
"Aku mau kakak."
~•~
Ummi dan Abi masih tinggal disana beberapa hari. Sedangkan Rafiq sudah pulang sejak hari kedatangan mereka di rumah tersebut. Rafiq selalu sungkan jika berlama-lama di sana. Karena tak ada hubungan lagi antara dia dengan Zukhruf.
Namun Zukhruf makin merasa kesepian jika tidak ada Rafiq. Akhir-akhir ini ia murung. Ia melanjutkan aktivitas menulisnya dengan tidak bersemangat.
Malam ini Zukhruf hendak mengatakan kepada orangtuanya bahwa satu hari lagi dia akan berangkat ke luar negeri. Ia antara yakin dan tidak yakin kalau Umminya akan memberikan izin kepadanya. Namun ia tetap harus mendapatkan izinnya juga.
Ketika di ruang tamu. Ummi dan Abi sedang berbincang berdua. Terlihat mereka sangat santai membicarakan sesuatu di antara keduanya.
"Ummi."
~•~
"Mbah! Mbak Zukhruf tidak pernah kelihatan ya? Mbak kenapa Mbah?"
"Udah.. Itu urusan orang dewasa. Kamu nginep lagi nanti malam."
"Tapi aku mau kakak disini."
"Udah sana tidur dulu ya. Kamu biasanya juga jarang akur kalo bareng sama Mbakmu Juhruf." Ucap nenek dari Ibu Abinya Zulfa.
"Mbah! Bukan Juhruf! Mbak Zukhruf!"
"Juhluf."
"Ih bukan..! Tambah salah sih Embah!?" Ia mulai kesal dan masuk ke dalam rumah yang sebelumnya mereka berdua sedang berada di teras.
Tak lama, muncul bocah kecil dengan baju daster kecilnya. Ia berlari terbirit-birit ke arah nenek. Dengan membawa pensil di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia bawa sebuah kertas.
Sambil menuju ke arah tempat nenek duduk, ia berteriak dengan suara mungilnya, "Baaah!! Bak Juhluf ana!?"
~•~
"Ada apa?"
"Aku mau ke Korea besok pagi."
"Buat apa kesana? Di rumah lebih baik. Batalin perjanjian itu."
"Tapi sia-sia kalau tiket pesawatnya dibuang__ "
"Berikan ke temanmu yang ingin pergi. Pasti ada saja kan?"
"Gak mudah. Tiketnya hanya untuk pemenang saja. Lagi pula udah tertera namaku disana."
"Jangan membantah Ummi."
"Ummi.. Aku pingin banget kesana. Ummi tolong jangan larang lagi keinginanku." Memohon dengan menyentuh tangan Ummi.
"Duduk yang benar."
Zukhruf yang mengelesot di kaki Ummi segera bangkit dan duduk di sofa. "Ummi izinin aku kan?"
"Gak. Kamu disana mau ngapain? Bahasa orang sana aja gak ngerti. Apalagi mau nginap disana sebulan. Memang mau ngapain disana? Nganggur? Jadi turis?"
Jleb!
Kalimat yang sangat menusuk. Setiap Ummi melarangnya, setiap kata-katanya pasti akan menusuk hatinya. Zukhruf tak kuat menahan air matanya. Ia berlari kecil ke kamarnya. Menutup pintunya dengan lumayan keras dan menguncinya.
"Hiks, hiks."
Zukhruf menangis di bawah bantalnya. Dengan tubuh tengkurap di ranjang. Ia menangis tersedu-sedu. Bagaimana bisa ia menganggap Ummi sebagai Ibunya, jika semua keinginannya selalu ada penolakan darinya. Apakah benar ia adalah Ibu kandungnya?
Ia menutup matanya rapat-rapat. Mengirimnya ke dalam sebuah kehidupan masa lalunya.
"Hei! Kamu gak ada kakak ya? Ha-ha-ha.." kata anak kecil perempuan pertama.
"Iya. Kalo gini kan, kita bisa bully dia. Gampang lagi. Ha-ha." Bisik anak perempuan yang kedua.
Zukhruf kecil sangat terpukul saat itu. Selama ia sekolah, ia tak punya teman dekat. Teman baik pun tak punya apalagi seorang sahabat. Ia sangat kesepian di waktu kecilnya. Selalu memilih bangku di pojok kelas ketika pembelajaran berlangsung.
Dia tidak terlalu pintar. Karena ia tidak bisa fokus pada pembelajarannya. Semua kakak kelasnya selalu diam saja ketika ia dibully. Memang! Siapa yang suka kepada murid yang teraniaya, tidak pintar, dan jelek. Semua orang tahu itu. Bahkan menyapanya saja tidak ingin. Apalagi ia pendiam.
