
___
"Mau ponsel."
"Iya nanti kita beli."
"Bukan..."
Hyung mengernyitkan dahi. "Lalu?"
"Masih pusing. Gak bisa ambil ponselnya di dalam tas itu." Zukhruf menunjuk tas yang ada di kursi belakang.
"Kalau masih pusing tidur dulu, jangan main ponsel."
"Hmm. Iya." Memanyunkan bibirnya lalu memejamkan matanya perlahan.
"Hey!"
Seketika Zukhruf membuka matanya lagi. "Ah? Kenapa?" Menoleh melihat Hyung yang masih menatapnya dengan tatapan tak suka.
"Tidak apa-apa."
Jangan salahkan aku jika kau memancingku.
"Ayo keluar." Tiba-tiba saja Zukhruf mengajak Hyung untuk keluar dari mobil itu. Entah dirinya sudah baik atau ia sedang jahil.
"Kau sudah baik? Jangan berbohong kepadaku." Wajah penuh dengan perhatian. Ia memperhatikan Zukhruf seperti ia perhatian dengan adiknya sendiri.
"Aku tak berbohong. Aku ingin segera pulang dan tidur. Kau cepatlah melakukan apa yang kau ingin lakukan sekarang."
"Ah.. Sekarang Yungi banyak bicara ya? Dasar tukang tidur." Zukhruf hanya meringis. Zukhruf mengambil jaket itu dari tubuhnya dan ingin memberikannya kepada Hyung. Namun Hyung menolaknya. "Kau pakai saja jaketnya. Pasti kau masih kedinginan bukan? Ayo!"
Hyung keluar dan membuka pintu mobil di samping Zukhruf. Zukhruf pun ikut keluar dengan jaket yang dikenakannya.
Sudah sore ternyata. Dingin juga hawanya. Batin Zukhruf saat melihat langit yang berwarna oranye. Sama waktu aku meninggalkan rumah dulu. Juga oranye.
"Yungi! Berjalanlah di sampingku." Zukhruf hanya mematuhinya daripada ia berdebat dengan Hyung, pasti ia akan terus membalasnya.
Akhirnya mereka pun menuju ke dalam gedung itu. Zukhruf masih belum mendapatkan jawabannya. Apa tujuan mereka kemari. Hyung tadi belum sempat menjawab pertanyaannya. Ia lebih memilih untuk diam saja selama di luar bersama dengan Hyung.
Namun kenyataannya harus dirinya yang banyak bicara saat ini. Saat mereka memasuki gedung itu. Banyak pelayan yang menyambut mereka.
Banyak banget sih yang nyambut.
Mungkin mereka mengetahui jika Zukhruf dan Hyung berangkat menggunakan mobil, atau memang karena gedung ini besar dan pelayan yang melayani di ruang masuk pun juga banyak, dia pun tidak tahu.
"Selamat sore tuan, nona." Sapa kedua pelayan di pintu masuk tersebut.
"Selamat berkunjung tuan, nona."
"Selamat menikmati fasilitas kami tuan, nona."
Hish! Risih aku dipanggil nona. Dua kali nih aku dipanggil kayak gitu.
Zukhruf hanya membalasnya dengan anggukan disertai senyuman manisnya. Sedangkan Hyung hanya diam saja dengan kaca mata hitam yang membuatnya sempurna untuk menutupi wajahnya. Dengan baju kaos pendek dan celana hitam. Karena seharusnya ia mengenakan jaket yang Zukhruf pakai sekarang ini. Namun beruntungnya Hyung memakai Hoodie juga.
"Ada yang dapat saya bantu?" Tanya seorang pelayan wanita yang sedang berdiri di salah satu tempat untuk berjaga.
"Apa yang dia katakan?" Bisik Hyung di dekat Zukhruf tanpa terdengar oleh pelayan.
Zukhruf pun membisikkan sesuatu juga dengan bahasa Korea. "Kau kesini untuk apa Hyungzie?!"
"Beli ponsel. Memang kita kesini ingin apa lagi jika tidak membelinya?" Jawabnya pelan.
"Kau serakah!" Jawabnya dengan suara pelan dan agak meninggikan nada bicaranya kepada Hyung.
"Bukan aku. Aku ingin membelikan ponsel untukmu." jawabnya dengan jelas.
"Aku kan sudah punya…"
"Tapi itu milik Appa kau bukan?"
Haish.. Ni orang males ah debat disini. Palaku masih pusing ni. Gara-gara kau tau tak!
Zukhruf pun melihat-lihat ponsel yang ada disekitarnya. Ia bingung memilih yang mana. Pelayan di sebelahnya itu pun membantunya. "Ada yang bisa saya bantu nona?" Ucapnya sambil menyunggingkan senyum di bibir.
"Panggil saja saya dengan Mbak."
"Baik Mbak."
"Ada hp yang paling murah tidak disini?" Tanya Zukhruf kepada pelayan itu.
"Ada Mbak." Mengambil satu kotak yang berisi ponsel Android. Ia menunjukkan barang itu kepada Zukhruf. "Ini merek X harganya 15 jt Mbak." Katanya sambil tersenyum.
Zukhruf terkejut. Gini dibilang murah!?
"Ada yang lebih murah?"
"Maaf Mbak. Ini sudah paling murah di toko ini Mbak." Lagi-lagi sambil menyunggingkan senyumnya.
