Life Is Move

Life Is Move
Seoul



"Assalamualaikum!" 


Zukhruf membuka pintu apartemennya dan melihat tamu itu. Apa? Ini memang sudah sore, tapi kan,


"Lisa! Katamu aku yang pergi ke taman menjemputmu, tapi kenapa kamu malah menjemputku kemari?"


"I want together with you."


"Ih, kenapa jadi budak cinta gitu," Zukhruf menatap geli.


"Ya! Ayo cepat keluar! Keburu malam nanti makin dingin lho…!" Lisa menarik tangan kiri Zukhruf.


"Ey ey ey! Ih!! Uangnya ketinggalan di meja belum diambil loh."


"Ehehe."


Zukhruf melepaskan tangannya dari genggaman Lisa dan beranjak masuk ke apartemennya untuk mengambil uang yang akan dibawanya. Sore itu memang sudah terasa dingin. Zukhruf pun memakai pakaian hangat, seperti jaket dan jilbab berbahan kaos yang tebal juga rok yang sedikit tebal. Ia memakai sepatu. Lisa? Ia juga memakai bahan outfit yang sama. 


"Okey, let's go!"


Zukhruf memandang Lisa dengan heran. Bukankah seharusnya dia yang merasa paling senang, karena akan diajarkan tentang pemotretan? Mengapa guru mempunyai hati yang bahagia, sedangkan ia tak tahu apakah muridnya akan memahami dirinya dengan baik?


Sesampainya mereka di taman tersebut, mereka langsung mengambil botol minum yang dibawanya masing-masing dan mulai meminumnya karena merasa haus sudah berjalan kaki sekitar satu kilo meter. Benar. Taman itu terletak sekitar satu kilo meter dari gedung apartemen yang ditempati mereka berdua. 


"Ayo kita mulai, Lisa!?" Zukhruf mulai memandangi sekitar yang terlihat ramai orang yang berlalu lalang. 


"Tunggu!" 


Zukhruf menoleh dengan heran. Ia mengernyitkan dahinya. Apa ada kesalahan? 


"Jika kita melakukan latihan di sini, bukankah akan membuat mereka tidak nyaman? Dan juga dirimu?" ujarnya sambil melihat sekitar. 


"Kenapa?" 


"Kenapa??? Bukankah kamu juga akan sulit belajar di keramaian? Iya, kan?"


Zukhruf berpikir. Memang benar. Tapi itu sedikit salah.


"Aku tidak seperti itu. Pada awalnya aku orang yang multitasking. Tapi aku terlalu sering menggunakan satu saja, tidak bersamaan. Jadi aku masih bisa melakukannya."


"Tapi waktu sekolah menengah atas, kamu sulit memahami pelajaran. Dan.… Nilai akademikmu turun semua."


"Itu beda lagi, Lisa… Huft! Makin lama aku geram denganmu."


"Ok-ok. Mari kita mulai, di-si-ni." Lisa mengeja kata terakhir.


Merekapun memulai latihan di taman tersebut. Memang tak sedikit yang sesekali memperhatikan kegiatan mereka berdua di sana. Terkadang ada juga yang ikut duduk memperhatikan dengan serius sambil meminum purple berry cream. 


Jam di tangan kanan Lisa menunjukkan pukul lima p.m. Zukhruf? Ia mulai tidak fokus belajar. Semakin banyak yang melihat kegiatan mereka. Lisa yang mengetahui hal itu langsung mengemas barang-barang mereka dan mengajak Zukhruf pergi dari sana. Sebelum itu, Lisa memberikan senyuman ke semua orang yang ada di sana lalu melangkah pergi. 


~•~


Rafiq diam tanpa kata berikutnya yang ingin dia katakan setelah mengatakan tiga kata kepada Karlinda tadi pagi di telepon. Ia menyugarkan rambutnya ke belakang lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menjatuhkan punggungnya ke sofa. 


Kenapa aku mengatakan itu!? Haish…


Rafiq memejamkan matanya. Ia mulai memikirkan Zukhruf. Tidak! Rafiq cinta Zukhruf, bukan cinta pada Karlinda. Apa rasa cinta itu benar-benar hilang sedikit demi sedikit karena tanpa adanya air yang selalu menyuburkan cinta tersebut?


Tiba-tiba pintu rumah diketuk oleh seseorang. Rafiq yang mendengar itu langsung membuka matanya dan beranjak ke arah pintu dan membukanya. 


"Karlinda?" 


~•~


"Itu lebih baik, haaaah! Kamu terbaik, ha-ha!"


Zukhruf menoleh tiba-tiba ke arah Lisa. Tatapannya seolah merenungkan sesuatu. Iya, benar.


Ya. Aku bukan Zukhruf yang dulu. Aku bukan Zukhruf yang berharga seperti dulu.


"Zukhruf. Kamu memang bukan orang yang banyak dihormati semua orang seperti dulu. Tapi kamu orang yang sama di mataku. Kamu yang terbaik. Jika tidak sampai di sini, bukannya kamu orang yang tidak berilmu? Kamu masih bisa melakukan apapun yang kamu mau. Jangan dengarkan orang lain! Dengarkan hatimu saja. Tapi kalau kamu bimbang, kamu bisa meminta untuk mendengar perkataan orang di sekitarmu dengan kepercayaan yang dalam. Atau yang paling bisa kau percaya yaitu Tuhan kita sendiri."


Zukhruf merenung. Ia tahu. Dirinya yang terbaik. Bukan perkataan orang lain. Ia hanya perlu melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Ia terus merenung akan dirinya, hingga suara asing masuk ke gendang telinganya. 


"Annyeong haseyo…."


Zukhruf seketika menoleh ke belakang. Ia mencari sumber suara itu. Lisa yang melihat Zukhruf seperti itu sedikit merinding, karena ini sudah sangat sore. Matahari sudah tidak terlihat. 


"Zukhruf! Ada apa? Kamu mencari siapa?"


"Emm. Lisa! Kamu tadi dengar tidak, suara orang bilang salam?" Zukhruf menatap Lisa dalam.


Aku seperti mengenal suara itu. 


"Salam? Tapi tidak ada yang bilang, 'assalamualaikum' ." 


"Hish! Bukan itu. Salam dalam *B*ahasa Korea…. " 


"Oh… Sama. Tidak ada. Di sini hanya ada kita berdua. Jangan berhalusinasi, ya.... Sebab ini sudah petang."


Lalu apa masalahnya dengan petang hari? Bilang saja kamu takut _+


"Ayo kita pulang!"


"Ya sudah. Besok kamu masih ada jadwal. Aku pun sama. Besok mungkin aku akan pulang setelah dhuhur. Jadi siang hari aku sudah di apartemen. Kalau ingin belajar lagi, langsung masuk apartemenku saja. Tapi aku tak tahu kapan pulangmu besok." Lisa mulai berpikir waktu kepulangan Zukhruf yang mengikuti kelasnya. Mereka mulai berjalan pulang ke apartemen sambil mengobrol.


"Kalau aku pulang malam, bagaimana dengan itu?"


"Eh? Apa yang kamu lakukan sampai malam?! Bukankah biasanya hanya sampai sore?"


"Kemarin waktu rapat diberitahu kalau hari Senin besok kami bakal pulang larut."


"Makan malam di sana juga?"


"Mungkin iya."


"Hey, Zukhruf! Awas sampai kamu pulang terjadi apa-apa."


"Tidak, lah…."


"Nggak-nggak. Besok malam aku jemput kamu. Nanti kamu bilang saja jam berapa kalian selesai makan bersama, aku akan ke sana langsung." 


"Ih, ngga perlu, Lisa… Nanti kamu kedinginan, loh. Nanti sakit, lho," Zukhruf mulai berpikir untuk mencegah Lisa.


"Ish, apa-apaan itu. Harusnya kamu yang dikhawatirkan."


"Tentang apa?" Zukhruf menatap Lisa tajam dan beralih menatap jalan trotoar. "Aku berani, dan aku tidak takut pada orang lain. Aku bisa pulang mencari taksi sendiri dan bisa mencari minum sendiri."


"Kamu sakit."


Zukhruf menghentikan langkahnya. Kaki kanannya belum menapak tepat di atas trotoar. Kaki kirinya pun masih di belakang ingin menyusul melangkah ke depan, namun terhenti. Ia menyamakan kedua kakinya berpijak. Ia mulai berkata, "Ha-ha! Apa yang kamu khawatirkan!!? Ahaha! Tenang saja, My Best…. Aku akan pulang dengan kondisi baik, kok. Tak perlu takut, he-he!"


Zukhruf menoleh dan menarik tangan kiri Lisa, "Ayo! Keburu malam!" Zukhruf tertawa dengan dirinya sendiri di kala melihat wajah Lisa yang datar. "Heh, Lisa…. Senyum atau tertawa lah, jangan lempeng gitu, ih! Ayo kita lihat kota ini sama-sama. Lihat!" Zukhruf menudingkan jari telunjuknya ke atas. "Langit malam di sini sangat bagus, ditambah lagi bulan yang bundar. Lihat juga! Pola awannya bagus di sini. Kita belum pernah melihat awan yang seperti ini, bukan? Eh? Aku lupa kalau kamu pernah ke laut negeri, pasti sudah pernah lihat. Tapi yang ini, seperti aku ditaburi garam. Iya, kan?"


Lisa? Lisa hanya diam tanpa ekspresi di kala dirinya diajak mengobrol oleh Zukhruf. Ia hanya menatap kesenangan Zukhruf sesaat itu dengan diam. Sesaat?


Apa yang perlu dikhawatirkan. Kalimat itu selalu terngiang di kepala Lisa.