
Zukhruf membiarkan lelaki itu memasuki kamar dengan tenaganya yang tersisa. Badan yang lumayan besar dari Zukhruf itu sepertinya tak kuat untuk menopang tubuhnya, dengan bersusah payah dia berjalan. Dan Zukhruf tetap memperhatikannya dari jauh.
Setelah lelaki itu masuk dan mengunci pintu kamarnya, Zukhruf keluar dari persembunyiannya. Ia berusaha keluar dari meja kecil itu. Ia menuju ke dapur dan merapikan apa yang seharusnya ia rapikan. Ia membuka kulkas. Ya, tetap saja masih kosong selain makanan ringan serta camilan.
Tuh kan.. Harusnya tadi aku pesan makanan via online. Apa aku pesan sekarang ya? Iya ajalah lagian nanti malam mau makan apa.
Zukhruf mengambil ponselnya.
"Loh kan lupa. Tadi kan aku belum ketemu charger-nya. Terus bagaimana lah ini?"
Akhirnya Zukhruf memutuskan untuk mandi terlebih dahulu lalu membereskan kamarnya kembali. Lalu pukul enam ia keluar dari kamarnya. Mengecek kamar lelaki itu apa sudah terbuka dan keluar orangnya dari dalam sana. Dan ternyata belum.
Ia memilih untuk kembali ke kamarnya. Dan memutuskan untuk tetap di dalam sampai ada perintah dari lelaki tersebut. Ia sampai tertidur di ranjangnya karena sudah lama dan lelah menunggu. Ia pun juga sangat bosan tanpa ponselnya. Saat ini ia belum bisa menggunakannya.
Pukul tujuh malam. Lelaki itu keluar dari kamarnya. Ia sudah mandi dan membereskan apa yang ada di kamarnya. Ia merasa lapar. Lalu keluar dari apartemen sebentar. Setelah sepuluh menit ia kembali masuk ke dalam apartemen dan meletakkan sesuatu di atas meja rumah tengah.
Lalu dia menuju ke arah kamar Zukhruf. Mengetuk pintunya. Namun tak ada balasan dari Zukhruf. Ia langsung membuka pintu tersebut. Terlihat Zukhruf tidur di ranjang tanpa selimut. Dia mencoba membangunkan Zukhruf.
"Bangun. Hei perempuan, bangunlah!"
Zukhruf tak bergerak sedikit pun. Dia pun keluar kamar dan beberapa menit kemudian kembali lagi dengan membawa bungkusan cokelat muda. Dia mulai menggantungkan di jari tangannya dan mendekatkan bungkusan itu di dekat hidung Zukhruf. Alhasil Zukhruf mulai terbangun dan mengendus-endus benda di atasnya. Ia tersadar dengan adanya lelaki di depannya ini. Segera bangun dari tidurnya dan duduk.
"Sudah bangun?"
Zukhruf mengangguk dan pamit sebentar ke kamar mandi. Lelaki itu pergi, menunggu di ruang tengah sambil membawa bungkusan tersebut bersamanya. Setelah Zukhruf kembali, ia melihat bahwa kamarnya sudah kosong. Ia pun keluar dari sana dan menuju ke tempat lelaki itu berada. Ikut duduk di dekatnya. Lalu lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari bungkusan berwarna cokelat muda tersebut. Zukhruf dari tadi hanya mengamatinya saja.
"Ini. Makanlah! Jatah makan kami hari ini seperti ini. Aku membawa makanan bagianku ke apartemen dan memakannya bersamamu." Sambil membuka dan menyiapkan segalanya.
"Kami?" tanya Zukhruf yang langsung dibuat bingung karena lelaki itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ah itu... …. Kau akan mengetahuinya nanti." Meletakkan ayam goreng ke piring Zukhruf. "Makanlah! Aku beruntung hari ini mendapatkan ayam goreng yang sangat banyak. Kau harus menghabiskannya." Meletakkan beberapa ayam goreng krispi itu di kedua piring dengan sama rata.
Zukhruf masih terdiam sambil memperhatikan gerak-geriknya. Sepertinya ia mengenalnya. Ia menunggu lelaki itu makan terlebih dahulu.
"Makanlah dulu! Tidak masalah." Namun Zukhruf menggeleng.
"Kenapa?" Melihat Zukhruf sekilas. "Baiklah. Aku akan makan terlebih dahulu. Tapi ada syaratnya. Pejamkan matamu saat aku mulai makan."
"Kenapa?"
"Pejamkan saja!"
Zukhruf mulai memejamkan matanya. Tapi seketika ia melihatnya.
Lelaki itu langsung menghentikan aksinya. "Apa yang kau lakukan?"
"Bagaimana cara Anda makan jika Anda masih menggunakan masker itu?"
