Apa kau sudah baikan?" Hyung yang dari tadi memperhatikan tulisan yang ada di gedung itu pun mengajak bicara Zukhruf. Ia sengaja menunggu Zukhruf bicara padanya terlebih dahulu. Karena ia yakin Zukhruf belum sehat tadi.
"Sudah." Masih memandang ke arah gedung itu dengan heran.
Ngapain kesini sih! Aku tuh mau pulang. Mau tidur! Pusing aku huhuhu...
"Mengapa kau tak bilang tadi, jika kau tak suka kecepatan tinggi dan kau akan mual nantinya? Kan aku bisa saja menguranginya sebelum kau sempat merasakan itu." Ucapnya dengan merasa bersalah. "Bagaimana, apa sekarang masih pusing?"
"Aku akan muntah jika aku berbicara waktu itu."
Karena aku dari awal sudah mabuk tau! Aku itu pemabok! Aku tak suka mobil, you know it lah!
"Ayo keluar."
Zukhruf masih diam di tempat tanpa membalas ajakan Hyung. Hyung pun menoleh ke arah Zukhruf. Ia menatapnya dengan tatapan bingung. "Ada apa?"
Zukhruf masih diam. Ia tak menoleh sedikitpun. Ia masih memfokuskan dirinya sendiri agar segera baikan. Ia memegang dan mengelus-elus tangannya yang dingin karena AC mobil tersebut.
"Apakah masih sakit? Apa kau kedinginan sekarang?" Khawatirnya kepada Zukhruf. Hyung pun melepas jaketnya yang tadi dipakainya dan sekarang diletakkan di bagian depan badan Zukhruf. Zukhruf hanya tersenyum lemas. "Maaf jika aku telah membuatmu sakit." Zukhruf menggeleng sambil tersenyum. "Apakah ini lumayan hangat?"
Zukhruf mengangguk pelan, "Ya." Ia merasa sedikit sungkan atas semua kebaikan yang Hyung lakukan kepadanya. "Kita tidak pulang?"
Hyung menggeleng, "Nanti. Aku akan mampir ke dalam. Kau akan ikut denganku nanti. Tunggu kau baikan dulu." Lalu mengeluarkan ponselnya. Melihat beberapa pemberitahuan yang masuk di ponselnya. Ia mengambil air putih di dalam tas yang terletak di kursi belakang mobil. "Ini. Minumlah." Memberikan botol yang berisi air putih. Zukhruf pun menerimanya dengan senang hati.
Hyung sangat perhatian. Ia mengerti apa yang sedang aku rasakan. Apa dia lelaki paling baik di dunia? Tidak-tidak! Abiku lebih baik dari segalanya.
Zukhruf terdiam lagi. Ia melirik ke arah Hyung yang sedang fokus pada ponselnya. Ia ingin mengecek ponselnya juga namun ia malas untuk mengambilnya karena masih merasakan tidak enak di kepalanya. "Hyungzie."
Hyung seketika menoleh dan bertanya keadaan Zukhruf. "Hmm? Ayo keluar kalau kau sudah lumayan baikan."
Zukhruf menggeleng pelan. Ia sangat ingin mengatakan sesuatu kepadanya, namun ia masih pusing. Ia akan lebih enak jika hanya diam saja.