Life Is Move

Life Is Move
Yungi?



"Ok. Aku lebih suka jika dirimu memanggilku seperti itu." 


"Kenapa?"


"Hyungzie. Bagus saja menurutku. Dan terlebih lagi para hyungku ada yang menggunakan panggilan itu. Hyungie. Ji hyung dan Hoon hyung, mereka seringkali memanggilku seperti itu."


"Baby," ketus Zukhruf


Hyung melotot ke arahnya. "Hey, hentikan! Jika kau memanggilku seperti itu, lihat saja apa yang akan terjadi!"


Zukhruf mengangguk sambil tersenyum karena melihat kelakuan Hyung seperti anak-anak. Dia teringat dengan panggilannya sendiri yang selalu terdengar risih di telinganya. "Hyung.. Bisakah kau memanggil namaku? Sejak awal aku jumpa denganmu kau terus memanggilku, 'hey hey hey'! Aku punya nama sendiri," protesnya.


"Itu juga salahmu sendiri mengapa tidak memberitahukan namamu kepadaku."


"Apa kau pernah bertanya?"


"Ok-ok. Aku tidak perlu bertanya kepadamu." Membenarkan posisi duduknya menjadikan dirinya menghadap ke arah Zukhruf. Zukhruf makin heran dengan perkataan Hyung. "Karena aku sudah punya nama yang tepat untukmu."


Zukhruf menaikkan alisnya sekali dan terlihat dia kebingungan apa nama yang sudah disiapkan Hyung untuk dirinya. Kurang kerjaan sekali Hyung membuat nama sendiri tentangnya. "Siapa?"


"Yungi."


Zukhruf melihat paket itu kembali. Menatap Hyung. Berbalik melihat paket itu. Menatap Hyung kembali. Begitupun seterusnya. 


Hyung terkekeh melihat tingkah Zukhruf yang kebingungan. "Mengapa wajahmu seperti itu?" Tersenyum tipis.


"Yungi?" Menatap Hyung dalam-dalam dengan raut muka penuh tanda tanya. 


"Mmm." Sikap yang terlihat cool muncul pada dirinya. 


"Di paket ini apa termasuk Yungi yang sama?" 


"Hmm. Kau pikir siapa lagi jika bukan Yungi dirimu. Itu punyamu. Yungi yang tertera di situ adalah namamu. Aku memesannya untukmu. Ambilah!" 


Zukhruf mengambil paket itu. Menaruhnya dalam pangkuannya. 


Jadi dia tadi sibuk main HP gara-gara membelikan aku paket ini? Isinya apa ya. Aku takut kalau dia kasih aku yang aneh-aneh. Bisa jadi kan kayak gitu. Baru beberapa hari udah kasih sesuatu aja. Padahal dia kan bukan orang biasa. Sedangkan aku aja orang biasa. Ingin membuka paket itu. 


"Bukalah di sini!"


Aku ingin melihat bagaimana reaksinya saat mengetahui apa sesuatu di dalam paket itu. Jarang sekali aku memberikan sesuatu kepada seseorang dengan kotak yang lumayan besar. 


Zukhruf ingin membukanya. Ia juga bingung bagaimana caranya agar ia dapat membuka bingkisannya dengan baik. Biasanya ia membuka suatu bingkisan dengan langsung robek. Apa itu akan terlihat tidak sopan di depan Idol papan atas yang kehidupannya pasti kelas atas juga. Membuka suatu bingkisan dengan anggun dan gaya yang berkelas?


Ia membukanya dengan hati-hati mencoba agar tidak ada satupun yang robek karena tangannya. 


"Buka saja dengan sesuka hatimu!" Hyung yang melihatnya dari tadi seperti ingin menertawakan dirinya. "Mengapa terlihat ragu begitu?" 


Zukhruf membukanya langsung dengan sekali tarik. Alhasil bingkisan itu langsung terbuka dan terlihatlah kotak itu. 


"Good girl." Senyum smirk karena melihat sikap Zukhruf ketika membuka bingkisan. 


Zukhruf hanya meringis dengan tanggapan Hyung terhadapnya. Lalu ia membuka kotak tersebut. Zukhruf terkejut dengan isinya. Ia hampir seperti anak kecil yang cengeng. 


"Hei.. Mengapa dengan matamu?" 


"Kau memanggilku hey lagi?" Menatap Hyung dengan mata berkaca-kaca. 


"Ah, maaf." Hyung terlihat khawatir. "Yungi… Apa kau sedang menangis?" 


Zukhruf menggeleng dan mengambil benda itu dari dalam kotak. 


"Lalu mengapa kau bersikap seperti ini? Kau tidak suka dengannya?" Mendekatkan jaraknya.


"Ini boneka yang paling aku nantikan. Ini pasti mahal kan? Aku sangat ingin punya boneka ini dari kecil. Namun Ummi ku tidak punya uang untuk membelinya."


"Ummi?"


"Ibu." Hyung mengangguk paham. "Dan semua boneka yang aku punya selama ini, itu adalah bekas milik orang lain. Mereka sangat baik. Walaupun itu tidak baru, tapi aku senang bisa memiliki boneka sama seperti teman-temanku. Terima kasih banyak, Hyungie." Tersenyum senang.  


"Bisakah kau ulangi kalimatmu yang terakhir?" Menatap Zukhruf.


Ah iya lupa.


"Thank you, Hyungzie."


