Life Is Move

Life Is Move
Reuni (part 1)



Di kamar Zukhruf.


"Ciee... Yang barusan dilamar nih.." goda Zulfa sambil cengengesan.


"Apaan sih. Kan aku udah ada someone." langsung menutup mulutnya. Keceplosan.


"Siapa, Mbak?"


"Eh enggak, nggak ada."


"Ayolah..." Zukhruf hanya membisu, membuat Zulfa lelah saja, akhirnya pergi. Zukhruf sendiri.


Cowok itu benar-benar menyelamatkanku. Zukhruf memandangi ponselnya serta sesekali memainkannya dan memutarnya. Sepertinya dia baik, dan... tampan. Kenapa dia harus menutupi wajahnya?


Tiba-tiba ponselnya berdering.


Zukhruf: "Halo, ada apa?"


Andin: "Jangan lupa besok."


Andin adalah salah satu teman SMP Zukhruf. Sama seperti Cici yang sangat jahil kepadanya.


Zukhruf: "Ok" (Mematikan sambungan)


Huuft! Akhirnya bisa merefreshkan pikiranku. Kalau tidak aku akan stres nanti, batinnya lalu meletakkan ponsel dan tidur.


~•~


Pagi hari ini tak seperti biasanya. Dengan senyum cerah dan semangat lebih, Zukhruf pergi ke SMP menggunakan sepeda kayuhnya. Merasakan embun dan dinginnya pagi, membuat dirinya merasa kembali ke masa lampau. Berangkat sekolah dengan hati riang, bertemu teman dan guru yang menyenangkan.


"Hei! Sampai juga kau." Cici menyapa dengan logat bicaranya yang masih khas.


"Hmm, iya. Kok masih sepi. Kemana yang lain? Kamu sendirian?"


"Belum pada datang. Bu Reyna pun belum. Ternyata kamu masih sama kayak dulu, Zukhruf."


Apa maksudnya?


"Apa maksudmu?"


"Kamu dulu selalu berangkat pagi sekali. Biasanya membersihkan kelas kita yang sangat kotor. Kalau gak, kamu ngaca diam-diam di cermin kelas. Kamu ambil itu cermin ke bangkumu, biar bisa ngaca ama nyantai." Zukhruf tersenyum malu. Hanya Cici yang tertawa kecil.


"Kamu masih ingat saja."


"Iya lah. Cici gitu lo. Apa yang gak ku ingat? Aku juga masih ingat waktu adik kelas kita yang namanya Fahri godain kamu."


"Ih, sudahlah! Jangan diungkit lagi. Malu lah."


"Haha. Kamu tuh ya... Lucu banget muka kamu. Pengen cubit deh Zukhruf." Tangan Cici hampir menyentuh pipi Zukhruf. Tapi Zukhruf langsung menghindar dan berlari keliling halaman bahkan sampai ke belakang memasuki area lapangan yang kini sudah diperluas. Akhirnya mereka kejar-kejaran. Ditengah suasana itu Cici berteriak.


"Zukhruf! Aku tau kamu dulu gemes banget sama Fahri adek kelas kita! Berhubung dia belum baligh(dewasa), kamu curi kesempatan buat nyubit pipinya kan?! Aku tahu Zukhruf! Haha." Cici tak ada henti menggoda Zukhruf sambil mengejarnya. Dibalik permainan itu, ternyata Zukhruf menyembunyikan mukanya yang menciut karena malu. Ingin sekali dirinya berteriak.


"Zukhruf sini! Udah mainnya ah! Aku capek!" Zukhruf masih menjauh dari Cici yang terus mengejarnya dengan gelak tawanya.


"Zukhruf! Berhenti atau aku bongkar rahasia kamu!" Zukhruf berhenti.


"Kenapa kau tau semua tentangku?!" teriak Zukhruf dari kejauhan. Cici berhenti lalu tertawa lepas. "Kenapa kau mengingat semua, hah?!"


Cici berhenti tertawa, tersenyum. "Inikan reuni. Gak masalah kalau aku cerita tentang masa lalumu kan?" berhenti sejenak. Tersenyum. "Kenanganmu bersama...."


"Diam!! Sini kamu kalau berani bercerita ke mereka nanti!" Zukhruf mulai mengejar Cici. Akhirnya Cici berlari, dan mereka tak sadar bermain kejar-kejaran lagi sampai ke taman sekolah.


"Hey! Kalian kenapa?" Bu Reyna meneriaki mereka dan terkekeh melihatnya.


Zukhruf mengehentikan langkahnya. Ia sangat malu.


"Eh. Sudah datang semua toh?" tanya Cici pada semua temannya. Mereka memang sudah datang sejak tadi.


"Zukhruf. Kamu lari-larian tadi? Ketiga kalinya saya melihat kamu lari. Haha," kata Ajik yang suka sekali menggoda Zukhruf.


