
Rafiq dengan sengaja menendang kaki Zukhruf yang hendak berusaha mengambil surat itu. Seketika juga Zukhruf mengaduh kesakitan karena rasa sakit di lututnya. Rafiq pun lagi-lagi pura-pura tertidur.
Kok nendang-nendang sih? Kebiasaannya gitu apa pas tidur?
Lalu Zukhruf mengulang aksinya lagi untuk mengambil surat yang masih di bawah bantal tersebut. Rafiq pura-pura menguap dan merubah posisinya sehingga surat itu sudah menyelinap ke bawah bantal dan sudah tidak terlihat lagi.
Ih jahat. Malah nyungsep kan
"Rafiq." Zukhruf memilih untuk membangunkan Rafiq agar Rafiq cepat membenarkan posisinya hingga ia dapat mengambilnya dengan mudah dan cepat lalu cepat-cepat meninggalkan kamar. "Rafiq bangun," katanya lirih.
Rafiq hanya menggeliat kecil. Kalian pasti tahu, jika ia masih berpura-pura saat ini. Zukhruf memanggil namanya terus dengan berbisik. Sampai-sampai Zukhruf harus mendekatkan mulutnya ke dekat telinga Rafiq. Rafiq yang merasakan itu jadi geli dan menggeliat lagi dengan cepat lalu membalikkan posisi tidurnya menghadap ke arah Zukhruf yang saat itu sedang menatapnya.
Zukhruf terkejut karena jarak mereka hanya satu kepalan tangan jika diukur. Zukhruf merasakan jantungnya berdegup kencang. "Rafiq. Bangun. Rafiq, bangun."
Sementara Rafiq masih melanjutkan aksinya yaitu pura-pura tidur. Padahal ia merasakan hal yang sama. Jantungnya berdegup kencang saat berdekatan dengan Zukhruf. Rasanya, Rafiq ingin mengusir Zukhruf pergi tapi kenapa ia justru makin dekat dengannya.
Apa aku kasih aja suratnya? Kasian dia gak tidur-tidur nanti.
"Rafiq bangun. Fiq." Memelas dan suara makin mengecil karena ia sudah mengantuk.
"Rafiq ayo. Aku udah ngantuk ini. Hoamm.." menguap dengan menutupi mulutnya sambil memejamkan matanya. Zukhruf mendudukkan dirinya di bawah lantai yang menghadap ke arah Rafiq dan menutup matanya. Kemungkinan ia sudah mengantuk berat.
Hening dan sunyi.
Eh. Kok udah hilang suaranya. Membuka selimutnya perlahan-lahan dan melihat sekelilingnya.
Mana tu anak udah pergi kali.
Akhirnya Rafiq bisa tidur dengan tenang dan nyaman. Ia pun ikut memejamkan mata. Surat tersebut ia masukkan ke dalam selimutnya. Jadi ia tidak juga menindih surat itu. Namun posisi surat itu sekarang di atas badan Rafiq yang tertutup selimut sambil dipeluknya.
~•~
Pukul tiga pagi.
Zukhruf terbangun dan merasakan pegal di tengkuk dan kakinya. Punggungnya juga terasa pegal. Ia membuka matanya lalu sedikit menguceknya. Melihat sekeliling.
Aku masih di sini? Sakit banget badanku.. Aku harus ambil suratnya!
Zukhruf mencoba lagi mencari surat itu namun ia juga tak menemukan walau ia sudah mencarinya di bantal yang Rafiq pakai.
Dia taruh mana sih. Sebenarnya dia tau apa gak sih tu surat?
Akhirnya Zukhruf memutuskan untuk keluar dan melakukan apa yang menjadi kewajiban setiap harinya. Ia membersihkan kamarnya sendiri lalu mandi dan memasak makanan.
Pukul enam pun ia menyapu seluruh rumah. Dan memberesi rumahnya.
Saat ia menyapu halaman rumah,
"Nduk. Tumbas bubur nggak?" tanya penjual bubur kacang hijau yang baru saja lewat di depan rumah Zukhruf.
"Enggak, Pak. Lain kali saja," jawab Zukhruf sambil tersenyum kepada bapak penjual bubur tersebut. Lalu penjual itu pun meninggalkan senyum ramah dan pergi. Zukhruf sudah menjadi pelanggan setia tukang bubur tersebut. Setiap hari keluarganya membelinya. Zukhruf pun masuk ke dalam rumah.
"Udah kan. Selesai. Nyuci baju ah." Berjalan ke kamar mandi dan mengambil baju-baju kotor lalu mencucinya. Saat hendak menyiram air ke atas pakaian yang siap untuk dicuci tersebut, ada sesuatu yang mengganjal.
"Pakaiannya kok nambah? Tadi kan dua sekarang jadi tiga pasang?" Menenteng pakaian satu-persatu.
Lah lah ini ngapain ditaruh sini…. Hey Rafiq kurang ajar banget tu anak. Grrrhhgg!
Terpaksa Zukhruf harus mencucinya karena sudah terkena air. Ingat! Itu hanya baju dan celana jins saja. Tidak ada yang lain.
Rafiq yang sedari tadi sudah mandi dan menunggu di kamar untuk makan pun akhirnya ia tak bisa menahannya. Ia keluar kamar dan mengintip Zukhruf.
