Life Is Move

Life Is Move
Jangan Memaksa (part 2)



Zukhruf masih menggantungkan ucapannya, membuat kedua sahabatnya semakin penasaran. Ada apa dengannya. Zukhruf yang tadinya masih kuat menahan dirinya sekarang sudah lemah dan pingsan di tempat meninggalkan beberapa pertanyaan untuk sahabatnya. Lisa terkejut dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin Zukhruf yang kuat dalam hal apapun sekarang bisa pingsan hanya karena tidak makan. Kedua sahabat itu membawa Zukhruf ke rumah sakit terdekat. Malam ini akan menjadi cerita bagi ketiga gadis tersebut. Suka duka akan selalu mereka lalui bersama.


Sampai di rumah sakit, Zukhruf dibawa ke ruang periksa ditemani kedua sahabatnya. Dokter pun menjelaskan jika Zukhruf sangat kelelahan dan kurang asupan gizi. Namun di hari-hari yang lalu Zukhruf selalu mengonsumsi vitamin untuk menjaga tubuhnya agar tetap fit.


"Lalu kenapa dia sampai pingsan?"


Dokter pun menjawab bahwa pasien memiliki penyakit yang selalu dia bawa. Penyakit tersebut akan kambuh jika penderita mengalami depresi dan lelah berlebihan. Apalagi Zukhruf punya penyakit mag dan darah rendah yang bisa kambuh kapan saja jika kondisinya tidak baik.


"Dia harus dirawat jika ingin sembuh cepat dan total."


Sahabatnya saling pandang, sebab bingung harus berbuat apa. Bagaimana mereka memutuskan.


~•~


"Abi... Kenapa Zukhruf belum pulang ya?"


Abi hanya memasang muka penasaran dengan tidak adanya Zukhruf malam ini.


"Abi kenapa diam? Zukhruf, dia tidak ada masalah kan?"


Abi menganggukkan kepalanya. "Mari kita telepon." Abi pun menelpon Zukhruf.


Tut.. tut... tut...


Masih dalam nada dering. Ummi menjadi sangat khawatir. Bagaimana jika panggilannya tak diangkat. Ini sudah malam tapi Zukhruf malah belum pulang. Sebenarnya kemana dia.


"Assalamu'alaikum. Zukhruf. Dimana kamu sekarang?" Abi memulai percakapannya. Dari sana memang sudah terhubung. Namun tak ada jawaban. Ummi menatap Abi dan mengambil teleponnya.


"Zukhruf cepat pulang. Sudah malam ini. Ummi gak akan marah lagi. Ayo pulanglah Zukhruf." Sama sekali tak ada jawaban. Dan tiba-tiba saja sambungan terputus. "Abi. Teleponnya mati." Memasang wajah masam.


~•~


"Zukhruf tidak di rumah. Kemana dia pergi malam-malam begini?" Rafiq bertanya-tanya pada dirinya sendiri yang dilanda kebingungan. Apa yang seharusnya dia lakukan? Ponsel Zukhruf pun saat ini masih dibawa olehnya. Tiba-tiba ia terpikirkan oleh sesuatu.


"Zukhruf...." Dia menemukannya.


Ia memilih menghubungi Zukhruf dengan nomor lainnya yang biasa Zukhruf gunakan melalui laptop. Namun sama sekali tak memuaskan hati. Mungkin saja laptop itu mati. Namun sebenarnya laptop itu ada di kontrakan Karlinda yang tak terbawa karena mereka tinggal pergi ke rumah sakit.


Kemana saja dia? Biasanya kerjanya cuma mengurung diri di rumah. Tidak pernah keluar. Ini malah malam-malam tidak ada.


Di ambang pintu


"Mau pergi kemana Rafiq?"


"Emm..."


"Masuk rumah! Kamu mau jadi anak berandalan yang suka nongkrong di pinggir jalan? Mau jadi anak gak punya adab kayak mereka?"