"Maka dari itu tutuplah matamu. Aku akan membukanya."
"Lalu?"
"Menutupnya kembali."
Kenapa dia tak mau membuka maskernya. Aku jadi penasaran sama wajahnya. Siapa dia sebenarnya.
"Buka saja tidak masalah. Aku tidak akan mengintip Anda makan."
"Aku tidak bisa mempercayaimu."
"Aku janji tidak akan melakukan itu. Janji."
"Tidak."
"Tidak apa-apa. Makan saja dengan tenang di sini."
"Kenapa jadi kau yang mengaturku? Aku akan makan di kamarku." Hendak beranjak dari tempat duduknya. Namun ia berhenti sebentar. "Nanti setelah selesai makan, pergilah ke kamarku. Tidak usah mengetuk pintu." Lalu pergi meninggalkan Zukhruf di tempat.
Zukhruf tidak lupa mengucapkan terima kasih. "Terima kasih makanannya."
~•~
"Zukhruf di mana, Nak…" Ummi sudah berkaca-kaca.
Abi menenangkan Ummi sedangkan Rafiq dari tadi menghubungi teman-teman Zukhruf.
"Bibi menginap dulu saja di sini. Paman juga. Nanti Rafiq yang cari Zukhruf sama teman-teman Rafiq."
Abi hanya mengangguk. Sedangkan Rafiq keluar dari rumah itu. Abi menghubungi keluarga besar dan memberitahukan jika Zukhruf menghilang dan sampai sekarang belum juga kembali. Abi meminta kerabat-kerabatnya untuk membantu menemukan Zukhruf putri sulungnya. Sedewasa pun Zukhruf, ia masih tetap putrinya yang keras kepala.
Abi duduk di samping Ummi dan mengatakan dengan lembut. "Ummi jangan khawatir. Ini semua sudah takdir. Kita serahkan semua kepada yang Maha Kuasa. In Syaa' Allah, nanti Zukhruf segera kita temukan. Ummi gak perlu sedih begini. Nanti bisa sakit." Ummi hanya melamun memikirkan Zukhruf dan tak ingin makan. Ia selalu terus kepikiran dengan putrinya.
~•~
"Kudengar perempuan perebut pacarku itu menghilang. Jika itu benar, aku akan sangat senang. Karena dia akan menjadi milikku seutuhnya." Berbaring di ranjang.
Tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka dan datanglah seorang pria. "Bangun." ucapnya datar.
Rasya segera bangkit dari tidurnya karena terkejut mendengar suara itu. Ia berdiri mematung karena seseorang telah memasuki kamarnya tanpa sepengetahuannya. "Ajik?! Bagaimana bisa kau masuk ke rumahku?"
"Itu tidak penting. Di mana Zukhruf? Aku yakin pasti ini ulahmu. Jawab!" Menggertak Rasya dengan ekspresi yang menakutkan. Rasya tak bisa berkata apa-apa, sebab baru pertama kali ini ia dibentak oleh pria.
"Kenapa kamu... memarahiku? Ini belum benar nyatanya." Mendekat ke arah Ajik.
"Kau membencinya kan?! Siapa jika bukan kau pelakunya."
"Ajik.. Kenapa seperti itu padaku?" Mulai menangis. Ia terduduk di ranjang. Sambil menundukkan kepalanya. Menangis tersedu-sedu. "Apa Ajik sudah gak sayang lagi sama aku?
"Rasya butuh kasih sayang. Bukan kebencian. Apalagi bentakan dari orang yang Rasya sayang." Masih menangis di sana. "Lebih baik aku mati daripada berada di sini tanpa perhatian."
Rasya adalah perempuan yang mandiri. Ia ditinggalkan orang tuanya pergi ke luar negeri. Sudah sepuluh tahun mereka belum pulang juga. Ia tinggal di rumah besar itu sendiri bersama para pembantunya. Akhirnya Ajik datang sebagai temannya.
Dan kebencian Rasya terhadap Zukhruf muncul ketika Ajik diam-diam mempunyai perasaan kepada Zukhruf selama sekolah hingga sekarang. Ajik belum bisa melupakan Zukhruf.
"Maafkan aku. Jangan sedih lagi." Mengusap air mata Rasya. "Aku akan mencoba melupakannya. Percayalah. Tapi izinkan aku untuk membantu mencarinya."
Karena dia juga pernah ada dalam hidupku
Rasya mengangguk dan kembali memeluk Ajik. "Janji ya? Ajik gak akan sakiti aku lagi." Ajik mengangguk.
"Ok."
~•~
"Rafiq! Zukhruf beneran hilang?!" Matanya tak bisa menunjukkan kebohongan. "Kenapa kau tak menjaganya?!"
