Life Is Move

Life Is Move
Rencana Abi



Zukhruf tertawa sendiri di kamar.


Haha. Banyak yang naksir..


Zukhruf membaringkan tubuhnya. Mengambil ponselnya dan mencari kontak Lisa. Menelefon.


Zukhruf: "Halo. Apa pekerjaanmu sekarang, Lisa?"


Lisa: "Menjadi model muslimah yang siap muncul di hadapan dunia. Sekaligus jadi traveler. Ha-ha.. Keliling dunia seru, kan? Tenang.. Aku pakai cadar, kok."


Zukhruf: "Nanti kalau ke luar negeri, aku diajak, ya? Biar aku yang jagain kamu, yang bisa lepas sama cowok asing."


Lisa: "Kalau aku ketemu cowok berarti itu jodoh."


Zukhruf: "Semoga dapat yang soleh."


Lisa: "Aamiin. Semoga kamu dapat yang tampan, kaya, soleh, perhatian, dan pastinya aku doakan yang baik, deh. Ya sudah. Aku harus pergi dengan orang tuaku membeli pakaian untuk acara model besok." (Lalu mematikan sambungan).


Zukhruf tersenyum. Membuka chat masuk yang dua hari belum ia baca. Ia lelah, hingga terlelap tanpa sadar.


~•~


"Zukhruf, ayo main!" Zukhruf pergi di sebuah tempat yang sangat sejuk sekedar menghilangkan rasa penat. Keduanya menuju ke danau yang tak jauh dari pandangan mereka.


"Kita ke sana, yuk?!" Zukhruf tersenyum. Namun di balik senyuman itu terdapat misteri. Mendekati danau yang hijau nan pekat. Lebih dekat. Matanya memelototi air yang hening itu dan langsung menyipit.


"Aaaa!" Langsung membalikkan tubuhnya.


Karlinda terkejut dengan apa yang barusan ia dengar saat sedang asiknya dia memotret pemandangan yang baginya sangat indah. Dengan segera ia menghampiri Zukhruf.


"Zukhruf kenapa teriak?" Tanpa aba-aba Zukhruf memeluk Karlinda. Karlinda bingung apa yang terjadi. Ia hendak melepaskan pelukan Zukhruf. Namun bukannya terlepas, tangan itu semakin mengeratkan lingkarannya di perut Karlinda.


"Kita pulang saja." Zukhruf berjalan dalam pelukannya.


"Mbak! Ayo bangun!"


"Aaaa!!"


"Kalau bangun jangan teriak juga!" Zukhruf hanya diam, kembali mengingat mimpinya. Bergegas ke kamar mandi. Melihat air yang lumayan dalam, membuatnya ingin berteriak. Namun segera ia urungkan. Ia mempercepat waktu.


"Mbak Zukhruf, ayo makan malam!"


Zukhruf berjalan ke arah meja makan. Ia mengambil porsi sedikit. Dengan empat mangkuk di sebelahnya yang isinya berbeda.


"Cara makannya masih sama? Di asrama juga kayak gitu?" Zukhruf hanya mengangguk.


"Kayak orang Korea, Mbak," tambah Zulfa yang sudah lulus SMP dan lumayan tahu tentang dunia.


"Sok tahu," ketus Zukhruf yang mengubah wajah Zulfa menjadi mengerut.


"Mbak, nanti aku mau cerita. Boleh, kan?" Zukhruf mengangguk.


Di kamar hanya ada Zukhruf dan Zulfa. Sepertinya Zulfa sangat serius kali ini.


Apa sih yang mau dibicarakan? Serius amat itu muka.


"Mbak tau Abi gak?"


"Kenapa Abi?!" Membelalak, takut terjadi apa-apa dengan Abinya.


"Abi keja ti Culabaya! Ha-ha." Zukhruf menunjukkan muka kesalnya.


"Gak ada yang lucu. Sana pergi!" Menutup dirinya dengan selimut.


"Mbak... Dengerin aku. Aku serius, nih." Menarik sedikit selimut Zukhruf. Namun Zukhruf menarik kembali selimutnya.


Zulfa langsung ke intinya. Mendekatkan wajahnya ke telinga Zukhruf. "Mbak Zukhruf dicarikan jodoh sama Abi."


Tak ada jawaban dari Zukhruf. Ia melirik, Zukhruf memejamkan matanya seketika. Ia pun pergi karena mengira Zukhruf sudah tidur.


Tling, tling..


Ponselnya berbunyi. Zukhruf tak menghiraukan. Kembali tidur. Lalu berdering. Saat mau menjawab, justru yang di sana sudah mematikannya terlebih dahulu.


Siapa sih... Abi?!


Membuka pesan masuk.


Abi: Seperti apa yang disukai?


Apaan? Aku gak mau menikah! Melemparkan ponselnya ke kasur.


Tling, tling..


Abi: Abi segera mendapatkannya


Zukhruf: Kenapa Abi begitu? (Kali ini ia membalas pesan tersebut)


Abi: Apa salahnya menikah? Kamu sudah besar


Zukhruf: Tapi aku gak mau


Abi: Agama kita menyuruh kita menikah, agar sempurna agamanya


Zukhruf: Abi!