Rafiq terdiam, ingin membalas takut dosa karena sudah membantah perkataan Ibu. Memang benar di luar sana banyak anak-anak nakal yang tidak punya sopan santun. Ibunya tak kan membiarkannya seperti anak yang ada di luar sana. Ibu hanya punya Rafiq dan kakak perempuan Rafiq, yang sekarang sudah menikah dan ikut suaminya. Ibu ingin mendidik Rafiq dengan baik agar Rafiq seperti ayahnya dulu. Namun sekarang ayah sudah tiada karena kecelakaan sepuluh tahun silam. Ibu sedikit meneteskan air mata sambil memandang Rafiq. Namun ia tak menyadari hal itu sebab ia sudah terbawa oleh lamunannya.


Yah.. Lihat putramu ini! Dia sudah besar dan menjadi anak sukses. Dia baik sepertimu. Yah.. Dulu kau berjanji akan mendidik anak kita dengan baik bersama-sama. Jika lelaki, kau akan mengangkatnya menjadi CEO muda. Sekarang dia sudah menjadi apa yang engkau inginkan. Tapi mengapa kau tinggalkan kami...


"Ibu." Rafiq mendekat dan memeluknya. Pelukan anaknya yang hangat. "Aku akan tetap menjadi anak Ibu yang baik."


Ibu tersentuh dan makin deras air matanya. Akhirnya Rafiq tak jadi pergi untuk mencari Zukhruf. Ia pun membawa Ibu ke kamar.


Kembali ketempat sahabat itu berada.


"Lisa! Malam ini aku pulang dulu. Kontrakan belum aku kunci. Bisa kamu menjaganya terlebih dahulu?" Lisa melihat Zukhruf sekilas. Lalu menatap Karlinda dan mengangguk.


"Bilang pada orang tuamu jika kamu menginap di rumah sakit." Lisa hanya menjawab dengan anggukan.


Sepertinya Lisa sedih dengan keadaan ini. Jangan sampai dia stres.


"Lisa. Jangan pikirkan terlalu dalam. Kamu bisa sakit nanti."


"Tapi lihatlah Zukhruf. Dia keras kepala sekali sampai tidak makan hingga terjadilah kejadian seperti ini padanya. Bagaimana lagi caranya supaya dia mau makan? Dia sudah menyiksa dirinya sendiri.


"Apa orangtuanya seperti ini juga?"


"Kurasa tidak."


"Tapi mengapa Zukhruf berbeda? Dia keras kepala. Keturunan siapa dia sebenarnya?" "Apakah yang diidamkan Ibunya ialah batu???" Lisa menghela nafas lalu menatap layar ponsel. "Sudah pukul sembilan malam. Pulanglah. Aku sudah izin."


"Baiklah. Aku pergi dulu. Kalau ada masalah bilang saja." Lisa hanya mengangguk.


Karlinda pergi meninggalkan Lisa dan Zukhruf. Zukhruf masih saja tak sadar. Lisa melihat wajah pucat sahabatnya yang terbaring lemah.


Bagaimana bisa kau menahan makan hampir satu bulan penuh? Mungkinkah nafsu makan bisa dikalahkan dengan jiwa kepenulisan? Kau sangat yakin dengan usahamu. Tapi tak tau apakah semua yang kau lakukan ini akan berbuah manis atau tidak. Hanya Allah yang tau


Lisa bukan gadis yang cengeng. Dia tak akan menangis karena selama ia masih bisa menahannya. Dia harus kuat agar bisa menjadi sandaran untuk kedua sahabatnya. Lisa meletakkan kepalanya di tangan Zukhruf dan menggenggam tangan itu lumayan erat. Hampir saja Lisa tertidur, namun dengan gerakan kecil di tangan membuatnya terbangun. "Zukhruf?"


Ia melihat ada tetesan bening di pipi Zukhruf. Sepertinya ia mimpi buruk. Lisa mengelus punggung tangan Zukhruf. Namun sepertinya Zukhruf hanya mengigau.


"Aku hanya ingin menulis."


Pengucapannya seperti tersendat-sendat. Lisa panik dan kemudian memanggil suster.