Namun beruntung. Ada guru yang baik, yang ingin membantu menemaninya di dalam kehidupan sunyinya.
"Zukhruf. Sini Nak. Kamu mau kan, les sama Bu guru?" Katanya memegang kedua pundak kecil Zukhruf dengan kedua tangannya. "Ibu punya anak laki-laki yang lebih tua umurnya dua tahun dari Zukhruf. Kalau Zukhruf mau, dia bisa jadi teman Zukhruf. Bu guru janji, akan ajari Zukhruf dengan baik. Biar Zukhruf ada perkembangan dan bisa nambah teman di sekolah. Ya? Mau ya?"
"Les?" Tanyanya memandang ke atas menatap ke arah Bu guru kedua termudah di sekolah dasar tersebut. Bu guru itu pun mengangguk.
"Mau kan les sama Ibu?"
"Les, lesnya.. Bayar Bu?" Menatap lekat-lekat ke arah Bu guru tersebut. Menunggu jawaban darinya. "Saya tidak punya uang banyak buat bayar Bu.. Uang saku saya cuma dua ribu sehari."
"Pasti lesnya mahal kan, Bu?" Tanyanya lagi.
"Gak. Gak mahal kok. Kita ke rumah Bu guru habis pulang sekolah ya… Nanti pulang bareng Ibu. Sekarang Zukhruf masuk kelas dulu. Belajar yang serius ya… Ibu mau ke kantor dulu."
Lalu keduanya berpisah di lobi sekolah.
Sepulang dari les. Zukhruf kecil tiduran di kasur yang ada di lantai. Dengan rumah kontrakan kecil seluas tiga meter persegi. Hidup dengan kedua orangtuanya di kota Z. Sangat membuat alur hidupnya berubah. Namun Zukhruf kecil menikmatinya dengan lapang dada dan qana'ah. Ia bersyukur masih memiliki rumah.
Waktu bermain di siang hari setiap pulang sekolah, ia selalu menjadi sasarannya. Zukhruf kecil selalu dipermainkan tidak adil oleh teman-temannya. Ia selalu dijahili dan dicaci.
"Zukhruf! Kamu tuh gak kaya ya?!"
"Iya. Kami saja punya iPad. Kamu gak punya?"
"Minta belikan kakakmu sana!"
"Kok kakak? Kan dia gak punya kakak."
"Oh iya. Ha-ha-ha.. " ledek ketiga anak tersebut.
"Zukhruf, mana kakakmu?"
Begitulah yang akan terjadi jika setelah pulang dari sekolah. Selalu dia diejek dan dijauhi oleh teman-temannya. Namun ia tak bisa apa-apa saat itu.
Ketika di tempat les, Zukhruf kecil selalu diajak bermain dengan anak Bu gurunya. Anaknya selalu ramah dan sopan santun. Namun Zukhruf yang malu-malu untuk bermain dengan orang baru.
Saat di rumah dia akan sedih. Dia selalu mengurungkan dirinya di dalam rumah dan menonton televisi. Dan terkadang ia menulis semua isi hatinya di kertas-kertas dan buku tulis pelajarannya di bagian belakang. Tak lama kemudian ia tertidur sendiri.
~•~
Zukhruf membuka matanya dan meneteskan air matanya tanpa henti. Ia masih mengurung dirinya. Ia tak ingin membuka pintu kamarnya tanpa keinginannya sendiri untuk membukanya sampai ia dapat memulihkan perasaannya sekarang. Ia mematikan ponselnya.
Melempar ponsel pemberian itu ke belakang dan tergeletak di bantalnya. Ia saat ini sedang tak mempedulikan sesuatu, kecuali satu hal. Kakak.
Semua teman-teman baik SD, SMP, SMK, bahkan teman kuliah. Semua rata-rata punya kakak. Kakak yang bisa melindungi adiknya. Kakak laki-laki. Memukul dan mengajar teman yang berani mengejekku.
"Aku mau kakak."
Andai aku punya kakak laki. Pasti aku sudah dibela sejak aku kecil. Belikan aku barang yang aku gak punya. Menyayangiku tanpa menyakitiku. Selalu mendukung semua keinginanku. Eoh! Gak boleh berandai-andai, Zukhruf… Dosa__ Tapi,
"Tapi aku ingin kakak!" Teriaknya dengan suara menekan namun lirih, di balik bantal yang ia tutupkan di kepalanya. Ia tertidur disana.