Zukhruf tersenyum malu. Temannya tertawa dengan tingkah Zukhruf yang dapat dibilang langka. Apalagi Rafiq yang terlihat sangat senang dengan tingkah itu. Baginya itu sangat menghibur suasana hatinya. Rafiq dulu sempat suka padanya. Sebab itu ia selalu menghiburnya. Ia tak ingin Zukhruf diabaikan dan hanya diam di bangkunya.


"Ayo sini kumpul di halaman, duduk sini!"


Mereka pun lesehan melingkar seperti yang dikatakan Bu Reyna. Lalu memulai pembukaan dengan santai namun serius.


"Bu, ayo tukar surat Bu," ujar Ajik. Sifat Ajik masih terlihat sama seperti dulu. Banyak bicara. Namun tak disangka, ia semakin tampan sekarang.


"Oh iya, ayo ditukarkan!"


"Zukhruf. Jangan lupa dibaca ya!" kata Ajik percaya diri sambil menyerahkan surat.


Andin menyenggol lengan Zukhruf sambil tersenyum jahil.


"Cieee..." teman sekelas menyorakinya. Zukhruf menundukkan kepala sambil tersenyum malu.


Suasana berubah ketika ada tangan muncul menyerahkan sebuah surat. Ia pun mengangkat kepala. Melihat uluran tangan itu dan menyusurinya.


Surat dari Rafiq? Kupikir dia takkan memberiku surat. mengambil surat itu dan tersenyum. Rafiq sangat senang melihat kebahagiaan Zukhruf. Namun ia masih menunjukkan wajah cool-nya, dan tetap saja masih terlihat imut dan sangat tampan.


Manis juga senyummu, batinnya lalu pergi dari hadapan Zukhruf.


Ajik menggeram kesal, yang hanya dirinya saja yang tahu itu.


"Kalian boleh buka disini, atau di rumah nanti. Sekarang kita istirahat." Bu Reyna membagikan snack dengan rata. Setelah itu mereka pun memakannya. Ada yang sembari membaca surat, ada juga yang sambil mengobrol. Gosip lah mungkin. Tapi mereka tak seperti itu sebenarnya. Paling tidak mereka membicarakan tentang diri mereka masing-masing.


Zukhruf memakan jatahnya, sambil bermain ke WhatsApp dan Instagram. Tiba-tiba,


"Follow!"


Ha? Akun ig siapa nih?


Dilihatlah profilnya.


Rafiq? batinnya lalu langsung memandang ke arah Rafiq berada. Rafiq sedang memakan sosisnya. Direct Message.


Zukhruf: Follow aku dulu!


Rafiq: Cepat!


Zukhruf: Gak mau! Nanti kamu gak follow back


Rafiq langsung menatap Zukhruf tajam. Mengisyaratkan sesuatu dengan tatapannya. Zukhruf tertunduk dan langsung mengikuti akunnya.


Dia menakutkan ternyata..


Zukhruf: Follback! (Melihat Rafiq)


Rafiq melihat Zukhruf, menyunggingkan senyum sinis di bibir.


Rafiq: Gak


Rafiq mencari nomer ponsel Zukhruf di grup kelas. Ketemu. Ia langsung membuka blokirnya. Dari dulu nomer Zukhruf sudah diblokir olehnya. Padahal Zukhruf tak sengaja menelponnya. Langsung saja ia blokir saat itu juga.


Cp WhatsApp,


Rafiq: Save


Zukhruf: ? (Tidak ada foto profil WA)


Rafiq: Tinggal save!


Zukhruf: Cowo/cewe?


Rafiq: Aku di depanmu


Zukhruf mendongak. Terkejut siapa yang ada di depannya. Langsung menunduk cepat. Rafiq menyunggingkan senyum puas bisa menjahilinya.


Asik juga diajak bercanda. Kenapa dia pendiam dulu? Harusnya dia terbuka.


Zukhruf tak membalas chat Rafiq.


Rafiq: Save nomerku, nanti aku follback


Zukhruf tak menyimpannya. Ia menatap Rafiq dan tersenyum menang karena akun Instagramnya sudah di-follback dahulu. Rafiq mengancam dengan berbicara langsung di depan Zukhruf, masih duduk ditempat.


"Save gak?! Aku bunuh lo!" ucapnya nyaris tak bersuara namun masih terbaca dari bibirnya. Sudah menjadi dasarnya kalau Rafiq orangnya pemaksa. Zukhruf menatap tawa. Wajah imutnya membuat Zukhruf gemas.


"Kenapa ketawa! Awas kamu."


Mereka sekarang akrab hanya dengan beberapa menit. Ajik yang dari tadi melihat kelakuan mereka menjadi kesal.


"Zukhruf! Dibuka dong suratnya!" kata Andin yang membuyarkan lamunan Zukhruf.


"Iya tuh Zukhruf. Ayo buka. Mereka bilang apa saja ke kamu," tambah Azzah.


"Iya, Zukhruf selalu bikin kepo deh," goda Cici.


"Ayo ke kelas, kecuali Cici!" pelotot Zukhruf pada Cici yang niatnya hanya gurauan.


