
Dua Minggu telah berlalu.
Minggu setelah dua Minggu yang lalu. Zukhruf yang sedang mengumpulkan nyawanya itu mulai menuju keluar kamar untuk membuat teh di dapur. Suasana yang sepi kini ia rasakan. Tanpa ada suara adik atau keluarganya yang biasanya pagi-pagi sibuk dengan rutinitas paginya masing-masing. Selama ini ia menjalani hari dengan Lisa tanpa ada hubungan dengan orang-orang di negara asalnya.
Setelah menyeduh segelas teh, ia mulai membuat sarapan roti diolesi selai dengan rasa blueberry dan dilapisi cokelat. Setelah ia melahap semuanya, ia mulai membuat makan pagi untuk sarapannya terlebih dahulu.
Tok, tok, tok
Zukhruf menoleh dengan cepat ke arah pintu apartemen. Ia mengecilkan api kompor dan berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Dilihat olehnya sosok yang sudah ia kenal selama ini.
"Hah? Kamu pagi sekali datangnya. Sudah sarapan atau belum, Lisa? "
Lisa langsung masuk ke apartemen Zukhruf. Ia bingung dengan sikap Lisa yang tiba-tiba terlihat seenaknya. Bagaimana tidak? Tunggu. Bukankah ia juga pernah melakukan itu pada Lisa?
"Aish.. Kau kebiasaan. Selalu saja jika ada tamu, tidak kamu persilakan masuk dulu. Apa menurutmu itu baik? Tamumu akan berbicara di belakangmu nanti jika kamu terus melakukan ini. "
Aa… Jadi karena itu. Memang benar kalau aku masih seperti itu.
"Aku belum kepikiran. "
Zukhruf melihat Lisa yang sudah duduk di sofa apartemennya. Lisa menatap datar Zukhruf agak lama dan mulai kesal. Zukhruf hanya menatapnya biasa. Lisa mulai menatap Zukhruf dengan aneh.
Apa? Bisa-bisanya tidak terpikirkan olehnya untuk melakukan penghormatan kepada seorang tamu. Aku khawatir jika ia di rumah mertuanya nanti.
"Apa? Kau sama sekali tidak merasa bersalah? Memang benar-benar Zukhruf yang ku kenal. "
Zukhruf hanya menatapnya datar tanpa ekspresi apapun. Ia hanya menunjukkan wajah tenang seperti tidak ada masalah apapun. Dan itulah ia yang hanya memiliki wajah datar.
"Apa kamu tahu apa yang kamu lakukan? "
Zukhruf hanya memandangnya datar sambil mengangguk. Zukhruf memandang Lisa lagi dengan tenang. Apa dia benar-benar tahu?
"Aku tahu. Aku harus melanjutkan memasakku, " ucap Zukhruf sambil berlari kecil ke arah dapur.
Lisa yang memandangnya hanya berdecak. Sudahlah. Yang pasti Lisa sudah tak heran dengan kelakuan Zukhruf yang suka melarikan diri saat dirinya hendak menceramahinya.
"Zukhruf! " teriak Lisa dari ruang tamu.
"Apa? "
"Nanti pukul sembilan kita jalan-jalan yuk?! Setidaknya kita refresh otak kita. Dua minggu ini bukankah kita selalu bekerja keras terus, begitupun kamu? "
"Ok. "
"Zukhruf! "
"Apa?? " Zukhruf masih sabar.
"Nanti kita pakai baju kembar, ya? "
"Oo. "
Beberapa detik,
"Zukhruf! "
"Ha…!? " jawab Zukhruf mulai hilang kesabaran.
"Hm hm hm… "
"Ha? Ada apa, Lisa Villena…??! "
"Itu. Di sini ada Car Free Day tidak ya? "
Zukhruf menoleh seketika setelah mematikan kompor. Lisa menatap Zukhruf dengan wajah tak mengerti. Zukhruf mulai ke kamar untuk bersiap-siap saat melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan. "Lisa, makanlah dulu! Nanti kita berangkat pukul sembilan kurang seperempat! " teriaknya sambil memasuki kamarnya.
Lisa langsung mematuhi perkataan Zukhruf dan mulai mengambil satu porsi makanan untuk sarapannya. Di kamar apartemen Zukhruf terdengar gemericik air. Sepertinya Zukhruf sedang mandi. Begitulah pikir Lisa.
Setengah jam berlalu. Terlihat Lisa sedang menonton televisi. Zukhruf telah keluar dari kamarnya dan terlihat siap pergi. Dengan tas selempang wanita kulit berwarna putih, dan setelan baju yang santai dan nyaman untuk dipandang.