"Ulangilah menggunakan bahasa Korea seperti yang pertama! Aku tak mengerti maksud perkataanmu sekarang."


Haish. Dia sama jahilnya kayak Rafiq. Rafiq?! Apa kabar dia sekarang? 


"Yungi!" 


"Ah, gomawo, Hyungzie."


"Apa yang barusan kau katakan itu sangat tidak sopan. Pakailah dengan bahasa yang sopan dan dengan perkataan yang santun."


"Tapi kau kuanggap seperti bayiku."


"Sama saja karena kau lebih muda dariku dan aku lebih tua darimu dan kau harus mengatakan semua hal kepadaku dengan sopan bukan?" 


"Good girl." Tersenyum manis yang membuatnya terlihat semakin imut.


Aku tidak jadi mengantuk, batin Zukhruf dengan senyumannya yang cerah.


Hyung mengembalikan suasana menjadi kembali tenang. "Kau tidak mengantuk?"  


Sambil tersenyum Zukhruf menjawabnya singkat, "Tidak."


"Aku sudah hampir mengantuk. Mengapa kau terlihat senang sekali?" 


"Tidak apa-apa."


"Kamu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dariku?"


Zukhruf mengangguk sambil tersenyum. Membuat Hyung jadi terus memandang Zukhruf. Zukhruf jadi salah tingkah karena tatapan Hyung kepadanya. Tidak beralih sedikitpun. Dengan bertumpu telapak tangan di dagunya. 


Heeeh jadi pingin cepat tidur kalau kayak gini.


"Yungi."


Zukhruf mendongak dan memandangnya.


"Yungi." 


"Hmm?"


"Yungi!" 


"Ya?"


"Kau mengulangi kesalahanmu lagi."


"Iya. Ada apa, Hyungzie?"


Hyung tersenyum. "Tidak ada apa-apa."  


Zukhruf meringis. Hish. Membuatku kesal. Aku jadi ngantuk ni kan. Pengen cepat ke kamar. Tapi kalau dia belum suruh aku ke kamar, berarti aku juga tetap harus menunggu dia sampai dia ke kamar duluan. Menguap sambil menutup mulutnya.


"Aku yakin kau pasti mengantuk."


Aku memang mengantuk. Ketahuilah wahai Hyungie si baby. Terdiam. Untung aku bilang dalam hati. Kalau kedengaran aku sebut dia pakai panggilan itu lagi, pasti dia tersinggung. Mudah banget sih. Sensitif sekali.


"Pergilah ke kamar terlebih dahulu! Aku masih ingin di sini." 


Zukhruf lalu beranjak dari duduknya dengan senang hati. Tak lupa ia membawa boneka beruang cantik itu di dekapannya. Ia menyunggingkan senyum. "Terima kasih Hyungzie bonekanya.. Selamat malam." Sangat manis dan imut. Ucapan selamat malam disertai senyuman itu membuat Hyung melamun.


Zukhruf berjalan ke kamarnya. Kayaknya dia salting tuh. Hhh rasakan itu. Heheheyyy..


Hyung masih melamunkan kepergian Zukhruf. "Yungi.. Kau membuatku salah tingkah seperti ini." 


"Aku ingin ke apartemen Hyung." 



Di apartemen milik Ji, teman dekat Hyung sekaligus seorang sahabat.


Tok tok tok..


"Ji hyung! Bukalah pintunya!" Menunggu pintu terbuka. "Pasti Ji hyung belum tidur," gumamnya sambil mengetuk-ngetuk bibir bawahnya. 


Tak lama kemudian ada yang membuka pintu apartemen tersebut. "Eih? Hyung? Ada apa, Hyung? Kau tidak tidur? Masuklah ke dalam!" Seseorang yang memakai piyama putih dengan rambut yang basah sudah masuk terlebih dahulu.


Hyung menutup pintu itu dan menguncinya. Menyusul ke dalam dan duduk di ranjang. "Ji hyung, kau barusan mandi?" Terus mengamati Ji yang sedang sibuk dengan urusannya. Dia sedang mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut yang ada di meja rias kamarnya.  


"Aku baru saja selesai mandi dengan air hangat. Jadi aku tidak akan sakit nanti. Kau tidak tidur Hyung, kenapa malah ke apartemenku malam-malam?" Pergi ke ruang ganti dan memakai pakaian tidur. 


Tiga menit kemudian Ji kembali ke kamar. Dan duduk di ranjang di dekat Hyung. Menyisir rambutnya. Lalu memakai lotion.


"Ji Hyung cepatlah!" katanya sambil tiduran di samping Ji.


"Kenapa? Kau lelah? Padahal hari ini libur."


"Tidak. Aku hanya ingin tidur bersamamu malam ini. Bolehkah hyung?" Memperhatikan Ji dari tadi. 


"Boleh. Memang kenapa tidak tidur di apartemenmu sendiri? Kau takut di sana sendirian?" 


"Aku hanya ingin memelukmu. Kau pasti tidak masalah bukan?"


"Kenapa tiba-tiba?"


"Karena Yungi."


Apa yang kau katakan barusan Hyung!! Memarahi dirinya.


Berbalik menghadap Hyung seketika setelah mendengar kata Yungi. "Siapa Yungi?" Berpikir jika Yungi adalah seseorang. Dan sebenarnya memang benar tebakannya. 


"Ah... Yungi… Dia boneka yang kau berikan padaku tadi. Ayo cepat tidur. Kau lama sekali hyung."