Dia nyuci ya.. hhh. Aku ambil ah makanannya. Laper tau. Gak peka banget.
Rafiq menghabiskan makanan tersebut tanpa sisa. Sop, sambel, ikan, tahu, tempe, telur, dan tumis udang.
"Enak juga masakannya. Selalu mantap. Biarkan." Rafiq kembali ke kamarnya dan menutup pintunya.
Zukhruf telah menjemur pakaiannya. Lalu ia masuk ke dalam rumah. Dan menuju ke meja makan. Terkejut dirinya saat mendapati meja makan sudah terpenuhi dengan piring dan mangkuk kotor.
Dia habisin semua? Itukan buat nanti siang juga. Hishh! Nyebelin banget tu anak. Mengetuk pintu kamar Rafiq berulang kali. Namun tak ada jawaban atau pintu terbuka untuknya. Jadi ia putuskan untuk membuka kamar itu sendiri. Dan dilihatnya Rafiq sedang duduk di kasur sambil main ponsel.
"Ada apa?"
"Rafiq!"
Rafiq menoleh. "..."
Rafiq mengangguk. "Kenapa."
"Kamu gak takut kalau nanti gendut?" ucapnya sambil tersenyum.
"Gak."
"..."
"..."
Lah kok jadi canggung gini. Hening banget. Belum apa-apa juga. Balik lah. Zukhruf sudah siap membalikkan badannya namun dicegah oleh Rafiq.
"Berhenti di situ atau ku sobek benda putih ini,3 MB," katanya santai tetap duduk di kasurnya. Zukhruf langsung menghentikan langkahnya.
Zukhruf menjadi tak tenang akan situasi ini.
Bagaimana ini bagaimana ini lah.. Aku juga sih salah naruh. Ngapain juga naruh di kamar ini. Huhh! Aku menyesalinya. Dia mau hukum aku, gak kan? Dia itu baik. Tenang saja dia sangat baik. Tapi menyebalkan. Lihat, lihat dia ke arahku.
Rafiq berdiri di depan Zukhruf. Dan menunjukkan surat yang selama ini Zukhruf incar darinya. "Kamu mengincar surat ini kan? Aku tau gerak-gerikmu."
"Ya..- ya kan itu kan milikku. Jadi aku harus ambil barangku lah. Kenapa kamu malah mengintrogasi diriku?" Masih mematung di sana tak berani bergerak sedikitpun.
"Aku adalah…
"Aku paham. Tolong kasih surat itu padaku. Aku mohon." Wajah memelas yang membuat Zukhruf terlihat makin imut.
"Jangan memohon seperti itu."
"Hmm?"
"Kamu mau pergi selama sebulan?"
"Ya. Itu juga karena hadiah dan harus dilakukan. Jika gak hanya akan sia-sia saja kan?"
"Harus?"
"Iya."
"Haruskah?"
"Sangat diharuskan."
"Haruskah kau melakukannya?"
"Kenapa seperti anak yang mau ditinggal ibunya pergi?"
Rafiq menghela nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Melihat surat itu lalu dibukanya. Dan menunjukkan kepada Zukhruf. "Kau tau ini apa kan. Ini surat penting."
"Aku tau. Semua orang juga tau jika dikasih tau." Memandang orang di depannya dengan seksama. Mencoba merilekskan tubuh dan pikirannya saat ini. Ia mengerti perasaan Rafiq kali ini. Walau terlihat setiap hari selalu jahil dan usil yang membuatnya jadi memiliki cap manusia menyebalkan. Namun Zukhruf tetap sayang karena Rafiqlah yang selalu membuat Zukhruf tersenyum saat ia merasa kesepian.
"Barangkali kau lupa dan salah menerima hadiahnya." Masih setia memegang benda itu ditangannya rapat-rapat.
"Itu paspor. Aku gak salah menerima. Aku juara satu dan mendapatkan itu secara sah. Aku tidak menyombongkan itu. Jadi, biarkan aku pergi sebentar saja…" Kini ucapan Zukhruf sudah mulai memohon.
"Kau sangat ingin pergi?"
"Iya. Iya-ya karena aku ingin sekali sekolah di sana. Aku ingin melanjutkan kuliah lagi."
"Kan udah selesai S2."
"Tapi aku ingin lagi."
"Jangan serakah dan egois."
"Bukan seperti itu. Rafiq gak ingat? Ada suatu hadits. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China." Menatap Rafiq yang masih juga menatapnya dalam. "Masih banyak ilmu di luar sana. Dan aku juga ingin punya pengalaman lebih banyak lagi. Aku ingin belajar di negri orang. Itu tidak salah kan?"
"Tidak." Menjawab dengan singkat. Namun sebenarnya ia sedih akan hal ini.
Hei! Bersikaplah gentleman! Kenapa jadi memohon padanya. Gak laki banget. Ikhlaskan beberapa saat, Ok?
Membuang nafasnya pelan dan memberikan surat itu kepada Zukhruf. Menunggu Zukhruf mengambil surat tersebut dari tangannya. Zukhruf mematung sejenak. Tak diduga secepat ini ia merelakan. Tersenyum tipis lalu mengambil surat tersebut.
"Pergilah. Aku akan pulang menunggumu di rumah."