Life Is Move

Life Is Move
Milikku (part 1)



"Eh, Hyung!" 


"Ya? Kenapa kau kemari?" tanya Seok Ho yang sedang duduk di sofa ruang tengahnya sambil memainkan ponselnya. "Kau sedang bosan? Mengapa tak mengetuk pintunya terlebih dahulu? Adik yang tak punya sopan santun."


"Maaf, Hyung. Aku cuma mau tanya, barusan staf bilang penerbangannya ditunda. Apa Seok Hyung belum tahu hal ini?"


"Benarkah?!" Terperanjat dari tempatnya. "Kenapa? Apa ada masalah dengan jadwal penerbangannya? Apa ada yang sakit? Siapa yang mengatakan agar penerbangannya diundur?" Menatap Ji lekat-lekat.


Ji hanya mengangkat bahunya lalu duduk di sofa berdekatan dengan Seok Ho. "Kita tanya staf saja, Hyung."


"Hmm. Tanyalah!" Mengambil sesuatu di dapur dan kembali lagi. "Nih. Kue kering yang tadi pagi ku buat lalu ku masukkan ke kulkas." Memberikan semangkuk kue kering dan menyuguhkannya di meja.


"Terima kasih, Hyung." Mengambil kue itu dan hendak melahapnya. Seketika lupa untuk menanyakan masalah tadi. "Seok hyung bikin ini tadi pagi?" Mengunyah kue kering dengan rasa cokelat tersebut. "Enak."


"Aku membuatnya setelah kita rapat pribadi di apartemen Jung tadi. Sebenarnya itu aku berniat untuk membawanya ke pesawat nanti untuk camilan di sana. Tapi ternyata tidak jadi berangkat." Mengambil satu kue kering. "Kita habiskan saja sekarang." 


"Seok Hyung!" 


"Mmm?" Mengunyah dan menelannya.


"Kuemu enak hyung. Besok sebelum berangkat, Hyung bikin lagi, ya?!" Mengambilnya lagi lalu memakannya.


"Kalau ingat."


"Yeay.. Makasih, Hyung." Keluar apartemen dan mencari staf mereka. 


"Kok semua staf gak ada, ya? Nah, ini apartemen yang ditempati Bae Hyeon. Mengetuk pintu. Setelah menunggu lama, akhirnya pintu terbuka. 


Bae Hyeon anggota termuda itu ternyata baru saja selesai mandi. Ji yang melihat itu langsung bertanya padanya. "Bae. Kau tadi mandi?" Bae Hyeon hanya mengangguk sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya. 


"Kau sangat rajin, siang-siang seperti ini sudah mandi. Jika aku lebih memilih tidur." Memandang Bae Hyeon dari tadi.


"Lalu kenapa Hyung tidak tidur?" Masih mengeringkan rambutnya lalu pergi ke kamar mandi lagi. 


"Oh ya, aku baru ingat. Sebenarnya aku mau bertanya padamu. Kau tahu tidak, mengapa staf mengundurkan jadwal penerbangan kita?"


"Itu permintaan dari Gie Hyung!" teriaknya dari dalam kamar mandi. 


Gie adalah nama panjang dari Hyung. Yaitu Hyung Joon Gie. Bae Hyeon memanggilnya seperti itu karena umur Hyung Joon Gie lebih tua darinya. 


Hyung? Ngapain Hyung minta diundurin jadwalnya?


Ji berpikir-pikir dan memutuskan untuk bertanya langsung kepada Hyung Joon Gie. Ia pun keluar dari apartemen Bae Hyeon dan menuju apartemen Hyung Joon Gie. 


Saat keluar. "Loh! Ji Hyung sudah pergi?" Merapikan bajunya. "Mending aku minum susu kotak yang masih sisa di kulkas." Berjalan menuju dapur. Dan berniat menyusul Ji, karena takut terjadi apa-apa dengan Hyung.


Bae: Hyung semua. Ayo ke apartemen Gie hyung.  


Tulis Bae Hyeon di grup chat mereka.


~•~


Sementara di apartemen Hyung.


Hyung sudah memanggil dokter untuk pemeriksaan Zukhruf. Namun tak kunjung datang juga dokter tersebut.