"Ayo! " ajak Zukhruf mengajak Lisa untuk bersiap keluar.
Lisa mematikan televisi dengan remote. Ia mengambil tasnya yang tergeletak di meja dan memakainya. Setelah itu mereka berdua pergi menuju lantai bawah dan jalan-jalan di sekitar apartemen.
Di trotoar, Lisa mulai memotret berbagai pemandangan yang ia lihat menggunakan kameranya. Zukhruf yang melihat itu hanya tersenyum sekilas. Ia juga mengambil satu atau dua foto di perjalanan.
"Mau? " tawar Zukhruf pada Lisa.
"He-he. " Lisa mengambil alih botol minum itu dari tangan Zukhruf. Setelah lega meminumnya, ia kembalikan botol itu ke Zukhruf. "Makasih. "
"Lisa. Kamera sejak kapan itu? " tanyanya sambil melihat kamera Lisa yang tergantung di bagian lehernya.
"Waktu lulusan kuliah, hadiah dari ayahku. "
"Ooh… Ayahmu tahu tentang photography, ya? "
"Tak hanya tahu. Dia pernah jadi fotografer di beberapa perusahaan. Banyak koleksi kamera di ruangan khusus milik ayahku. "
"Oh, begitu… Keturunan mungkin ya, suka potret-potret? Ha-ha! "
"Ya, namanya juga anaknya. Aduh… Lama-lama aku lelah menghadapimu. Gimana sih, Zukhruf. Lain kali jangan begitu lagi. "
"Eh. Lisa ngga pernah ngajak Zukhruf buat motret-motret gitu. " Zukhruf membulatkan matanya seperti akan menyuap Lisa dengan ucapannya.
"Ajarin Zukhruf dong, potret tentang objek gitu…! Zukhruf belum ahli kalau untuk pemfokusan ke satu objek begitu. "
"Ok. Nanti sore aku ajarkan padamu. Pukul setengah empat ke taman langsung, ya? Aku tunggu di sini, sambil pemanasan kamera dulu. "
"Ok-ok. He-he. Makasih, Lisaku… Muach! " ucapnya sambil mengusap pucuk kepala Lisa.
"Hey! Aku bukan anak kecil, Zukhruf… Jadi geli sendiri aku. "
Zukhruf hanya tersenyum manis.
Biar lah. Senyumnya terlalu manis. Padahal belum makan gula sebutir pun dari pagi. Manisnya kerasa banget!
"Ayo! "
Lisa tersentak. Ia menatap Zukhruf intens. Lisa segera mengikuti Zukhruf yang sudah berdiri tegak di depannya. "Kemana? "
"Ayo kita sama-sama cari tempat yang kayak Car Free Day. Katanya mau ke Car Free Day. "
"Oh ya. Ayo! "
Dengan semangat pagi, mereka berdua berjalan-jalan mengelilingi kota yang luas tersebut. Seoul.
~•~
Tling
"Em?? "
Ia mengernyitkan keningnya. Mengangkat ponselnya yang tergeletak di meja kecil di kost itu. Melihat nama pengirim pesan tersebut. Rafiq.
Rafiq : Pagiii
Apa yang dia lakukan? Mengirim pesan selamat pagi? Lihat saja semua bukti ini. Dasar playboy.
Ia meletakkan ponselnya ke meja. Lalu memulai hari dengan mandi pagi. Ia lihat jam, masih jam tujuh. Seharusnya ia pergi jogging di sekitar kompleks tempat dia mengontrak. Belum sempat ia memasuki kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ck! Siapa lagi yang menelponku!? "
Ia ambil ponsel itu dan memencet tombol hijau di layar.
Aku sudah menduganya.
"Apa!? Waktumu banyak sekali sampai sempatnya menelpon cewek lain. Aku ragu, apa kau menyukainya. "
Seseorang di seberang sana diam saja. Sedangkan yang mengajukan pertanyaan hanya sedikit kesal karena orang itu tak menjawab pertanyaan yang dia lontarkan untuknya.
"Rafiq! Aku tanya sekali lagi. Kau mencintanya atau tidak?! "
Ya. Lagi-lagi itu Rafiq. Di seberang sana Rafiq hanya diam. Dia seperti tak ingin berbicara sepatah katapun sekarang. Sedangkan yang ditelpon juga malas untuk meladeni dirinya.
"Rafiq, jika kau tak bicara apapun, berhenti menghubungiku. Atau aku akan membenci pasangan sahabatku mulai-, "
"Aku suka kamu. "
Degh!