Bawa mobil bagus tapi tanya yang paling murah ^_^ . Batin pelayan itu.
Hyung mulai melihat-lihat ponsel yang menurutnya bagus dan berkualitas. Ia mencari dan menjauh dari tempat Zukhruf, melihat ponsel ke tempat lain. Terus mengambil, mengamati, dan mengembalikan ke tempat semula. Begitupun juga dengan ponsel yang lainnya sampai ia menemukan ponsel yang sesuai dengan seleranya. Ia pun kembali dengan membawa satu barang di tangannya lalu menyerahkan ponsel pilihannya kepada pelayan itu.
Pelayan itu langsung saja menerimanya dan menjelaskan berapa harga ponsel tersebut, "Ini harganya 30 jt tuan. Ini sangat cocok jika digunakan oleh Mbaknya." Katanya sambil tersenyum. Zukhruf ternganga mendengar ucapan pelayan itu.
Buset, siapa dia!? Baik banget. Batin pelayan itu.
"Hyungzie… Ini mahal banget."
"Biarkan."
Mereka berbisik pelan agar tak ketahuan oleh pelayan tersebut. Zukhruf langsung saja mengambil barang itu kembali dari tangan pelayan dan ingin mengembalikan pada tempatnya. Namun tangan Hyung sudah dengan cepat menahannya. Ia menggenggam pergelangan Zukhruf. Zukhruf merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia langsung berbalik badan. Menatap Hyung sejenak. Seketika Hyung mengambil barang itu dari tangan Zukhruf dan memberikannya kepada pelayan itu kembali.
"Wah… Mbaknya beruntung punya pacar yang baik sekali." Ucapnya sambil tersenyum dan sedikit terkekeh karena melihat sikap Zukhruf dari tadi yang terlihat lucu.
"Eh, bukan, bukan pacar saya dia."
Pelayan toko itu hanya tersenyum. Ia membungkus ponsel itu yang masih terbungkus di kotaknya. Lalu memberikan kepada Hyung. "Ini tuan, harganya 30 jt."
Hyung melihat Zukhruf dan berbisik sesuatu di telinga Zukhruf.
Apa masnya baru sadar kalau harganya segitu? Batin pelayan itu dengan tatapan masih tersenyum.
Zukhruf pun membisikkan sesuatu juga kepada Hyung. Kemudian Hyung mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan memberikannya kepada pelayan toko itu.
Pelayan toko itu pun terkejut tak karuan. Black card!!!
"Ini tuan, Mbak, terima kasih sudah datang." Ia tersenyum ramah.
Zukhruf dan Hyung keluar dari gedung tersebut.
Di sisi lain.
"Eh itu pelanggan tadi sultan bener! Masak dia pake Blackcard?!" Bisik pelayan yang tadi kepada pelayan yang lain.
"Iyakah!?" tanya pelayan toko yang lain.
"Iya. Dia juga kayak baik banget sama Mbaknya tadi. Tapi Mbaknya bilang dia bukan pacarnya."
"Mana mungkin. Apa mungkin mereka saudara?" Kata pelayan yang lain.
Pelayan yang tadi melayani Zukhruf itu pun menjawabnya, "Tapi kayaknya gak mungkin. Gaya bicara mereka seperti ada jaraknya gitu."
"Ada jarak gimana maksudnya?"
"Mereka bisik-bisik terus dari tadi, tapi ceweknya tu gak mau deket-deket gitu lho pokoknya." Membayangkan kejadian tadi. "Tapi tadi cowoknya tinggi banget. Pasti dia ganteng. Mbaknya aja manis gitu."
"Pakai masker?"
Pelayan yang tadi melayani pun berpikir dan mengangguk. Sehingga membuat diri mereka terkejut.
"Apa jangan-jangan! Aaa…..!!" Teriak mereka berdua histeris.
"Hei kalian! Berisik!" Kata pelayan yang lainnya.
~•~
"Hyungzie… Ini mahal.."
"Tidak apa-apa."
"Tapi bagaimana kalau kau ketahuan menggunakan Blackcardmu tadi untuk membeli ponsel ini?"
"Tidak apa-apa."
"Tapi aku bukan penggemarmu.."
"Tidak apa-apa."
Dari tadi tidak apa-apa mulu. Batin Zukhruf kesal karena Hyung tak memberikan alasan yang jelas kepadanya.
Terlihat Hyung fokus menyetir sambil sesekali melirik ponselnya. Dan tiba-tiba saja ponsel itu berdering. Ia meminta tolong kepada Zukhruf untuk mengangkatnya. Zukhruf pun melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Zukhruf mengeraskan speaker.
"Hyung! Kau dimana saja!? Cepatlah! Udah waktunya penerbangan Hyung..!" Kata seseorang di seberang sana menggunakan bahasa Korea.
"Maaf. Hyung Oppa sedang menyetir."
"Ah, kamu.. Hyung lebih cepat! Sepuluh menit lagi harus sampai, ya..?!"
"Ya." Zukhruf meletakkan ponsel itu pada tempat semula.
Hyung terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Sepuluh menit lagi…
"Yungi. Bertahanlah!"
Ia langsung mempercepat lajunya. Dengan kecepatan paling tinggi.
Zukhruf mulai ketakutan karena ia mungkin akan mabuk lagi.
"Aaaa!! Hyung..! Geomna-geomna...!! Hyung Joon Gie.….!!!"