"Bicara apa sih. Cepat cari jangan banyak tanya! Cari ke tempat yang kemungkinan Zukhruf pernah mengunjungi ke sana."
"Tapi ini sudah malam."
"Tidak! Ayo kita cari!"
"Tapi sudah malam ini.. Gak baik perempuan malam-malam keluyuran di luar rumah."
"Ya sudah kalian berdua pulang saja. Lanjutkan besok. Aku akan mencarinya." Mulai menghidupkan motor.
"Hati-hati." Rafiq membunyikan bel motor setelah Karlinda mengucapkan itu padanya.
"Hei! Kau tadi bilang apa, ha?" tanya Lisa kepada Karlinda yang masih memandang motor Rafiq yang terus menjauh dari hadapannya. Kesedihannya berkurang.
"Cuma memperingatkan saja kan."
"Kamu….."
"Haish, tadi temannya Zukhruf tumben sekali banyak bicara ya?"
"Pintar sekali mengalihkan topik. Sudah ayo pulang! Kita lanjut cari besok pagi. Lagian kenapa dia aneh-aneh terus kerjaannya. Ingin ku pijat kepalanya. Supaya tak terlalu keras." Mengelap air matanya yang hampir jatuh. "Huwaaaaaaa.... Zukhruf tega tinggalin aku."
"Pa-an kamu tuh. Ayo pulang!"
~•~
Sehabis selesai, ia mencuci piring tersebut lalu menempatkan pada tempatnya. Dan segera melaksanakan tugasnya. Pergi ke kamar lelaki itu setelah selesai ia makan.
Saat Zukhruf hendak mengetuk pintu, ia segera ingat jika itu tidak seharusnya ia lakukan. Zukhruf pun langsung membuka pintu kamar tersebut. Membukanya perlahan-lahan. Ia melihat lelaki itu duduk di sofa kamar dengan majalah di hadapannya sehingga wajahnya tak terlihat oleh Zukhruf. Zukhruf sengaja tak menutup kembali pintu tersebut dan langsung masuk.
"Permisi." Zukhruf berdiri satu meter dari lelaki itu duduk.
Lelaki itu segera menutup majalah tersebut dan meletakkannya di sampingnya. Lalu menatap Zukhruf.
!!! Apa ini?!
Zukhruf sangat terkejut saat itu. Rasanya ia ingin memberitahukan hal ini kepada Lisa. Ini sangat menusuk jantungnya yang lemah ini. Ketahuilah, bahwa jantung Zukhruf sekarang berdetak sangat kencang. Tangannya panas dingin begitu juga dengan tubuhnya. Alisnya mengkerut tak percaya dengan hal di depannya. Seketika suasana dinginnya malam menjadi panas.
"Kenapa kau diam saja?" (Bicara menggunakan bahasa Korea)
Zukhruf spontan menjawab dengan bahasa Korea juga seperti lelaki itu. "Ini kamu?"
Ini aku beneran di depannya? Atau hanya mimpi?!
"Iya ini aku. Kamu mengenaliku?"
Zukhruf menganggukan kepalanya dengan cepat. Dan masih terdiam serasa ini hanya mimpi baginya. Tidak mungkin ini terjadi. Mana mungkin ini adalah dia. Zukhruf belum bisa mempercayai kejadian ini.
"Apa yang kau pikirkan? Mengapa hanya diam saja? Kau penggemarku bukan?"
"Tidak-tidak! Aku bukan penggemarmu."
"Tidak perlu membohongi dirimu sendiri. Jika bukan, mengapa kau seperti syok begitu." Masih duduk dengan santainya di sana.
"Bukan. Aku hanya terkejut bisa berada satu atap denganmu." Masih mematung di tempat.
Kakiku ini, kenapa gak mau bergerak?! Aku mau pergi dari kamar ini. Aku terjebak kan..
"Aku memanggilmu hanya untuk memberitahukan hal ini kepadamu. Karena tidak mungkin aku akan menyembunyikannya lebih lama darimu. Lagi pula kau tidak ingin pergi dari apartemenku."
"Bukan, bukan tidak mau pergi dari sini. Aku akan segera pergi. Aku janji akan cari apartemen sendiri."
"Ternyata kau bisa mengerti bahasaku."
"Aku mempelajarinya. Karena aku menyukainya."
"Bagus jika kau menyukai bahasa kami. Aku akan berusaha mempelajari bahasamu juga lain kali. Pergilah tidur! Sudah malam."
Eh ini masih lengket aaa.. ni gimana…
"Ada masalah?"
"Tidak ada." Seketika Zukhruf dapat melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu dan segera menuju kamarnya.
Di kamarnya.
"Hei! Itu benaran dia?! Aku gak mimpi? Ini nyata? Tapi kenapa bisa?!"
Aaaaaaaaaaa…….!!!