Di luar kamar.


"Hyung! Kau masih di sini, kan, Hyung?!" teriaknya sambil mengelilingi ruangan di dalam apartemen Hyung. 


Hyung pun keluar dari kamarnya. "Ya. Aku di sini."


"Hyung! Kau mengundurkan jadwalnya? Apa ada masalah?" tanyanya dengan khawatir.


"Tidak. Tidak ada masalah." 


Tak lama kemudian, munculah beberapa temannya. Mereka masuk tanpa salam. "Hyun Joon Gie, apa yang terjadi?!" tanya Seok Ho dan mendekatinya.


Segitu sayangnya mereka kepadaku. Tapi tidak dengan Yungi. 


"Aku tidak ada apa-apa. Duduklah semua di sana." Menunjuk sofa itu dan pergi ke kamar. 


"Hyung kenapa, ya?" tanya Ji pada pada hyungnya. 


"Entah. Tak seperti biasanya. Ia akan berlagak seperti anak-anak jika bersama dengan kita."


"Tapi kali ini berbeda."


"Eh…?" Melirik ke samping. Melihat sofa yang di atasnya terdapat tas cewek di sana. Mengambilnya dan mengamatinya. "Apa ini?"


"Aih?!!"


"Itu bukannya tas cewek, ya?" Ling bertanya pada semua. 


"Iya itu tas cewek. Kenapa bisa ada di sini?" Seok Ho juga sama bertanya karena kebingungan.


Tak lama setelah Hyung dari kamarnya untuk mengecek Zukhruf, ia kembali dan mengambil sesuatu di kulkas. Mengambil banyak camilan untuk semua temannya di sini. 


"Hyung Joon Gie! Apa ada cewek di sini?"


Hyung bingung harus menjawab apa saat ini. Ia takut jika semua Hyungnya akan memarahinya. Bagaimana aku akan menjawabnya??


"Ah… Itu… Tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya aku saja." 


"Lalu itu milik siapa di sana?" Jung menunjuk tas yang dibawa oleh Ji.


Hyung menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gie hyung, kau… Kau punya pacar, ya…" Bae Hyeon dengan sengaja menjahili Hyung.


"Baby rabbit, diam kamu!" gertak Hyung Joon Gie. "Tidak ada apapun di sini." ucapnya dengan lumayan panik.


Seok Ho memikirkan sesuatu. Kenapa raut muka Hyung terlihat khawatir gitu? Apa dia benar-benar sedang menyembunyikan sesuatu dari kami semua?


Tiba-tiba seorang dokter datang dengan tasnya. Ia langsung masuk ke apartemen Hyung yang pintunya tak dikunci. Karena Hyung sudah mengizinkan dokter itu untuk langsung masuk ke apartemennya. "Siapa yang bernama tuan Hyung?"


"Di mana pasiennya?"


Selain Hyung dan dokter, mereka semua yang ada di ruangan itu saling bertatap muka tak mengerti. "Pasien?!"


Dokter pun mengiyakan. Lalu Hyung menuntun dokter itu ke kamar tempat Zukhruf berbaring. "Sini, Dok!"


"Sudah kuduga, ternyata Hyung gak sendirian selama ini," jelas Ji yang juga mengikuti Hyung. 


"Iya, Hyung. Siapa, ya?"   


Di kamar.


Dokter menyuruh mereka semua untuk keluar dan mengatakan jika ia akan memeriksanya. Lalu semua anggota pun keluar begitu pula dengan Hyung. 


Mereka duduk di sofa. 


Ji bertanya di keheningan yang terjadi beberapa saat yang lalu, "Hyung! Siapa yang kau sembunyikan?"


"Jangan merahasiakan sesuatu dari kami semua," kata Sun Jung. 


Seok Ho menambahi perkataan Sun Jung, "Iya. Agar jika ada masalah, kita akan hadapi bersama."


"Tidak, bukan seperti…" Ucapan Hyung terputus saat Hyung menyadari jika pintu kamar Zukhruf sudah terbuka. Hyung menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan Zukhruf di dalam. "Dok. Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Dia hanya kambuh. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia akan baik-baik saja nanti."