Abi: Hmm?


Zukhruf: Padahal dari dulu Abi gak pernah maksa aku. Tapi sekarang kok maksa?!


Abi: Itu kewajiban orang tua untuk menikahkan anaknya


Zukhruf: Hmm! (Ngambek)


Zukhruf merebahkan tubuhnya, tak berniat melanjutkan tidurnya. Ia merenungkan apa yang akan terjadi nanti, jika calonnya tidak sesuai dengan yang dia inginkan.


Aku belum berangkat kerja, malah sudah dicarikan jodoh. Bagaimana aku bisa fokus pada pekerjaan kalau aku nikah? Pekerjaanku penulis. Gak fokus dong nanti. Terus aku nanti udah gak single dari teman-temanku. Mengeluh kemana-mana sampai tertidur.


"Mi.. Aku berangkat dulu!" Mengecup tangan Ummi.


"Naik apa berangkatnya?"


"Naik taksi!"


Di SMA XXX.


"Wuiiihh... Itu siapa ya? Cantik kali tuh cewek," kata Angga dengan kagum, seorang anak kelas dua belas yang akan lulus enam bulan ke depan.


Putih dan mulus. Imut deui. Godain ah entar..


"Itu murid baru, ya? Pengen nembak nih aing"


"Jangan sembarangan kalo ngomong lu!"


Tapi Angga tak menggubris dan berjalan ke arah Zukhruf.


"Eh, mau kemana, hoy!? Jangan bikin ulah lagi, deh. Lu kagak ingat kalo setiap sudut ada CCTV?!" Angga berhenti saat mendengar ucapan Harley.


"..."


"Assalamu'alaikum, Bu. Saya Zukhruf Permata Lestari yang hendak mengajar di sekolah ini."


"Wa'alaikumussalam. Yang kemarin datang ke sini, ya?" Kepala sekolah memastikan. "Baik! Bisa dimulai sekarang. Semoga Anda betah di sini."


"Baik, Bu. Terima kasih."


"Bisa langsung ke kantor khusus guru putri. Oh ya, panggilnya Ustadz/Uztadzah saja. Karena mereka sudah terbiasa dengan itu." Mengulas senyum. Zukhruf menganggukkan kepalanya, lalu keluar dari ruangan kepala sekolah dan berjalan menuju ruangannya sendiri.


Waktu pulang kerja.


"Us Zukhruf! Pulangnya bareng yuk, Us," ajak Ustadzah Aina yang sudah akrab dengannya.


"Silakan. Apa kita satu arah?"


"Iya Us."


Saat sesampainya di rumah, ia langsung ke kamar Ummi.


"Ummi!"


"Hmm?"


"Apa Ummi juga mau nikahin aku?"


"Tidak."


"Tapi abi suruh aku buat nikah."


"Ya kalau Abi bilang gitu ya sudah." Ummi tertawa kecil sedangkan Zukhruf mengerut masam.


Ummi sedang membawa ponsel Zukhruf dari tadi untuk pengecekan.


Abi: "Assalamu'alaikum" (Memulai vidcall)


Ummi: "Wa'alaikumussalam. Ada apa, Abi?"


Abi: "Di mana Zukhruf? Mau aku tunjukkan sesuatu sebentar."


Ummi: "Abi ni beneran, toh? Ini hidup anak sendiri lho!"


Abi: "Ya bener lah. Abi milih orang juga perkiraan dulu, Mi."


Ummi: "Zukhruf, Abi mau bicara!" (Sedikit berteriak) (Zukhruf datang memunculkan wajahnya)


Abi: "Ini! Kamu suka yang mana, Nak?"


Zukhruf: "Gak mau semua!" (Lalu meninggalkan kamar Ummi)


Ummi: "Abi jangan maksa lah.."


Abi: "Gak maksa. Cuma mengajarkan lebih dewasa."


Zukhruf kembali. Ia langsung ke ruang tamu, menyalakan seperti es campur. Dilihatnya ada grup Idol Korea yang muncul di televisi. Mereka konser di Indonesia.


"Apa itu?" Sama sekali tak tahu. Ponselnya berdering, lalu ia pun mengangkatnya.


Zukhruf: "Ada apa?"


Lisa: "Kamu lihat di televisi atau tidak? Idol Korea yang ke Indonesia!"


Zukhruf: "Tau."


Lisa: "Kok jawabnya gitu?"


Zukhruf: "Habis, bagaimana lagi?"


Lisa: "Kenapa kamu? Sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik."


Zukhruf: "Abiku rencana mau menjodohkan aku."


Lisa: "Nikah?! Aku yang lebih tua darimu saja belum! Kamu melangkahiku, ya."


Zukhruf: "Mau bagaimana lagi?"


Lisa: "Memang sama siapa nikahnya?"


Zukhruf: "Gak tau ah! Mau nonton, jangan ganggu."


Lisa: "Ha-ha-ha... Yang sabar ya! Eh, tapi hati-hati lho. Awas kalau kamu jatuh cinta sama Oppa-ku! Hi-hi." (Lalu menutup telepon)


"Oppa? Apaan coba? Opa di Upin Ipin yang dia maksud?" Lalu melanjutkan nonton.