~•~


Sampailah di kontrakan


"Tidur dulu. Kasihan mereka jika besok tidak kubawakan sarapan. Setelah subuh saja aku ke sana. Mungkin Lisa belum bangun, biar dia tidak repot keluar rumah sakit untuk membelinya." Karlinda ke kamar mandi sebentar lalu masuk lagi. Ia melihat laptop Zukhruf sekilas dan membukanya. Ada notifikasi.


"Di mana kamu Zukhruf?"


Ini nomer siapa? Kenapa tidak ada foto profilnya? batinnya. Balas saja. Barangkali ini penting baginya.


"Kamu siapa? Aku temannya Zukhruf. Dia sekarang ada di rumah sakit"


Lalu mengirimnya dan menunggu balasan chat. Tapi lama tak ada balasan. Ia lelah menunggu ditambah kantuknya yang tak bisa ia tahan lagi. Ia pun tertidur di kasur dan masih memegang laptop yang menyala.


Sepuluh menit kemudian balasan baru terkirim.


Rafiq masih memegang ponselnya dan melihat balasan dari nomor Zukhruf.


Kenapa di rumah sakit? Apa dia sakit?


"Rumah sakit mana? Kenapa dia kesana?"


Rafiq menunggu jawaban.


Sedangkan yang ditunggu jawabannya malah sudah tertidur pulas. Rafiq pun menelpon nomor itu. Namun sama sekali belum diangkat. Ia menelpon berulang kali hingga memanggilnya dengan panggilan vidio. Karlinda yang merasa terganggu dengan nada deringnya pun terbangun dengan penglihatan masih samar-samar.


"Haa... Siapa yang menelpon tengah malam begini? Itu apa tulisannya? Blur sekali namanya." Karlinda mengucek matanya berkali-kali. Nama masih terlihat buram dan memutuskan untuk langsung menggesek ke atas. Siapa tahu ini penting.


"Siapa?"


Astaga. Apa yang dia lakukan. Karlinda menerima panggilan itu tanpa mengecek dulu siapa orangnya.


"Astaghfirullah!!"


Karlinda langsung menarik selimutnya dan menutup seluruh tubuhnya hingga ujung kepala. Dia lumayan berteriak kepada seseorang di seberang sana. "Siapa kamu. Tolong matikan!" Akhirnya sambungan terputus. Karlinda muncul kembali dari balik selimut lalu menatap monitor.


Memaki dirinya sendiri,


"Ghabi, ghabi, ghabi!! Harusnya kau wudhu dahulu lalu mengangkatnya. Kau bisa lebih mudah melihat namanya tadi. Ghabi.." Karlinda mulai menitikkan air mata. "O Allah... Forgive me." Karlinda menenangkan dirinya.


Rafiq: Hmmm.... (*L*umayan)


Linda: (*C*uma, hmmm? Gak bersalah baget) Kamu siapa mencari Zukhruf?


Linda: Bukan pacarnya kan? (*M*ana mungkin Zukhruf punya pacar)


"hachi!!"


"Eh.. " Lisa terbangun. Dia melihat jika Zukhruf masih terjaga dan menutup matanya. "Suara apa tadi?"


Aku jadi merinding. Mana mungkin barusan tadi suara Zukhruf.


Lisa hanya mengabaikannya dan lanjut tidur.


Linda: Yang pasti dia sedang sakit


Rafiq: Sakit apa? Jelaskan


Linda: (Habis kesabaran) Kenapa kau jadi penasaran dengannya? Kau punya niat jahat?!


Rafiq: Untuk apa berniat jahat padanya. Aku hanya teman. Ibunya tadi mengkhawatirkan dirinya dan menelponku


Linda: Mengapa Ibunya menelpon padamu? Siapa kau sebenarnya?


Rafiq: Ponsel Zukhruf ada padaku. Cukup, mengintrogasi diriku. Beritahu padaku di mana letak rumah sakit itu. Aku akan kesana besok.


Linda: Aku tak percaya.


Rafiq: Kau mau debat denganku di tengah malam begini?


Linda: Tidak! Akan ku beritahu alamatnya......


Pagi harinya...


Ponsel Zukhruf berdering. "Zukhruf pulanglah. Ummi gak marah kok." Rafiq langsung menjawab.