"Kamu tuh yaaaa," jawab Cici sambil tertawa dan kembali memelototi.


"Apa!" sambil menunjukkan wajah imutnya, memajukan matanya ke Cici. Cici langsung mencubit pipi itu.


"Ah, apaan sih! Sakit!" keluh Zukhruf sambil memegang pipinya.


Rafiq menatap dari kejauhan. Wajah imut terlihat lagi olehnya. Ia tersenyum. Ajik pun tersenyum melihat wajah manis itu, dan datar seketika saat melihat Rafiq.


Sabar.. Setidaknya tak ada pertengkaran.


Zukhruf pergi ke kelas.


"Eh... Zukhruf sini gak!" teriak Cici. Cici membuntuti. Begitupun kelima teman lainnya juga menyusul.


Terlihat Zukhruf mulai membuka sebuah surat dari perempuan. Temannya merasa jengkel lalu menarik semua surat. Setiap temannya pun memegang tiga buah surat.


"Nih! Buka yang ini dulu!" Cici menyerahkan surat yang diserahkan ke tangan Zukhruf.


"Ciee.. Dari akang Ajik.... " kata Maya setelah melirik nama dari pemilik surat tersebut. Lalu keenam temannya menyorakinya.


"Ada apa tuh?" tanya Afrik.


"Iya. Rame banget di kelas," tanya Farhan.


"Anak cewek mah lebay! Paling lagi buka surat," ketus Rafiq.


"Ciaaa.. Kok Rafiq tau..." goda Bu Reyna yang dulu selalu diganggu Rafiq.


"Apa sih, Bu!"


"Fiq. Udah punya pacar belum, Fiq? Jomblo ya.." Bu Reyna tak habis mengganggu.


"Kenapa, Bu? Nge-fans ya?" berpose percaya diri.


"PD kamu Fiq!"


"Bukankah menjadi anaknya Bu Reyna harus percaya diri?" Bu Reyna tersenyum mendengar perkataan Rafiq. Hendak membelai rambut Rafiq. "Bukan muhrim, Bu." kata Rafiq sambil menjauh.


"Tar!" panggilan milik Lusi untuk Zukhruf. Kok bisa Tar?


"Dia bukan kue, Lus," sahut Maria. Semuanya pun tertawa hingga terdengar sampai luar. Membuat anak cowok yang ada di halaman menuju ke kelas, dan mengintip di bawah jendela.


"Zukhruf. Ini yang terakhir. Ayo baca!" kata Cici menyerahkan surat terakhir dari kedelapan belas surat. "Baca yang keras!" Zukhruf menatap Cici penuh penolakan. "Ayo baca yang keras..!" Cici tersenyum.


Zukhruf mulai membaca. Sedikit ragu untuk memulai. Lidahnya serasa diikat. Entah apa yang membuatnya susah untuk bicara.


"Zukhruf cepat! Kami menunggumu," goda Lolita.


"Oh, jangan-jangan kamu ada sesuatu sama Rafiq..." tambah Cici dengan senyum liciknya.


Mendengar itu Rafiq langsung pergi secara diam-diam. Ia tahu apa yang akan Zukhruf ucapkan.


Dengan berat hati, Zukhruf membacanya dengan pelan karena grogi dan gemetar entah dari mana datangnya.


"I'm annoying, but I love you," lalu menenggelamkan wajahnya ke bangku, dan masih memegang surat.


"Aciaaa!!" terdengar sorakan dari dalam dan luar kelas. Membuat Zukhruf semakin panas dan malu.


Bu Reyna akhirnya masuk kelas dan diikuti anak cowok. Suasana kembali tenang.


"Lho, mana Rafiq?" tanya Arif. Ia pun mencari Rafiq dan mendapatkannya di ruang perpustakaan. "Ngapain tuh?" Rafiq mengusir Arif untuk pergi.


Masuk kelas,


"Bu, Rafiq gak mau masuk."


Bu Reyna jahil dengan teriakannya, "Rafiq kamu kenapa gak mau masuk kelas!?" Namun Rafiq tak bergerak dan malah ditertawakan oleh temannya kecuali Ajik.


Zukhruf memandangi luar. Mencari keberadaan Rafiq. Dan Ajik sangat tak menyukai itu. Lama-lama ia kesal.


"Zukhruf!" seketika Zukhruf mengalihkan pandangannya.


"Sini!" sontak semua mata tertuju pada Ajik.


Apa yang akan dilakukannya?


Zukhruf menggeleng. Ajik mengulangi kalimatnya tiga kali. Namun tak ada balasan. Ia masih diam ditempat.


Maunya apa sih?


Ajik pun mendatangi Zukhruf yang dari tadi membuatnya kesal karena tak dihiraukan. Semua pandangan menuju ke arah dua orang tersebut. Dalam hitungan kesepuluh, bibir Ajik akan bersentuhan dengan milik Zukhruf. Mata-mata yang menjadi saksi dan mulut yang tertutup itu seketika menganga. Memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya.