Life Is Move

Life Is Move
Halo



Assalamu'alaikum semua.....


Apa kabar kalian semua? Maaf, berhubung saya belum bisa melanjutkan novel ini, jadi...


Maka kita akan lanjutkan... hehe.. 😊👏


Waktu terus berjalan, semenjak Zukhruf berada di negara orang, ingatan tentang seseorang yang ia sayangi itu perlahan memudar. Bahkan jika ia mencoba mengingat segalanya, kenangannya dan segala kado yang ia miliki. Ia tak tahu, bagaimana itu berasal dan, apa yang harus ia lakukan dengan kado-kado tersebut.


"Zukhruf! " panggilnya dengan perlahan namun dengan nada sedikit tegas.


Zukhruf menoleh ke arahnya. Ia sedikit tak tahu. Apa dia yang saat itu minum kopi bersamanya? Apa dia saat itu yang membelikannya semua barang-barang bagus itu?


"Zukhruf. Apa kabar? "


"Em mmm.. b-b-baik. Kamu.. Apa kamu yang membawaku ke sini? "


"Ha-ha-ha!! " Seseorang itu tertawa lepas. "Aduh-duh, Zukhruf... " Ia mencoba menenangkan dirinya dari kejadian yang dianggapnya lucu itu. "Aiiih.. Bagaimana kau melupakan perjalananmu ke sini? Aku yang membantumu membawa kopermu, bukan dirimu. Kau dijemput oleh sahabatmu ke sini, bukan aku yang menjemputmu. Apa kau sudah ingat sekarang, perpindahan apartemen satu minggu yang lalu? "


"Emm... " Zukhruf terlihat bingung.


Seseorang itu tersenyum. Ia tersenyum bahagia di kala dia melihatnya. Apa aku terlihat cantik? Mengapa ia terus tersenyum padaku?


"Eh! Aku.. Apa aku cantik? "


"Hummpph!! He-he. " Seseorang itu berjalan sedikit mendekat ke arah Zukhruf. "Hm... Kau sangat aneh. Jelas-jelas kau memang cantik, bahkan sangat cantik jika dibandingkan dengan artis-artis papan atas di negara ini. Menurutku begitu. "


"Oh... "


"Iya. Kau tahu kan, jika dirimu sudah terikat denganku. Apa kau lupa? "


"Emm?? Apa kita sudah menikah? " tanya Zukhruf dengan tenang.


Jika sudah menikah juga tidak masalah bagiku. Lagi pula dia terlihat tampan. Tapi kapan kami menikah? Aku tak pernah mengingatnya? Apa aku sudah pikun, dan, mengapa aku sulit mengingat semuanya??!


Seseorang itu tak mempedulikan pertanyaan Zukhruf. Ia hanya tersenyum senang melihat wajah Zukhruf. Ia menatap lekat mata Zukhruf.


Andai kau menikah denganku. Andai saja pria pengantin di sisi wanita pengantin itu adalah aku, maka aku akan menganggap ini takdir terindah di hidupku.


"Zukhruf. Pernah atau tidak, Zukhruf menganggap aku sebagai orang paling istimewa di hidupmu? "


"Baiklah... Sambil mengingat, aku akan membantumu membuat makanan sore ini. Kau lakukan kegiatan lainnya dulu sambil mengingatku. Jika tak ingat, juga tidak apa-apa. Jangan memaksakan diri, okay? "


"Hm. "


Seseorang itu berlalu mengerjakan apa yang akan ia kerjakan. Sedangkan Zukhruf berjalan ke halaman dan duduk di kursi taman. Ia melihat bunga-bunga yang cantik bermekaran. Daun hijau yang indah dipandang mata. Gerbang menjulang tinggi itu ia juga melihatnya. Tunggu.


Ckiiiitt!


Sebuah mobil hitam besar berhenti di depan gerbang. Terlihat penjaga gerbang mendekat dan berbincang-bincang dengan seseorang di dalam mobil tersebut. Zukhruf tak bisa mendengar percakapan mereka. Ia hanya memperhatikan dari tempatnya duduk sekarang.


Terlihat uluran tangan dari dalam mobil menjulur keluar dari kaca jendela mobil dan memberikan sesuatu yang ada di genggamannya kepada penjaga tersebut. Tak lama kemudian, ia menutup kaca jendelanya dan memundurkan mobilnya sedikit, lalu memutar-balikkan mobil itu dan pergi. Penjaga gerbang langsung menutup gerbang besar itu. Dengan langkah kaki besar dan kecepatan berjalan sedikit cepat, menuju ke arah Zukhruf.


"Maaf, Nona. Ini untuk Nona. "


Zukhruf langsung menerima bingkisan kecil tersebut. Ia melihatnya dan mengamatinya. Saat ia sadar penjaga gerbang itu akan pergi, Zukhruf segera menghentikannya. "Tunggu! "


Penjaga gerbang tersebut berbalik. "Iya, Nona? Apa ada yang bisa saya bantu? "


"Apa semua kiriman itu darinya? "


"Betul. Semua dari orang tersebut. Dan orang itu tidak ingin Nona tahu siapa dia. Jadi orang itu selalu memberikan ini melalui saya untuk diberikan kepada Nona. "


"Kalau begitu, mohon bantuannya untuk mengatakan padanya ucapan terima kasihku untuknya. Aku tidak tahu siapa dia. Jadi aku akan menghormatinya. Sudah itu saja. Jika perlu, ia bisa menemuiku secara langsung. Cukup. "


Penjaga gerbang itu langsung pergi dari hadapan Zukhruf. Zukhruf memandang bingkisan itu lagi. Terlihat imut, sangat kecil. Apa isinya?


CUT! OKAY!!


He-he...


Itu saja dulu ya, sebagai pengantarnya... 😄


Akan dimulai update lagi tanggal 12 September besok... 👍


Bye... 👋👋👋😄


W assalamu'alaikum... :)