Rafiq: "Maaf saya temannya. Zukhruf sekarang ada di rumah sakit."


Ummi: "Rumah sakit? Di mana? Kenapa sampai sana? Dia tak kenapa-napa kan?"


Abi langsung mengambil alih percakapan.


Abi: "Di mana alamatnya? Kami akan kesana."


Rafiq pun memberitahu alamatnya. Mereka pun bersiap-siap untuk menjenguk Zukhruf. Tapi karena Ummi terlalu lama dalam persiapan, maka Rafiqlah yang tiba dahulu di rumah sakit.


~•~


"Nih sarapannya," kata Karlinda sambil menyerahkan dua bungkus makanan.


"Eih.. Aku sudah beli dari tadi. Dua bungkus buat kita berdua. Kau juga bawa sarapan untuk kita?" tanya Lisa.


"Oh. Ya sudah. Kenapa hanya dua?"


"Dia sakit lambung. Hanya boleh makan makanan rumah sakit."


Karlinda mengangguk. "Apa dia sudah sadar?"


"Belum"


"Ya sudah aku mau mandi dulu."


"Apa? Kau belum mandi?"


"Belum. Kenapa memangnya?"


"Pernah dengar cerita tidak?" Karlinda menggeleng. "Aku ceritakan padamu."


"Di sebuah desa ada anak yang bernama Lili. Dia punya teman yang bernama Lala. Pernah suatu ketika, Lili sakit. Lalu hari-hari di rumah sakit Lili selalu ditemani oleh Lala. Sedangkan Lili belum sadar dari alamnya. Ketika waktu Lili sudah sadarkan diri, tiba-tiba saja dia pingsan. Lala kebingungan. Mengapa Lala pingsan lagi..? batinnya.


"Tau tidak? Apa jawaban dokter?"


Karlinda menggeleng.


"Karena Si Lala belum mandi."


"Kau mengataiku? Masih sempatnya bercanda," lalu pergi ke kamar mandi. Lisa masih terkekeh.


Tak lama Rafiq datang, "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Maaf Anda siapa?"


"Temannya. Hanya ingin mengembalikan ponselnya. Kemaren terbawa olehku."


"Oh, iya terimakasih."


"Kenapa Zukhruf sampai sakit?"


"Em... Itu karena-"


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalam."


"Nak Zukhruf kenapa, Nak? Zukhruf kenapa sakit?" Ummi khawatir.


"Dia tidak pernah makan selama setengah bulan lebih. Jangan khawatir, Bu. Dia sekarang baik-baik saja. Memang seperti itu dirinya, Bu. Zukhruf memang keras kepala. Saya juga selalu mengingatkan dia untuk makan. Tapi dia selalu berbohong," jelas Lisa.


"Terima kasih sudah merawat anak saya. Ummi gak bisa memberikan apapun." "Siapa dia?"


"Dia temannya Zukhruf. Menjenguk sekalian mengembalikan ponselnya."


"Jadi tadi malam itu kamu?" tanya Ummi sambil menatap Rafiq. Rafiq pun mengiyakan.


Sedangkan saat Karlinda memasuki ruangan, Rafiq dan Karlinda terkejut secara bersamaan.


Langsung saja saat Zukhruf sudah sadarkan diri.


"Zukhruf."


Zukhruf hanya diam.


"Zukhruf ayo makan makananmu. Kata dokter setelah sadar kau harus langsung memakannya."


Zukhruf menggeleng lemah.


"Ayo makan Mbak." Namun Zukhruf menolak. "Mbak, ayo. Kasihan perutnya." Zukhruf menggeleng kuat. "Mbak, jangan dipaksakan. Tolong. Jangan memaksa gini..."


Lalu Rafiq mendekat. "Aku tak memaksamu mengikuti lomba itu. Boleh ikut, tapi harus makan." Namun Zukhruf diam dan menundukkan kepalanya dalam.


Rafiq pun punya cara untuk dapat menundukkannya. Mendekat dan memajukan mulutnya di telinga Zukhruf..


Dan...


...