"Kambuh dok? Memang apa penyakit yang dia punya?" tanya Ji yang ada di samping Hyung. Sedangkan Hyung melamun karena jawaban dokter. 


"Iya, Dok. Dia sakit apa sebelumnya?" Seok Ho juga menanyakannya.


"Dia sangat baik dan perhatian. Dia tak ingin kalian khawatir. Pasien tak ingin penyakitnya diberitahukan kepada orang lain. Tapi syukurlah dia cepat dipanggilkan dokter. Jadi dia tidak apa-apa." 


"Syukurlah...." jawab semua anggota.


Dokter memberikan sesuatu. "Tuan Hyung! Ini obat untuk pasien. Dia harus meminumnya tepat waktu sesuai waktu yang sudah saya tulis di situ. Saya permisi." Dokter pamit pergi dari apartemen. 


Hyung masuk ke kamar tersebut dengan panik dan diikuti oleh yang lain. Para anggota pun terkejut dengan apa yang mereka lihat. 


"Woaaa… Manis sekali! Tapi dia belum sadar sekarang ini. Apalagi jika sudah sada," kata Ji yang berdiri di samping ranjang. Namun Hyung hanya diam saja dan mendekat untuk melihat dengan jelas keadaan Zukhruf. 


"Gie Hyung dapat dari mana?"


Sun Jung menahan tawanya. "Pufft! Dapat..??! Memang barang?" Hyung masih diam di sana.


"Tsstt! Biarkan dia tenang." Menegur mereka yang dari tadi berisik sendiri. "Kelihatannya Hyung sangat mengkhawatirkannya," kata Ling memberitahu mereka.


Namun Ji tidak mendengarkannya dan nekat berisik. Ia berbicara dengan pelan kepada Sun Jung. "Imut. Cantik. Manis. Ah~ kiyowo..."


"Diamlah, momo!" balas Sun Jung.


"Hih, Hyung! Momo?!"


"Ah~ mochiku yang cu-te cu-te…. DIAM." Wajah berubah seketika.


"Hmm." Muka masam.


Para anggota menahan tawa karena wajah Ji yang mengerut karena sehabis ditegur oleh Sun Jung.


Tak lama kemudian Zukhruf tersadar dan melihat sekelilingnya. Ia buru-buru bangun dari sana. Karena ia malu jika harus dilihat banyak orang apalagi Hyung di sampingnya.


"Tiduran saja!" Zukhruf menggeleng.


"Kau dimarahi?" lirihnya pelan di dekat Hyung karena masih agak lemas.


"Tidak. Mereka tidak marah kepadaku, tenang saja," kata Hyung sambil menjauh sedikit dari Zukhruf.


Seketika Bae Hyeon mengatakan sesuatu, "Aku marah." Pura-pura dengan wajah merengut masam. 


"Hyung. Kenalkan dia kepada kami." Ling angkat bicara.


"Sabarlah sedikit. Dia perlu istirahat. Kalian keluar sana."


"Beraninya kau mengusir H… " Seok Ho menyindir dan mengajak mereka semua keluar. "Ayo ke ruang tengah! Kita habiskan camilan milik Hyung."


"Kajja!"


"Ayo-ayo. Bae mau ambil susu kotak punya Hyung," kata Bae Hyeon yang langsung pergi keluar kamar terlebih dahulu.


Mereka semua tepuk jidat. 


Di kamar Zukhruf beserta Hyung.


Hyung mengambilkan air untuk Zukhruf dan Zukhruf pun meminumnya. "Yungi. Kau jangan pulang dulu. Aku sudah menunda perpulanganku begitu juga dengan yang lain."


"Kamu tunda?"


Hyung mengangguk. "Setelah sehari, kami akan pergi."


"Kenapa?"


"Untuk merawatmu. Aku yakin kau bisa sembuh dengan cepat. Sekarang tidak perlu menutup dirimu lagi. Sebab semua Hyungku sudah mengetahui keberadaanmu di sini. Tenang saja. Mereka akan bersikap baik padamu." 


"Tentang kontraknya?" 


"Tidak perlu kau pikirkan lagi. Aku sudah merobeknya dan membuangnya."


"Makasih." 


"Hmm??"


"Khamsahamnida Hyungzie kiyowo...." Tersenyum kecut.